Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Kirana Pergi.


__ADS_3

Pagi menyingsing cepat, Rendra terlihat sudah rapi dengan setelan jasnya. Semalam ia tidak bisa tidur karena memikirkan tentang Kirana. Ia tak sabar ingin segera menemui wanita itu dan mengatakan semuanya. Kalau saja Mamanya semalam tidak melarang, mungkin ia sudah pergi ke kontrakan Kirana. Mamanya mengatakan kalau wanita akan lebih senang jika di berikan surprise.


Jadi, pagi ini Rendra berencana menemui Kirana lalu mengajak wanita itu jalan-jalan. Baru nanti akan ada acara kejutan yang sudah di atur oleh Mama dan juga adiknya Gwiyomi.


"Selamat pagi, Mama" Rendra langsung memeluk Bella saat ia sampai di ruang makan. Senyumnya sejak tadi terus merekah karena rasa bahagia yang membuncah.


Di ruang makan sudah ada Axel dan juga Eril yang langsung memasang wajah masam. Hatinya masih dongkol saat tahu kalau Kakaknya benar-benar akan menikah dengan Kirana.


"Cie yang mau ketemu crush," Gwiyomi yang baru saja datang ikut meledek Kakaknya itu.


"Apa? Anak kecil nggak boleh gitu," kata Rendra mencubit gemas pipi adiknya.


"Aduh, Kakak ih, sakit tau," Gwiyomi mengadu dengan ekspresinya yang lucu.


"Sudah, kalian ini, ayo sarapan dulu. Gwiyomi habis ini ikut Mama ke rumah Tante Karin, Mama ada urusan," ujar Bella mengambil duduk di samping suaminya.


"Urusan apa, Ma?" tanya Gwiyomi penasaran.


"Cuma mau ngabarin buat datang nanti malam, kamu juga ajak Jingga sekalian, biar rame acaranya," ujar Bella.


"Oh itu, pasti aku ajak Jingga lah, Ma. Ah, leganya, akhirnya Kak Rendra jadi juga melamar Kak Kiran, akh udah nggak sabar punya Kakak baru," kata Gwiyomi ikut senang jika Kakaknya segera menikah.


Semua orang tersenyum melihat tingkah Gwiyomi, kecuali Eril tentunya. Ekspresi wajahnya langsung mengeras dan moodnya berubah buruk.


"Aku udah selesai, mau berangkat dulu," ucap Eril mendorong piringnya menjauh dan bangkit dari duduknya dengan kasar.


Semua orang tentu terkejut dan menatap Eril, namun pria itu tak peduli, dia segera berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Eril, sarapan kamu belum habis," ujar Bella bangkit dari duduknya, ia mencoba mengejar Eril tapi Axel menahannya.


"Biarkan saja, nanti aku yang akan bicara padanya," kata Axel sudah tau kenapa Eril bersikap seperti itu.


"Eril masih marah sama Kirana?" tanya Rendra memandang kedua orang tuanya bergantian.

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri Eril itu orangnya gimana, kamu nggak usah pikirin dia. Papa yang akan kasih penjelasan sama dia nanti," kata Axel, ia paham betul bagaimana sifat putra keduanya itu. Sifat keras kepala Bella dan sifat darinya yang tak bisa menerima orang yang sudah berbuat salah, membuat Eril memiliki sifat yang pendendam.


"Iya Rendra, kamu temui saja Kirana. Dia pasti sudah menunggumu," ucap Bella menambahkan, ia tak ingin Rendra kembali bimbang karena adiknya.


Rendra mengangguk mengerti, ia menyelesaikan sarapannya dengan cepat agar bisa secepatnya sampai di rumah Kirana.


*****


Rendra memilih membawa mobilnya sendiri daripada di antar supir. Ia juga berpikir kalau hari ini akan mengajak Kirana jalan-jalan, jadi ia ingin hanya mereka berdua saja yang pergi. Setelah memarkirkan mobilnya di gang kontrakan Kirana, Rendra segera turun. Ia juga sempat merapikan sedikit penampilannya yang sebenarnya sudah rapi.


Rendra merasa jantungnya berdetak kencang saat langkahnya kian dekat dengan rumah Kirana. Ia benar-benar seperti bocah ABG yang sedang dilanda asmara. Bahkan Rendra sempat gugup saat mengetuk pintu kontrakan Kirana.


