Jerat Cinta Tuan David

Jerat Cinta Tuan David
eps 64


__ADS_3

"Selamat siang.. silahkan di lihat lihat dulu" Magdalena begitu ramah menyambut pelanggan


"Nasya.. bisa bantu aku" ucap Magdalena setengah berteriak


Bel kembali berbunyi saat pintu kaca terbuka, Zoya masih sibuk membantu Magdalena membungkus kue pelanggan


Magdalena sudah melihat keberadaan David dan Zellyn namun dia sengaja tidak memberitahu Zoya, dia ingin Zoya melihat dengan matanya sendiri agar dia bisa melupakan David


"Aku pergi mengantar kue pesanan, kau bisa melayani pembeli sendirian?" tanya Magdalena


"Pergilah dan hati hati"


Magdalena sengaja pergi agar Zoya bisa kuat berhadapan langsung dengan David dan keluarga kecilnya


"Sayang kau mau kue yang seperti apa?" tanya Zellyn pada Maya


"Menurut ayah diantara kedua kue ini mana yang lebih cantik?" tanya Maya pada David


"Ayah rasa tidak ada yang lebih cantik dari mu" Goda David


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya Zoya mengedarkan pandangannya, pandangan Zoya terkunci pada keluarga kecil yang sedang tersenyum bahagia


Tangan Zoya gemetar bahkan dia kesulitan hanya untuk mengikat sebuah pita, Zoe baru saja masuk setelah turun dari taksi


"Zoe.." Maya melambaikan tangan seraya tersenyum


Anak laki-laki itu hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya, Maya meninggalkan orang tua nya untuk menghampiri Zoe


"Kau mau membeli kue juga?" tanya Maya yang tidak putus asa mendekati Zoe yang cuek


"Tidak.."


"Lalu apa yang kau cari?" tanya Maya


"Ibuku.. jika sudah selesai memilih cepat bayar dan pergi" ucap Zoe seraya masuk menghampiri Zoya ke meja kasir


Maya masih tak menyerah dan mengikuti langkah Zoe hingga berada di dekat Zoya, Zoya menoleh kearah anaknya yang di ikuti anak Zellyn


"Zoe temanmu mungkin ingin bermain" ucap Zoya


"Dia bukan temanku, aku bantu ibu saja " Zoya naik ke kursi kasir


"Hai bibi... aku Maya. teman sekolahnya Zoe, meskipun kita beda kelas" ucap Maya seraya tersenyum menampakkan gigi kecilnya


"Hai Maya.. sudah mendapatkan kue yang kau inginkan?"


"Belum.. tapi aku akan memilih lagi, dadah bibi" Maya berlari keluar menghampiri kedua orang tuanya


Entah apa yang Maya bisikkan pada David hingga pria itu menghampiri Zoya, tangan Zoya sudah terasa dingin namun keringat mengucur deras

__ADS_1


Jantung Zoya bak genderang perang mungkin suaranya sudah terdengar keluar, Ingin rasanya dia segera lari dari sana namun dia akan di pandang aneh oleh orang orang


"Permisi... anakku ingin mengadakan acara ulang tahun disini, apa kau bisa mengaturnya?" ucap David


Begitu sulit walaupun satu kata yang akan Zoya ucapkan, lidahnya kelu dengan tenggorokan terasa tercekat


"Permisi?" David mengetuk etalase kaca di hadapannya


"Maaf tidak bisa" jawab Zoya dengan suara gemetar


"Aku bayar berapapun yang penting keinginan anak ku terwujud"


"Tidak" jawab Zoya tanpa memandang kearah David


"Kita bicarakan masalah harga tuan, sebelah sini" Magdalena yang baru saja datang menyiapkan tempat duduk untuk mereka mengobrol


Zoya menggelengkan kepalanya saat Magdalena menatapnya, Zoya menjaga perasaan Zoe yang tidak pernah merayakan ulang tahun bersama sang ayah


"Kenapa ibu tolak? harusnya ibu terima dan minta bayaran besar, mereka yang mengatakan akan membayar berapapun, bukan?" ucap Zoe


"Kita pulang saja Zoe.. ibu tidak enak badan"


Zoe akhirnya turun ketika melihat wajah lesu ibunya dan menuntun tangannya, Zoe sangat menyayangi Zoya meskipun mereka sering bertengkar


