Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Kabar Bahagia


__ADS_3

Mobil toyota camry warna putih milik Gala berhenti. Dengan penuh kehati-hatian, Gala menuntun Gendhis turun dari mobilnya. Terang saja, dengan mata tertutup mana bisa Gendhis berjalan sendirian.


"Mas Gala, kita sampai di mana?" tanya Gendhis.


"Udah, tenang aja. Ikut aja nanti juga sampai." jawab Gala.


Gala mengajak Gendhis berjalan ke suatu tempat yang Gendhis sendiri belum pernah melihatnya.


"Awas, hati-hati... lewat sini..." ucap Gala sambil memegang jemari dan pundak Gendhis dengan sangat mesra menaiki sebuah tangga.


"Klik..." terdengar suara pintu di buka.


"Nah... sekarang kita sudah sampai." ucap Gala.


"Apa aku bisa membuka mata sekarang?" tanya Gendhis.


"Tentu... sini aku bantu lepasin." ucap Gala sambil membuka penutup mata di wajah Gendhis.


Gendhis membuka matanya perlahan. Ia melihat cahaya lampu cukup terang dari sebuah ruangan yang luas.


"Mas Gala... kita ada di mana?" Gendhis merasa heran kenapa Gala membawanya ke tempat itu.


"Coba tebak, sekarang kita ada di mana?" Gala balik bertanya.


"Eeemm... apa sekarang kita sedang berada di kamar hotel?" tebak Gendhis setelah mengamati seisi ruangan kamar dengan desain interior cukup luas dan menawan.



"Bukan!" jawab Gala.


"Lalu???" Gendhis kembali bertanya.


"Gendhis... ini adalah kejutan ulang tahun kamu berikutnya." kata Gala.


Gendhis mengerutkan kedua alisnya. Ia belum jua menangkap maksud perkataan suaminya. Gala lantas memegang kedua jemari Gendhis seraya berkata.


"Gendhis... ini milik kamu. Milik kita... Mulai sekarang, kita akan tinggal di sini, di rumah ini... Berdua sekarang dan bersama dengan anak-anak kita nanti. Apa kamu senang?" ucap Gala.


"Masya Allah... Mas Gala. Subhanallah... ini rumah kita?" Gendhis terharu.


Gala menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih, suamiku..." ucap Gendhis lantas memeluk hangat tubuh kekar suaminya.


"Udah ya peluknya nanti lagi... sekarang kita lihat-lihat seisi rumah. Kalau ada yang kamu nggak suka, atau ada yang kurang bilang aja ya, biar nanti direnovasi. Dan maaf... hampir satu tahun usia pernikahan kita, aku baru ajak kamu ke rumah baru kita. Selain karena rumahnya baru selesai dibangun, juga karena ayah sama ibu belum bisa kita tinggal. Padahal sebelum pernikahan kita, sebenarnya rumah ini sudah aku persiapkan. Cuma aku pengennya saat kita pindah kesini semuanya benar-benar fix untuk kita tempati." jelas Gala panjang lebar sambil membawa Gendhis mengelilingi seisi rumah mewah itu.


Gendhis masih terkagum-kagum. Ia lalu membawa Gendhis melihat-lihat mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar tamu, dan taman di atas balkon rumah mereka. Semuanya sangat indah. Gala kemudian mengajak Gendhis ke sebuah kamar yang dindingnya sudah di hias dengan eloknya.

__ADS_1



"Gendhis... ini adalah kamar untuk anak kita nanti kalau sudah lahir." ucap Gala.


Raut wajah Gendhis berubah menjadi sedikit muram.


"Gendhis... kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Gala.


"Bukan... bukan seperti itu. Aku sangat bahagia, bahkan aku merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki suami seperti Mas Gala. Hanya saja...." ucapan Gendhis terputus.


"Hanya kenapa?" Gala kembali bertanya melihat wajah Gendhis sedikit muram.


"Hanya... kamar ini... apa tidak terkesan buru-buru? Karena hampir satu tahun usia pernikahan kita, tapi Allah belum mempercayakan padaku untuk menjadi seorang ibu." Gendhis seolah ingin menitikkan air mata.


Segera Gala memeluk erat tubuh Gendhis untuk menenangkannya, agar air matanya tak harus menetes membasahi wajah cantiknya di hari bahagia itu.


"Sssttt.... Gendhis... kamu nggak harus berfikir sejauh itu. Maafin aku...! Aku tak bermaksud buat kamu sedih. Lagi pula kan kita menikah baru satu tahun. Masih ada banyak waktu. Banyak kan, yang menikah bahkan lebih lama dari kita tapi belum juga dapat momongan? Kamu jangan berfikir macem-macem ya? Apa kamu mau kita bikin sekarang juga???" ucap Gala mesra sambil menghibur istrinya.


"Aduh... sakit tau. Kok aku dicubit sih?" ucap Gala saat Gendhis mencubit mesra pipinya.


Senyum Gendhis ahirnya kembali mengembang.


"Loh... aku nggak salah kan? Siapa tahu si umut maunya dibikin di rumah baru kita? Bener nggak?" Gala kembali menggoda.


Kali ini bukan cubitan di pipi saja, melainkan di bagian perut Gala, berkali-kali Gendhis mencubit mesra suaminya. Hingga Gala merasa geli.


"Mas Gala... Mas Gala... kamu di mana? Nggak lucu ah... kenapa sih lampunya pakai acara dimatiin segala?" Gendhis kehilangan jejak saat Gala menggodanya.


"Mas Gala... ayo dong... jangan ngumpet gitu..." Gendhis mulai panik karena dia sangat takut dengan kegelapan.


