
Tak terasa perjalanan panjang Gendhis mengantarkan Lintang mencapai cita-cita telah usai. Empat tahun sudah lintang menjadi taruna di Akademi Militer. Masa itu telah berlalu dan sekarang tiba saatnya cita-cita Lintang benar-benar ada di genggaman. Gendhis turut berbahagia untuk itu. Hari yang paling Lintang tunggu sepanjang hidupnya telah tiba.
Atas dukungan siapa Lintang bisa mendapatkan gelar Sarjana Terapan Pertahanan atau S.Tr.(Han), serta menyandang pangkat Letda atau Letnan Dua?
Siapa yang berjuang memohonkan pada orang tua Lintang agar keinginannya menjadi seorang TNI disetujui?
Siapa yang berjanji untuk berjuang dengan sungguh-sungguh agar ia bisa segera lulus dari pendidikan dan segera menikah?
Bahkan Gendhis tak pernah sekalipun meminta Lintang untuk berjanji. Kepercayaannya pada Lintang melebihi segala-galanya, hingga ia tak merasa butuh dengan janji-janji palsu itu.
Siang, malam... dalam sujudnya... nama Lintang tak perna luput dari mulut manisnya. Berdo'a demi kesehatan juga keberhasilan Lintang. Agar setelah Lintang selesai meraih cita-citanya mereka bisa segera menikah. Namun ternyata... takdir berkata lain.
Gendhis sendiri sekarang... tak ada satupun yang mengerti kegelisahan dalam hatinya. Ia berjuang menyimpan rahasia besar itu dari kedua keluarga yang sudah menyatukan mereka dalam ikatan pertunangan. Setidaknya, ia menunggu Lintang selesai masa pendidikannya dulu, baru kemudian Gendhis mencari cara untuk memberikan pengertian kepada kedua keluarga. Bagaimana pun juga, Gendhis masih mencintai Lintang, meski Lintang sudah sering kali menyakitinya. Gendhis masih bertahan, dengan harapan Lintang akan kembali padanya.
Gendhis sangat merindukan Lintang yang dulu bersikap hangat pada semua orang di rumah. Ringan diminta pertolongan, ramah, perhatian, suka bercanda bahkan dengan kedua orang tua Gendhis. Tapi sekarang, Lintang jarang pulang saat ada libur. Sekalipun pulang, dia lebih memilih mengurung diri di rumahnya.
"Mas Lintang... apa aku salah jika aku masih mengharapkan mu untuk kembali menjadi Mas Lintang ku yang dulu? Mas Lintang kesayangan semua orang... Dulu... bahkan kamu tak pernah membiarkan ada seorang lelakipun menatap ku. Tapi justru sekarang... saat kita bertemu, kau tak pernah lagi mau menatap wajah ku. Dulu... kau tak pernah izinkan aku bicara dengan lelaki manapun. Tapi sekarang... kau yang tak pernah mau bicara padaku. Kau lebih memilih untuk diam dari pada harus berdebat dengan ku tentang penghianatan mu. Tapi aku masih di sini Mas... menunggu hingga kau lelah berjalan di jalan mu yang sekarang. Kau yang mengajariku apa artinya cinta. Dari mu lah... aku mulai mengerti apa itu cinta. Tapi dari mu juga... aku merasa sakit karena cinta. Sakit... sangat sakit. Apa kau tahu itu? Mas Lintang... aku masih mencintaimu.... Selamat Mas Lintang... cita-citamu telah ada di genggamanmu." ucap Gendhis dalam hatinya.
Tanpa ia sadari, butiran kristal mengalir begitu deras dari sudut matanya, membuat wajah cantik itu basah seketika. Segera ia menghapus air mata itu sebelum ada yang melihatnya. Ia baru sadar, tempatnya saat ini bukanlah tempat yang tepat untuk meneteskan air mata. Ia khawatir ada yang melihatnya berlinang air mata.
Ia belum menyadari kalau ternyata pagi itu Gala juga ada di masjid kampus Untidar saat jam istirahat Gendhis menghabiskan waktu istirahatnya untuk sholat dhuha. Selain mereka berdua, nampak juga beberapa orang mahasiswa lain yang sedang melaksanakan sholat dhuha.
Semenjak kejadian malam itu, Gendhis menjadi lebih pendiam tak se ceria dulu, dan lebih sering menghabiskan waktu luangnya di masjid kampus. Ingin rasanya Gala mengurangi beban di hati Gendhis. Tapi lagi-lagi Gala menyadari bahwa mahasiswinya itu tak mungkin mau berbagi kesedihan dengannya.
*****
__ADS_1
Dari gedung Akademi Militer Magelang
Dalam hitungan jam ke depan, Lintang bersama dengan teman-teman taruna tingkat IV/Sermatutar Akademi Militer (Akmil) Magelang akan segera dilantik menjadi Letanan Dua (Letda). Karenanya mereka tengah bersiap mengikuti segala rangkaian acara yang wajib mereka ikuti. Dan acara puncak yang paling ditunggu adalah malam akrab (Malam Makrab) di mana semua taruna tingkat IV wajib datang membawa pasangan masing-masing. Sesuai tradisi, jika mereka tidak menghadirkan pasangan mereka, maka setelah usai acara, mereka akan di ceburin ke dalam kolam oleh rekan-rekannya.
