Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Ku Pinang Kau dengan Bismillah


__ADS_3

Mobil Gala berhenti tepat di halaman rumah Gendhis, namun ia belum juga beranjak dari tempat duduknya, hingga Gala berkata,


"Sesuai dengan ucapanku, aku akan mengantarkan kamu pulang sampai rumah. Turunlah... Ayah Ibumu pasti sudah menunggu."


Gendhis hanya menundukkan wajahnya dan masih juga belum bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Hal ini membuat Gala merasa aneh. Tadi di suruh naik mobil susahnya minta ampun, sekarang giliran di suruh turun malah nggak turun-turun. Apa sebenarnya yang gadis itu fikirkan?


"Gendhis?" panggil Gala selanjutnya.


"Pak Gala... turunlah!" setelah diam seribu bahasa selama di perjalanan, ahirnya gadis itu membuka mulut manisnya juga.


"Apa???" Gala masih tak mengerti maksud ucapan Gendhis.


"Saya mau menikah dengan Bapak! Sekarang juga turunlah dan bicarakan hal ini dengan orang tua saya!" ucap Gendhis lalu segera turun dari mobil Gala tanpa berkata apapun lagi.


Serentak jawaban itu membuat Gala seperti sedang bermimpi. Bahagia bercampur gugup. Ia tak menyangka secepat ini Gendhis akan menerimanya. Ia baru mengerti alasan kenapa selama perjalanan pulang tadi Gendhis tak bicara sepatah katapun. Ternyata ia sedang menata hati dan jiwanya untuk bisa menjawab pertanyaan tersulit yang pernah diajukan oleh dosen pembimbingnya itu.


"Masya Allah... Alhamdulillah... aku benar-benar tidak menyangka secepat ini Engkau akan menjawab do'aku yaa... Robb... bahkan saat aku belum ada persiapan sama sekali untuk menemui orang tua Gendhis. Tapi Bismillah... Dengan KuasaMu ya Allah... aku yakin semuanya akan baik-baik saja..." ucap Gala sesaat sebelum turun dari mobilnya.


Dengan penuh semangat Gala turun dari mobil untuk menjemput masa depan yang selama ini sudah ia nantikan.


Segera Pak Ratno keluar untuk memastikan siapa yang datang. Ia melihat Gendhis keluar dari mobil.


"Alhamdulillah... Gendhis sudah pulang..." ucap Pak Ratno.


"Assalamu'alaikum..." Gendhis menyapa lalu mencium tangan ayah dan ibu yang sudah sejak tadi menghawatirkannya.


"Waalaikumsalam... syukur lah, Nduk... kamu sudah sampai rumah. Ibu sudah cemas, hampir magrib kok belum pulang juga. Terus motornya sekarang di mana?" tanya Bu Sari.


"Sudah di urus sama Pak Gala, beliau juga yang mengatakan Gendhis pulang." jawabnya.


Entah kenapa mendengar jawaban Gendhis, hati Pak Ratno terasa tenang sekali. Tak dipungkiri, perasaan dan harapan sang ayah itu sangat kuat sekali pada sosok dosen yang selalu ada saat Gendhis merasa rapuh.


"Alhamdulillah... mari... mari... Pak Dosen, silakan masuk!" sapa Pak Ratno ramah pada Gala yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyum manisnya.


Mereka pun lantas duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Gendhis... buatkan minum untuk Pak Dosen, Nduk...!" pinta sang ayah.


"Sebentar lagi, Pak... belum adzan magrib. Pak Gala masih puasa!" jawab Gendhis membut Gala heran, dari mana gadis itu bisa tahu kalau Gala juga sedang berpuasa agar do'anya cepat terkabul, dan ternyata memang benar.


"Subhanallah... Alhamdulillah... kalau begitu buka di sini saja. Sebentar lagi magrib dan kebetulan Gendhis juga berpuasa, jadi Bune tadi sudah siapkan makanan untuk berbuka." ucap Pak Ratno.


