
Dengan wajah berapi-api, Gabby turun dari mobilnya. Ia berjalan masuk menuju sebuah tenda resepsi yang sudah diatur dengan sangat megahnya.
"Selamat datang, silakan masuk..." sapa lembut beberapa gadis penerima tamu berpakaian adat jawa lengkap dengan sanggulnya.
Seolah tanpa menghiraukan ucapannya, Gabby berjalan melewati para gadis yang tengah menyambut untuk mengisi buku tamu. Hal itu serentak membuat mereka terheran-heran dengan sikap Gabby.
"Eh... siapa sih dia? Disambut baik-baik malah masuk gitu aja?" tanya seorang gadis yang bertugas menerima tamu.
"Ya... mana aku tahu lah... paling temen Mas Lintang kalau nggak ya Mbak Gendhis." jawab yang lainnya.
"Tapi masa iya? Mbak Gendhis punya temen sejutek itu?" yang lain ikut bicara.
"Nah buktinya... dia dateng ke sini... siapa coba kalau bukan teman calon manten?" mereka saling berghibah tentang Gabby.
Belum usai berghibah, mereka dibuat terkejut melihat beberapa orang berbondong-bondong menuju tempat Lintang yang akan melakukan prosesi siraman. Gadis-gadis itu pun semakin penasaran lantas berjalan menuju kerumunan.
Semua pasang mata sedang tertuju pada gadis cantik yang baru saja datang itu. Dia berdiri tegak di hadapan Lintang, dengan pandangan begitu tajam, dan wajah seperti singa cantik yang hendak menerkam mangsanya.
Jantung Lintang seakan mau copot melihat Gabby yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Ia merasa malapetaka akan segera datang dalam kehidupannya. Ia masih belum percaya kalau Gabby bisa senekat itu mencari Lintang sampai ke rumahnya, tanpa memberi kabar.
"Gabby...???" ucap Lintang.
"Iya! Ini aku... kenapa? Kamu terkejut karena tanpa diundang aku bisa datang ke pesta pernikahan kamu? Oh... Jadi ini, alasannya kenapa sejak beberapa hari lalu aku selalu nggak bisa hubungi nomor kamu?" ucap Gabby menggebu-gebu.
"Kamu kesini sama siapa?" ucap Lintang sambil berjalan mendekati Gabby.
Semua tamu undangan melihat momen menegangkan itu seperti sedang menyaksikan pertunjukan wayang orang. Mereka semakin bertanya-tanya dan berbisik satu sama lain, siapa gadis berambut panjang yang malam itu tiba-tiba muncul dan mengejutkan semua orang.
"Nggak penting aku kesini dengan siapa. Untung aja aku belum terlambat ya! Sehari aja aku terlambat sampai di sini, entah apa yang akan terjadi karena kamu telah menghancurkan masa depanku." ucap Gabby membuat Lintang khawatir dia akan mengatakan jati dirinya di hadapan semua orang.
Gendhis yang hendak dirias di kamar pengantin pun akhirnya keluar setelah mendengar ada keributan di luar.
"Ya Allah... kebesaran apa yang hendak Kau tunjukkan pada kami?" ucap Gendhis dalam hati ketika melihat gadis kota itu sudah berada di tengah kerumunan.
Lintang berjalan mendekati Gabby dan memegang tangannya hendak menarik Gabby agar tidak berbicara semakin melebar malam itu.
"Sayang, ayoo kita bicarakan ini berdua, nggak enak diliatin banyak orang!" ucap Lintang lirih.
__ADS_1
Gabby melepaskan tangannya dari Lintang seraya berkata, "Apalagi yang ingin dibicarakan? Semuanya sudah sangat jelas. Apakah kamu ingin lari dari hubungan kita? Nggak, Lintang! Nggak semudah itu..." ucap Gabby tanpa mengurangi sedikitpun nada bicaranya, membuat semua orang yang ada di sana semakin bertanya-tanya, terlebih-lebih... Pak Argo dan Bu Parti.
Pak Argo berjalan mendekati Lintang juga Gabby, lantas bertanya, "Lintang!!! Siapa wanita ini dan apa maksud perkataannya? Bapak mau dengar sekarang juga!" ucap Pak Argo dengan nada tanya yang cukup tinggi pula.
