
Eril baru saja tiba di rumahnya, ia tadinya sedang ada acara bersama kekasihnya Jenny. Tapi karena telepon dari Papanya, ia langsung memutuskan pulang. Sebenarnya kekasihnya saat ini sedang kesal karena gagal malam mingguan bersamanya, tapi Eril tak begitu memikirkannya, baginya adiknya lebih penting dari siapapun.
"Selamat malam Tuan Eril" Pak Arman langsung menyapa begitu melihat kedatangan Eril.
"Ya, Papa sama Mama udah berangkat Pak?" tanya Eril pada satpam rumahnya itu.
"Sudah Tuan, beliau berangkat sekitar satu jam yang lalu," jawab Pak Arman.
"Baiklah, aku masuk dulu kalau gitu," kata Eril mengangguk singkat.
"Ehm....Tuan?" Pak Arman menatap Eril dengan ragu.
"Ya Pak?" Eril mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumah.
"Itu Tuan, Nona Gwiyomi tadi pamit keluar untuk membeli obat, tapi sampai sekarang belum pulang," ujar Pak Arman memikirkan tentang Nona Mudanya.
"Udah lama belum perginya?" tanya Eril mendadak berubah ekspresi wajahnya.
"Beberapa menit setelah Tuan Axel pergi, Nona Gwiyomi ikut berpamitan pergi Tuan" jelas Pak Arman.
"Ck, anak itu! Kemana lagi" gumam Eril seraya berdecak kesal.
Adik perempuannya yang satu ini memang sangat mengkhawatirkan, rasa keingintahuannya sangat besar dan Eril sangat yakin kalau Gwiyomi tidak pergi ke Apotik.
Eril langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Gwi, ia ingin menanyakan dimana keberadaan wanita itu. Tapi sampai panggilan entah yang keberapa, tak satupun mendapatkan sahutan.
"Angkat Gwi, lu ada dimana sekarang?" gumam Eril seraya terus menghubungi Gwi, tapi hasilnya juga nihil.
"Apa mungkin dia sama Jingga?"
Eril memikirkan kemungkinan hal itu terjadi karena satu-satunya teman dekat Gwiyomi adalah Jingga, jadi bisa jadi adiknya itu berada di tempat Jingga. Eril bergerak cepat untuk menghubungi kedua orang tua Jingga karena dia tidak mempunyai nomor Jingga.
"Halo Nak Eril?"
__ADS_1
"Halo Aunty, maaf menganggu malam-malam. Aku hanya ingin bertanya, apakah Gwiyomi ada disana?" ucap Eril to the point.
"Gwiyomi? Dia tadi kesini jemput Jingga, katanya mau diajak menjenguk Kakek mu di rumah sakit"
Eril membesarkan matanya kaget, berarti adiknya itu sudah membohongi semua orang bersama Jingga. Sekarang kemana perginya adiknya itu? Eril sangat yakin kalau Gwiyomi tidak akan pergi ke rumah sakit karena tadi Papanya sudah mengabarkan kalau Gwiyomi tidak ikut karena adak kelas pagi.
Eril langsung bergerak cepat untuk menemukan adiknya, entah kenapa perasaannya mendadak tak enak. Eril harus meminta bantuan anak buah Papanya untuk mencari adiknya. Namun, saat ia akan menghubungi Bram, pria itu sudah lebih dulu menghubunginya.
"Ya Bram?" Eril mengerutkan dahinya saat Bram menghubunginya.
"Tuan Eril, saat ini saya sedang perjalanan ke rumah sakit Medika, Tuan Rendra keracunan"
"Kak Rendra keracunan? Bagaimana bisa?" Eril kembali mendapatkan kabar yang mengejutkan membuat kepanikan dalam dirinya meningkazt.
"Saya belum tau pasti penyebabnya apa, tapi Tuan Rendra keracunan setelah meminum kopi"
"Berarti ada orang dalam yang mengkhianati kita Bram, cepat kumpulkan semua pelayan yang berada di rumah pribadi Kakak" perintah Eril begitu geram sekali rasanya menebak siapa dalang di balik apa yang menimpa Kakaknya.