"Jadi merepotkan, Bapak dan Ibu." ucap Gala sungkan.


"Oh... tidak repot kok Pak Dosen, kami malah berterimakasih sekali Bapak sudah mengantarkan Gendhis pulang. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih kami." jawab Pak Ratno.


"Panggil saya Gala saja, Pak... Dosen itu kalau di kampus, sekarang di sini saya adalah tamu." pinta Gala pada calon mertua.


"Ohhh... ya... ya..., Nak Gala... tapi... kok seperti kurang sopan ya?" Pak Ratno merasa aneh karena belum terbiasa dengan panggilan itu.


Gala tersenyum sambil berkata, "Bapak bisa aja... mungkin karena belum terbiasa."


"Oh... benar mungkin seperti itu." ucap Pak Ratno.


Lima menit lagi akan tiba waktu berbuka. Bu Sari dan Gendhis sudah menyiapkan hidangan di meja makan. Ada beberapa kudapan sederhana, dan hidangan inti yaitu sayur asem dan pepes ikan tuna kesukaan Gala. Entah dari mana Gendhis tahu selera makan Gala, bahkan seperti sudah di rencanakan sebelumnya.


Pak Ratno dan Bu Sari mempersilakan Gala ke ruang makan untuk berbuka puasa bersama.


Seusai berbuka mereka menuju ke mushola keluarga, bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat magrib. Seperti yang pernah dilakukan sebelumnya pada Riko, Pak Ratno pun meminta Gala untuk menjadi iman saat berjamaah. Meski awalnya menolak karena merasa umurnya lebih muda dari Pak Ratno, namun ahirnya Gala menurut saja permintaan sang calon mertua.


Gala pun dengan sukses dapat mengambil hati seisi rumah dengan merdunya bacaan surah ketika ia sedang menjadi imam. Pak Ratno merasa sedikit heran, karena suara dan gelagat Gala sedikit mirip dengan Riko beberapa waktu lalu. Hanya saja pembawaan Gala lebih tenang dan lebih dewasa dibanding Riko. Jelaslah... karena Gala adalah seorang kakak.


Pak Ratno, Bu Sari dan Gala kembali ke ruang tamu untuk mengobrol. Sementara Gendhis, ia masih sibuk merapikan dan membersihkan meja makan.


Dengan penuh keteguhan dan keyakinan, ahirnya Gala mengutarakan maksudnya seperti yang Gendhis minta beberapa saat sebelum ia turun dari mobil.


"Bapak, Ibu... terimakasih banyak untuk hidangan buka puasanya. Dan berikutnya, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya ke sini." ucap Gala serius.


Pak Ratno dan Bu Sari pun jadi penasaran dengan apa yang hendak Gala ucapkan.


"Maksud kedatangan saya kesini pertama adalah untuk mengantarkan Gendhis pulang juga sekalian bersilaturahmi pada Bapak dan Ibu sekeluarga. Kedua, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim.... saya memohon izin pada Bapak dan Ibu untuk merestui saya melamar dan menjadikan Gendhis sebagai calon istri saya." ucap Gala penuh keyakinan tanpa ada ekspresi ragu sedikitpun dari wajahnya.

__ADS_1


Pak Ratno dan Bu Sari sama terkejutnya mendengar perkataan Gala. Bahagia tapi juga bingung harus jawab apa. Selain itu, lamaran Riko beberapa waktu lalu juga belum mendapatkan jawaban dari Gendhis. Pak Ratno tak sampai hati jika laki-laki sebaik dan seperfect Gala harus mendapatkan penolakan dari putrinya.