"Oh... Bapak... dia... dia..." ucap Lintang terputus-putus karena bingung mau jawab apa.
Gendhis masih terus mengamati pemandangan yang sangat luar biasa itu.
"Aku yakin, Mas... kamu nggak akan punya cukup keberanian untuk mengakui kesalahan mu sendiri. Tapi aku juga tak akan mengungkap kesalahanmu, biarlah semuanya terbuka dengan sendirinya. Karena aku yakin, tidak akan ada kebohongan yang sempurna. Tapi sesungguhnya jika kamu mau tahu Mas... cintaku padamu yang menyempurnakan semua kekurangan mu. Tapi kenapa...? Kenapa kamu lakuin semua ini? Di mana kurangnya cinta ku, Mas?" ucap Gendhis dalam hati sambil menahan air mata yang hendak jatuh membasahi wajahnya.
Dari kejauhan, Gala pun tak kalah terkejutnya menyaksikan kejadian ini. Ia lantas teringat ketika malam lalu pernah menemukan Gendhis dalam keadaan sedih yang teramat dalam hingga hampir saja membahayakan nyawanya sendiri. Memang saat itu Gendhis tidak berbicara apapun soal kesedihannya, tapi malam ini semua kesedihan Gendhis terjawab sudah tatkala melihat Gabby tiba-tiba datang dan seolah ingin mengungkapkan jati dirinya.
Sementara Lintang, ia masih nampak ragu untuk berkata-kata. Mau jujur takut semua orang menyalahkannya, tapi mau berbohong sudah pasti Gabby tak mungkin membiarkannya bicara bohong. Dia juga pasti tidak akan sanggup jika Gabby pergi berlalu meninggalkannya.
Tak sabar dengan sikap Lintang yang menurutnya bertele-tele, Gabby pun ahirnya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Pak Argo.
"Jadi, Bapak ayahnya Lintang...? Baiklah, kalau Lintang nggak mau jawab, biar saya yang bicara. Saya... adalah... kekasihnya Lintang. Dan saya datang ke sini, untuk meminta pertanggungjawaban putra Bapak, karena..." Gabby belum selesai bicara, Lintang berusaha untuk mencegah sebelum situasi semakin memburuk.
"Gabby... kita bicarakan ini nanti ya? Sekarang mendingan kamu istirahat dulu di rumah, karena perjalanan ke sini cukup melelahkan, ayoook..." Lintang hendak menarik tangan Gabby yang masih berdiri kaku bak patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan.
Lintang paham betul, ayahnya adalah seorang yang baik, sabar juga penyayang. Tetapi ketika sedang marah, maka tak ada satupun yang bisa meredam kemarahannya. Kecuali... Gendhis, yang dengan kelembutan tutur katanya selalu bisa membuat Pak Argo serasa menjadi ayah kandungnya sendiri dan mengurangi kemarahannya.
"Katakan... apa yang kau harapkan dari Lintang. Sampai-sampai kamu rela datang malam-malam begini dan mengacaukan acara di sini..." kata Pak Argo pada gadis yang baru pertama ia lihat itu.
Gabby pun melanjutkan perkataannya, "Baiklah... saya ke sini tidak sendiri. Saya ke sini tujuan awalnya adalah untuk menemui Lintang, dan saya juga tidak tahu kalau ternyata orang yang saya cari akan menikahi wanita yang katanya adalah adik sepupunya itu... dan sekarang setelah saya di sini lalu melihat semua yang sedang terjadi, saya hanya ingin mendapatkan apa yang menjadi hak saya." ucap Gabby.
"Hak apa maksud kamu?" tanya Pak Argo merasa firasatnya semakin buruk mengenai putra kesayangannya.
"Iyaaa... hak saya... juga hak calon bayi yang ada dalam kandungan saya. Ini adalah cucu Anda, anak dari Lintang..." Gabby ahirnya menyikap tabir kebohongan Lintang.
