Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Permintaan Maaf Gendhis


__ADS_3

Di kamarnya usai sholat isya' Gala merebahkan badannya, sementara Gendhis masih sibuk melipat baju. Niatnya pulang awal agar bisa menghabiskan waktu dengan Gendhis lagi-lagi harus terkendala lantaran ia sibuk memikirkan apa yang ia lihat sore tadi di rumah Lintang.


Gendhis melihat Gala sudah terpejam. Sebenarnya ia hendak bertanya perihal apa yang membuat suaminya tiba-tiba jadi sosok pendiam mulai sore tadi. Ahirnya, Gendhis pun tidur di samping Gala tanpa mengusiknya.


Keesokan harinya, saat Gala usai mengganti pakaian dan hendak pergi ke kampus, Gendhis memberanikan diri untuk mulai bertanya.


"Pak, Gala... sarapan sudah siap di bawah." ucap Gendhis menghampiri suaminya.


"Ya... sebentar lagi aku turun." jawab Gala singkat.


"Emmm..., Pak Gala masih marah sama saya?" tanya Gendhis.


"Kamu sendiri tahu jawabannya." ucap Gala.


"Saya minta maaf sudah bikin Pak Gala marah. Tapi kalau boleh tahu, apa yang membuat Pak Gala begitu marah hingga enggan untuk bicara dengan saya?" Gendhis coba memancing Gala untuk berbicara tentang kemarahannya.


"Gendhis... jadi kamu nggak tahu kenapa aku marah?" tanya Gala sambil menatap heran wajah istrinya.


Gendhis menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia tahu alasan Gala marah adalah karena Lintang. Tapi Gendhis ingin kata-kata itu keluar dari mulut Gala.


"Gendhis... aku tahu sekarang, kenapa kamu belum bisa menerima ku seutuhnya." ucap Gala.


"Maksud Pak Gala?" Gendhis malah jadi tak mengerti maksud ucapan suaminya sekarang.


"Yaaa... aku tahu, kenapa kamu masih belum bisa menerima ku sebagai suamimu seutuhnya." ucap Gala.


"Tadinya... aku mengira kalau kamu butuh waktu, atau kamu canggung atau bahkan takut saat aku mendekati mu. Tapi sekarang aku tahu, kenapa kamu belum bisa menyerahkan dirimu seutuhnya. Karena kamu masih mencintai Lintang. Karena di hati mu cuma ada Lintang. Aku memang menikah dengan mu, tapi aku tak bisa memiliki mu... Gendhis... sudah siang. Aku sarapan di kampus saja! Assalamu'alaikum..." ucap Gala sambil berlalu pergi tanpa mendengarkan penjelasan Gendhis.


"Astaghfirullah hal adzim... Pak Gala udah salah faham. Pak Gala, tolong berikan saya kesempatan untuk bicara!" pinta Gendhis sambil berjalan menyusul Gala.


"Baik lah... sekarang juga... katakan apa yang ingin kamu katakan!" Gala menghentikan langkah.


Wajah Gendhis tiba-tiba memerah. Ia begitu kesulitan bagaimana harus mengutarakan perasaan sesungguhnya pada Gala. Dalam hati ia sudah mengakui kalau dia telah jatuh cinta pada Gala, tapi untuk mengucapkannya... rasanya terlampau sulit hingga mulutnya terasa kelu namun jantungnya terus berdetak kencang.


"Pak Gala... saya... saya..." ucap Gendhis terputus-putus.


"Iya... kamu kenapa? Katakan!" desak Gala.


"Saya... saya..." kata Gendhis.


"Udah lah... sepertinya aku yang terlalu berharap. Permisi...!" ucap Gala melanjutkan langkahnya.


"Saya mencintai Pak Gala..." ucap Gendhis setelah mengumpulkan banyak keberanian tapi sayang, Gala sudah hilang dari pandangan matanya.


