Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 41.


__ADS_3

Kirana berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta yang sangat padat. Kakinya melangkah tanpa tujuan yang pasti, saat ini ia tidak punya apapun dan siapapun yang dimiliki. Yang dia punya saat ini hanyalah baju yang dikenakannya saat ini, itupun pemberian dari seserong. Sungguh hidup yang sangat menyedihkan.


Cuaca sudah mulai panas karena matahari semakin meninggi membuat Kirana menghentikan langkahnya sejenak. Ia mencari tempat untuk berteduh dari sengatan matahari yang mengigit. Jujur saja Kirana saat ini sangat bingung ingin kemana, ia tidak punya uang sepeserpun, bagaimana dia akan mencari tempat tinggal dan juga makan.


Oh ya, Kirana ingat. Kenapa dia tidak bekerja saja seperti dulu? Setidaknya dia bisa mendapatkan uang meskipun hanya sedikit.


"Ya, aku harus bekerja. Semoga ada tempat yang mau menerimaku bekerja," batin Kirana sangat berharap akan hal itu.


Setelah cukup lama ia beristirahat, Kirana langsung bangkit, dia sudah lebih bersemangat untuk mencari pekerjaan hari ini. Namun saat Kirana baru saja bangkit, tiba-tiba beberapa orang dengan pakaian hitam berjalan ke arahnya.


Hal itu sontak membuat Kirana terkejut, tubuhnya gemetar hebat karena berpikir kalau mereka pasti akan bertindak jahat. Seketika otak Kirana mengatakan untuk kabur, namun sialnya di sisi lain juga datang orang yang berpakaian sama.


"Mau apa kalian?" Kirana bertanya takut.


"Kami tidak ingin melakukan apapun Nona. Anda bisa tenang," ucap seorang pria yang merupakan ketua kelompok itu.


"Aku tidak punya urusan apapun dengan kalian! Biarkan aku pergi," kata Kirana mencoba berani.


"Mohon maaf Nona, permintaan Anda di tolak. Tuan sedang dalam perjalanan kemari" ucap pria itu lagi.


"Tuan? Tuan siapa?" tanya Kirana bingung.


Namun tak membutuhkan waktu lama untuk Kirana menebak siapa orang itu. Karena kini ia bisa melihat sosok pria yang baru saja turun dari mobilnya. Pria gagah dengan setelan jas hitamnya, siapa lagi kalau bukan Rendra.


Kirana terdiam, menatap Rendra yang terlihat sangat tampan di bawah terik matahari siang itu. Bohong rasanya kalau Kirana mengatakan tidak terpesona dengan makhluk Tuhan yang sempurna ini. Namun karena hal itu juga Kirana menjadi yakin kalau pilihannya menjauhi pria ini sangat tepat. Bahkan perbedaan antara mereka sangatlah jelas, bagaikan langit dan bumi.


Rendra berdiri tepat dihadapan Kirana yang hanya diam saja. Ia memberikan gestur kepada semua anak buahnya untuk mundur, ia hanya ingin berbicara berdua kepada Kirana. Untung saja tempat itu cukup sepi, tak banyak orang yang melintas.

__ADS_1


"Kenapa pergi?" ucap Rendra menatap lurus mata Kirana.


"Memang sudah seharusnya aku pergi" sahut Kirana sebisa mungkin mengabaikan perasaan dalam hatinya.


"Kenapa?" hanya kata itu yang Rendra lontarkan, namun Kirana sangat mengerti.


"Aku hanya ingin pergi. Urusan kita berdua sudah selesai, dan aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu. Oh ya, sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, karenamu aku bisa bebas sekarang," kata Kirana dengan nada biasa saja, tak perduli saat melihat perubahan dari wajah Rendra.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi Kirana!" kata Rendra sangat tegas.


"Memangnya apa hak mu melarangku untuk pergi? Kita tidak punya hubungan apapun bukan? Kita hanya orang asing yang kebetulan saling bersinggungan Rendra. Aku harap, kau ingat akan hal itu" kata Kirana berusaha keras menahan tangisnya saat mengatakan hal itu.


