
Pagi itu, seperti biasa sebelum berangkat ke kantor DPRD kota Magelang, Bu Fina tengah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri juga sebagai ibu dari dua anak bujang. Meski sesibuk apapun aktifitasnya, sebisa mungkin Bu Fina selalu menyiapkan sarapan pagi. Kalau urusan beberes rumah sudah ada Si Embak yang beresin, tapi kalau urusan makanan di rumah, lidah para lelaki itu seolah tak ingin mencicipi masakan selain dari Bu Fina.
Pak Hari suaminya juga tak pernah lupa sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor. Suami istri tersebut sangat kompak dalam mendidik anak-anak mereka. Bisa dibilang, keluarga mereka adalah keluarga harmonis dan menjadi teladan bagi warga di kompleknya. Bagaimana tidak? Bu Fina selain sebagai seorang istri dan ibu, ia juga menjadi anggota dewan dari daerah pemilihan Kota Magelang, sedang Pak Hari, dia adalah anggota dewan dari daerah pemilihan Kabupaten Magelang. Meskipun keduanya berstatus sebagai suami istri, namun saat bertugas sebagai wakil rakyat mereka akan tetap menjunjung profesionalisme.
Keluarga Pak Hari selain harmonis juga sangat moderen dalam berfikir juga bertindak. Meski demikian, mereka tetap menjunjung nilai-nilai dalam keluarga juga masyarakat. Apalagi keluarga tersebut terkenal sebagai keluarga yang dermawan dan senang bersedekah. Terutama saat ada kegiatan di kompleknya yang berkaitan dengan keagamaan, mereka akan berada di barisan depan menjadi donatur dan memberikan contoh yang baik, mengingat tugas yang mereka emban adalah sebagai seorang wakil rakyat.
"Selamat pagi wanita tercantik di kediaman Bapak Hari Susilo?" sapa Gala manja pada sang Ibu ketika sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur.
"Eehhh... tumben anak bujang mama belum subuh udah sampai di dapur? Kenapa? Mau butuh sesuatu?" tanya Bu Fina.
"Nggak... Ma..." jawab Gala sembari membuka kulkas dan mengambil satu buah apel merah lalu dimakannya.
"Terus, kalau nggak butuh sesuatu lalu apa?" Bu Fina bertanya.
"Mau bantuin Mama masak." jawab Gala.
"Tunggu... tunggu... apa kamu nggak lagi ngigau? Kak Dosen mau bantuin mama masak?" Bu Fina terheran-heran sambil memegang jidat anak sulungnya apakah badannya panas?
"Mama... apaan sih, Ma?" respon Gala dengan sikap mamanya yang meragukan kedatangannya di dapur umum sepagi itu.
"Nggak panas kok... tapi...? Ohhh... mama tahu, dan kali ini tebakan mama pasti bener. Kak Dosen pasti ngerayu mama karena lagi ada maunya, iya kan?" tebak Bu Fina mendapatkan respon senyum manis dari putra sulungnya itu.
"Katakan, ada apa?" Bu Fina kembali bertanya.
Gala pun ahirnya mulai serius bicara.
"Ma... mama nggak usah khawatir, bentar lagi Gala akan bawakan menantu kesayangan mama yang bantuin masak. Jadi bukan Gala yang bantuin." ucapan Gala itu serentak membuat Bu Fina terkejut bahagia.
"Oh ya??? Kamu serius? Katakan sama mama, kapan kita akan ke rumah untuk melamarnya?" Bu Fina sudah tidak sabar lagi.
"Sabtu depan, jam dua siang... apakah Mama siap?" tanya Gala.
"Gala... jangankan Sabtu depan, kamu minta sekarang juga mama sama papa siap ambil cuti." ucap Bu Fina.
"Ya jangan dong Ma kalau sekarang. Kasihan Gendhis sama keluarganya belum siap." jawab Gala.
"Ohhh... jadi gadis cantik yang berhasil mengambil hati anak kesayangan mama ini namanya Gendhis? Bukan Alena?" tanya Bu Fina.
"Ya bukan laah Ma... itu kan karangannya Riko aja. Aku sudah anggap Alena seperti adik sendiri, mana mungkin Gala nikahi Alena." ujar Gala.
"Jadi gitu ya...! Katakan, mama pengen tahu dia gadis seperti apa dan dari mana asalnya? Apa dia juga seorang dosen seperti kamu?" tanya Bu Fina.
"Bukan..." jawab Gala.
"Apa seorang dokter, pramugari, atau?" tebak Bu Fina karena selama ini Gala selalu menolak saat dijodohkan dengan gadis cantik nan mapan, jadi ia yakin kalau pilihan Gala kali ini pasti kriterianya lebih tinggi.
"Bukan... bukan... Mama..." jawab Gala.
"Lalu?" Bu Fina makin penasaran.
__ADS_1
"Dia... mahasiswi Gala semester tujuh." jawab Gala ahirnya.
"Apa? Mahasiswi kamu? Apa mama nggak salah dengar?" Bu Fina histeris mendengar jawaban Gala.
"Ya enggak lah... Ma..." ucap Gala yakin
Meski merasa sedikit aneh karena tak sesuai dengan ekspektasi Bu Fina, tapi wanita paruh baya itu berusaha memahami pilihan putranya. Selama ini Gala tak pernah salah dalam memilih pendidikan dan kariernya, sudah barang tentu untuk urusan calon istri, Gala pasti telah mempertimbangkannya dengan sangat matang.