"Duh... Gendhis... cuma ngomong gitu aja susah bangettt! Kamu lihat kan akibatnya sekarang? Pak Gala jadi salah faham!" Gendhis bicara sendiri sambil ia pegang jidatnya tangan kanan dan tangan kirinya ia tenteng di atas pinggang.


"Sekarang... gimana coba, jelasin sama Pak Gala biar dia nggak salah faham? Ayooo... berfikir Gendhis... berfikir...!!!" lanjutnya.


*****


Dari pagi hingga siang hari, Gendhis tak enak makan, tak bisa tidur, melakukan kegiatan rumah pun selalu galfok karena dihantui rasa bersalahnya. Ia masih terus berfikir bagaimana caranya agar Gala mau mendengar dan menerima permintaan maafnya. Ahirnya, dengan ragu-ragu Gendhis mengambil ponselnya. Ia coba menelpon Gala tapi tak diangkat. Ahirnya ia putuskan untuk mengirim pesan lewat percakapan singkat.

__ADS_1


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Assalamu'alaikum... Pak Gala... saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk membuat Pak Gala marah."^^^


Namun pesan itu hanya dibaca saja tanpa dibalas oleh Gala.


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Pak Gala, tolong jangan salah faham... saya tidak ada niat sedikitpun untuk menyembunyikan sesuatu dari Bapak. Dalam hati saya sudah tidak ada lagi tempat untuk laki-laki itu semenjak dia memutuskan untuk meninggalkan saya."^^^


(Gendhis sengaja tak menyebut nama Lintang untuk menjaga perasaan Gala).


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Pak Gala... saya mohon percayalah. Bapak bisa marahi saya kalau saya berbuat salah, tapi tolong jangan diam seperti ini... saya nggak tahu harus bagaimana untuk menebus kesalahan saya?"^^^


Gala membaca pesan dari Gendhis sambil tersenyum-senyum. Sesungguhnya ia tidak benar-benar marah pada gadis lugu itu. Ia hanya ingin menguji apakah di hati Gendhis benar-benar ada tempat untuk dirinya. Sebenarnya ia tak tega melihat Gendhis dirundung rasa bersalah, tapi biarlah... rencana tetap harus berjalan.


Sore harinya, Gendhis hendak mandi. Ia kembali mengecek hpnya tapi belum ada satupun telepon atau pesan dari Gala. Ia pun pasrah dan pergi ke kamar mandi.


Usai membersihkan badannya, ia keluar dari kamar mandi. Dilihatnya di atas ranjang ada bingkisan kotak berwarna merah muda lengkap dengan pita dan hiasan bunga di atasnya.


"Apa itu? Perasaan tadi sebelum mandi bingkisan itu nggak ada." ucap Gendhis.


Karena penasaran, Gendhis mengambil bingkisan itu.


..."Kamu bilang kamu mau minta maaf? Kalau begitu buka ponsel mu sekarang!" bunyi tulisan dalam kartu....


^^^Gala -🧔^^^


^^^"Apa kamu sungguh-sungguh meminta maaf?"^^^


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Tentu... apakah Bapak sudah memaafkan saya?"^^^


^^^Gala -🧔^^^


^^^"Jangan senang dulu...! Ikuti perkataan ku kalau kamu mau aku memaafkan mu."^^^


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Baiklah... saya setuju."^^^


^^^Gala - 🧔^^^


^^^"Okey... kalau gitu, sekarang juga... kamu ganti pakaian lalu dandan yang cantik dan pakai hijabmu. Inget... paling cantik pokoknya!"^^^


Gendhis merasa suaminya sedikit aneh, tapi biarlah asal dia bisa mendapatkan maafnya. Gendhis lalu mengganti pakaiannya lalu memoles wajahnya seperti yang Gala inginkan.


