
David yang baru saja pulang melihat Zoya berada di atas balkon, Zoya kabur dari kamarnya dan mencari tempat tinggi di rumah itu
Dengan santai David naik ke atas kap mobilnya berbaring menggunakan kedua tangannya menjadi bantal, dia tak merasa khawatir sama sekali jika Zoya melompat dari sana
"Kau mau bunuh diri? ayo lakukan.. lakukan sekarang" ucap David
Zoya merentangkan tangannya sambil memejamkan mata, kakinya mulai menaiki pagar besi yang menjadi pembatas balkon tersebut
Tubuhnya yang lemah sepertinya akan dengan mudahnya jatuh jika tertiup angin, Zoya kembali berpegangan pada besi pembatas
Tiba tiba keberaniannya menciut saat dia kembali membuka mata, Zoya menurunkan kakinya dari besi pembatas
"Kenapa Zoya? ayo melompat, aku ingin melihat apa kau akan langsung mati atau hanya cacat saja?" mendengar ucapan David membuat Zoya semakin takut
Bagaimana jika dia melompat dan tak mati namun malah cacat, bukan hanya sulit untuk pergi dari rumah itu namun dia juga tidak akan bisa melakukan apapun
"Melompat lah.. lompat sekarang" ucap David
Saat Zoya lengah para penjaga menariknya kembali ke dalam, David tersenyum smirk lalu turun dan berjalan menuju rumah
Zoya kembali di masukkan ke dalam kamar dan sekarang pintunya di kunci dari luar, Zoya menggedor pintu dan berteriak minta pintunya di buka
Kunci terdengar di putar dan pintu terbuka namun sekarang Zoya malah diam. bagaimana tidak, Zoya melihat pria itu menatapnya dengan tatapan membunuh
"Kenapa kau begitu mudah berubah pikiran Zoya? tadi kau ingin bunuh diri lalu mengurungkan niat mu untuk melompat, sekarang kau minta di bukakan pintu tapi setelah di buka kenapa kau hanya diam?" ucap David
"Jangan mendekat.. jangan mendekat" Zoya mundur beberapa langkah lalu mengambil sebuah gelas dan memecahkannya
Zoya mengacungkan pecahan gelas tersebut kearah David, David tersenyum smirk dan semakin mendekat
David menarik tangan Zoya lalu mengarahkan tangan yang berisi pecahan kaca ke leher Zoya, mendadak tubuh Zoya menjadi gemetar hebat
"Kau ingin bermain sayang? aku akan mengabulkan keinginanmu " David berbicara dengan mulut menempel di telinga Zoya membuatnya merinding
"Sekarang serang aku" David melepaskannya lalu mendorong Zoya
"Pakai ini" David mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan melemparkannya ke arah Zoya
Pisau yang di lempar tersebut hampir mengenai wajah Zoya beruntung gadis itu bisa mengelak dan pisau menancap di pintu lemari
"Cukup pintar... " ucap David seraya bertepuk tangan melihat Zoya bisa menghindar
Zoya mengambil pisau yang menancap di belakangnya lalu menghampiri David, Zoya menyerang David namun tidak ada satupun serangannya yang mengenai David
__ADS_1
David Menarik tangan Zoya dan menggoreskan pisau yang di pegang Zoya ke bagian lengan satunya lagi, lengan Zoya mengeluarkan darah membuatnya meringis kesakitan
David yang berada di belakang Zoya menjilat darah yang mengalir dari tangan Zoya, David tak merasa jijik sedikitpun
"Manis... aku jadi ingin menguliti mu hidup hidup dan aku minum darahmu" bisik David
Zoya tentu saja menjadi mual mendengarnya, Zoya melepaskan diri dari David lalu berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya
"Aku suka keberanian mu tapi.... aku bukan tandingan mu" David berbisik seraya memeluk Zoya yang berdiri di depan wastafel
Zoya hanya bisa menangis dan menangis saat David menyusuri lehernya dengan bibirnya, Zoya menatap jijik dirinya sendiri di cermin
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kau masih mengingat mereka sampai saat ini?" Isabella melihat suaminya menatap sebuah foto di ruang kerjanya
"Dia istri dan anakku, bagaimana bisa aku melupakan mereka" ucap Martin
"Aku juga istrimu, bertahun tahun aku hanya menjadi pajangan di rumah ini.. dan anakmu.. dia juga mati tapi sepertinya kau biasa biasa saja, apa arti kami sebenarnya bagimu?"
