Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 40.


__ADS_3

Rendra segera membuang pajangan yang di pegangnya. Ia lalu berjongkok dan memeluk lembut tubuh Kirana yang yang diam dengan tatapan kosongnya. Tangan dan wajah wanita itu penuh darah membuat Rendra membuka jaketnya lalu membersihkan wajah Kirana.


Mendapatkan perlakukan seperti itu dari Rendra membuat Kirana mengalihkan pandangannya.


"Aku pembunuh. Dia sudah mati" ucap Kirana seperti orang linglung.


"Tidak apa-apa. Kita akan pergi darisini" kata Rendra tau jika wanita ini sangat trauma, ia kembali memeluk Kirana seolah dari pelukan itu, ada dia yang akan menemaninya.


"Tuan Rendra," suara Bram terdengar masuk kedalam ruangan gelap itu.


Bram terkejut melihat apa yang terjadi disana, Rendra memberikan gesturnya untuk mengurus jasad Maxi.


"Semuanya sudah siap Tuan, Anda bisa pergi darisini. Kami akan mengurus semuanya" kata Bram sangat tau apa yang harus dilakukannya, setelah ini pekerjaannya sangat banyak karena harus menutupi kematian Maxi agar tidak sampai menyangkut keluarga Leander.


Rendra mengangguk singkat, ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Kirana. "Kiran, kita akan pulang, kau sudah aman sekarang" ucap Rendra sangat sekali.


Kirana tidak merespon, ia hanya diam saja saat Rendra membimbingnya untuk pergi darisana. Bahkan sampai ia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lukanya saja, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun meski Rendra beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara.


Rendra tentu kebingungan saat melihat sikap Kirana itu, ia akhirnya menemui Dokter yang menangani Kirana.


"Bagaimana Dokter? Kenapa Kirana tidak mau berbicara apapun?" tanya Rendra langsung.


Dokter Ferdian terlihat menghela nafasnya sejenak, ia memandang Rendra yang menunggu jawaban darinya itu.


"Sama seperti sebelumnya Ren, aku sudah menjelaskan padamu bagaimana kondisi psikis Kirana. Dia mengalami depresi berat karena banyak mengalami hal yang baginya itu sangat mengerikan. Dan sekarang setelah aku mengecek kondisinya, aku rasa Kirana sudah dalam tahap pasien yang harus mendapatkan penanganan khusus" ucap Dokter Ferdian, dia salah satu teman dan juga Dokter keluarga Rendra.


"Penangan khusus?" Rendra memandang Dokter Ferdian tak mengerti.


"Ya, Kirana harus dirawat di tempat isolasi khusus pasien yang mengalami depresi. Perubahan sikapnya saat itu karena pikirannya tertekan dan ia merasa takut dan panik jika sewaktu-waktu ada yang akan bertindak buruk padanya. Gangguan kecemasan d


yang berlebihan, juga sikapnya yang menutup dirinya dari orang lain, itu hanya satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk membuat keadaan Kirana" kata Dokter Ferdian menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Rendra mengigit bibirnya, tak menyangka kondisi Kirana akan separah ini. Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian itu, tapi Kirana masih saja berdiam diri. Rendra tentu sedih melihat wanita yang dicintainya seperti ini.


"Baiklah, lakukan yang terbaik Dokter, jika dia ingin. Kau boleh membawanya, tapi jangan memaksa dirinya" kata Rendra setuju jika langkah itu yang bisa membuat Kirana sembuh.


*****


Kirana duduk termenung di dalam kamarnya, dia tidak melakukan apapun selama seminggu disana. Banyak hal yang mengganjal dalam pikirannya, banyak hal yang ingin dia katakan kepada dunia, namun semuanya itu menguap begitu saja saat merasa kepercayaan dirinya jatuh ke titik terendah.


"Selamat Pagi, Kirana? Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah sehat?" Doker Ferdian datang bersama dua orang perawat untuk melakukan pengecekan rutin kepada Kirana.


"Pagi Dokter, aku baik" sahut Kirana datar dan dingin. Pun dengan tatapan matanya yang seolah tak memiliki nyawa lagi.


