
Rendra langsung menggendong tubuh Kirana dan membawanya ke mobilnya, sesampainya disana ia langsung mengambilkan air putih dan menyodorkannya kepada Kirana yang langsung meneguknya habis.
"Minum dulu, kamu nggak apa-apa?" kata Rendra dengan nada khawatirnya.
"Aku tidak apa-apa" kata Kirana sudah lebih rileks.
"Syukurlah, kita akan pulang sekarang" kata Rendra mendengarnya.
Kirana terdiam menatap Rendra, kenapa Rendra memberi perhatian kepada wanita seperti dirinya. Kirana semakin merasa bersalah karena dulu pernah menjebak pria itu.
"Rendra" panggil Kirana.
"Hm?" Rendra langsung menoleh dan menatap Kirana yang memandangnya sendu.
"Maafkan aku" kata Kirana selalu ingin mengutarakan penyesalannya, namun mulutnya sangat kesusahan untuk merangkai kata yang pas untuk mengutarakannya.
"Aku..."
"Lebih baik aku tidak tau apa alasannya kan? Aku sudah menghukum mu, jadi tidak perlu meminta maaf lagi padaku, biarkan saja semua ini terjadi seperti yang aku tau" kata Rendra langsung menyela begitu saja, hatinya sepertinya mulai luluh dengan wanita ini.
Kirana mengigit bibirnya, apakah pria ini memang tidak ingin memaafkannya?.
Sepanjang pulang dari pesta itu keduanya hanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Bahkan sampai dirumah pun Rendra tak menatap Kirana sama sekali.
"Istirahatlah" kata Rendra langsung masuk kedalam kamarnya.
Sekali lagi Kirana mematung menatap punggung Rendra, selama hidupnya hanya ada satu orang yang sangat baik padanya, yaitu ibunya. Tapi Rendra yang sudah di fitnahnya itu, kenapa bisa bersikap seperti ni.
Rendra kembali ke kamarnya, ia memijit kepalanya yang sedikit pusing, ia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Bram.
"Halo Tuan?"
"Bram, aku ingin kau mencari tau apa yang sudah di lakukan Maxi kepada Kirana dan aku ingin tau apa dia masih mencoba mencari masalah denganku" kata Rendra langsung.
"Saya akan melaporkan semuanya kepada anda secepatnya"
Rendra menutup panggilannya, ia lalu bangkit dan berjalan kearah jendela, dari sana ia bisa melihat tempat para pelayan berkumpul. Pandangan Rendra hanya terpaku kepada satu titik, yaitu kamar paling pojok dimana Kirana berada, tak ada yang bisa menebak pikiran Rendra saat itu, yang jelas dia hanya berdiri diam menatap kamar itu cukup lama.
*****
Gwiyomi datang ke kampusnya dengan tidak bersemangat, ia masih kesal dengan tingkah Maxi yang menurutnya sangat kurang ajar sekali itu. Bahkan seharian di kampus, ia terus menerus memasang wajah masamnya.
__ADS_1
"Lu kenapa sih?" tanya Jingga heran melihat sahabatnya ini.
"Gue lagi kesel" kata Gwi seadanya.
"Ya kesel kenapa? Berantem sama Kakak lu?" kata Jingga sudah hafal apa yang biasanya membuat sahabatnya ini kesal.
"Enggak! Ini nggak ada hubungannya sama Kakak gua, tapi gua kesel sama cowok yang pernah gue ceritain waktu itu, lo inget?" kata Gwi.
"Yang udah memfitnah kak Rendra itu?" kata Jingga.
"Iya si Maxi, gue kesel karena makin kesini tingkahnya makin kurang ajar banget" kata Gwi dengan wajah kesalnya.
"Kurang ajar gimana? Lu emang habis di apain sama dia?" kata Jingga lagi.
"Ya nggak di apa-apain sih, tapi ya gitulah" kata Gwi malas menjelaskan apa yang membuat moodnya semakin buruk.
"Emangnya misi lu udah selesai?" tanya Jingga.
"Belum sih sebenarnya, tapi kak Rendra udah nggak ngebolehin lanjut lagi karena mau diurus dia sendiri. Lagian gue udah berhasil buat Maxi melepaskan cewek itu" kata Gwi.