"Eeemmm... begini, Pak Dosen... eh... maksud saya, Nak Gala... seperti yang kita tahu kondisi putri kami semenjak kejadian beberapa bulan lalu memang sempat membuatnya terpuruk. Kami selaku orang tua juga sudah mengupayakan agar putri kami segera menemukan kebahagiaannya. Tapi seperti yang kami tahu, kami selalu gagal. Ia tak pernah mau berusaha membuka hatinya. Dan sekarang... Nak Gala ke sini dengan maksud yang sangat baik, kami pun menyambut dengan gembira niat baik Nak Gala. Tapi sekali lagi... keputusan ada di tangan Gendhis sepenuhnya. Biar dia yang menentukan sendiri pilihan hidupnya." jawab Pak Ratno.


"Alhamdulillah... berarti orang tua Gendhis merestui." ucap Gala dalam hatinya. Kalau urusan Gendhis, Gala sudah bisa yakin sepenuhnya karena inilah permintaannya beberapa saat lalu.


Ahirnya Bu Sari pun memanggil putrinya untuk ke ruang tamu dan menjawab pertanyaan yang Gala ajukan. Gendhis duduk di antara mereka, lalu sesaat kemudian Pak Ratno menanyakan pada putrinya tentang maksud kedatangan Gala.


"Gendhis... Bapak sama Ibu mau tanya. Tolong kamu jawab sesuai dengan apa yang ada dalam hati kamu. Kedatangan Nak Gala ke sini... adalah dengan tujuan mulia yaitu meminang mu agar menjadi istrinya. Keputusan ada di tangan kamu, Nduk. Apakah kamu bersedia menerima pinangan dari Nak Gala?" tanya Pak Ratno cemas.


Gendhis masih diam tertunduk. Semua yang ada di ruang tamu menantikan jawaban Gendhis dengan hati berdebar-debar. Terutama Pak Ratno. Keinginan terbesarnya saat ini adalah melihat Gendhis menikah dengan laki-laki terbaik yang ia cintai. Apalagi laki-laki itu adalah Gala, orang yang selama ini Pak Ratno harapkan bisa menjadi pendamping hidup Gendhis.


Beberapa saat kemudian, ahirnya Gendhis pun angkat bicara, "Dengan mengucap, Bismillahirrahmanirrahim... yaaa... saya bersedia menerima lamaran dari Pak Gala."


"Alhamdulillah...." semua yang ada di sana serentak mengucapkan syukur, seolah tak dapat menyembunyikan kebahagiaan mereka.


"Baiklah... kalau Gendhis bersedia dan Bapak Ibu merestui, Insya Allah jika tidak ada halangan... saya akan datang kemari bersama dengan orang tua saya untuk melamar Gendhis secara resmi." ucap Gala tak kalah bahagianya.


"Baik, Nak Gala... kami tunggu kedatangannya." ucap Pak Ratno.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu karena sudah larut. Sekali lagi terimakasih banyak Bapak dan juga Ibu." kata Gala sembari bangkit dari tempat duduknya untuk bersalaman pada Pak Ratno.


"Justru, kami yang mengucapkan terimakasih pada Nak, Gala." kata Bu Sari.


"Saya permisi, Pak... Bu... Assalamu'alaikum." Gala mencium tangan Pak Ratno lantas berjalan keluar rumah.


"Waalaikumsalam... hati-hati di jalan, Nak..." pesan Bu Sari.


Gendhis, Pak Ratno dan Bu Sari mengantarkan Gala hingga ke teras rumah. Mobil toyota camry warna putih keluaran terbaru itupun lantas pergi menjauh meninggalkan rumah. Sementara dalam hati Gendhis masih bergeming,


"Maafkan aku, Pak Gala... aku harus melakukannya. Untuk saat ini aku memang belum bisa sepenuhnya menghapus masa lalu dari kehidupan ku, tapi sejauh yang aku mampu... aku akan belajar dan berusaha mencintaimu, sepertimu yang selalu sabar menunggu cinta ku..." ucap Gendhis dalam hati.


*****


...Kakak-kakak yang request pernikahan Gendhis buat dipercepat, semangat yaaa... sebentar lagi akan terwujud 🥰...

__ADS_1


...Komentar dan dukungannya yaaa... jangan sampai lupa 🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2