"Syukurlah kalau keadaanmu sudah membaik. Aku tau saat ini kau masih merasa trauma dengan semua hal yang sudah kau lalui Kirana. Hari ini aku sudah berdiskusi dengan Rendra, dia ingin kau mendapatkan perawatan yang terbaik. Kau akan di pindahkan ke rumah isolasi, disana kau bisa bertemu dengan teman baru, dan yang paling penting, kau akan aman disana" kata Dokter Ferdian dengan senyuman ramahnya.


"Dokter, aku disini seorang pasien bukan?" ucap Kirana memandang Dokter Ferdian dengan tatapan dinginnya.


"Ya benar," Dokter Ferdian mengangguk.


"Maksudmu?"


"Ya, aku ingin menolak untuk dipindahkan ke rumah Isolasi. Aku ingin pulang," kata Kirana tegas.


"Tapi Kirana, kau tau sendiri kondisimu masih belum membaik. Kau harus di rawat dulu, Rendra sudah menyetujui...."


"Hanya karena Rendra menyetujuinya, bukan berarti dia berhak atas keputusanku kan Dokter? Dia bukan siapapun dalam hidupku, jadi dia tidak berhak untuk hal itu" kata Kirana kini menatap Dokter Ferdian sangat tajam.


"Bukan begitu Kirana, dia hanya ingin yang terbaik untukmu" ujar Dokter Ferdian mencoba memberikan pengertian pada Kirana.


"Terbaik menurutnya bukan terbaik untukku. Hari ini aku akan pulang Dokter. Terima kasih sudah merawat ku, jika bertemu dengan Rendra, tolong sampaikan ucapan terima kasihku padanya" kata Kirana datar saja.


Kirana langsung saja pergi meninggalkan rumah sakit itu tanpa memperdulikan Dokter Ferdian yang kelimpungan dengan sikapnya.

__ADS_1


Dokter Ferdian segera mengambil ponselnya, ia harus menghubungi Rendra untuk mengatakan apa yang terjadi hari ini.


"Halo Ren, Kirana pergi..."


"Pergi? Pergi kemana maksudmu?" Rendra langsung menyela begitu saja sebelum Dokter Ferdian menyelesaikan ucapannya. Ia bahkan langsung bangkit dari duduknya, padahal saat ini dia sedang mengadakan meeting penting.


"Dia menolak saat akan diantar ke rumah Isolasi"


"Kenapa kau tidak mencegahnya?" bentak Rendra kembali menyela.


Dokter Ferdian menghela nafasnya, berbicara dengan Rendra ini memang sangat susah jika sudah mode begini.


"Dengarkan aku dulu. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia memaksa dan ngotot ingin pergi. Dia bilang akan pulang, mungkin sekarang juga belum jauh dari sini" ujar Dokter Ferdian menjelaskan perlahan.


"Sial! Seharusnya kau mencegahnya! Dia akan pulang kemana? Dia tidak punya rumah!" Rendra mematikan sambungan teleponnya dengan sangat kesal.


"Bram! Cepat perintahkan anak buah kita untuk mencari Kirana. Kita juga akan pergi sekarang" kata Rendra kesal karena Kirana malah memilih pergi darinya.


"Lalu bagaimana dengan meeting-nya Tuan?" tanya Bram menatap Rendra dan peserta meeting lainnya dengan pandangan bingungnya.


"Meeting aku batalkan, kalian boleh kembali ke ruangan kalian" kata Rendra seenaknya saja, ia tak bisa tenang kalau belum menemukan wanita itu.


Semua orang tentu kaget dengan perkataan Rendra, padahal biasanya Rendra tidak pernah membatalkan meeting secara mendadak seperti ini. Rendra sangat di kenal dengan sikapnya yang disiplin dan tegas, tapi sekarang sepertinya berubah.


Bahkan sepenting apapun urusannya dulu, Rendra akan tetap melanjutkan pekerjaan hingga benar-benar selesai, melihat bagaimana sekarang Rendra dengan mudah meninggalkan semuanya, menandakan pasti, kalau wanita itu memang lebih penting dari apapun saat ini.


Happy Reading.


Tbc.


Jangan lupa like dan komen ygy...

__ADS_1


__ADS_2