
Seperti biasa, hari ini Gendhis sampai di kampus sedikit lebih awal. Ia menuju ruang kuliah di mana teman-teman satu kelasnya juga sudah berada di sana. Usai saling menyapa, Gendhis duduk di antara teman-teman wanitanya.
"Tumben kalian dateng pagi banget? Biasanya jam segini baru bangun dari kamar kost." tanya Gendhis pada tiga orang temannya yang kesemuanya itu adalah anak kost.
"Ya iyaaa lah Dis... jam pertama kan mata kuliahnya Pak Gala gitu lohh... So... mana mungkin dong kita terlambat. Iya nggak guys..." ucap Fani salah seorang teman Gendhis.
"Betulll banget... rugi dong kalau sampe terlambat, waktu kita buat mandangin wajah Pak Gala di kelas bisa berkurang." ucap Reni menambahkan.
Gendhis hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat ketiga temannya sang begitu mengidolakan Mas Dosen Gala. Bukan hanya ketiga temannya, bahkan gadis-gadis di kampusnya pun tak ada yang tak mengenal Gala, dosen tampan yang selalu ramah pada semua mahasiswanya itu, juga terkenal karena baik hati, tajir, dan senyumnya selalu bisa bikin meleleh gadis-gadis yang melihatnya, terkecuali... Gendhis. Bukannya dia tak mengakui semua keistimewaan Gala, hanya saja ia memilih untuk menjaga hati dan pandangannya, (ghadlul bashar) bahasa lainnya.
Tak henti-hentinya ketiga sahabat nya itu membicarakan Gala, hingga tanpa mereka sadari Gala pun sudah berada dalam ruangan tersebut untuk mengajar mereka.
"Assalamu'alaikum... selamat pagi semuanya." sapa Gala ramah pada semua mahasiswanya.
Tak ada satupun pun yang tak menjawab salam darinya
"Waalaikumsalam... selamat pagi Pak Gala." serempak mahasiswa dalam ruangannya menjawab.
Setelah memberikan lembaran yang berisi daftar hadir presensi mahasiswa, Gala lalu memulai menerangkan materi perkuliahannya. Di ahir perkuliahan, Gala menjelaskan.
"Mahasiswa ku semuanya, minggu depan, prodi kita akan mengadakan acara bulan bahasa." Gala menyampaikan.
Jurusan yang Gendhis ambil adalah Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sudah semestinya acara semacam itu wajib mereka laksanakan di bulan Oktober karena merujuk bahwa bulan tersebut adalah bulan ditetapkannya Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.
"Karenanya mahasiswa ku semuanya, kalian dituntut partisipasinya untuk kelancaran acara tersebut. Silakan kalian rancang acaranya semenarik mungkin." Gala menambahkan.
Mahasiswanya pun saling berbisik satu sama lain mengenai acara tersebut.
"Pak Gala... mau tanya, acara nya mau diadakan di mana ya?" tanya Reni seolah hanya ingin mencari perhatian Gala.
Belum sempat dijawab oleh Gala, salah seorang mahasiswa laki-laki menjawab sambil bercanda,
"Diadakan di rumah kamu Ren..."
Serentak jawaban itu mengundang tawa mahasiswa yang lain.
"Ya pasti di auditorium kampus lah..." lanjutnya.
Dan Reni pun ikut tertawa mendengar jawaban teman sekelasnya.
Senyum manis Gala mengembang dari bibirnya, membuat mahasiswinya makin terpesona.
"Iyaaa... tepat sekali. Acara ini akan dilaksanakan di Gedung Auditorium Untidar, dan akan di isi dengan acara inti dari Guru Besar dari kampus kita, yaitu Bapak Ali Imron El Shirazy, adik dari penulis ternama Habiburrahman El Shirazy, sekaligus pencipta novel Ayat-Ayat Cinta." lanjut Gala.
"Waaahh... luar biasa." semua mahasiswa tampak terkagum-kagum, begitu pula Gendhis. Dia sangat antusias sekali menimba ilmu dari acara ini.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat ketika mereka di hadapkan pada sesuatu hal yang mereka sukai, termasuk mengikuti mata kuliah Gala. Ahirnya, Gala pun mengakhiri pertemuan siang itu di ruang kuliahnya.
*****
Suasana di auditorium Untidar sangat ramai. Betapa tidak, hari ini akan dilaksanakan peringatan Bulan Bahasa. Ruangan tersebut di sulap menjadi tempat yang nantinya akan digunakan untuk acara. Dekorasi panggung, meja tamu, kursi-kursi, juga alunan musik pop yang ringan mengalun sembari menunggu acara dimulai.
Satu persatu kursi yang disediakan panitia pun mulai penuh, bukan cuma dari mahasiswa saja, melainkan tamu undangan dari luar kampus juga sudah mulai tampak hadir satu persatu. Hari ini juga akan diadakan lomba baca puisi tingkat SMA se Kota Magelang.
