Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Takdir Cinta untuk Cintaku


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Di ruang tamu, dua keluarga duduk berkumpul untuk membicarakan kelanjutan acara pernikahan yang sudah mereka rajut puluhan tahun lamanya. Pak Argo sengaja mengundang seluruh anggota keluarganya malam itu, termasuk Gendhis, Pak Ratno, Bu Sari, juga Lintang. Kecuali Bu Parti yang saat itu masih terbaring di kamarnya. Setelah siuman, Pak Argo meminta istrinya untuk beristirahat agar tidak jatuh sakit akibat ulah putra kesayangannya. Sedang Gabby, Lintang telah membawanya untuk beristirahat di kamar tamu.


Semua yang ada di ruang tamu itu terdiam. Kecuali Pak Argo, tak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Wajah merekalah tertunduk, dan masing-masing hidup dalam angannya sendiri. Kekecewaan mereka terhadap perilaku Lintang benar-benar sudah membuat mereka semua kehilangan muka di depan seluruh warga desa. Malam itu seperti mimpi buruk yang amat melelahkan. Mereka berharap itu hanyalah mimpi belaka, dan ketika bangun semuanya akan kembali seperti sediakala. Namun sayangnya, mimpi buruk itu telah menjelma menjadi kenyataan pahit yang harus mereka telan bersama.


Setelah cukup lama hanyut dalam keheningan malam, Pak Argo akhirnya angkat bicara.


"Pak Ratno, Bu Sari juga Gendhis... saya selaku kepala rumah tangga, benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian malam ini. Saya tahu, permintaan maaf saja tidaklah cukup untuk menebus kesalahan kami. Dan sekarang, kami pasrah. Apapun yang akan Pak Ratno lakukan pada kami. Kami sadar, perbuatan Lintang tidaklah pantas untuk dimaafkan." ucap Pak Ratno dengan penuh rasa penyesalan.


Semua yang ada di sana pun tak dapat berkata-kata. Termasuk Lintang..., bahkan dia baru tahu kalau ternyata Gabby hamil, justru pada saat malam menjelang pernikahannya dengan Gendhis.


"Sekarang, saya serahkan keputusan sepenuhnya pada Pak Ratno. Setelah semua yang terjadi, masihkah Pak Ratno ingin tetap melanjutkan pernikahan Lintang dengan Gendhis... atau kah... akan membatalkan pernikahan ini." ucap Pak Argo dengan berat hati.


Ahirnya setelah diberikan kesempatan untuk bicara, ayah dari gadis yang sedang dirundung pilu itupun menjawab,


"Pak Argo... kami selaku orang tua, pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak kami. Mungkin... dulu... kami sudah salah karena mengikuti tradisi yang tujuan sebenarnya baik, hanya saja caranya yang salah. Kita sebagai orang tua, harusnya memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk memilih jalan hidup mereka sendiri. Bahkan dulu ketika kita jodohkan mereka, mereka belum tahu apa artinya pasangan hidup. Hingga pada ahirnya, seiring dengan berjalannya waktu, ternyata takdir berkata lain. Seandainya dulu kita lebih memikirkan masa depan anak-anak kita, mungkin... hal semacam ini tidak akan pernah menimpa anak-anak kita." ucap Pak Ratno membuat semua orang yang ada di situ tertunduk. Ia lalu melanjutkan perkataannya.


"Saya tidak akan mengulang kesalahan untuk kedua kalinya, dengan menentukan jalan hidup Gendhis tanpa mendengar apa sebenarnya keinginannya. Karenanya... Pak Argo, untuk masalah lanjut atau tidak pernikahan ini... biarlah Gendhis yang menentukan sendiri masa depannya. Kami tidak ingin memaksakan apapun untuknya." lanjut Pak Ratno dengan penuh kebijaksanaan.


Pak Argo dan Bu Sari hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya membenarkan perkataan ayah dari dua orang anak itu.


Lintang pun sudah tak punya nyali untuk berdalih. Ahirnya dia hanya diam dan pasrah menunggu jawaban dari gadis yang dulu pernah sangat ia cintai.

__ADS_1


Sementara Gendhis... dengan jantung berdebar-debar dia harus bisa menentukan masa depannya, bahkan masa depan semua orang.


"Baiklah... Gendhis... apa keputusan mu? Bapak dan Ibu Parti akan ikhlas menerimanya. Karena kami tahu, kami sudah sangat mengecewakanmu. Kami siap menerima apapun keputusanmu." tanya Pak Argo pada Gendhis yang sedari tadi duduk diam dan menundukkan kepala, menelaah apa yang disampaikan Pak Argo juga ayahnya.


Gendhis berfikir sejenak, lantas berkata, "Bismillahirrahmanirrahim... Pak Argo, Bapak, Ibu juga Mas Lintang... kita tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan di tangan kita. Percaya pada takdir baik maupun takdir buruk, itu adalah salah satu wujud keimanan kita pada Sang Khaliq. Meski sebenarnya tidak ingin, namun itulah yang terjadi. Mungkin... saya bukanlah jodoh yang dipilihkan Allah untuk Mas Lintang. Dengan berat hati saya harus mengatakan kalau pernikahan saya dengan Mas Lintang... tidak bisa dilanjutkan." seketika ucapan Gendhis itu membuat mereka sedih dan tak berdaya.


Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Mereka harus siap dengan segala konsekuensi yang harus mereka terima akibat perjodohan dini itu. Dan Gendhis... dia lah yang menjadi korban atas tradisi ini.


