Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Khumairah


__ADS_3

Suasana di halaman Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Untidar sangat ramai dipenuhi oleh mahasiswa dan beberapa orang dosen. Mereka berbondong-bondong berkumpul untuk mendengarkan pengumuman yang berkaitan dengan acara Bakti Sosial (Baksos) yang akan dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa FKIP. Pagi itu juga akan di umumkan pembagian wilayah masing-masing kelompok mahasiswa yang rencananya akan di tugaskan di seluruh pelosok desa di Kabupaten Magelang. Salah satunya yaitu Desa Sekar Wangi. Dan Kampung Merangi adalah salah satu kampung dari Desa tersebut.


Gendhis bersyukur karena dia bersama dengan dua puluh rekan mahasiswa lainnya ditugaskan di tempat tersebut. Dua puluh mahasiswa itu terdiri dari 12 orang mahasiswi dan 8 orang mahasiswa laki-laki, yang kesemuanya akan di sebar di kampung-kampung pada desa tersebut.


Kedua puluh mahasiswa yang ditugaskan, masing-masing memiliki satu dosen pembimbing untuk satu desa. Dan... entah kebetulan atau memang disengaja, Pak Dosen Ganteng lah yang diberi wewenang untuk jadi dosen pendamping di Desa Sekar Wangi. Mahasiswi yang ditugaskan di desa lain boleh cemburu yaaa... 🥰


Rencananya, kegiatan baksos tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 20 sampai 30 Maret 2022.


*****


Mentari bersinar cerah. Gumpalan awan putih berkumpul di atas langit nan biru. Udara dingin khas puncak Sumbing mulai terasa ketika Gendhis bersama dengan 19 rekan mahasiswa lainnya tiba di halaman Kantor Desa Sekar Wangi. Dengan menggunakan fasilitas mobil kampus, Gendhis dan teman-temannya sampai di tempat itu. Tentu saja di dampingi oleh dosen pembimbingnya, siapa lagi kalau bukan Mas Dosen Gala. Hanya saja, Gala tidak satu mobil dengan 20 mahasiswanya. Dia menaiki mobil toyota camry putih kesayangannya.


Dengan penuh semangat, kedua puluh mahasiswa itu turun dari mobil dan sudah disambut oleh Kepala Desa Sekar Wangi bersama dengan perangkat desa lainnya.


Dengan gagah dan lagi-lagi senyum ramahnya, Gala turun dari mobil, lantas berjalan menuju teras kantor desa.


"Assalamu'alaikum..." sapa Gala pada kepala desa sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat hangat.


"Waalaikumsalam... mari, mari, Pak Dosen. Selamat datang di Desa Sekar Wangi. Mari silakan masuk." sambut kepala desa dengan ramahnya lalu mempersilahkan para tamunya untuk duduk di ruang tamu kantor desa.


Mereka pun berbincang panjang terkait maksud kedatangan mereka ke desa ini. Kepala desa beserta warga sangat senang dengan kedatangan mereka yang memang sudah ditunggu sejak beberapa waktu lslu pihak kampus mengirimkan surat permohonan kepada Kepada Desa Sekar Wangi yang ditipkan melalui Gendhis.


"Saya selaku Kepala Desa Sekar Wangi mengucapkan banyak terimakasih atas terpilihnya desa kami menjadi salah satu desa yang dipilih oleh kampus Untidar sebagai tempat diadakannya bakti sosial. Mudah-mudahan kedatangan Bapak bersama dengan adik-adik mahasiswa, dapat memberikan manfaat bagi kemajuan desa kami." ucap Pak Kepala Desa.


"Sama-sama... Pak. Kami juga berterimakasih, karena Bapak bersama warga di sini sudah menerima dan menyambut kedatangan kami dengan sangat baik." ucap Gala.


"Baik, Pak Dosen... kalau begitu selamat bertugas. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi saya, atau para staf di kantor desa


Insya Allah kami siap membantu apabila memang dibutuhkan." sambut baik kepada desa.


