
Zoya perlahan membuka matanya seraya memegangi kepalanya, Zoya masih mengedarkan pandangannya
"Aku di kamar? David?" mata Zoya membulat lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya
Saat hendak bangun sebuah tangan kembali menariknya dan membuatnya kembali berbaring, tangan David melingkar di tubuh Zoya menariknya kedalam pelukannya
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Zoya dengan kecewa
"Aku? kau yang melakukannya, aku sudah berjanji tidak akan menyentuh mu kecuali kau yang memintanya"
"Tidak... ini tidak mungkin, kau bohong" Zoya menjauh dari David seraya menutup tubuhnya dengan selimut
"Kenapa aku harus berbohong? jika aku mau aku tinggal membayar seorang wanita, untuk apa aku memaksamu?"
"Dia memang bajingan" batin Zoya
"Kau ingin menyebutku seorang bajingan? lihatlah seberapa liarnya dirimu semalam" David meraih ponselnya lalu menunjukan rekaman cctv
Zoya melempar handphone David diatas ranjang, Zoya begitu terkejut melihat dirinya dalam rekaman video
"Kau... kau benar-benar bajingan... kau memasang kamera di kamarku '' Zoya memukuli David dengan bantal
David hanya cengengesan sambil menangkap tangan Zoya, saat Zoya sedang menggerutu pandangan David mengarah ke tubuh Zoya
"Aaaarrrggghhh... kau benar-benar menyebalkan" Zoya menarik selimut lalu menyilangkan tangan di dadanya
"Kenapa kau marah padaku? kau yang melakukannya bukan aku, kau lihat sendiri aku hanya pasrah di bawah kendali mu"
"Diam... diam... diam.. aku tidak mau mendengar apapun lagi, ini memalukan" Zoya berbaring membelakangi David lalu menutup telinganya dengan bantal
David terus saja mengusik Zoya dan menggodanya, Dari kamar Zoya terdengar suara Zoya yang sedang menggerutu di iringi tawa kecil David
Para pelayan yang melewati kamar Zoya saja bertanya tanya, apa yang Zoya berikan pada David hingga pria dingin nan kejam itu bisa tertawa meskipun terdengar di marahi oleh Zoya
"Keberadaan nona Zoya disini menjadi keajaiban, baru kali ini aku mendengar suara tertawa tuan"
"Kau baru disini.. aku saja yang sudah belasan tahun kerja disini tidak pernah mendengar tuan tertawa atau tersenyum meskipun bersama kekasihnya" jawab pelayan tertua
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kau mau kemana? " tanya Lisa
"Aku akan pergi keluar kota beberapa hari, jaga dirimu" ucap Martin
"Kau juga.. hati hati di jalan"
__ADS_1
Martin kini tak lagi bersikap dingin pada Lisa sesuai janjinya. namun, tetap saja Martin tak pernah menyentuh Lisa sedikitpun
Martin hanya menganggap Lisa seperti teman baginya, meskipun begitu sudah cukup untuk membuat Lisa senang hingga sejenak melupakan kemarahannya pada Zoya
Lisa melambaikan tangannya saat mobil Martin keluar dari halaman rumah, Senyum bahagia terpancar dari wajah Lisa saat Martin membalas lambaian tangannya
"David... anak itu apa kabar? gara gara wanita sialan itu David jadi tak peduli lagi padaku" ucap Lisa
Sejak Lisa pergi dari rumah David dengan kemarahan yang meledak-ledak David sama sekali belum menemuinya, Bahkan sebuah panggilan saja tidak ada
David yang biasanya akan takut jika dirinya marah tampaknya sekarang sudah tidak berpengaruh lagi, David menjadi tak peduli bahkan menolak secara terang-terangan perjodohannya dengan Zellyn
"Aku harus menyingkirkan wanita itu dari hidup David"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Zoya... sampai kapan kau akan terus marah? itu salahmu sendiri" David masih memeluk tubuh Zoya yang menutupi kepalanya dengan bantal
"Lagi pula kenapa kau minum begitu banyak padahal belum terbiasa? kau juga semalam menangis sewaktu di pesta, apa ada yang menyakitimu?"
"Kapan orang lain tidak pernah menyakiti aku? dari mulai memanggilku anak haram, di khianati orang yang aku percaya, di fitnah membunuh, terkurung disini menjadi J*l*ng mu, bahkan orang tua ku tak mengharapkan kehadiran ku.. apa kau pikir ada orang yang baik padaku selain ayah angkat ku?" David semakin mengeratkan pelukannya
"Aku sudah meminta maaf.. apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan aku?"