"Itu menurutmu! Menurutku kau bukan orang asing lagi bagiku, kau adalah wanita yang aku cintai Kirana! Apa kau tidak percaya akan hal itu?" kata Rendra memegang erat kedua lengan Kirana.


"Cinta? Kau mengatakan cinta Rendra? Apa kau pikir wanita seperti aku pantas mendapatkan cinta darimu? Tidak Rendra! Aku wanita yang tidak pantas mendapatkan cintamu! Aku hanya wanita kotor!" ucap Kirana membentak Rendra dengan putus asa, ia tak ingin pria ini mencintainya, ia tak ingin Rendra mencinta wanita menjijikan seperti dirinya.


"Kenapa tidak? Dan kau sama sekali tidak berhak mengatakan kau pantas untukku atau tidak Kirana! Aku mencintaimu bukan karena kau wanita suci atau bukan. Aku mencintaimu karena dirimu Kiran," ucap Rendra menatap Kirana penuh perasaannya, ia benar-benar yakin kalau hanya wanita ini yang diinginkan hatinya.


"Tapi kita tidak bersama Rendra, kau dan aku itu berbeda, itu sudah jelas. Aku mohon, jangan menentang takdir, kita memang tidak ditakdirkan bersama" ucap Kirana melepaskan tangan Rendra di lengannya kemudian beranjak pergi darisana.


"Apa yang kau inginkan Kirana?" ucap Rendra membuat Kirana menghentikan langkahnya.


"Aku ingin kau melupakanku" kata Kirana mengigit bibirnya, menyamarkan isak tangis yang sebenarnya ingin pecah. Hatinya sakit sekali ya Tuhan, dia juga mencintai Rendra, tapi dia juga sadar tentang siapa dirinya.


"Jika aku melupakanmu, apakah kau juga akan melupakanku?" ucap Rendra menatap lurus punggung Kirana yang bergetar, menandakan kalau wanita itu berusaha keras menahan tangisnya.


Kirana terdiam, apakah dia akan melupakan Rendra? Tentu saja jawabannya tidak, karena Rendra adalah satu-satunya bagian terindah dalam hidupnya. Satu-satunya pria yang membuatnya bahagia dan juga takut secara bersamaan.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menjawabnya, aku tau kau tidak akan bisa melupakanku Kirana. Karena kau pun mencintaiku. Tidak apa kau tidak mengakuinya, tapi jangan pernah melarang ku jatuh cinta padamu, karena aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun, kau harus ingat itu" kata Rendra dengan suara berat khas dirinya yang sangat tegas, menandakan bagaimana seriusnya ucapannya.


Kirana mematung, mendengarkan ucapan Rendra yang entah kenapa membuat hati Kirana bergetar. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Rendra yang masih berdiri di tempatnya. Pria ini, kenapa bisa seperti ini? pikirnya.


"Kenapa kau melakukan itu?" kata Kirana antara kesal dan juga gemas karena sikap Rendra yang menurutnya sangat keras kepala.


"Karena aku ingin melakukannya" sahut Rendra singkat saja.


"Kau--"


"Apa kau tidak jadi pergi?" ucap Rendra langsung menyela begitu.


"Tentu saja jadi, aku akan pergi" kata Kirana mencebikkan bibirnya kesal.


"Menikahlah denganku," kata Rendra membuat Kirana kembali membeku.


"Apa?" Kirana ingin memastikan sekali lagi apa yang didengarnya.


"Menikahlah denganku Kirana, jadilah istriku.." kata Rendra dengan wajahnya yang serius.


Kirana semakin tidak mengerti dengan sikap Rendra yang sangat absurd itu. "Kau pikir menikah itu lelucon?" seru Kirana merasa Rendra ini hanya main-main saja.


"Aku tidak pernah mengatakan hal itu lelucon. Aku serius ingin menjadikanmu istriku" kata Rendra tak merubah ekspresi wajahnya.


"Tapi aku tidak mau menikah denganmu" kata Kirana sungguh kesal sendiri dengan sikap Rendra.


"Aku tidak perduli. Bagiku kau adalah wanitaku, dan calon istriku"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2