"Oh iya, Pak. Kalau begitu, kami bisa mulai kegiatannya sekarang?" tanya Gala.


"Tentu, Pak... silakan..." kepala desa mempersilakan Gala bersama 20 mahasiswanya untuk memulai kegiatan baksos di Desa Sekar Wangi.

__ADS_1


Sebagai langkah awal, mereka terlebih dahulu diantarkan oleh petugas desa menuju tempat menginap mereka selama kegiatan. Mahasiswa perempuan menginap di rumah Kepala Dusun Krajan Sekar Wangi, mahasiswa laki-laki tidur di basecamp kantor desa, sedang Gala dipersilakan tidur di rumah Bapak Kepala Desa Sekar Wangi.


*****


Kegiatan awal di hari pertama baksos.


Mahasiswa di ajak untuk berkeliling desa. Dari kampung satu ke kampung yang lain. Tujuannya adalah agar terjalin hubungan baik antar mahasiswa dengan warga desa.


Tibalah mereka di Kampung Merangi. Gendhis... dia berperan ganda di sini. Selain sebagai mahasiswi peserta baksos, Gendhis juga sebagai tuan rumah. Karenanya, dia yang menjadi jembatan perantara suksesnya kegiatan itu.


Sampai lah mereka di sekolah yang selama ini Gendhis rintis bersama beberapa rekannya juga dukungan dari Pak Argo sang penyalur dana tentunya. Gendhis bersama dengan Pak Kadus Merangi, mengantarkan teman-temannya juga Gala mengunjungi sekolah tersebut.


Ketika masuk melalui pintu kelas, mereka disambut dengan keramahan, keluguan, juga senyum manis anak-anak didik Gendhis.


"Assalamu'alaikum... selamat pagi anak-anak ku semuanya... apa kabarnya hari?" sapa Gendhis di hadapan anak didiknya.


"Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh... alhamdulillah... luar biasa, Allahu akbar..." serempak anak-anak itu menjawab dengan gerakan tangan yang amat kompak.


"Anak-anak semuanya, hari ini kita kedatangan tamu spesial, apa ada yang tahu siapa?" Gendhis memberikan pertanyaan pembuka.


Gendhis terkejut seolah menahan tawa yang ia simpan dalam mulutnya. Sesaat, sambil tersenyum Gendhis menoleh ke arah Gala yang berdiri tegak di sampingnya bersama dengan rekan-rekan mahasiswa yang lain.


"Lhoh... kalian sudah kenal?" tanya Gendhis terheran-heran.


Tak ada jawaban yang ia dengar dari anak-anak itu. Mereka malah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nah... tadi kalian tahu. Dari siapa hayo?" tanya Gendhis.


"Dari ibunya Ali dan ibunya Ulin, Bu Guru. Tadi waktu main Ali dengar kalau di sekolah mau ada Pak Dosen Ganteng temannya Bu Guru." jawab seorang murid bernama Ali.


"Ali... benar kata Ibu Ali, hari ini kita kedatangan tamu istimewa. Nah.... kakak-kakak yang berdiri di depan sini..., ini baru temannya Kak Gendhis. Kalau yang ini..." Gendhis menunjuk ke arah Gala yang sedari tadi mengamati Gendhis berinteraksi dengan anak-anak itu, sangat lah sabar dan tulus.


"Yang berdiri di samping Kak Gendhis ini, beliau bukan teman Kakak, melainkan... Dosen pembimbing Kak Gendhis dan kakak-kakak di sini." lanjut Gendhis.

__ADS_1


"Bu Guru, Dosen itu apa?" tanya salah seorang murid.


"Aliya... dosen itu... sama dengan bapak atau ibu guru yang mengajar di sekolah. Tapi... kalau dosen bukan mengajar di sekolah, melainkan di kampus atau universitas. Seperti Kak Gendhis juga kakak-kakak di sini. Nah... apa kalian juga pengen besok setelah lulus sekolah terus sekolah lagi agar bisa ketemu sama Pak Doden juga?" Gendhis mencoba memancing semangat anak-anak di kelasnya.


