Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Sambut Kedatangan Riko


__ADS_3

Setahun sudah Riko meninggalkan rumah. Hari ini Ia akan tiba kembali setelah kepergiannya satu tahun silam. Betapa bahagianya hati Pak Hari dan Bu Fina. Harapannya untuk bisa melihat Riko bahagia akan terwujud.


Tepat pukul sebelas siang, mobil yang menjemput Riko dari Bandara YIA tiba di halaman rumah Pak Hari. Bu Fina segera keluar untuk menyambut putra kesayangannya.


"Assalamu'alaikum..." sapa Riko dengan senyumnya.


"Waalaikumsalam..." jawab Pak Hari dan Bu Fina.


"Duhhh... gantengnya Mama... ahirnya sampai di rumah juga. Gimana perjalanannya Sayang?" tanya sang mama sambil mencium dan memeluk hangat putranya.


"Alhamdulillah... berkat do'a Mama Papa, semuanya berjalan lancar." jawab Riko.


"Syukurlah... kamu pasti lelah. Ayo, masuk... biar barang-barang kamu Si Embak yang urus." kata Bu Fina sambil mengajak Riko masuk dan duduk di ruang tamu.


Riko duduk di atas sofa seraya melepaskan kepenatannya selama di perjalanan. Ia yakin betul bahwa rumahnya adalah tempat yang paling nyaman untuknya. Sambil duduk, Riko menyapu setiap sudut rumah. Ia bahkan tak menemukan satupun foto pernikahan Gala dan Gendhis. Gala sengaja membawa semua foto pernikahan ke rumah barunya demi menjaga perasaan Riko saat datang dari Amerika.


"Minum dulu Sayang... Mama bikinin teh hangat agar penat mu segera hilang." ucap Bu Fina sambil membawakan secangkir teh hangat.


"Makasih, Ma..." Riko langsung meminum teh buatan Mamanya. Rasanya begitu manis dan sedap karena dibuat dengan penuh kasih sayang.


"Ma... Kak Gala mana? Kok nggak ikut nyambut kedatangan Riko?" Riko bertanya tentang kakaknya.


"Iya, tadi pagi dia sudah kesini, tapi karena mendadak ada telepon dari kampus ahirnya dia buru-buru ke kampus. Tapi katanya nanti sore dia kesini sekalian jemput... Gendhis." ucapan Bu Fina berubah melemah saat menyebut nama Gendhis di hadapan Riko.


"Oh... ku kira Kak Gala sudah lupa kalau dia masih punya adik. Biasanya dulu, dia yang paling semangat denger Riko mau pulang ke rumah." kata Riko.


"Mana mungkin lah Kakak mu lupa... cuma memang akhir-ahir ini dia sedikit sibuk." hibur Bu Fina.


Riko hanya terdiam mendengar penjelasan mamanya.


"Sayang... Mama tadi sudah siapin air hangat di atas. Buruan gi, mandi terus istirahat." pinta Bu Fina.


"Ya udah Ma, makasih. Riko ke kamar sekarang ya!" pamit Riko sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Iya, Sayang... istirahatlah..." jawab Bu Fina.


Riko pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat.


*****


Malam harinya, Bu Fina tengah menyiapkan makan malam. Ia meminta Gendhis untuk datang membantunya. Bu Fina ingin agar keluarganya bisa berkumpul malam itu untuk membahas rencana pertemuan dua keluarga.


"Gendhis... tolong kamu lanjutkan masak supnya ya, Mama mau bawa ini ke meja makan dulu." ucap Bu Fina pada menantu kesayangannya.


"Baik, Ma..." jawab Gendhis.

__ADS_1


Bu Fina berjalan ke meja makan sambil membawa makanan ke atas meja. Sementara di ruang keluarga, Pak Hari dan Gala masih asyik menyaksikan acara berita di televisi. Tak lama kemudian Riko turun setelah sempat beristirahat sepulang dia dari Amerika.