"Dari sekian banyak gadis yang coba mendekatimu, tapi kamu memilih Gendhis. Mama ingin tahu, dia gadis seperti apa?" tanya Bu Fina.
"Ma... Gala tak cukup kata-kata untuk menjelaskan betapa sempurnanya Gendhis di mata Gala. Bahkan jika aku lelah menceritakan kebaikannya, itu belumlah cukup. Tapi, seiring berjalannya waktu Gala yakin Mama juga akan berfikir sama tentang gadis itu. Dia memang bukan gadis sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Tapi dia istimewa dan Gala yakin, Gendhis adalah rekan hidup yang baik, yang Insya Allah akan membuat Gala bahagia. " ucap Gala sambil meneluk manja sang ibu dari balik punggung yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu seraya berusaha menyingkirkan keraguan atas pilihan Gala. Itu semua terpancar dari gurat alis mata Bu Fina seolah ada rasa takut akan kehilangan putra kesayangannya.
Mendengar hal itu, hati Bu Fina merasa tenang. Ia pun akhirnya kembali menyambut kabar bahagia yang disampaikan putranya.
"Baiklah kalau begitu, nanti mama bicarakan kabar gembira ini pada papamu juga Riko. Setelah itu kita akan menyiapkan semuanya. Adikmu pasti bahagia banget denger kabar ini, karena sudah lama dia ingin melihat ada seorang kakak ipar di rumah ini." ucap Bu Fina ahirnya.
"Makasih..., Ma..." Gala melepaskan Bu Fina lantas tak henti-hentinya dia mencium tangan Sang Ibu untuk menunjukkan rasa terimakasih dan baktinya.
"๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ"
Terdengar suara ponsel Bu Fina berdering dari atas meja. Segera wanita itu mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang sudah mengganggunya sepagi ini.
"Siapa, Ma?" Gala penasaran.
"Oh... adikmu yang telepon. Panjang umur dia. Baru juga diomongin langsung telepon." jawab Bu Fina lantas mengangkat ponselnya lalu di loudspeaker agar Gala juga mendengarkan percakapan ibu dan anak itu.
๐Bu Fina
๐Riko
"Waalaikumsalam... Mama apaan sih? Masa jam segini teleponan sama cewek, nggak baik ah Ma..."
๐ Bu Fina
"Yang bener...? Emang gitu?"
๐Riko
"Ya iya lah... Ma... bener banget."
๐ Bu Fina
"Lalu, buat apa dong kamu telepon mama jam segini?"
๐Riko
"Riko cuma mau bilang sekaligus minta do'a Mama, Papa, sama Kak Gala, karena minggu depan Riko mau sidang ahir skripsi."
๐Bu Fina
__ADS_1
"Alhamdulillah..."
๐Riko
"Trus Riko juga bakalan sibuk banget nyiapin semua itu, takutnya kalau telepon Mama siang-siang udah sibuk suka nggak ke angkat sih...! Udah gitu, Mama Papa jangan nungguin Riko ya karena kemungkinan minggu depan Riko nggak bisa pulang."
๐Bu Fina
"Aduh... Riko... apa sidangnya nggak bisa ditunda sehari aja gitu?"
๐Riko
"Mama gimana sih... bukannya seneng anak kesayangannya mau sidang, eh... malah di suruh nunda, aneh banget..."
๐Bu Fina
"Sayang... bukannya gitu... maksud mama gini... minggu depan kakak kamu mau lamaran. Masa kamu adik satu-satunya nggak mau ikut nungguin?"
๐Riko
"Oh... ya? Selamat ya Kak Gala... pasti lagi di situ kan Ma? Ucapin selamat dari Riko ya Ma! Ahirnya aku punya kakak ipar juga. Tapi... sidang Riko nggak mungkin bisa ditunda lagi karena jadwal sudah diatur. Riko janji deh... usai Riko sidang langsung balik Magelang."
Gala pun merebut ponsel Bu Fina lantas bicara pada adik kesayangannya.
๐Gala
"Riko... mau sidang... belajar yang bener! Awas kalau sampai nggak lulus, kakak nggak jadi bawa calon kakak ipar kamu ke rumah lho...!"
Gala dan Bu Fina tersenyum-senyum sambil menggoda Riko.
๐Riko
"Eeeehh... mana bisa gitu dong Kak! Kalau Kak Gala nggak jadi bawa kakak ipar lalu aku kapan dong nikahnya? Jadi ikutan pending entar."
๐Bu Fina
"Makanya... belajar yang serius. Do'a kami selalu menyertai kesuksesan mu." Bu Fina kembali memegang ponselnya.
"Amiiin... amin...! Makasih, Ma...! Ya udah... kalau gitu Riko tutup dulu teleponnya ya Ma, Mau sholat subuh dulu. Assalamu'alaikum..."
๐Gala dan Bu Fina
"Waalaikumsalam..."
Percakapan pun ahirnya berakhir.
Gala merasa lega karena sudah mengutarakan hal besar ini pada ibunya. Ia hanya tinggal berdo'a, menunggu dan mempersiapkan hari itu dengan sebaik-baiknya. Gala dan Bu Fina lantas pergi meninggalkan dapur untuk mandi dan bersiap melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mewah mereka.
*****
__ADS_1
...Hayyy... kakak... terimakasih sudah setia menunggu. Komentar kalian adalah semangat ku ๐ฅฐ๐ฅฐ๐คญ jadi... jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya yaaaa.... terimakasih kakak ๐๐๐๐๐...