"Masya Allah... Mas Gala. Ngejutin aku!!! Jahat banget sih." Gendhis terkejut saat tiba-tiba Gala sudah memeluk erat tubuhnya dari belakang.


"Gendhis... ini aku suamimu? Tak ada orang lain di rumah ini selain kita berdua. Apa kamu takut? Jantung kamu berdetak sangat kencang." ucap Gala mesra di telinga Gendhis.


"Aku takut... takut kalau... Mas Gala... ninggalin aku." ucap Gendhis lirih.


Gala membalikkan badan Gendhis sehingga ia berada tepat di hadapannya.


"Sssttt..." jari telunjuk Gala hinggap di bibir manis Gendhis.


"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Apa pun yang terjadi. Aku nggak mungkin rela kamu berfikir tentang laki-laki lain, apalagi sampai ninggalin kamu. Kecuali..." ucap Gala.


"Kecuali apa?" tanya Gendhis.


"Kecuali... ruh ini telah terpisah dari raganya, dan Sang Pemilik jiwa sudah memanggilku, maka saat itu lah aku akan pergi meninggalkan mu." ucap Gala.


"Mas Gala ngomong apaan sih? Udah ah, bercandaya! Nggak lucu tahu..." bantah Gendhis.

__ADS_1


"Lhoh... ya nggak bercanda Sayang... umur manusia itu nggak ada yang tahu. Tapi, selama aku masih bernafas... selama itulah aku akan mencintaimu, menjagamu." jawab Gala.


Gendhis hanya terdiam. Ia seolah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya saat itu. Bahagia bercampur haru. Mereka berharap di rumah baru mereka, Allah akan segera memberikan anugerah terbesar yaitu buah cinta mereka. Gala berfikir, Gendhis akan merasa lebih tenang dan nyaman jika tinggal di rumah mereka sendiri.


Karena malam sudah semakin larut, keduanya pun memutuskan untuk tidur di rumah baru mereka.


*****


"Apa??? Apa Mama nggak salah denger? Alhamdulillah, Ya Allah... kalau gitu, Mama sama Papa akan mempersiapkan segalanya. Makasih ganteng. Mama tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum..." ucap Bu Fina dalam sebuah percakapan di telepon.


"Ada apa, Ma? Sepertinya Mama bahagia sekali?" tanya Pak Hari sesaat setelah Bu Fina menutup teleponnya.


"Sini... Pa...! Mama mau ngomong." kata Bu Fina sambil menarik tangan suaminya yang sedang asyik hendak menyeruput secangkir kopi di ruang keluarga malam itu.


"Ngomong apa sih, Ma??? Di sini aja kenapa? Papa lagi ngopi ini, nanggung banget nanti keburu dingin." jawab Pak Hari.


Bu Fina lantas duduk di samping pak Hari dengan raut wajah berbinar-binar.


"Papa... jelaslah Mama seneng banget karena Riko mau pulang minggu depan." jawab Bu Fina.


"Syukurlah... Mudah-mudahan satu tahun menenangkan diri di Amrik, bisa membuat hati dan fikirannya jauh lebih baik sekarang." kata Pak Hari.


"Iya, Pa...! Dan satu kabar bahagia lagi..." kata Bu Fina.


"Apa itu, Ma?" Pak Hari penasaran.


"Pa... ahirnya, Riko mau juga bertemu dengan putrinya Bu Sofi. Bukan kah ini juga kabar baik?" Bu Fina menjelaskan.


"Alhamdulillah, Ma... ahirnya Riko mau mencoba membuka hatinya. Entah karena dia sudah jenuh, atau sudah bisa melupakan Gendhis, atau memang ingin melanjutkan kehidupannya agar lebih berarti. Entah apa pun alasannya, yang pasti sekarang Riko sudah ada i'tikad baik untuk membuka hatinya." Pak Hari pun ikut bahagia.


"Iya... Pa.... Alhamdulillah dan semoga mereka berjodoh ya Pa...! Yaaa... meski baru sekedar bertemu, karena kata Riko juga dia baru mau sebatas berkenalan dulu. Dia tak ingin terlalu buru-buru. Tapi setidaknya kita punya harapan, Pa..." tambah Bu Fina.


"Yaaahhh... syukurlah, Ma!!! Lalu... kapan Riko pulang ke rumah?" tanya Pak Hari.


"Mungkin tiga sampai empat hari lagi. Dan... sekarang Gala sama Gendhis kan sudah pindah ke rumah baru mereka, jadi Riko tak harus merasa canggung lagi saat pulang ke rumah ini." kata Bu Fina.


"Iya, Ma... apa Riko sudah tahu akan hal ini?" tanya Pak Hari.


"Tadi Mama sudah kasih tahu dia dan tanggapannya yaaa... cukup melegakan lah." jawab Bu Fina.


"Baiklah kalau begitu, besok pagi kita bicarakan ini dengan Bu Sofi dan Pak Bambang. Sekarang sudah malam. Mereka pasti juga sudah tidur." rencana Pak Hari.


"Iya, Pa... mulai besok kita persiapkan semuanya dengan sangat matang agar rencana kita untuk mencarikan pendamping hidup untuk Riko bisa berjalan lancar." ucap Bu Fina dan Pak Hari pun menyetujuinya. Mereka seolah tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba. Apalagi kerinduan mereka akan si bungsu sudah cukup dalam semenjak satu tahun silam Riko memutuskan untuk membawa pergi kesedihan hatinya tanpa mau membaginya dengan siapa pun.


*****


...Komentar dan dukungannya ya, Kakak... terimakasih... 🥰🥰🥰🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2