
Mentari bersinar cerah. Gumpalan awan putih berbaris rapi di atas langit biru. Semakin lama, sinar mentari makin meninggi, pertanda sang waktu telah berjalan menuju siang. Musik qosidh dari grup musik religi Kasima yang cukup ternama di Kota Magelang pun turut meramaikan acara pernikahan. Grup yang kesemuanya terdiri dari kaum hawa itu melantunkan lagu qasidah yang berjudul "Sajadah Merah", membuat Gendhis kembali teringat kala dulu di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas, Lintang pernah memberinya hadiah sajadah merah.
🎼🎼🎼🎼🎼
" Dulu waktu aku masih bersama dia
Dia yang aku cinta, dia yang aku puja
Ku diberi tanda mata sajadah merah
Katanya agar aku rajin ibadah
Sayang kisah ku dengannya, hanya sekejap saja
Dia menikah dengan pilihan hatinya
Walau harus menderita, namun tetap berdo'a
Semoga dia yang ku cinta berbahagia
Merana kini aku memang merana
Tapi pantang bagiku tuk berputus asa
Kusadari cinta tak harus memiliki
Karena jodoh, rejeki, mati, oh takdir Illahi
Tinggalah kini
Oh... Sajadah merah
Kawan setia dalam ibadah."
Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Menduduki kursi yang sudah disediakan. Mereka seolah tak sabar lagi menyaksikan siapa mempelai wanita yang kan duduk dipelaminan.
Beberapa mobil mewah berhenti di tetempat parkir. Nampak beberapa orang keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
Setelah dipersilakan duduk, salah satu dari mereka lalu berkata,
"Bisakah kami bertemu dengan mempelai wanita?"
"Baik, Pak, Bu... mari saya antar." kata salah seorang penerima tamu.
Mereka lalu berjalan mengikuti seorang penerima tamu tersebut dan dibawa lah mereka menuju kamar rias pengantin.
"Mempelai wanita ada di kamarnya. Silakan masuk, saya permisi dulu." ucap penerima tamu.
"Baik, Bu... terimakasih!" jawab seorang ibu paruh baya dengan penampilan serba glamour itu.
"Tok... tok... tok..."
Suara pintu kamar diketuk. Segera Gabby membuka pintu.
Gabby terkejut bukan main ketika melihat di depan pintu, ayah dan ibunya sudah berada di sana.
"Oh... my... god... habislah aku!" ucapnya dalam hati.
Segera orang tua Gabby masuk ke dalam kamar lalu menutup rapat-rapat pintunya karena tak ingin ada yang mendengar percakapan mereka.
"Mama... Papa... kapan datang dari Jakarta? Kok nggak kasih kabar Gabby?" dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Gabby... jawab pertanyaan Papa mu, jangan coba alihkan pembicaraan!" Kanjeng Mami pun ikut nimbrung.
"Ayo kita pulang sekarang sebelum semua terlambat! Papa nggak mau kamu nikah sama orang yang nggak papa kenal, apalagi kamu harus tinggal di kampung macam ini? Papa nggak setuju." paksa Ayah Gabby sambil menarik tangan putrinya untuk dibawa kabur.
Gabby menahan dirinya untuk tetap berada di tempat itu.
"Pa... pa... pa... tunggu, Pa... Gabby nggak mau pergi. Gabby ingin tetap menikah dengan Lintang! Gabby cinta sama Lintang!" ucap Gabby.
"Apa? Cinta? Oh... tidak. Gara-gara cinta mu itu bisa bikin reputasi keluarga kita hancur. Apa kata rekan bisnis papa mu kalau mereka sampai tahu putri semata wayangnya menikah diam-diam dengan laki-laki dari kampung. Ayo... kita pulang sekarang!" kata Kanjeng Mami.
"Ma... maafin Gabby! Gabby nggak bisa ikut kalian pulang..." ucap Gabby. Bagaimana pun juga, ia harus berjuang untuk mendapatkan hak dari janin yang ada dalam kandungannya.
"Dasar anak keras kepala! Lihat Ma, kita terlalu memanjakan dia sejak kecil, dan sekarang? Apa hasilnya?" ucap Ayah Gabby.
__ADS_1
Gabby pun hanya terdiam.
"Baiklah kalau memang seperti ini mau mu! Ma... kita pulang sekarang! Jangan harap kamu bisa kembali ke rumah kalau kamu masih bersikeras untuk menikahi laki-laki pilihan kamu itu! Ayo, Ma... kita pulang sekarang!" Sang Ayah hendak keluar meninggalkan Gabby di kamar itu sendirian.
