
Kirana malah terbengong-bengong mendengar ucapan Rendra. Memangnya apa yang salah dengan bajunya? Bukankah baju ini memang sudah sering di pakainya?
"Eh? Kenapa aku harus ganti baju?" tanya Kirana heran juga ingat tahu.
"Aku tidak suka dengan bajumu. Cepat ganti sana, aku sudah lapar." Perintah Rendra tak mau repot menjelaskan kenapa ia harus menyuruh Kirana mengganti bajunya.
"Baiklah, tapi aku tidak punya baju disini. Apakah aku harus pulang?" tanya Kirana memejamkan matanya singkat.
Well, pertanyaan bodoh macam apa itu? Pikir Kirana.
"Kau bisa memakai bajuku, tidak perlu pulang," kata Rendra sangat ketus, rasanya ia sudah jengkel dengan wanita di depannya ini.
"Memakai bajumu?" Kirana mengulangi sekali lagi perkataan Rendra, takut ia salah dengar atau bagaimana.
Rendra mendengus sebal, ia memberikn gestur kepada Kirana untuk berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di sana ia segera menyuruh Kirana mengganti bajunya lalu ke luar karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Kirana sempat kebingungan ingin memakai baju Rendra yang mana. Semua baju Rendra memiliki ukuran yang besar, jadi semuanya akan kebesaran nanti jika di pakai Kirana.
"Pakai ini aja deh," ucap Kirana mengambil salah satu kemeja putih yang menurutnya lumayan kecil dibanding yang lain.
Kirana segera memakainya, ia tak ingin banyak membuang waktu dan membuat Rendra marah jika ia terlalu lama mengganti baju. Setelah merasa dirinya sudah siap, Kirana segera keluar menemui Rendra.
"Tuan, aku sudah mengganti bajuku. Dimana dapurnya? Aku akan memasakan Anda makan siang," ucap Kirana memberitahukan.
Rendra yang tadinya fokus memandang laptop langsung mengangkat pandangannya begitu mendengar suara Kirana. Namun sedetik kemudian mata terbelalak lebar saat melihat penampilan Kirana.
"Kenapa kau memakai baju seperti ini?" sentak Rendra bisa gila jika Kirana memakai pakaian yang sangat seksi seperti ini.
Bagaimana tidak? Kemeja itu memang kebesaran di tubuh Kirana. Tapi hanya bisa menutupi setengah paha Kirana hingga mengekspos bagian lainnya. Belum lagi warna putih yang sangat cocok di kulit Kirana membuat wanita itu tampak sangat cantik.
"Eh? Aku sudah mencari bajumu Tuan, tapi semuanya besar. Aku rasa ini yang paling kecil," kata Kirana bingung, kenapa dia salah lagi.
"Kau sengaja mau menggodaku ya?" karena terlalu gemas dengan Kirana, Rendra segera menghampiri wanita itu dan menyudutkannya di tembok.
"Menggoda apa Tuan? Aku benar-benar tidak bermaksud apapun," ucap Kirana gelagapan, antara takut dan juga panik.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau memakai baju seperti ini?" kata Rendra menatap Kirana dari atas sampai bawah, hampir saja ia kehilangan kendali kalau tidak segera mengalihkan pandangannya.
"Baju ini? Apakah terlalu pendek? Tuan tenang saja, aku memakai hotpants kok, lihat saja kalau tidak percaya," ucap Kirana dengan polosnya ingin membuka kemeja bagian bawah agar Rendra tahu kalau ia memakai celana lain.
"Hentikan! Aku tidak mau melihatnya!" sentak Rendra mencekal tangan Kirana sebelum wanita itu membuka bajunya.
"Aku ingin kau percaya kalau aku tidak menggoda mu Tuan. Aku tidak memakai celana pandang karena semua celana mu kebesaran, jadi aku ..." Kirana mencoba menjelaskan apa yang ada dipikirannya tapi Rendra tak mau mendengarkannya.
"Sudahlah, buatkan saja aku makanan. Nanti panggil aku kalau sudah selesai," ucap Rendra segera melepaskan Kirana, ia bisa gila jika terus dipamerin tubuh indah Kirana.
