
David membuka matanya saat merasakan pergerakan Zoya, Zoya bersandar di kepala ranjang dengan wajah pucat memegangi perutnya
"Zoya.. apa yang terjadi?" David terperanjat melihat Zoya tampak kesakitan
"Perutku sakit sekali..."
"Dimana sakitnya? coba aku lihat" David menaikkan ujung baju Zoya
Zoya spontan memukul tangan David lalu kembali berbaring, David mengangkat tubuh Zoya hendak membawanya
"Kau mau bawa aku kemana?" Tanya Zoya
"Lihat ada darah di sprei.. kau pasti terluka parah"
"Stop... turunkan aku" Zoya meronta minta di turunkan
Bagaimana jika David membawanya ke rumah sakit, dia pasti akan sangat malu
"Tuan... aku hanya sedang datang bulan"
"Datang bulan? bulan apa? " tanya David
"Maksudku menstruasi, tolong turunkan aku dulu nanti aku jelaskan " David menurut menurunkan Zoya di tepi ranjang
Zoya menjelaskan panjang lebar karena David terus bertanya, sampai akhirnya David benar benar membuat Zoya kesal
"Lalu itu darah dari mana? bagian mana yang terluka"
"Dari.... dari sana" Zoya menunjuk dengan matanya
"Dari mana? bicara yang jelas"
"Dari sini.. aku mohon jangan banyak bertanya dulu perutku sakit sekali" Zoya yang terlanjur kesal menunjuk dengan tangannya
"Itu terluka? coba aku periksa dulu" David berusaha membuka dress yang di pakai Zoya
"Hentikan... hentikaaaan" teriak Zoya seraya seraya menendang David
"Matilah aku" Zoya membulatkan matanya ketika menyadari telah menendang David
"Beraninya kau... " David mengukung tubuh Zoya seraya menahan kedua tangannya
"Tunggu tuan.. sabar dulu, kita tidak bisa melakukan ini" ucap Zoya selembut mungkin
"Kenapa aku tidak bisa melakukannya? kau tidak bisa membohongiku"
"Cobalah cari di internet tuan, aku tidak berbohong.. cek dulu, kalau aku salah kau boleh melakukannya " ucap Zoya
David pun mengambil handphonenya dan mencari seputar menstruasi, David melirik Zoya sekilas lalu kembali membaca
"Apa aku harus membelikan mu ini?" David menunjukkan foto pembalut
"I...iya.. tapi jika kau keberatan biar aku yang membelinya sendiri"
__ADS_1
"Jangan harap.. tunggu disini" David pergi meninggalkan Zoya
Tak lama setelah itu David kembali membawa pembalut untuk Zoya, Zoya mengerutkan dahinya berpikir darimana David mendapatkannya dengan waktu singkat
"Kau membelinya sendiri?" tanya Zoya
"Kau pikir aku tidak punya malu? itu milik pelayan disini, kau pasti berpikir aku akan membelikannya untuk mu?"
"Aku hanya bertanya" gumam Zoya
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak... terimakasih tuan sudah mencarikannya untuk ku" ucap Zoya
"Kau tidak butuh bantuan untuk memasangnya?"
"Tidak.. tidak perlu.. terimakasih, aku bisa sendiri" Zoya segera pindah ke kursi rodanya lalu pergi ke kamar mandi
"Dia itu benar benar tidak tahu atau hanya pura-pura? dia terlihat bodoh" gumam Zoya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku tidak tahu namanya, kau cari tahu saja tentang wanita yang ada di dalam foto itu.. aku ingin kau bergerak cepat" Lisa menelpon seseorang
"Baiklah.. jika kau mendapatkan kabar segera beritahu aku"
"Tenang saja.. aku akan memberimu upah cukup besar setelah kau melakukan sesuatu untuk ku "
Lisa Segera menutup teleponnya saat melihat kedatangan Martin, Martin ingin damai di masa tuanya maka dari itu dia meninggalkan dunia kelamnya
"Iya... nanti tolong masak agak banyak, aku akan mengajak David makan siang disini" ucap Martin
"Baiklah... hati hati di jalan" ucap Lisa seraya tersenyum
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ibuuuuu.... lihat ini" Charlotte berteriak kegirangan
"Apa?" ibunya berjalan dari arah dapur menghampirinya
"Samuel ibu... dia membelikan aku rumah mewah ini, aaaaa.... aku senang sekali" Charlotte menunjukkan gambar di handphonenya
"Astaga... anak ibu sangat beruntung, jadi nanti kita akan tinggal disini?"
