
Lintang masih dengan penyesalannya yang tak berujung. Tubuhnya lemas seolah tak bertulang melihat Gendhis berlalu pergi meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain. Dalam hati ia berkata, mungkin seperti ini dulu rasanya ketika Gendhis harus merelakan Lintang menikah dengan Gabby.
Hati Lintang semakin hancur bertubi-tubi ketika ia mendengarkan Gala mengucapkan kalimat ijab qobul dan secara resmi menjadi suami Gendhis. Ia baru menyadari seperti apa sakitnya. Itu juga yang Gendhis rasakan ketika di hari pernikahannya dengan Gendhis, Lintang malah menikahi wanita lain. Satu pelajaran paling penting dalam hidup Lintang. Bahwa disadari ataukah tidak, alam itu pasti akan menyerap tingkah laku manusia. Entah perilaku baik atau bahkan buruk sekalipun, suatu saat nanti alam pasti akan mengembalikannya pada manusia itu sendiri. Dan itulah yang sedang Lintang rasakan sekarang.
Permintaan maaf saja mungkin tak kan sanggup menghapus luka di hati orang-orang yang ia sakiti. Lintang juga harus mulai belajar memahami penderitaan yang Gendhis rasakan selama ini. Karena melupakan orangnya itu mudah, tapi tak semudah melupakan kenangannya.
*****
Ijab qobul berjalan lancar. Semua yang hadir pun tak dapat membendung air mata kebahagiaan mereka. Terutama orang tua Gendhis. Impian untuk melihat putrinya menikah dengan laki-laki yang sempurna seperti Gala ahirnya terwujud sudah.
Berikutnya... tiba saat yang paling ditunggu-tunggu. Kedua pengantin baru itu akan dipertemukan di satu tempat, usai penghulu mengucapkan do'a. Terdengar suara syair sholawat nan merdu mengalun dari grup musik hadroh ternama "Syubbanul Muslimin" dari Probolinggo. Sholawat itu mereka lantunkan untuk mengiringi pertemuan pertama Gendhis dengan Gala usai menjadi pasangan suami istri.
Suasana menjadi sangat haru saat dengan anggunnya Gendhis berjalan dari pintu keluar rumah menuju tempat di mana Gala usai mengucapkan kalimat ijab qobul. Semua mata tertuju pada gadis cantik itu. Mbak Mayang make-up wedding benar-benar sukses menyulap Gendhis menjadi tuan putri.
"Subhanallah... cantiknya istri ku..." bathin Gala.
Tak henti-hentinya Gala menatap gadis yang mulai hari ini sudah resmi menjadi istrinya. Bibirnya kelu tak dapat berkata-kata, namun hatinya tiada henti mengucap rasa syukur karena Allah telah mempertemukannya dengan Gendhis dan menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikah.
Lantunan sholawat masih mengalun hingga Gendhis tepat duduk di samping Gala dengan wajah menunduk. Tak lama kemudian, penghulu pun berkata,
"Selamat... kalian sudah resmi jadi pasangan suami istri. Mbak Gendhis..., silakan bisa bersalaman dengan suaminya sekarang!" ucap penghulu membuat Gendhis terkejut.
__ADS_1
"Bersalaman???" Gendhis malah balik bertanya.
"Iya, bersalaman. Kalian kan sudah menikah. Ayo, bersalaman..." jawab penghulu.
Gendhis belum juga melakukan apa yang diminta oleh penghulu. Dalam hati ia masih ragu, benarkah dia akan mengulurkan tangannya untuk Gala? Ia selalu menjaga dirinya dengan air wudhu, hingga ia merasa takut untuk bersentuhan karena bisa membatalkan wudhunya. Bahkan ia tak pernah sekalipun bersalaman dengan laki-laki, hal itu membuatnya merasa aneh saat hendak bersalaman dengan Gala. Antara takut, malu, dan canggung bercampur jadi satu. Gendhis mengulurkan tangannya, belum sampai Gala meraihnya, Gendhis sudah menariknya kembali. Hal itu terjadi berkali-kali hingga semua orang yang melihatpun jadi tertawa gemas sendiri melihat tingkah lugu Gendhis. Gala pun hanya bisa tersenyum manis melihat keluguan Gendhis.
Seolah tak sabar lagi, ahirnya sang Ibu Mertua Gendhis pun berkata, "Sayang... ayo bersalaman. Kalian kan sudah dihalalkan oleh penghulu..." ucap Bu Fina tersenyum.
Dengan detak jantung berdegup kencang, ahirnya Gendhis beranikan diri untuk mengulurkan tangannya, bersalaman lalu mencium tangan Gala untuk pertama kali dalam seumur hidupnya. Gala pun menyambutnya dengan penuh haru dan rasa syukur.