"Baik Tuan"
Dalam satu malam, ia sudah mendapatkan kejutan yang membuat dirinya marah, namun juga khawatir secara bersamaan. Sekarang dia harus melihat kondisi Kakaknya terlebih dulu baru dia akan mengurus Gwiyomi dan juga bedebah sialan yang berani melakukan ini kepada kakaknya.
*****
Di club, Gwiyomi tampak masih begitu asyik dengan dunianya, ia tak sadar kalau sejak tadi ada yang mengintainya dari belakang. Ia benar-benar melupakan segalanya karena larut dalam euforia kesenangan di club. Hingga ia tiba-tiba merasakan ada seorang pria yang memeluknya dari belakang.
"Siapa kau?" seru Gwiyomi berontak agar pria itu melepaskannya.
"Apa kabar sayang? Apa kau tidak merindukanku?" bisik Maxi mencium telinga Gwi seraya mengeratkan pelukannya.
"Maxi?" mata Gwiyomi membulat sempurna mendengar suara Maxi.
"Ya, akhirnya kau mengenaliku sayang" ucap Maxi lagi.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu Max, bertingkah-lah dengan sopan" cetus Gwi begitu geram rasanya karena sikap Maxi yang kurang ajar.
Maxi justru terkekeh mendengar ucapan Gwi, ia mengeratkan pelukannya ke tubuh Gwi lalu menyandarkan kepalanya di telinga wanita itu.
"Bagaimana mungkin aku bertingkah sopan kepadamu kalau kau sendiri juga sudah sangat lancang membohongiku?" ucap Maxi kini menatap Gwi dengan tajam.
"A...apa maksudmu?" sahut Gwi terbata, firasat buruk langsung menyergap dirinya. Instingnya mengatakan kalau saat ini Maxi pasti sudah mengetahui tentang identitasnya yang asli.
"Berhentilah berpura-pura sayang, aku akui kau sangat hebat sampai membuat aku tergila-gila padamu" Ujar Maxi menarik tangan Gwiyomi hingga wanita itu menghadapnya.
"Tapi sekarang, jangan kau pikir aku akan tertipu dengan trik licik mu itu" sambung Maxi mencengkram erat lengan Maxi.
"Brengsek! Lepasin nggak! Tanganku sakit!" teriak Gwiyomi seraya meringis kesakitan karena ulah Maxi.
"Ini belum seberapa Gwi, Kau ingin tau bagaimana rasa sakit yang sebenarnya? Aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasa sakit itu, Ayo ikut aku!" Maxi semakin mencengkram tangan Gwi dengan erat, sangat erat hingga membuat Gwiyomi ingin menangis.
"Aku tidak mau! Aaaa.....Tolong! Jingga!" Gwiyomi berteriak meminta bantuan, tapi suaranya kalah dengan suara musik yang berdentum sangat keras.
Orang-orang pun tak begitu perduli karena asyik dengan dunianya sendiri. Apalagi saat ini mereka juga ada yang melihat Jingga yang juga di paksa oleh pria yang di dorongnya tadi.
"Jangan coba-coba menyentuhku!" Jingga panik saat orang itu membawa komplotannya, dia pasti tidak akan lolos.
"Kenapa? Kau takut sekarang? Tenang saja, aku tidak akan kasar kepada wanita sepertimu" ucap pria itu menyeringai, senang sekali melihat Jingga yang terpojok.
"Tidak! Tidak! Aku akan berteriak kalau kalian macam-macam" kata Jingga melirik kesana kemari untuk mencari celah pergi darisana.
Ucapannya itu justru membuat para pengganggu itu tertawa. Jingga semakin ketakutan, saat ini pasti tidak ada yang bisa dimintai tolong. Akhirnya ia langsung saja berlari untuk menghindari pria gila itu.
"Sayang, kau mau bermain kejar-kejaran ya? Baiklah, aku akan mengejar mu" kata Pria itu semakin senang. Sepertinya dia sudah sangat mabuk dan mengkonsumsi pil ekstasi yang membuat pikirannya nge-fly.
Jingga tak tau kemana perginya dia, yang pasti dia harus mencari pintu keluar tempat gila ini. Sial sekali, pertama kali pergi ke club, dia malah mendapatkan hal tak menyenangkan. Saat Jingga sampai di depan pintu, ia baru ingat kalau sahabatnya Gwiyomi masih berada di dalam. Ya Tuhan, apa yang harus dilakukannya.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.