"Entahlah... setelah hari ini apa aku masih bisa percaya padamu?" David membuang bantal yang menutupi kepala Zoya dan menariknya ke dalam pelukannya
"Benarkah? apapun yang aku katakan akan kau penuhi?" Zoya mendongakkan kepalanya
"Katakan saja kecuali pergi dari sisiku"
"Kenapa? apa yang membuatmu menahanku disini?" Tanya Zoya
"Mungkin karena aku kesepian dan aku sudah terbiasa denganmu, aku tidak pernah merasakan kehangatan di rumah ini"
"Apa aku bisa menukar kebebasan ku dengan balas dendam pada orang orang yang merendahkan ku? " batin Zoya
"Jika aku menyerahkan seluruh hidupku apa kau akan membalas demikian? maksudku.. apa kau akan melindungi ku dan membalas setiap perlakuan orang yang menindas ku?" tanya Zoya
"Apa pun untukmu... "
"Aku akan menyerahkan hidupku balaskan sakit hatiku pada keluarga Samuel, itu pun jika kau bisa" David mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya saling menempel
"Aku anggap ini sebagai perjanjian diantara kita, sebentar lagi kau akan mendengar berita kehancuran keluarga itu"
"Tidak perlu terburu-buru.. aku ingin mereka merasa diatas awan lalu di jatuhkan" ucap Zoya
__ADS_1
"Baiklah aku ikut skenario mu.. mulai hari ini kau adalah wanitaku, aku membebaskan dirimu untuk apapun kecuali pergi dari sisiku" begitu mudahnya membuat kesepakatan dengan David
David mengambil sebuah kartu kredit juga kunci mobil di dalam sebuah laci, Zoya cukup terkejut ternyata David benar benar percaya begitu saja padanya
Entah Zoya akan menyesal atau tidak namun kemarahannya sudah berada di ubun-ubun, Zoya tanpa pikir panjang menyerahkan hidupnya hanya untuk sebuah balas dendam
"Kau bebas pergi kemanapun dengan pengawasan dariku, kau bisa membeli apapun tidak perlu sungkan" Zoya menatap kartu kredit di tangannya, seumur hidupnya baru kali ini dia memiliki kartu semacam ini
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Seminggu sudah kesepakatan diantara Zoya dan David terjalin, Zoya benar benar di berikan kebebasan meskipun masih di ikuti supir
Hari ini Zoya mampir kesebuah toko jam tangan dan terlihat sedang memilih jam tangan untuk pria, Tiba-tiba Charlotte dan ibu mertuanya berdiri di samping Zoya
"Lihatlah jam ini.. pasti cocok untuk Samuel" ucap Charlotte sambil menarik jam yang sedang di lihat Zoya
"Tapi Charlotte aku akan membelinya" ucap Zoya
"Adik... kau membeli jam tangan untuk siapa?" tanya Charlotte
"Tentu saja untuk sugar Daddy nya, wanita simpanan ini punya banyak uang sekarang" ledek ibu Samuel
"Emmhh... Charlotte aku baru saja melihat kalung yang sangat cocok untuk mu" ucap Zoya seraya menunjuk kalung tersebut
"Aku sudah lama menginginkannya.. tapi aku harus membeli hadiah untuk suamiku " gumam Charlotte
"Kalau begitu ambillah.. biar wanita simpanan ini yang bayar" ucap Zoya penuh sindiran
"Kau bercanda? " mata Charlotte terbelalak melihat harga yang tertera di kalung tersebut
"Uang dari suamimu masih cukup Charlotte.. jangan terlihat lebih rendah darinya " bisik ibu Samuel
"Tidak ibu... untuk kali ini saja aku akan menerima tawarannya, bahkan uang untuk membeli jam tangan saja masih kurang" jawab Charlotte
"Kau juga ingin nyonya? silahkan ambil satu" ucap Zoya dengan nada merendahkan
"Aku masih mampu membelinya sendiri" jawab ibu Samuel penuh kesombongan
"Baiklah Charlotte silahkan ambil.. aku tak punya banyak waktu"
"Bungkus yang itu.. terimakasih Zoya, kau benar-benar baik" Charlotte memeluk Zoya yang berdiri di sampingnya
"Sama sama.. aku sudah bayar, aku pergi dulu" ucap Zoya
Ibu Samuel melihat Zoya pergi sambil menepuk tubuhnya seolah jijik karena di peluk oleh Charlotte, sayangnya Charlotte tak melihat karena terlalu senang menatap kalung yang di berikan Zoya
__ADS_1
"Kau akan membayar mahal untuk itu" gumam Zoya seraya tersenyum jahat
Kini Zoya telah belajar bagaimana menjadi sejahat mereka, meskipun dia benar-benar menjadi wanita j*l*ng bagi David