"Pa... tunggu!" Gabby menyusul ayahnya yang hendak membuka pintu.
Gabby berlutut di kaki ayahnya seraya berkata, "Pa... Gabby minta maaf! Tapi Gabby mohon... kali ini aja, Pa... sebelum pergi Gabby minta restui pernikahan Gabby dengan Lintang. Papa sama Mama nggak mau kan, anak kalian satu-satunya menikah tanpa dihadiri walinya. Gabby mohon Pa..." gadis itu merengek meminta restu orang tuanya.
Meski dalam hati mereka enggan untuk menyetujui pernikahan itu, tapi apa yang dikatakan Gabby benar, mau tidak mau ayahnya harus menikahkan putrinya. Ahirnya, sang ayah pun mau menikahkan Gabby dan setelah itu mereka akan kembali ke Jakarta dan tak kan memperdulikan putrinya lagi.
*****
"Heh... Karjo, gimana sih kamu? Kata mu rahasia ini aman. Mana buktinya? Kamu malah dateng ke sini sama mama papa..." ucap Gabby marah dengan orang kepercayaan keluarganya itu.
"Maaa... maaf... Non... saya juga nggak tahu kalau hari ini Bapak ternyata ada tugas ke Magelang. Beliau bilang mau sekalian berkunjung ke rumah Non Gabby di Magelang, terus saya bilang Non Gabby lagi ada acara, tapi Bapak maksa tetap mau bertemu sama Non Gabby, ahirnya yaaa... terpaksa saya bilang kalau Non Gabby mau menikah." ucap Pak Karjo menjelaskan.
Gabby memegang jidatnya karena pusing memikirkan masa depannya seusai menikah dengan Lintang, mereka berdua sama-sama menjadi anak yang tak dianggap oleh orang tua lantaran keegoisan mereka. Tapi segera Gabby menghilangkan rasa stresnya yang berlebihan, karena ia tidak mau kondisinya akan berpengaruh pada janin yang ada dalam kandungannya.
*****
Semua sudah bersiap di panggung dekorasi untuk acara ijab qobul, termasuk penghulu. Tibalah saatnya Mbak Dewi Mayang membawa mempelai wanita menuju tempat dekorasi. Hadirin dibuat terkejut ketika mereka melihat mempelai wanita yang akan bersanding dengan Lintang bukanlah Gendhis, melainkan orang yang belum mereka kenal. Serentak kejadian itu membuat tamu undangan saling bergunjing satu sama lain.
Pak Argo dan Bu Parti hanya bisa mengelus dada. Mereka sudah dapat membayangkan sebelumnya kalau hal ini pasti akan terjadi. Mereka harus lapangkan dada seluas samudera untuk bisa membayar kelakuan putranya yang sangat tidak terpuji.
Sementara Gendhis... dia lebih memilih untuk berada di dalam kamarnya dan tak ingin menyaksikan acara pernikahan Lintang. Sudah cukup sampai di sini... perjuangan dan pengorbanannya untuk laki-laki yang pernah ada dalam hatinya. Setelah ini... ia harus belajar ikhlas untuk melepaskan Lintang. Meski sampai detik ini ia belum tahu bagaimana caranya menghapus nama Lintang dari dalam hatinya.
Sayup terdengar suara Lintang dari sound system, tegar tanpa ragu sedikitpun.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Saudari Gabby Permatasari binti Bapak Karta Wijaya dengan mas kawin seperti yang sudah disebutkan tunai...!"
"Bagaimana para saksi? Apakah sudah syah?" tanya penghulu kepada para saksi dan semua yang hadir di sana.
"Syah....!" ucap semua orang.
Penghulu pun lantas memanjatkan do'a untuk kedua mempelai.
Dan... pada saat itulah... hati Gendhis terasa remuk redam ketika harus menyaksikan jodoh masa kecilnya harus bersanding di pelaminan bersama wanita lain. Ia mengunci rapat pintu kamarnya, agar tak ada satupun yang mendengar saat ia menjerit karena rasa sakit dalam hatinya. Ia biarkan air matanya menetes sejadi-jadinya, ia luapkan segala kesedihannya di hari persandingan Lintang, agar setelah ini air matanya kering dan tak ada lagi yang tersisa untuk menangisi Lintang yang memang tak pantas ditangisi. Ia hanya butuh waktu, agar luka dalam hatinya mengering seiring dengan datangnya kesatria tampan yang akan memberinya kebahagiaan, jauh melebihi apa yang bisa Lintang berikan padanya.
__ADS_1
*****