"Isabella... hentikan omong kosong mu, aku sudah katakan sejak awal padamu bahwa separuh hatiku sudah pergi bersama mereka.. kau menyanggupinya dulu tapi kenapa setelah menjadi istriku kau selalu menuntut agar aku melupakan mereka?" Martin meletakkan foto tersebut ke dalam laci dan menguncinya
"Tapi aku sudah muak Martin.. aku muak hanya menjadi bayang bayang istrimu yang sudah mati, bukan hanya separuh hatimu yang pergi tapi seluruhnya " Isabella setengah berteriak
Bertahun tahun Isabella berjuang untuk mendapatkan posisi yang layak di dalam rumah tangganya. namun, bukannya Martin berubah mencintainya malah Martin semakin dingin apalagi setelah anaknya dan Isabella meninggal
"Aarrgghh.... dasar wanita sialan, sudah mati saja masih bisa menjadi masalah" Isabella membuang semua yang ada di atas meja kerja Martin hingga berantakan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ibu.... lihatlah.." pekik Charlotte ketika baru saja pulang ke rumah
"Kau ini kenapa teriak teriak seperti di hutan saja"
"Ibu lihat ini.. Samuel membelikanku rumah yang sangat besar, aku tidak sabar ingin segera menikah dengannya ibu" Charlotte begitu senang karena Samuel begitu memanjakannya
"Apa?? hanya rumah? kenapa kau tak minta mobil dan perhiasan sekalian?"
"Ibu tenang dulu, dia mengatakan akan memberiku berlian saat tunangan dan menikah.. untuk mobil dia akan membelikannya setelah kita menikah" Charlotte sampai berjingkrak karena bahagia
"Kalau saja Zoya melihatnya ibu yakin dia akan menangis darah" ucap ibunya
"Bagaimana keadaannya sekarang ya Bu? apa dia sudah mati?" tanya Charlotte
__ADS_1
"Kenapa memilih dia? biarkan saja, hidup atau mati pun tidak akan ada yang mencarinya "
"Tapi aku kesal dengan pemilik butik teman ayah itu, dia tidak mau menjual gaunnya padaku karena aku dan Samuel mengkhianati Zoya " wajah Charlotte berubah kesal saat mengingatnya
"Sombong sekali dia.. ibu akan beri pelajaran padanya nanti" entah apa yang akan di lakukan ibu Charlotte pada pemilik butik tersebut
"Beri dia pelajaran agar tidak berani lagi padaku Bu"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
David duduk bersandar di kepala ranjang dengan rokok yang masih mengepul di tangannya, David bertelanjang dada dengan bagian bawah hanya di tutupi selimut
Sementara Zoya di sampingnya berbaring memejamkan mata dengan tubuh di tutupi selimut juga, entah Zoya sedang tertidur atau mungkin pingsan setelah David kembali memaksanya
Tok.. tok.. tok..
"Maaf tuan.. di depan tuan besar sudah menunggu" seorang penjaga mengetuk pintu kamar Zoya
"Aku akan menemuinya" ucap David
David memakai bathrobe lalu keluar dan mengunci pintu kamar Zoya, David menemui ayahnya dengan keadaan masih berantakan
"Kau berkeringat sekali.. apa yang sedang kau lakukan?" tanya Martin
"Aku baru saja selesai berolahraga, aku akan pergi mandi" jawab David
"Kau masih terlibat dengan dunia terlarang? " tanya Martin
"Ayah.. kita jarang bertemu dan sekalinya bertemu ayah membahas itu" jawab David
"Ayah hanya tidak ingin kau dalam bahaya, ayah sudah pernah merasakannya dulu sampai ayah harus kehilangan istri dan anak ayah"
"Ayah ingin kau hidup normal, mempunyai keluarga dan anak.. usia mu sudah tidak muda lagi" lanjut Martin
"Aku masih ingin hidup sendiri ayah, aku menyukai kehidupanku yang sekarang.. aku mencintai dunia terlarang itu dan aku tidak ingin seperti ayah"
"Ayah kehilangan keluarga ayah dan aku tidak mau itu terjadi, aku takut tidak bisa menjaga keluargaku.. lagi pula tidak ada seseorang yang aku cintai selain pekerjaan terlarang itu" sambung David
"Kau masuk terlalu dalam David jangan sampai kau kesulitan untuk keluar, carilah wanita sesekali jangan hanya bermain dengan senjata"
"Aku bisa mendapatkan wanita manapun ayah, aku hanya tidak ingin berkomitmen dengan mereka" jawab David
"Kau ini keras kepala sekali, ayah harus pergi.. jaga dirimu baik baik''
__ADS_1
"Baik ayah.. ayah jaga kesehatan" David mengantar ayahnya masuk ke dalam kamar
Meskipun hanya ayah angkat namun sepertinya Martin lebih menyayangi David di bandingkan Isabella, Isabella hanya hidup seperti pajangan di hati Martin