
Untuk pertama kalinya Gendhis menginjakkan kaki di rumah Gala. Ia tak pernah menyangka, dosen yang selama ini begitu digandrungi oleh teman-teman mahasiswi di kampusnya, kini telah menjadi suaminya. Sekilas rumah itu terlihat garang karena terlalu besar dan mewah jika dibandingkan dengan rumah Gendhis sebelumnya. Tapi setelah Gendhis mulai masuk di dalamnya, ia merasa teduh dan nyaman berada di sana.
Ia masih mengamati seisi ruang tamu. Di dinding, terpampang foto keluarga cukup besar di mana di situ ada sosok laki-laki yang pernah begitu mencintainya. Dalam hati muncul rasa bersalah, tapi inilah takdir. Ia tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati Riko yang sekarang sudah menjadi adik iparnya. Ia berharap, seiring berjalannya waktu, Riko akan memahami hal ini.
Usai berbincang sejenak di ruang tamu, Bu Fina pun mengantarkan Gendhis ke kamar pengantin, sementara Gala... dia masih terlihat sibuk menemui beberapa tamu keluarga dan teman dekatnya.
"Gendhis... kamu pasti lelah. Ayo Sayang, mama antar kamu ke kamar untuk mandi dan beristirahat..." ajak Bu Fina.
"Iya, Ma..." jawab Gendhis masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
Bu Fina mengantarkan Gendhis hingga di depan kamar pengantin.
"Mulai sekarang, ini kamar kamu. Istirahat aja Sayang. Lagi pula hari ini cuma tamu keluarga sama teman dekat Gala yang dateng. Biar dia yang nungguin tamunya." ucap Bu Fina.
Gendhis menganggukkan kepala dan Bu Fina pergi berlalu meninggal Gendhis. Saat membuka pintu, Gendhis sangat takjub melihat kamar pengantin yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Mulai dari rangkaian bunga di atas meja, kelambu dari bunga melati yang disatukan menggunakan seutas benang, kelopak mawar merah yang memenuhi ranjang pengantin berbentuk hati, hingga seikat bunga sedap malam di sudut kamar. Perpaduan antara bunga melati dan sedap malam itulah yang membuat aroma kamar pengantin menjadi sangat khas dan alami. Semua itu Gala siapkan untuk menyambut kedatangan Gendhis. Entah dari mana Gala bisa tahu kalau Gendhis begitu menyukai bunga.
Gendhis berjalan masuk lalu menutup kembali pintu kamarnya. Ia sangat menyukai kamar pengantin itu. Gendhis kemudian melepaskan semua asesoris yang melekat di hijab serta pakaiannya. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya setelah seharian penuh mengenakan gaun pengantin yang cukup panas. Setelah selesai melepas semua asesoris, Gendhis berjalan ke kamar mandi kemudian membersihkan diri lalu mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih ringan tetapi tetap menutupi seluruh tubuhnya.
Sayup mulai terdengar suara adzan maghrib. Gendhis ambil mukena untuk bersiap melaksanakan ibadah sholat maghrib.
"Tok... tok... tok..." suara pintu di ketuk.
Gendhis berjalan membuka pintu untuk melihat siapa yang ada di sana. Ketika Gendhis membuka pintu,
"Assalamu'alaikum..." Gala sudah berdiri di sana terpesona memandang wajah Gendhis yang terlihat cantik saat mengenakan mukena.
"Waalaikumsalam..." jawab Gendhis sambil membuka pintu.
"Boleh... aku masuk?" Gala bahkan meminta izin untuk masuk ke kamarnya sendiri, seperti Gendhis yang sedang meminta masuk ke ruangan dosennya untuk bimbingan skripsi.
"Oh... iii... iya. Silakan..." jawab Gendhis.
__ADS_1
Gala menutup kembali pintunya membuat Gendhis jadi merasa canggung.
"Kamu udah sholat maghrib?" tanya Gala.
"Belum..., Pak... ini sedang bersiap." bahkan panggilan untuk Gala pun belum berubah dari mulut Gendhis.
Gala tersenyum simpul. Ia biarkan saja mantan mahasiswinya itu memanggil dirinya dengan sebutan "Pak".
"Kalau gitu... tunggu aku ya! Kita sholat maghrib berjama'ah. Aku mandi dulu sebentar." pinta Gala.
Gendhis hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gala lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lantas bersiap untuk sholat maghrib berjama'ah dengan Gendhis.
Sambil menunggu, Gendhis ambil Al Qur'an yang ada di rak lemari Gala lalu ia baca beberapa ayat. Dan ketika keluar dari kamar mandi, Gala benar-benar bersyukur mendapatkan istri seperti Gendhis. Cantik, baik, pinter, ngajinya bagus dan insya Allah jadi istri sholehah seperti yang Gala impikan selama ini. Mereka pun lantas sholat maghrib berjama'ah.