Seperti halnya yang lain, Lintang juga sudah mempersiapkan untuk acara tersebut, termasuk rekanita yang akan ia bawa malam nanti, siapa lagi kalau bukan dr. Gabby, dan bukannya Gendhis tunangannya.
Gabby ahirnya tiba di Gedung Nasution, gedung yang berada di perumahan akmil. Di sana titik penjemputan rekanita (Rekan Wanita Taruna) oleh bus akmil. Setibanya di Gedung Nasution Gabby bersama dengan rekanita yang lain langsung menaiki bus yang sudah disediakan.
Malam itu adalah malam yang sangat istimewa untuk Gabby, karenanya dia tidak mau terlihat biasa-biasa saja. Dia berdandan lebih cantik juga seksi dari biasanya. Dia tidak ingin mengecewakan Lintang di hadapan teman-teman tarunanya.
Jantungnya mulai berdegup lebih kencang dan kedua kaki ini gemetar tatkala turun dari bus dan baru tahu bahwa akan ada pemeriksaan rekanita oleh Ibu persit (Persatuan Istri Prajurit).
"Selamat malam..." sapa Gabby pada salah seorang Ibu Persit yang bertugas di tempat itu.
"Selamat malam..." jawab Bu Persit sambil terus mengamati penampilan Gabby dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan sedikit tajam.
Pikir Gabby terlalu percaya diri.
"Maaf... tolong tunggu sebentar di sini, saya akan segera kembali." kata Bu Persit.
Setelah cukup lama mengamati, Bu Persit tersebut meninggalkan Gabby dan beberapa orang rekanita yang lain, sedangkan yang lainnya dipersilakan masuk begitu saja.
Dari kejauhan, terlihat Bu Persit berbicara dengan yang lainnya lalu kembali setelah beberapa saat dan berkata.
"Mohon maaf... dengan terpaksa kami tidak bisa mengizinkan saudari masuk."
__ADS_1
Gabby terkejut dan bertanya.
"Tapi kenapa, Bu? Yang lain dibiarkan masuk sedangkan saya tidak diperbolehkan masuk?" Gabby penasaran.
"Iya, maaf. Terpaksa saudari tidak diperbolehkan masuk karena pakaian yang saudari kenakan tidak sesuai dengan perintah." jawab Bu Persit.
"Tidak sesuai perintah? Memangnya cara berpakaian juga ada perintahnya? Menurut saya pakaian yang saya pakai tidak ada masalah." Gabby kembali bertanya dengan nada sedikit sewot. Maklum saja, selama ini tidak ada yang komplain soal penampilannya. Justru sekarang saat yang penting dalam hidup Gabby, ia justru dipermasalahkan hanya karena cara dia berpakaian.
Ibu Persit itu mengerutkan dahinya, merasa kalau wanita ini kurang dalam bersopan santun.
"Siapa nama rekan Anda?" tanya Bu Persit menelisik.
"Jatmika Lintang Bramanyta." jawab Gabby tanpa basa-basi.
Bu Persit hanya menganggukkan kepalanya seolah dalam benaknya tersimpan penilaian kurang baik terhadap wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu.
Lintang... Lintang... andai saja Gendhis wanita yang kau pinta untuk sanding malam itu, bukan Image negatif yang kan kau dapat. Justru sebaliknya, kecantikan Gendhis bukan hanya mengandalkan kecantikan fisik semata, melainkan kecantikan hatinya. Itulah yang tidak dimiliki oleh Gabby.
"Perlu kami jelaskan, untuk bisa masuk dan mengikuti acara makrab syaratnya adalah harus menggunakan dress minimal di bawah lutut, harus memiliki lengan minimal ¾ (tidak you can see), jika dressnya dari bahan brokat maka wajib ada puringnya, dress tertutup dan sopan. Dan maaf... saudari dianggap tidak mentaati peraturan tersebut, jadi... silakan pulang dan bisa kembali lagi setelah saudari mengganti pakaian sesuai dengan peraturan. Perimisi." jelas Bu Persit sambil berlalu pergi meninggalkan Gabby.
"Oh... Tuhan... cuma pakaian aja dipermasalahkan? Setelah aku bersusah payah beli gaun baru, sepatu baru... sampai di sini apa? Aku harus balik lagi ke rumah dan mengganti pakaianku. Oh... tidak..." Gabby menggerutu.
Segera ia menelpon sopirnya untuk menjemput Gabby sekarang juga, agar ia tidak terlambat mengikuti acara tersebut.
*****
__ADS_1
Pesta malam akrab lanjut di part. selanjutnya yaaa... terimakasih sudah berkunjung... 💕💕
Ditunggu selalu komentar dan dukungannya kakak-kakak... 🥰🥰🥰🙏🙏