"Kita pergi ke dokter dulu ibu?" tanya Zoe


David mendengar ucapan Zoe saat melintasi meja dimana dia dan Magdalena duduk, David menghentikan langkah mereka dengan memegang tangan Zoe


"Tidak.. kami tidak butuh bantuan orang asing" Ucap Zoe lalu menepis tangan David


"Maaf tuan dia memang seperti itu" ucap Magdalena


"Dimana ayah anak itu?" tanya David


"Sudah mati saat Zoe masih di dalam kandungan, Nasya membesarkan anaknya tanpa suami tapi beruntungnya dia bertemu dengan pria baik yang selalu ada di saat Nasya kesulitan meskipun Nasya selalu menolaknya " jawab Magdalena


"Beruntung sekali... dia di pedulikan pria sejati" ucap Zellyn


"Apa kau kurang beruntung nyonya? apa kau tidak di pedulikan? aahh.. maaf aku hanya bercanda" ucap Magdalena membuat Zellyn tersenyum kikuk


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Apa ibu baik baik saja?" tanya Zoe saat melihat Zoya tampak sangat sedih


"Ibu baik baik saja, peluk ibu sebentar" Zoya merentangkan tangannya


Zoe memeluk Zoya sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Zoe merasakan saat air mata Zoya menetes di kepalanya namun bocah itu tak mengatakan apapun


Zoe menaruh curiga pada ibunya karena selalu menangis setelah bertemu dengan ayah Maya, Zoe tak bertanya namun dia akan mencari tahu sendiri apa yang terjadi dengan ibunya

__ADS_1


"Nenek sudah makan?" tanya Zoe saat ibu Magdalena membukakan pintu


"Sudah.. kenapa sudah pulang? apa toko sepi?"


"Aku tidak enak badan Bu.. aku istirahat dulu" ucap Zoya seraya masuk


"Ada apa dengan ibumu?" tanya ibu Magdalena


"Entahlah... mungkin ibu lelah"


"Tadi Daddy telepon" Mendengar kata Daddy wajah Zoe berbinar seketika


"Apa yang Daddy katakan?"


"Besok dia kesini, katanya telepon dia saat kau kembali" Zoe langsung berlari meraih telepon rumah


Zoe memang sangat merindukan sosok Daddy yang selalu memanjakannya, meski Zoe tidak punya ayah namun Zoe merasa sosok Daddy sudah menggantikan peran ayah baginya


"Dad.. kau serius besok akan datang?" Zoe dengan cepat menelpon


"Tentu saja.. jagoan Daddy ingin apa? tapi jangan beri tahu ibumu, oke?"


"Aku ingin video game baru dan..." Zoe menggantung kata-katanya


"Dan apa?"


"Dan tolong bawa ibu dan aku bersenang-senang selama Daddy disini, beberapa hari ini ibu terlihat murung" ucap Zoe


"Hanya itu? apapun yang kau minta akan kau dapatkan, Daddy ada pekerjaan yang belum di selesaikan nanti akan Daddy telepon kembali"


"Baiklah.. jaga kesehatan Daddy"


"Kau juga.. jaga ibumu" Zoe menutup teleponnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sudah lima tahun kau masih mengejarnya" ucap Meily


"Bukan cinta jika tak butuh perjuangan, aku bahagia ketika menjadi orang yang pertama yang menolongnya"


"Apa kau akan menunggunya seumur hidupmu?" tanya Meily


"Aku akan menunggunya walaupun harus menghabiskan sisa umurku, aku tak masalah jika tak bisa memilikinya asal dia juga tak menjadi milik siapapun "


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, kau melakukan itu selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan keuntungan apapun " Tony tersenyum seraya menepuk bahu Meily


"Kau akan mengerti jika kau merasakan apa yang aku rasakan, aku harus pergi" ucap Tony seraya beranjak pergi


"Aku pun merasakannya Tony, bertahun-tahun melakukan sesuatu yang sia sia.. dan aku pun sama seperti dirimu yang tak mau menyerah sampai kapanpun" gumam Meily

__ADS_1


Apa yang Tony lakukan untuk Zoya sama halnya dengan yang di miliki Meily, dan keduanya sama sama tak mendapatkan apapun


__ADS_2