"Eh... udah bangun Sayang? Bentar lagi siap makan malamnya." ucap Bu Fina.


"Udah dari tadi sebelum maghrib, Ma. Cuma Riko sholat maghrib sekalian baru turun." jawab Riko sambil mendekati Sang Mama.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Bu Fina.


"Cuma mau ambil air putih." jawab Riko.


"Ada di dapur, sebentar ibu ambilin." Bu Fina segera ingin pergi ke dapur untuk mengambilkan Riko air putih. Ia tahu betul Gendhis sedang ada di sana sendirian. Ia khawatir Riko belum siap bertemu dengan kakak iparnya sekarang.


"Iya, Ma..." jawab Riko.


"🎼🎼🎼🎼"


Terdengar suara ponsel Bu Fina berdering. Ahirnya niat untuk mengambilkan air putih pun urung.


"Bentar Sayang, Mama angkat telepon dulu, ini penting banget soalnya. Bentar ya..." kata Bu Fina sambil berjalan ke luar ruang makan.


"Ya udah, Ma. Angkat aja...! Lagian cuma ambil air putih aja Riko bisa sendiri kok. Satu tahun di Amrik bukan berarti Riko lupa sama seisi rumah dong..." jawab Riko yang belum tahu kalau Gendhis juga sedang berada di dapur.


Riko berjalan menuju dapur. Ketika hendak mengambil gelas, ia terkejut melihat Gendhis sedang berada di sana dan tengah sibuk memasak.


Ia seperti ingin marah pada dirinya sendiri. Kenapa jantungnya masih saja berdegup sangat kencang saat bertemu dengan wanita itu. Padahal ia sudah berusaha sangat keras untuk mencegah agar hal itu jangan sampai terjadi. Tapi apa mau dikata? Semua itu di luar kendalinya.


Gendhis yang belum menyadari keberadaan Riko pun terlihat tenang saja memasak. Tiba-tiba Gendhis terkejut ketika terdengar suara,


"Pyyyaaarrrr...!!!" gelas jatuh ke lantai membuat serpihannya hancur berkeping-keping seperti halnya hati Riko.


Riko kurang fokus saat mengambil gelas di rak piring, sehingga gelas itu lepas dari genggamannya.


"Astaghfirullah hal 'adzim..." Gendhis terkejut lantas segera membalikkan badan. Dilihatnya Riko hendak mengumpulkan puing-puing gelas itu.


"Mas Riko? Apa yang terjadi? Sini biar aku yang beresin..." dengan sigap Gendhis membersihkan puing-puing yang telah retak itu.


"Nggak usah biar aku aja!" cegah Riko tapi Gendhis tetap memaksa.


"Biar aku aja, ini pekerjaan wanita. Kalau nggak hati-hati serpihan ini bisa melukai tangan Mas Riko. Awas..." ucap Gendhis sambil membersihkan pecahan kaca yang berserakan ke mana-mana.


Dalam diam, Riko terus mengamati wajah Gendhis yang memang sedang tidak menatapnya.


"Mau disatukan seperti apa pun tetap saja gelas ini sudah hancur berkeping-keping Gendhis... sama seperti hatiku. Andai saja, kamu yang mengumpulkan serpihan-serpihan hati ku yang hancur ini, pasti dengan sendirinya hati ku akan kembali menjadi satu." bathin Riko sambil mengamati wajah Gendhis.


"Ohhh... tidak Riko!!! Apa yang kamu fikirkan sekarang? Bukan kah sebelum balik ke Indonesia kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak akan pernah menuruti gejolak hati mu lagi? Kamu harus kuat... kamu pulang bukan untuk Gendhis, melainkan untuk wanita lain yang kamu harap akan bisa mengubah perasaan mu pada Gendhis." Riko masih bicara sendiri dalam hatinya.