"Baiklah, Nak... kalau ini sudah menjadi keputusan mu. Kami akan berusaha untuk ikhlas menerimanya. Meski begitu, kamu tetap lah putri kami. Mulai malam ini, datanglah kerumah ini bukan sebagai menantu keluarga ini, melainkan sebagai putri kami." ucap Pak Argo dengan berlinang air mata. Tak pernah sebelumnya lelaki tegas itu terlihat meneteskan air mata, namun malam ini, ia seolah tak kuasa untuk menahan air matanya. Serentak... semua yang ada di sana pun turut merasakan kesedihan Pak Argo karena gagal membawa Gendhis sebagai menantunya.


"Bapak... apakah saya boleh mengajukan satu permintaan?" tanya Gendhis tiba-tiba pada Pak Argo.


"Tentu, Nak... apapun akan Bapak lakukan untuk mu." jawab Pak Argo.


"Apa? Apa maksud perkataan mu, Nak?" tanya Pak Argo.


"Iya, Pak... pernikahan Mas Lintang dengan Gabby harus tetap dilakukan besok pagi." ucap Gendhis setelah tahu bahwa Gabby sudah mengandung buah cintanya dengan Lintang.


Mendengar nama wanita itu saja sudah membuat Pak Argo mual, apalagi harus menikahkannya kemudian jadi menantu di rumahnya? Ohhh... tidak. Sekedar membayangkannya saja Pak Argo tidak akan sanggup, apa lagi kalau sampai hal itu terjadi.


"Tidak, Nak... kamu boleh minta apapun, asal bukan untuk yang satu itu. Tidak... saya tidak bisa!" ujar Pak Argo teguh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Pak Argo... apa yang dikatakan Gendhis itu benar. Seperti yang sudah kita rencanakan. Undangan sudah disebar, pesta sudah dipersiapkan, apa lagi yang kurang? Apakah Pak Argo yakin akan membatalkan pesta besok pagi? Tolong... pertimbangkan kembali permintaan Gendhis..." Pak Ratno turut bicara.


"Tapi bagaimana mungkin, kami menikahkan Lintang dengan orang lain. Kami tak bisa, apalagi Bune... kalau sampai dia tahu pasti tambah nggak karuan, dan bagaimana dengan kondisi kesehatannya? Lintang harus meninggalkan wanita itu meski dia tidak menikah dengan Gendhis. Saya tidak sudi punya menantu seperti dia! " ucap Pak Argo ketus.


Mendengar semua orang memperdebatkan dirinya sedari tadi, Lintang pun ahirnya ikut andil bicara meski sebenarnya kehadirannya tidaklah diperlukan oleh Pak Argo.


"Bapak... saya diam dari tadi bukan berarti saya tidak berhak untuk bicara. Itu karena saya begitu menghormati Bapak." ucap Lintang.


"Oh... ya? Menghormati? Menghormati seperti apa yang kamu bicarakan? Dengan merusak masa depan seorang gadis dan membuatnya mengandung anak kamu, lalu sekarang kamu masih bisa bilang kalau kamu menghormati Bapak? Di mana rasa hormat mu Lintang? Apa kamu lupa? Kamu seorang prajurit...! Apakah pantas seorang prajurit TNI bertindak demikian? Kamu bikin malu semua orang lalu kamu sebut kalau kamu menghormati? Bapak tidak pernah mengajarimu bertindak ceroboh seperti itu. Apakah gadis kota itu yang sudah mencuci otak mu sehingga kamu tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?" wuuuzzz... Pak Argo memarahi Lintang habis-habisan karena tadi saat di hadapan tamu, ia sudah berusaha untuk menahan kata-kata itu dari mulutnya.


Mendengar ucapan ayahnya, bukannya menyadari kesalahannya, Lintang justru berbalik membela diri dan kekasihnya itu.


"Bapak... Lintang memang sudah mengecewakan semua orang, tapi semua sudah terjadi. Kenapa dulu kalian tidak bertanya pada Lintang kecil saat hendak dijodohkan? Sekarang saat Lintang bisa menemukan sendiri wanita pilihan Lintang, bahkan Bapak tidak memberikan Lintang kesempatan untuk bisa mengenalkan seperti apa gadis pilihan Lintang. Karena Bapak sudah menutupi hati Bapak dengan kebencian. Dari dulu sampai sekarang Lintang memang tidak pernah benar di mata Bapak juga Ibu. Bagi kalian, Gendhis lah putri kalian. Bukan Lintang!" ucapan Lintang sungguh membuat hati Gendhis semakin pedih. Apalagi melihat percekcokan antara ayah dan anak itu. Gendhis merasa tak bisa berkata apa-apa. Biasanya Bu Parti yang selalu bisa meredam amarah mereka, tapi kali ini... Ibu yang begitu baik dan lembut hati itu sedang terbaring sakit di kamarnya.


Semakin malam, suasana di ruang tamu itupun semakin memanas. Baik Lintang maupun ayahnya tidak ada yang mau mengalah. Semua teguh pada pendirian masing-masing, dan membenarkan pendapatnya masing-masing.


*****


...***Semakin menegangkan ya kak perdebatan ayah dan anak... 🤭...


...Lalu bagaimana ahir dari sidang panas di ruang tamu itu? Lanjut di episode berikutnya ya kakak. ...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar serta dukungannya yaaa... terimakasih 🥰🥰🙏🙏🙏***...


__ADS_2