Tok ... Tok ... Tok


Rendra mengetuk pintu itu berkali-kali, namun tidak ada sahutan sama sekali. Rendra mengerutkan dahinya, apakah mungkin Kirana bekerja? Tapi sekarang hari jum'at, biasanya Toserba tempat Kirana bekerja tutup.


"Kemana Kiran?" gumam Rendra kebingungan, ia membuka ponselnya untuk mencoba menghubungi Kirana.


"Maaf, apakah Nyonya melihat penghuni kontrakan ini?" tanya Rendra menyimpan kembali ponselnya di dalam saku jas.


"Oh, Kirana?" ujar seorang ibu-ibu ber daster yang bisa di asumsikan sebagai pemilik kontrakan.


"Iya, apa Nyonya melihatnya?" tanya Rendra lagi.


"Kirana udah pergi, baru aja pagi tadi ngembaliin kunci kontrakan," ucap pemilik kontrakan.


Hal itu tentu saja membuat Rendra sangar terkejut, apa dia tidak salah dengar?


"Pergi? Pergi kemana?" tanya Rendra tanpa sadar membentak karena perasaannya yang berubah tak enak.


"Enggak tau, katanya udah dapet kerjaan lain. Makanya dia mau pindah," ujar pemilik kontrakan semakin kepanikan dalam diri Rendra meningkat.


Kirana pergi? Pindah? Apa maksudnya ini? Kenapa Kirana tiba-tiba pergi? Ini benar-benar hal yang sangat mengejutkan karena anak buahnya mengatakan kalau Kirana baik-baik saja, kenapa sekarang pergi?

__ADS_1


"Sepertinya ada yang tidak beres," batin Rendra segera bergerak cepat menghubungi Bram untuk mencari tahu keberadaan Kirana.


Jika Kirana pergi, pasti ada alasan pasti. Tidak mungkin wanita itu akan pergi begitu saja, pikir Rendra.


"Maaf Tuan, Anda Tuan Rendra bukan?" Ibu kontrakan menahan Rendra saat pria itu akan pergi.


"Ya, aku Rendra" sahut Rendra mengerutkan dahinya.


"Ini tadi ada titipan dari Kirana, katanya di suruh kasih ke Rendra," kata Ibu kontrakan mengambil sebuah hp dan juga amplop dari dalam saku lalu menyerahkannya ke Rendra.


Ekspresi Rendra seketika berubah menjadi rasa terkejut yang sangat amat, ia mengambil barang-barang itu dengan perasaan tak karuan.


"Ini ponsel yang aku berikan pada Kiran, kenapa dia meninggalkannya?" batin Rendra menggenggam ponsel itu dengan erat, hatinya terasa sakit saat Kirana melakukan ini.


Pandangan Rendra lalu beralih ke amplop yang diberikan Kirana. Rendra membawa amplop itu ke mobil lalu membukanya. Sebuah pesan yang di tulis rapi oleh Kirana.


Kau mungkin sudah mengenalku, tapi kau tidak akan tahu seperti apa sifat asliku. Aku pikir berada di dekatmu hidupku akan terasa mudah, tapi sepertinya aku salah.


Aku yang lemah tidak bisa melawan keluargamu ketika mereka menghinaku. Mulai detik itu, aku tahu jika memilihmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.


Aku tidak ingin minta maaf untuk kepergianku, tapi aku ingin kau tahu satu hal. Aku sangat membencimu Rendra! Sangat membencimu! Dan jangan mencari ku untuk alasan apapun! Aku sudah lelah hidup bersandiwara dengan kalian.


Kirana Van Houten.


Rendra membaca pesan itu dengan perasaan yang tak bisa terlukiskan. Antara amarah dan juga rasa tak percaya seketika menghantam dirinya. Jadi benar apa yang dikatakan oleh adiknya Eril? Sekalinya orang berkhianat, pasti dia akan kembali berkhianat untuk kedua kalinya.


"Sial!" Rendra mengumpat seraya meremas kertas itu hingga tak terbentuk. Kemarahannya saat ini sudah di ubun-ubun. Ia merasa dipermainkan oleh Kirana, wanita itu memang sangat licik. Tidak seharusnya ia percaya hingga mencintainya seperti ini.


"Bram! Cari Kirana sampai dapat! Jika kalian tidak menemukan wanita itu dalam satu hari! Aku akan membunuh kalian semua!"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2