"Seriously? Terus apa yang dilakuin kak Rendra sama cewek itu? Dia nggak dibanting-banting terus dicekik kan?" kata Jingga langsung mendapatkan hadiah toyoran kepala dari Gwi.
"Emang lu pikir kakak gua suami tukang KDRT apa?" kata Gwi kesal.
"Awalnya mungkin kakak gue benci sama dia, tapi gue rasa sekarang dia udah berbuah haluan deh" kata Gwi tersenyum tipis mengingat tingkah kakaknya kemarin.
"Berubah?"
"Yups" kata Gwi lagi.
"Berubah gimana?" kata Jingga penasaran tentunya.
"Kepo banget ya?" kata Gwi senang sekali melihat wajah Jingga.
"Seriusan Gwi! Kak Rendra berubah gimana?" kata Jingga sedikit kesal.
"Sebenarnya ini masih abu-abu sih, gua juga nggak yakin, tapi selama gua kenal kak Rendra dia nggak pernah kayak gitu ke cewek manapun, jadi menurut gua kak Rendra jatuh cinta sama wanita itu"
"Apa?" Jingga langsung terlonjak begitu mendengar ucapan Gwi, suaranya bahkan sangat keras hingga membuat Gwi kaget.
"Mulut lu" seru Gwi kaget melihat reaksi berlebihan Jingga.
__ADS_1
"Kak Rendra jatuh cinta? Ini beneran? Si gunung es udah mencair?" kata Jingga terlalu syok karena dia pun sangat mengenal Rendra sejak kecil, pria itu benar-benar anti kepada wanita, selain kepada Gwi dan Tante Bella tentunya.
"Nggak usah lebay deh" kata Gwi bersungut-sungut.
"Bakalan jadi berita besar nih kalau itu beneran? Gimana, gimana? Ceweknya cantik nggak?" kata Jingga kembali kepo.
"Cantiklah, kalau nggak mana mungkin Kakak gue suka" kata Gwi lagi.
"Bravo buat tuh cewek" kata Jingga bertepuk tangan kecil, kagum dengan wanita yang berhasil meruntuhkan gunung es di hati Rendra.
"Malah elu yang heboh, udahlah gua mau pulang, males banget disini" kata Gwi mengambil tasnya.
"Ikutlah, gue juga udah nggak ada kelas" kata Jingga mengikuti Gwi.
Umur mereka sebenarnya terpaut satu tahun, tapi karena sudah bersahabat sejak kecil, jadi mereka sudah sangat dekat seperti saudaranya sendiri, bahkan sejak awal mereka sekolah, mereka selalu di sekolah yang sama karena Jingga dan Gwi tak bisa dipisahkan.
"Omo....My prince" kata Jingga tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika melihat sosok pria yang berdiri disamping mobil dengan kaca mata hitamnya.
"Siapa?" Gwi mengernyitkan dahinya.
"Kak Eril" kata Jingga keceplosan.
"Ha? Lu suka sama Kakak gue Eril?" kata Gwi langsung menatap Jingga.
"Siapa sih yang nggak suka sama Eril? Aduh Gwi, kayaknya jantung gue nggak aman" kata Jingga memegang dadanya yang selalu berdetak kencang jika bertemu kakak kedua sahabatnya ini.
"Aneh-aneh aja lu, kakak gue itu udah punya pacar" kata Gwi terkikik geli melihat ekspresi sahabatnya.
"Lu nggak tau kata pepatah? Selama janur kuning belum melengkung, masih bisa untuk ditikung" kata Jingga.
"Iya sih, lu beneran suka sama kakak gue?" kata Gwi kini menatap Jingga lebih serius.
"Hahaha....Ya enggak lah, gue cuma bercanda tadi, jangan lu anggap serius" kata Jingga tertawa kecil.
Gwiyomi terdiam, dia tau kalau Jingga memang sudah menyukai Kakaknya sangat lama, tapi Gwi tidak tau Jingga ini hanya sekedar suka karena pesona kakaknya atau memang karena benar-benar jatuh cinta, tapi kalaupun Jingga menjadi kakak iparnya malah semakin bagus, jadi dia bisa punya saudara perempuan.
Happy Reading.
Tbc.
Jingga_
__ADS_1