Usai sholat maghrib, Gendhis melepaskan mukena tetapi masih mengenakan pakaian muslimahnya. Ia mulai panik, tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya?
"Ya... Allah... tolonglah hamba... apa yang harus hamba lakukan?" gumam Gendhis dalam hati sambil memejamkan matanya.
Melihat Gendhis yang tengah gugup, Gala justru semakin mendekatinya. Saat Gendhis sedang berada dalam kepanikan, terdengarlah suara dari balik pintu kamar.
"Tok... tok... tok..." pintu diketuk.
"Gala... ajak Gendhis makan malam, Sayang. Dari tadi siang belum makan!" suara Bu Fina mengusik Gala.
"Iya, Ma... bentar lagi Gala turun." jawab Gala dari dalam kamar lantas melepaskan lengan kanan Gendhis.
"Huuuufffttt...." Gendhis menarik nafas panjang.
Ia merasa terselamatkan oleh sang ibu mertua, tapi tidak untuk Gala. Ia hanya merasa ada yang lebih penting dari sekedar mengikuti hasrat hatinya. Ia tak ingin Gendhis sampai jatuh sakit, karenanya segera ia mengajak Gendhis turun untuk makan malam.
__ADS_1
"Dis... kita turun sekarang untuk makan malam." ucap Gala sambil berjalan mendahului Gendhis.
"Baik, Pak..." jawab Gendhis lega.
"Huft... ahirnya... Mama menyelamatkan ku..." ucap Gendhis dalam hati.
Keduanya lantas turun untuk makan malam bersama keluarga. Usai makan malam, Gendhis hendak pergi ke dapur dan membersihkan meja makan seperti yang selalu ia lakukan di rumahnya, tapi Bu Fina melarangnya.
"Eh... Sayang... kamu mau kemana?" tanya Bu Fina.
"Gendhis mau cuci piring, Ma..." jawab Gendhis.
"Nggak usah, Sayang... biar Si Embak aja. Ini udah malem, kamu istirahat aja ya. Pengantin baru mana boleh sibuk di dapur. Sini piringnya..." Bu Fina malah meminta piring yang hendak Gendhis bawa ke dapur. Ia tak tahu bahwa niat Gendhis sebenarnya adalah mengulur waktu agar ia bisa berlama-lama pergi ke kamarnya.
"Udah, sana... manut sama Mama. Istirahat aja ya..." wanita itu begitu pengertian dengan keinginan putranya yang sedari tadi duduk gelisah di kursi makan.
"Baik, Ma..." jawab Gendhis mengikuti keinginan ibu mertua.
Saat Gala hendak menyusul Gendhis yang sudah pergi duluan, tiba-tiba Si Embak datang lalu bilang, "Tuan muda, ada tamu... katanya teman-teman Tuan muda."
"Iya, Mbak... aku ke depan sekarang." jawab Gala. Feeling nya mulai nggak enak ini. Dia tahu betul teman-temannya itu sengaja dateng malem-malem buat ngerjain Gala di malam pertamanya. Lihat aja, mereka pasti sengaja buat menunda-nunda kewajiban Gala, seperti yang mereka katakan beberapa hari lalu saat mereka berkumpul bersama membicarakan soal pernikahan Gala.
Ternyata benar, kelima orang sahabat lelakinya itu pulang meninggalkan rumah Gala pukul 23.30 WIB. Apa yang bisa dia lakukan selain menunggui sahabat-sahabatnya itu sambil ngobrol ngalor-ngidul. Masa iya mau diusir? Ya sudah... terpaksa Gala harus ikhlas menunggu hingga mereka berlima pulang dengan wajah puas sudah mengerjai sahabatnya.
Usai mereka pulang, suasana di rumah sudah sangat sepi. Ia segera kembali ke kamar untuk menemui gadis yang baru saja ia nikahi siang tadi. Ketika membuka pintu, Gala melihat Gendhis sudah terlelap dengan nyamannya. Gala memandang wajah Gendhis yang terlihat cantik saat memejamkan mata. Dengan sangat hati-hati, Gala mengambil selimut lalu dia selimuti tubuh Gendhis yang sudah terlelap. Rupanya... malam ini dia belum beruntung. Dia harus berusaha lagi di malam berikutnya. Gala tak mungkin sampai hati membangunkan Gendhis dan mengusik mimpi indahnya.
Ahirnya meski sedikit kecewa, dia harus ikhlas. Usai sholat isya', Gala lantas tidur di atas sofa empuk ya ada di kamarnya. Ia tak ingin membuat Gendhis terusik dan terkejut ketika bangun nanti tiba-tiba ada lelaki di sampingnya, meski Gala adalah suaminya.
*****
...Hayy... kakak, terimakasih sudah menunggu. Unboxing malam ini ternyata gagal. Mungkin dicoba di episode selanjutnya yaaa... 🤭🤭🤭🤭😍😍😍...
__ADS_1
...Komentar dan dukungannya... 🤗🤗🤗...