__ADS_1
Setelah semua siap, sang pembawa acara pun mulai membuka acara dan mengantarkan acara satu persatu dengan penuh hikmad. Hingga tiba saat di mana lomba baca puisi akan dimulai. Itulah acara yang paling ditunggu oleh semua peserta lomba.
Namun terlebih dahulu, sebelum acara dimulai, Gendhis yang sejak SMP selalu mendapatkan juara pada ajang lomba baca puisi itu, diberikan kesempatan untuk bisa membacakan sebuah puisi di hadapan semua yang hadir. Ini merupakan satu kehormatan baginya, bisa ikut andil apalagi membacakan puisi di tengah-tengah orang-orang yang sangat ia hormati. Karenanya, sudah sejak beberapa hari lalu ia mempersiapkan dengan sangat baik.
Gendhis menapakkan kakinya ke atas panggung dengan dada berdegup kencang. Ini kali pertama dia tampil di panggung sebesar ini. Dia berharap, penampilannya tak kan mengecewakan orang-orang yang telah memberinya kepercayaan.
Ia mengatur nafas, mengucap "Bismillah..." agar rasa gugup tak berhasil menguasai pikiran dan jiwanya. Ia pun mulai mengucap judul puisi dan seketika... suasana menjadi senyap, segala perhatian tertuju padanya. Tak terkecuali, Gala yang dengan kewibawaan mengamati Gendhis dari kejauhan.
..."SEUNTAI PESAN UNTUK KAUM HAWA...
Buah Karya : Syarief eL Munandar
...oh hawa...
...Tahukah kalian betapa berbahayanya dirimu?...
...Tiap jengkal Dan lekuk tubuhmu adalah...
...racun yang begitu sempurna...
...Yaaah, sempurna untuk membabat habis keimanan para Adam....
...Hawa tauhukah kamu betapa berharganya dirimu?...
...Hingga Allah letakan surga yang agung...
...ditelapak kakimu.....
...Hingga dikatakan...
...karena kehancuranmu.....
...Hingga Rasulullah menyebutmu tiga kali lebih...
...pantas dihormati daripada Adam.....
...Maka, jadikan dirimu layak dihargai...
...Tapi tahukah betapa sakit hatiku?...
...Mendapatkanmu dijalanan...
...Kau umbar auratmu dengan bangga.....
...Ketika tiap lekuk tubuhmu begitu mudah untuk dinikmati mereka...
...laki-laki yang tak halal bagimu.....
...Ketika kau dengan bebasnya...
...tertawa Dan bermanja...
...pada laki-laki yang menatapmu liar...
__ADS_1
...seolah ingin menerkammu.....
...Oh, Hawa ingatlah bahwa sebagian...
...besar penghuni neraka adalah kaum Wanita…!...
...Ketahuilah wahai Hawa,...
...Kau indah karena sifat malumu.....
...Kau mulia karena akhlak Dan kehormatanmu.....
...Sukakah Kau jika mereka menyukaimu karena...
...betapa cantiknya kamu? Karena betapa ramping...
...tubuhmu? Atau karena kulitmu yang putih mulus?...
...Merasa berhargakah kalian ketika tak ada Lagi...
...yang tersembunyi dari dirimu?...
...Lalu bagaimana Kau mampu mengharap laki-laki...
...yang mendampingimu kelak adalah laki-laki yang...
...mulia yang menjaga kehormatannya?...
...Masihkah kalian berharap mendapatkan yang...
...terbaik sementara diri berlumur dosa?...
...harga diri telah tercabik dan ternoda...
...Tapi jangan takut saudariku.....
...Rabb Kita ALLAH maha pengampun.....
...Tak ada kata terlambat selama jiwa masih didalam diraga.....
...Percayalah walau dosa membumbung tinggi...
...Ampunan Nya melangit Luas.....
...wahai saudariku Kembalilah pada fitrahmu...
...Kau indah karena sifat malumu.…"...
Puluhan pasang mata tertuju pada gadis cantik bersuara merdu itu. Puisi yang ia bacakan berhasil meruntuhkan hati setiap pendengarnya. Membuat bulu kudu merinding, bahkan saking menghayatinya tak terasa mata mereka berkaca-kaca. Pembawaan yang sangat sempurna dengan isi, nada, juga suaranya.
Gala tertegun memandang Gendhis yang tengah turun dari atas panggung.
"MasyaAllah... Subhanallah... sekali lagi aku melihat sisi baik dari gadis lugu berparas cantik ini." ucapnya lirih.
__ADS_1
Mulai saat itu, rasa keingintahuan Gala pada Gendhis semakin dalam. Diam-diam, ia mulai menggali informasi tentang mahasiswi yang menurutnya istimewa itu.
*****