"Iya, Bu Guru..." jawab anak-anak serempak.


"Kalau begitu, mulai sekarang, kalian harus lebih rajin belajarnya, agar jadi anak pintar dan bisa sekolah sampai tinggi. Bahkan sampai kalian bisa seperti kakak-kakak yang ada di depan kalian ini." Gendhis memotivasi.


Anak-anak menganggukkan kepala seolah benar-benar mengagumi orang-orang yang ada di depan mereka itu. Mereka seolah memiliki impian yang sangat tinggi, harapan yang tinggi, bahwa ketika besar nanti, mereka akan melanjutkan perjuangan Gendhis. Itulah impian terbesar Gendhis, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan di Kampung Merangi. Dan Alhamdulillah... keinginannya itu perlahan mulai menemui titik terang.


Teman-teman mahasiswa pun akhirnya memperkenalkan diri satu-persatu, demikian halnya dengan Gala. Tak banyak yang ia sampaikan. Apa yang di ucapkan Gendhis cukup mawakili tujuan mereka datang ke desa ini.


Tampak para mahasiswa itu sedang berkenalan sambil asyik bercanda tawa dengan anak-anak. Gendhis berjalan keluar hendak menuju ruangannya untuk menyiapkan beberapa hidangan untuk tamunya. Tak lama kemudian, Gala menyusulnya dan mereka pun berbincang di depan ruangan Gendhis.


"Dis... tunggu!" panggil Gala.


Gendhis berhenti dan membalikkan badan.


"Iya, ada apa Pak?" tanya Gendhis.


Untuk kesekian kalinya Gala melihat keistimewaan pada diri Gendhis. Rasa kagumnya semakin bertambah, namun ia menyadari bahwa tak mungkin ia bisa mengharapkan sesuatu yang lebih dari Gendhis. Gendhis hanya menganggap Gala sebagai dosennya, tidak lebih.


"Sekolah ini begitu luar biasa. Apa lagi dengan kondisi yang ala kadarnya, dan aku yakin tidak mudah menumbuhkan kesadaran warga kampung untuk mau belajar. Dan kamu... sudah sangat berjasa untuk itu." puji Gala.


"Iya, Pak... terimakasih. Tapi saya tidak sendiri. Banyak yang memberi dukungan pada saya." jawab Gendhis.


"Aku tahu... dan... tombak itu tidak akan ada artinya jika kedua sisinya tumpul. Dan kamu... adalah ujung tombak dari terwujudnya itu semua." ucapan Gala dan tatapan yang tajam itu berhasil membuat Gendhis jadi salah tingkah hingga rona di pipinya memerah.


Segera Gendhis menyembunyikan itu agar Gala tak mengetahuinya. Tapi seolah terlambat, Gala sudah lebih dulu melihat wajah Gendhis semakin cantik saat rona pipinya memerah. Seperti Khumairah, nabi memberikan julukan pada istri beliau Sayida Aisyah yang berarti pipinya memerah-merahan saat beliau dipuji oleh Rasulullah.


Segera Gendhis membalikkan wajahnya seraya berkata,


"Maaf, Pak... saya ke ruangan dulu. Kalau Bapak dengan teman-tenan selesai berbincang dengan anak-anak, saya persilakan untuk mengobrol di ruang kantor. Permisi, Pak..." pamit Gendhis sambil berlalu pergi meninggalkan Gala dengan kekagumannya.

__ADS_1


Gendhis tak ingin berlama-lama mengobrol berdua dengan Gala. Ia tak ingin hal itu bisa menimbulkan fitnah warga desa yang tidak baik. Apalagi... sebentar lagi... hari pernikahannya dengan Lintang akan segera tiba.


*****


__ADS_2