
Sepeda motor Gendhis memasuki pintu gerbang Untidar yang terbuka lebar menuju tempat parkir mahasiswa. Setelah berhenti dan merapikan pakaiannya, Gendhis berjalan menuju Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Untidar, lalu mencari ruangan yang dijadikan sebagai tempat seleksi wawancara calon mahasiswa baru.
Tak butuh waktu lama, Gendhis melihat segerombolan calon mahasiswa lain yang juga berpakaian sama dengannya, yaitu atasan putih dan bawahan hitam. Segera Gendhis menuju tempat di mana mereka sedang berkumpul. Dan ternyata benar, dari pintu masuk ruangan, terdapat tulisan, "TEMPAT TES WAWANCARA CALON MAHASISWA BARU".
" Assalamu'alaikum... permisi, mau ikut tes wawancara juga ya?" sapa Gendhis pada seorang gadis yang tengah duduk di depan ruangan.
"Waalaikumsalam... iya, benar. Kamu juga ya?" gadis itu balik bertanya.
"Iya, tapi saya terlambat. Apakah sudah hampir selesai?" Gendhis melanjutkan pertanyaannya.
"Belum kok, baru aja dimulai." jawan gadis itu.
"Ohhh... Alhamdulillah..." Gendhis merasa lega.
"Nama kamu siapa? Kenalin, aku Ita..." gadis itu mengulurkan tangannya.
"Hayyy Ita, namaku Gendhis." Ia membalas uluran tangan Ita.
Mereka mengobrol panjang lebar dan saling menukar nomor whatsapp, sambil menunggu giliran mereka. Hingga pada ahirnya, semua peserta selesai mengikuti tes wawancara, hanya tinggal Gendhis seorang yang belum dipanggil karena dia datang terlambat.
"Sudah wawancara belum Mbak?" tanya salah seorang petugas tim seleksi.
Gendhis sedikit ragu, apakah dia masih diberikan kesempatan untuk bisa ikut tes itu.
"Belum, Bu... mohon maaf, tadi saya terlambat karena ada masalah saat perjalanan menuju ke kampus. Masih boleh kah saya ikut tes wawancara? Saya mohon Bu... izinkan saya untuk bisa ikut tes..." dengan wajah memelas Gendhis memohon agar petugas tersebut memberinya izin.
"Oh... jadi kamu calon mahasiswi yang terlambat itu? Baiklah... silakan masuk." petugas itu memperbolehkan Gendhis untuk ikut tes wawancara.
"Alhamdulillah... terimakasih Ya Allah... ternyata benar ucapan laki-laki yang aku temui pagi tadi. Berkat bantuannya aku bisa ikut tes. Tapi siapa dia? Siapa namanya dan bagaimana aku harus berterimakasih?" ucapnya dalam hati sambil berjalan menuju sebuah ruangan tempat tes berlangsung.
"Tok... tok... tok..." Gendhis mengetuk pintu.
"Permisi... apakah saya boleh masuk?" Gendhis meminta izin.
"Ya... silakan!" jawab seorang dosen yang berada dalam ruangan tersebut.
Gendhis membuka pintu dan...
"Astaghfirullahalazim..." Gendhis terkejut bukan main saat melihat dosen yang akan mewawancarainya adalah laki-laki yang memberinya tumpangan di mobilnya pagi tadi.
__ADS_1
"Masnya yang tadi..." ucap Gendhis spontan.
"Ehhemm..." Gala pura-pura batuk agar Gendhis tidak berbicara di luar topik wawancara.
"Silakan duduk!" kata Gala seolah mereka belum pernah saling bertemu.
Dari pintu masuk ruangan seorang petugas seleksi berkata,
"Pak Gala... ini peserta terakhir yang tadi terlambat ucapnya." kata petugas itu.
"Ya, Bu... terimakasih." jawab Gala sambil duduk di kursi yang sudah disediakan untuk tes wawancara.
"Oh... jadi namanya Pak Gala..." ucap Gendhis dalam hati sambil duduk di kursi tempat seleksi.
Gala memberinya sederet pertanyaan akademis juga non akademis untuk menguji seberapa besar pengetahuan Gendhis. Dari semua pertanyaan yang dilontarkan Gala tak ada satupun yang terlewatkan. Semua dijawab dengan sempurna. Tak salah penilaian Gala terhadapnya. Dari awal perjumpaan mereka, Gala sudah dapat menilai kalau Gendhis adalah gadis yang pandai.
"Baik... wawancara sudah selesai. Untuk hasilnya silakan ditunggu pengumuman akan disampaikan melalui website resmi Untidar. Kamu boleh keluar sekarang." ucap Gala.
"Baik. Terimakasih... Mas. Eh... maaf... maksud saya, terimakasih Pak." ucap Gendhis sembari bangkit dari tempat duduknya untuk meninggalkan ruangan.
"Ya silakan..." jawab Gala.
Dia merasa malu dan tak enak hati karena tadi sudah berlaku kurang sopan layaknya seorang mahasiswi kepada dosennya.
Gendhis sangat bersyukur, hari ini... Gala tak hanya membantunya menyelamatkan Nenek Suhartini, tapi Gala juga yang sudah memberinya kesempatan untuk bisa ikut tes wawancara.
****
Back to Lintang.
"Hayyy... Bro... makasih banget ya, tadinya gue pikir lo nggak respon sama permintaan gue waktu itu, tapi ternyata... lo bener-bener udah nyelametin hidup gue dari kandang singa Bro..." kata Arnold.