__ADS_1


"Sudah... semuanya sudah beres! Apa Mas Riko butuh sesuatu? Biar aku ambilkan?" tanya Gendhis tanpa ekspresi apa pun karena memang sampai sekarang perasaannya pada Riko tidak berubah. Apa lagi laki-laki itu sekarang sudah menjadi adik iparnya. Hanya saja, untuk mengubah sebuah sapaan bagi Gendhis bukan hal yang mudah. Apa lagi usia Riko lebih tua darinya. Ia tak mungkin dengan mudahnya memanggil nama Riko begitu saja. Baginya terkesan tidaklah sopan.


"Oh... enggak... aku cuma mau ambil air putih tapi pas aku ambil gelas ternyata licin ahirnya terjatuh." jawab Riko berusaha menutupinya.


"Kalau gitu... biar aku ambilkan." Gendhis lantas mengambil gelas berukuran besar dan mengisinya dengan air putih.


"Ini... air putihnya! Apa masih ada lagi yang dibutuhkan?" tanya Gendhis sambil menyodorkan gelas berisi air putih.


"Nggak, kok...! Cuma untuk ini aku pergi ke dapur." jawab Riko menerima segelas air putih dari Gendhis.


"Kalau gitu, aku lanjutkan masak dulu." ucap Gendhis hendak mengambil sayuran lalu memasukkannya ke dalam panci berisi air panas.


"Eh... tunggu!" kata Riko.


"Iya...? Ada apa?" tanya Gendhis membalikkan badannya.


"Terimakasih, ya Dis... eemm... maaf... maksudku... tee... rima kasih, Ka... ka... kakak ipar." berat rasanya bibir Riko untuk mengucapkan kalimat itu. Tapi dia harus membiasakan diri mulai dari sekarang.


"Tentu... sama-sama..." jawab Gendhis sambil melanjutkan memasak.


Riko membawa segelas air putih itu ke ruang keluarga. Di perjalanan, dia berpapasan dengan Bu Fina yang baru saja selesai berbicara dengan rekan kerjanya di telepon.


"Sayang... kamu nggak papa? Maaf ya, tadi Mama bilang mau ambilin kamu air putih malah tiba-tiba ada telepon masuk." tanya Bu Fina khawatir.


"Ya nggak papa lah, Ma... cuma ambil air putih aja, emang kenapa?" tanya Riko.


"Oh... syukurlah..." bathin Bu Fina. Padahal bukan itu maksud pertanyaannya. Hati ibu sangatlah peka. Ia khawatir kalau Riko bertemu dengan Gendhis, dia akan merasa canggung atau bahkan berbuat sesuatu yang menghawatirkan. Tapi ternyata tak seperti yang ia fikir. Ia pun merasa lega.


"Ya nggak papa! Ya sudah tunggu di ruang tengah sebentar sama ayah dan kakak mu. Sudah sejak tadi dia mencari mu, tapi Mama bilang kamu lagi istirahat. Sebentar lagi makan malam siap." pinta Bu Fina.


"Iya, Ma..." jawab Riko berusaha menyembunyikan perasaannya dari Sang Mama.


Bu Fina merasa lega. Ia berharap meski perlahan, Riko akan menerima Gendhis sepenuhnya sebagai kakak iparnya.


"Gendhis... apakah semua sudah siap Sayang?" tanya Bu Fina.


"Sudah, Ma... biar Gendhis yang siapkan. Mama tunggu di depan saja. Tinggal sedikit lagi kok." ucap Gendhis.


"Baiklah... Mama ke depan dulu ya Sayang..." pamit Bu Fina dan Gendhis pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah semuanya siap, Gendhis lalu mempersilakan ayah dan ibu mertua, serta suami dan adik iparnya untuk makan malam. Baru setelah makan malam usai, mereka akan membicarakan soal pertemuannya dengan keluarga Bu Sofi untuk membahas tentang perkenalan Riko dengan putri mereka.


*****


...Terimakasih masih setia menunggu kakak... jangan lupa komentar serta dukungannya yaaa... πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2