"Alhamdulillah..." serentak yang melihatnya pun turut bahagia.
Sepasang pengantin itu ahirnya dibawa menuju ke kursi pelaminan duduk berdua bak raja dan ratu sehari untuk melanjutkan rangkaian acara selanjutnya sampai dengan selesai nanti.
*****
Tepat pukul empat sore, acara pasrah papanampi temanten ahirnya selesai. Seluruh tamu undangan pun bergegas meninggalkan tempat acara. Namun sebelum itu, terjadi momen yang paling mengharukan yaitu ketika Pak Ratno dan Bu Sari harus mulai mengikhlaskan putri tercintanya meninggalkan rumah yang sudah bertahun-tahun membesarkannya. Tangis ibu dan anak itu pecah mengundang kepiluan saat Gendhis berpamitan untuk meninggalkan rumahnya.
"Jaga diri kamu baik-baik, Nak... jadilah istri dan menantu yang baik di rumah kamu yang sekarang." ucap Bu Sari pada Gendhis.
Gendhis hanya menganggukkan kepalanya karena tak mampu lagi berkata-kata karena ini untuk pertama kalinya dia pergi jauh dari keluarganya. Dan setelah ini, Gendhis akan memulai kehidupan baru bersama dengan suaminya. Gendhis masih enggan melepaskan pelukan ibunya, hingga ahirnya Bu Sari harus tega melepaskan pelukan putrinya lantas menepuk lembut pipi Gendhis dengan jemarinya seraya berkata.
__ADS_1
"Pergilah, Nak... do'a kami selalu mengiringi di mana pun kalian berada. Semoga kalian bahagia." ucap Bu Sari tersenyum.
Berikutnya, Gala pun berpamitan lalu mencium tangan kedua orang tua Gendhis yang sekarang adalah orang tuanya pula.
"Nak Gala... kami titipkan Gendhis pada mu. Jaga dia baik-baik. Jikalau dia tanpa sengaja berbuat satu kesalahan, maka jangan segan untuk ingatkan dia... Semoga kalian bahagia..." pesan Bu Sari pada menantunya.
"Baik, Pak... Bu... terimakasih untuk kepercayaan serta do'a restunya. Mulai sekarang, Gendhis adalah tanggung jawab saya. Insya Allah... semampu yang saya bisa, saya akan menjaga apa yang sudah Ibu dan Bapak amanahkan kepada saya." ucap Gala.
Bu Sari dan Pak Ratno menganggukkan kepala. Mereka sekarang telah benar-benar ikhlas dan lepas, melepaskan putri satu-satunya mereka pada laki-laki yang tepat.
"Kami pergi sekarang. Assalamu'alaikum..." ucap Gala.
"Waalaikumsalam..." jawab Bu Sari dan Pak Ratno.
Gendhis ahirnya berjalan menuju mobil Gala yang sudah disiapkan untuk membawa pasangan pengantin baru itu. Wajahnya masih menatap kepada Bu sari dan Pak Ratno seolah masih enggan untuk berpisah. Sesekali, Gendhis menghapus air mata yang menetes di wajah cantiknya. Gala pun dapat merasakan kesedihan Gendhis, tapi ia percaya... kalau Gendhis adalah gadis yang kuat dan sebentar lagi ia juga akan mulai terbiasa jauh dari orang tuanya.
Gendhis melambaikan tangan kanannya. Ia duduk di mobil belakang bersama dengan Gala dan satu orang sopir yang mengemudikan mobil. Semua yang menyaksikan perpisahan orang tua dengan anaknya itu larut dalam suasana haru, ketika perlahan mobil yang membawa Gendhis dan Gala mulai berjalan menjauh.
Dari atas balkon rumahnya, Lintang menyaksikan saat Gendhis harus pergi bersama dengan Gala meninggalkan Kampung Merangi bersama seluruh kenangan yang ada di dalamnya. Hati Lintang amat sakit. Ia baru menyadari bahwa pilihan orang tua itu sebenarnya tidak pernah salah. Tapi Lintang lah yang salah karena tak bisa menjaga pilihan itu. Entah butuh waktu berapa lama bagi Lintang untuk benar-benar mengikhlaskan jodoh masa kecilnya hidup bersama dengan laki-laki lain.
*****
...Hayyy... kakak... maaf telat up... othornya lagi sibuk urus macem-macem berkas hari ini jadi inspirasinya juga ikut tertunda. 🤭...
__ADS_1
...Terimakasih sudah menunggu dan jangan lupa komentar serta dukungannya yaaa... 🤗🥰🥰🥰🙏🙏...