Lintang yang saat itu baru selesai mengikuti kegiatan akademik pun sedikit terkejut mendengar perkataan sahabatnya. Iya tahu betul yang dimaksud Arnold adalah soal Gabby, tapi dari mana dia bisa tahu?
"Makasih soal apa Bro?" Lintang pura-pura tidak tahu.
"Soal apa lagi lah, kalau bukan soal Gabby?" kata Arnold.
"Oh... soal itu? Oke... Bro... sama-sama." jawab Lintang enggan untuk bicara banyak hal soal Gabby. Ia takut Arnold akan tahu hal yang sebenarnya bahwa Lintang ternyata benar-benar jatuh cinta pada Gabby.
__ADS_1
"Tapi, ngomong-ngomong Lo kok nggak bilang sih sama gue, kalo lo udah jalanin misi ini?" tanya Arnold.
"Ya kan buat surprise, Bro... kalau aku kasih tahu kan nggak seru." ucap Lintang.
"Aseeekkk.... oh iya Bro. Begitu pertunangan gue sama Gabby resmi dibatalin, Lo bisa tinggalin Gabby... dan Gendhis, dia nggak akan tahu soal ini selama nggak ada yang kasih tahu dia. Okey..." kata Arnold.
"Okey... Bro!" jawab Lintang ragu-ragu.
Dia sedikit terkejut mendengar Arnold mengucapkan kata-kata bahwa ia bisa meninggalkan Gabby. Bahkan sampai detik ini, belum terlintas sedikitpun dalam fikiran Lintang untuk meninggalkan Gabby. Ia sadar kalau dirinya sudah terjebak dalam sandiwara Arnold. Ia sadar kalau perlahan, ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Gabby. Dan Lintang, sudah terlalu nyaman dengan itu. Dalam hati, fikiran buruknya pun muncul,
"Seandainya saja... aku belum bertunangan, mungkin saat ini... aku bisa mencintai Gabby tanpa harus sembunyi dari siapapun, tanpa harus berbohong pada siapapun, dan tanpa harus menyakiti hati siapa pun... tapi... perjodohan ini sudah benar-benar mengikatku."
*****
Beberapa hari setelah tes wawancara, Gendhis membuka pengumuman kelulusan tes tersebut dari website yang sudah disediakan. Dia sangat bahagia, karena dari hasil tes tertulis dan wawancara kemarin diakumulasikan sehingga dia mendapatkan nilai tertinggi seleksi masuk perguruan tinggi Untidar.
Bukan hanya Gendhis, kedua orang tuanya, juga calon ayah ibu mertuanya pun sangat bahagia. Segera mereka membuat selamatan sebagai ungkapan rasa syukur itu. Memasak bubur merah sebagai tradisi masyarakat Kampung Merangi saat anggota keluarga mereka ada yang sedang mengawali suatu hal kebaikan, seperti mulai masuk sekolah, mulai masuk kuliah, diterima bekerja, pindah ke rumah baru, dan lain sebagainya.
Selain membuat bubur merah, keluarga Gendhis dan calon mertuanya bersama-sama memasak beberapa makan yang akan mereka sedekahkan kepada seluruh warga kampung, juga semua murid-murid di sekolah Gendhis.
Warga kampung turut bahagia, seolah dapat merasakan kebahagiaan dua keluarga itu. Tak henti-hentinya mereka mengagumi dua keluarga yang begitu rukun, harmonis, dermawan, suka menolong tetangganya yang sedang terhimpit permasalahan ekonomi, suka bersedekah, aktif di kegiatan masyarakat, dan yang paling membuat mereka bangga adalah, putra putri mereka yang sudah dijodohkan itu sudah banyak membawa nama harum Kampung Merangi atas prestasinya.
"Barokallah... ya, Nduk... mudah-mudahan Allah melindungi kalian dari mata jahat manapun, dan selalu menjaga keluarga kalian." ucap seorang nenek-nenek yang hidup sebatang kara di kampungnya saat menerima sedekah dan beberapa makanan dari Gendhis dan keluarganya.
"Amiiiin... terimakasih, Mbah... saya pamit dulu." ucap Gendhis sambil mencium tangan Si Nenek.
Gendhis pergi dari rumah satu ke rumah yang lain untuk membagikan sedekah itu dan lagi-lagi warga kampung mendoakan dengan tulus pada gadis kampung yang membanggakan itu,
"Terimakasih, Mbak Gendhis... mudah-mudahan tercapai apa yang dicita-citakan. Mbak Gendhis dan Mas Lintang adalah contoh bagi pemuda pemudi di kampung kami, mudah-mudahan anak-anak kami bisa ikut jejak kalian." ucap salah seorang ibu ketika menerima pemberian Gendhis.
Gendhis tersenyum lantas berkata,
"Iya... Ibu... amiiiin." ucap Gendhis penuh rasa syukur.
"Kalian berdua memang pasangan serasi. Kami do'a kan hubungan kalian langgeng sampai kakek nenek." tambah Sang Ibu.
"Amiiin... terimakasih banyak Ibu... saya permisi dulu." ucap Gendhis sambil pergi melanjutkan tujuannya.
Begitulah seterusnya, setiap rumah yang ia datangi, selalu mengucapkan do'a terbaik, dan itu semua menjadi berkah tersendiri bagi Gendhis dan keluarganya.
__ADS_1
*****