"Tentu saja.. lihat saja nanti, aku akan mengelola keuangan Samuel jadi kita bisa berfoya-foya" Charlotte begitu senang sampai melompat-lompat
"Sepertinya Samuel sangat mencintai mu, sayang"
"Tentu saja.. aku cantik, menarik, dan terpelajar tidak seperti si anak pungut itu" jawab Charlotte dengan bangganya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
David pulang sebentar ke rumah untuk memastikan keadaan Zoya, ternyata saat David masuk ke dalam kamar Zoya sedang berbaring sambil membaca novel
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkan buku ini?" tanya David
"Dari Nancy... dia belanja dan membelikan ku buku ini, dia sangat baik" jawab Zoya
"Kau suka ?"
"Iya... aku jenuh setiap hari hanya diam, aku juga tidak bisa bolak balik turun" Zoya kembali membaca buku yang ada di tangannya
"Kau bisa meminta pelayan membawa mu turun"
"Aku tidak mau... aku malu memerintah mereka, aku bukan siapa siapa" ucap Zoya
"Tapi kau...." David menggantung kata katanya
David juga bingung harus mengatakan apa, Zoya memang bukan siapa siapa di rumah itu
"Aku ingin bicara, maukah kau mendengarkan ku?" tanya Zoya, David duduk di samping Zoya di tepi ranjang
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya David
"Kau mengatakan akan menyelidiki kejadian hari itu? " David mengangguk
"Apa aku bisa meminta belas kasihan dari mu? sebelum semuanya terbukti bisakah kau sedikit baik padaku? maksudku tidak memukul atau memaksaku melakukan sesuatu yang membuatku merasa di rendahkan?"
"Apa maksudmu?" Zoya sedikit beringsut menjauh karena takut David akan marah
"Ma..maksudku.. aku..."
"Kau tidak perlu takut seperti itu, aku akan memenuhi permintaan mu yang pertama tapi untuk yang kedua.. aku tidak mau bernegosiasi" jawab David seraya beranjak dari duduknya
"Itu artinya dia akan tetap melakukannya? kehidupan macam apa ini? aku hanya ingin melakukannya dengan suamiku, dengan penuh cinta tapi sepertinya aku hanya akan menjadi budaknya " air mata Zoya mengalir membasahi pipinya
"Maafkan aku ayah... aku menjadi wanita kotor, sangat kotor, bahkan seorang p*l*c*r saja di bayar untuk apa yang mereka kerjakan.. sementara aku?"
Zoya meletakkan bukunya lalu berbaring menutup tubuhnya dengan selimut, David kembali ke kamar dan mengira Zoya hendak tidur
"Aku akan pergi ke rumah orang tuaku, apa kau ingin beli sesuatu?" tanya David namun tak mendapat jawaban dari Zoya
David mengira Zoya sudah tidur namun nyatanya Zoya sedang menangis meratapi nasibnya yang di perlakukan semena-mena oleh David, ternyata ucapannya bukan omong kosong wanita hanya bagai mainan bagi David
"Mungkin dia tidur" David pergi menutup pintu kamar
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Selamat siang ayah.. ibu.." David baru saja datang dan langsung bergabung di meja makan
"Sudah lama menunggu?" tanya David
"Tidak nak.. ayahmu juga baru saja pulang" jawab Lisa
"Kenapa ayah menatapku seperti itu?" David kembali bertanya saat Martin menatapnya dengan tatapan mengintrogasi
"Kita makan.. selesai makan temui ayah di ruang kerja" Ucap Martin
__ADS_1
"Baik ayah" David tidak banyak bertanya karena apapun yang di perintahkan ayahnya memang David tidak pernah banyak bertanya
Martin tipe orang yang harus makan dengan suasana hening, dia tak suka saat membahas sesuatu di meja makan