Kirana kembali dibuat kebingungan, Rendra itu memang sifatnya sangat susah ditebak. Terkadang sangat menakutkan, terkadang menyebalkan, terkadang juga membingungkan.
*****
Rendra mencoba mengalihkan pikiran gilanya dengan memfokuskan dirinya pada pekerjaan di laptop. Tapi sialnya semakin ia mencoba melupakan, justru ingatannya semakin kuat.
"Sepertinya aku memang sudah gila," kata Rendra mengusap wajahnya kasar, ia kesal sendiri rasanya karena selalu terbayang wajah Kirana.
Saat Rendra kembali menatap laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan, tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh dengan keras dari arah dapur.
Rendra tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat apa yang terjadi. Kirana terlihat sedang mendesis kesakitan karena tak sengaja tertumpah sup panas yang baru di masaknya.
"Kirana, apa yang terjadi?" tanya Rendra bergegas mendatangi Kirana.
"Ah, aku tidak sengaja menjatuhkannya. Maafkan aku, aku akan mengganti mangkoknya nanti, potong saja dari gajiku," ucap Kirana mendesis seraya mengipasi kakinya yang sangat panas.
"Bodoh! Kenapa kau malah berpikir seperti itu, apa kau baik-baik saja?" ucap Rendra justru kesal karena Kirana lebih mementingkan mangkok dari pada kondisinya.
"Aku ..."
Kirana belum sempat menjawab, Rendra sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya dari lantai. Kirana reflek merangkulkan tangannya ke leher Rendra karena takut terjatuh.
"Bram! Panggilan dokter!" teriak Rendra meletakkan Kirana di sofa panjang ruang tengah.
"Tidak perlu memanggil dokter Rendra, aku tidak apa-apa. Ini hanya tertumpah sedikit, nanti juga sembuh," kata Kirana mencegah karena tak ingin merepotkan.
__ADS_1
"Diam Lah, kau tidak lihat, kakimu melepuh seperti ini. Nanti bisa infeksi kalau tidak di obati," ucap Rendra justru memarahi Kirana, apa wanita ini tidak tahu bagaimana khawatirnya dia saat ini.
Kirana mengerucutkan bibirnya kesal, kenapa dia malah dimarahi seperti ini. Padahal ia benar-benar baik-baik saja.
Seraya menunggu Dokter tiba, Rendra meminta pelayan untuk mengambil es batu untuk mengompres kaki Kirana.
"Aduh aduh, jangan seperti itu, sakit" ucap Kirana tak tahan saat Rendra meletakkan es batu di kakinya.
"Ini yang kau bilang baik-baik saja?" cetus Rendra setengah dongkol.
"Nggak perlu di kompres, nanti juga sembuh," ucap Kirana lagi.
Rendra menurut, ia menyudahi mengompres kaki Kirana. Rendra lalu ingat saat ini Kirana hanya menggunakan kemejanya yang sangat pendek. Menyadari jika sebentar lagi ada orang yang akan datang, Rendra berinisiatif mengembalikan selimut untuk menutupi paha Kirana.
"Kenapa harus memakai selimut?" tanya Kirana heran.
"Jangan banyak bertanya, pakai saja selimut itu," sergah Rendra lagi.
Kirana mencibir pelan, ia menatap wajah Rendra yang terlihat sangat cemas. Kenapa Rendra begitu cemas? Apakah perasaan itu masih ada?
"Tuan, dokternya sudah datang," ucap Bram datang membawa seorang Dokter perempuan.
Rendra bernafas lega karena Dokternya seorang perempuan, jika lelaki, bisa dipastikan Rendra bisa mati karena rasa cemburu yang membabi buta.
Dokter segera melakukan tugasnya, pertama-tama, ia membersihkan luka Kirana lalu memberinya salep. Terakhir ia membalut luka Kirana dengan kasa putih.
"Sudah, jangan terlalu banyak bergerak, lukanya juga jangan dikenakan air dulu ya untuk sementara. Saya juga sudah meresepkan obat anti nyeri untuk mengurangi rasa sakitnya nanti," ucap Dokter memberi wejangan sebelum berpamitan pulang.
"Terima kasih dokter," ucap Kirana tersenyum tulus.
"Kau dengar itu? Kau tidak boleh banyak bergerak. Setelah ini kau harus makan lalu minum obat,"
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1