^^^Gendhis -🧕^^^

__ADS_1


^^^"Saya sudah lakukan sesuai permintaan Bapak. Apakah saya sudah dimaafkan?"^^^


^^^Gala -🧔^^^


^^^"Nggak semudah itu ya! Sekarang kamu ambil dan bawa bingkisan yang ada di atas ranjang. Tapi jangan dibuka sekarang sebelum aku memintanya."^^^


"Benar-benar aneh. Apa sebenarnya yang sedang dosen ku itu rencanakan?" Gendhis bicara sendiri.


^^^Gala -🧔^^^


^^^"Kalau sudah..., turunlah ke bawah. Di halaman rumah ada sopir yang akan mengantar mu. Kamu ikuti saja ke mana dia akan membawa mu! Kamu nggak usah takut... dia orang kepercayaan ku."^^^


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Baiklah..."^^^


Sesuai permintaan Gala, Gendhis masuk ke dalam mobil lalu ikut ke mana mobil itu akan membawanya. Setelah berjalan kurang lebih dua puluh menit, Gendhis sampai di sebuah hotel yang terletak di Sawah, Majaksingi, Kec. Borobudur, Kabupaten Magelang. Ya... apa lagi kalau bukan Hotel Amanjiwo, hotel mewah dan termahal di Magelang. Satu hari bermalam minimal harus mengantongi budget 20 juta. Tapi demi mengejar cinta pada sang istri, itu semua tiada artinya buat Gala.


...Hotel Amanjiwo...



"Silakan turun Nyonya Muda, Tuan Gala ada di dalam. Seperti yang Tuan perintahkan, saya hanya bisa mengantarkan sampai di sini." ucap sang sopir.


"Baik, Pak... terimakasih..." ucap Gendhis lantas segera turun dari mobil sambil membawa kotak bingkisan dari Gala.



"Masya Allah... buat apa Pak Gala mengajak saya ketemuan di tempat semahal ini? Bukan kah yang biasa menginap di sini itu cuma artis-artis aja? Bahkan artis dari luar negeri. Pak... Gala... Pak Gala. Eman banget duitnya, mending bisa Gendhis tabung buat naik haji." ucap Gendhis lirih sebelum ia masuk menuju lobi hotel. Ia belum juga sadar betapa berharganya dirinya bagi Gala. Kalau untuk urusan naik haji, sudah barang tentu Gala fikirkan. Bahkan tanpa sepengetahuan Gendhis, laki-laki itu sudah mendaftarkannya bersama dengan ayah dan ibu Gendhis. Semua itu bukan hal sulit karena selain menjadi dosen, Gala ternyata juga pemilik sebuah perusahaan kayu lapis di Kabupaten Magelang.


^^^Gala - 🧔^^^


^^^"Kamu sudah sampai? Masuklah... di lobi ada seorang petugas hotel wanita yang akan mengantarkan mu untuk bertemu dengan ku."^^^


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Iya, Pak Gala...! Mau ketemu suami sendiri berasa kayak mau ketemu presiden. Banyak banget aturannya."^^^


^^^Gala -🧔^^^


^^^"Ssstt... jangan banyak komentar! Sebenarnya kamu serius nggak sih, minta maafnya?"^^^


^^^Gendhis -🧕^^^


^^^"Iyaaaa... saya serius kok Pak Dosen... Baiklah, saya masuk sekarang."^^^


Sesuai dengan ucapan Gala, tak jauh dari pintu masuk hotel, sudah ada mbak-mbak cantik yang tersenyum ramah padanya. Pelayan hotel itu dengan santun menyapa lalu mengantarkan Gendhis ke tempat yang sudah di pesan oleh Gala.


*****


...Hayyy kakak.... gimana? Penasaran kan Gendhis mau di bawa kemana? 🤭...

__ADS_1


...Nantikan di episode selanjutnya yaaa... jangan lupa komentar juga dukungannya biar makin semangat. Terimakasih 🤗🤗🥰🥰🙏🙏🙏...


__ADS_2