"Apa? Kamu hamil? Ohh... tidak... ini nggak mungkin..." Lintang yang memang belum tahu kalau Gabby hamil pun dibuat syok atas berita itu. Apa lagi orang tuanya, calon mertuanya, semua orang yang hadir di sana, dan tentunya... Gendhis.
*Setelah mendengar pengakuan Gabby;
π**Pak Argo*.
Matanya terbelalak, mulutnya tak bisa berkata-kata. Tubuhnya gemetar, tangannya hendak melayang ke wajah Lintang, namun segera ia redam mengingat banyaknya orang yang menyaksikan tragedi itu. Ia tidak menyangka, putra yang selama ini ia banggakan, justru sekarang ia mencoreng nama baik keluarganya juga keluarga leluhurnya di malam pesta pernikahannya.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, laki-laki paruh baya itu pun berjalan pelan menuju rumahnya dengan langkah gontai meninggalkan Lintang bersama dengan orang-orang yang ikut menyaksikan kejadian itu. Nampak sekali kekecewaan terbesar yang terpancar dari gurat alis matanya.
π Bu Parti
Tak kalah sedih dan kecewanya mendengar semua ucapan Gabby. Apalagi selama ini dia amat mengenali putra satu-satunya itu tak pernah dekat dengan gadis manapun kecuali Gendhis. Tapi justru sekarang, dia harus menelan pil pahit atas kenyataan yang ia dengar malam itu. Ia yang sedari tadi lebih memilih diam itu pun ahirnya tak sanggup lagi menahan beban berat yang ada dalam hati dan fikirannya. Ahirnya....
"Brukkkk...." Bu Parti jatuh pinsan.
Melihat sang istri hampir tergeletak, Pak Argo juga Lintang segera mendekati Bu Parti. Mereka panik.
"Ibu... Ibu... bangun, Ibu..." panggil Lintang hendak menggendong Sang Ibu namun segera Pak Argo mencegahnya.
"Minggir...! Jangan sentuh Ibu mu. Setelah apa yang sudah kamu lakukan, Bahkan kamu tidak pantas memanggilnya Ibu...!" Pak Argo menggendong sendiri istrinya lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di atas tempat tidur.
πGendhis.
Dia lah yang paling rapuh malam itu. Dua keluarga yang selama ini membesarkannya sejak kecil, suka duka bersama, ikatan kekeluargaan yang begitu erat dan harmonis, sampai-sampai membuat takjub orang yang melihatnya, malam ini harus hancur karena perbuatan Lintang. Pujian dan sanjungan seluruh warga desa tentang keharmonisan keluarga mereka kini berubah menjadi rasa iba. Bahkan mungkin, orang yang tidak menyukai keluarga mereka, dengan leluasa mereka bisa saja mengatakan hal buruk tentang keluarga mereka. Namun apa hendak dikata, ini semua terjadi diluar kendalinya.
Gendhis... gadis itu amat rapuh mendengar pengakuan mengejutkan dari Gabby. Ia tahu, kalau Lintang bisa menduakan cintanya dengan gadis lain, tapi... berfikir kalau Lintang akan berbuat serendah itu... sungguh tidak terlintas sedikitpun dalam benaknya. Ia kecewa... sangat kecewa dengan Lintang. Dia harus memikul beban cinta karena perjodohan masa kecilnya, dia juga harus menahan beban berat karena orang pasti akan menaruh iba pada keluarganya, karena gagal menikahkan putri mereka di malam pernikahannya.
Tubuhnya lemah seakan tak bertulang. Kakinya tersungkur dengan posisi lutut menyentuh tanah. Kesediaanya sudah tak dapat ia bendung lagi, hingga basah lah wajah cantik itu dengan linangan air yang jatuh dari sudut matanya. Pak Ratno dan Bu sari berusaha memapah putrinya yang sedang letih dan tak berdaya itu untuk dibawa ke kamarnya. Meski sebenarnya hati mereka lebih pedih, namun demi putri tercintanya, mereka berusaha untuk tetap tegar.
πGala
Jangan tanya seperti apa rasanya, sudah pasti sangat lah sedih menyaksikan sendiri di depan matanya, gadis yang ia kagumi harus menanggung beban seberat itu. Andai bisa... saat itu juga... ia akan datang kepada Lintang dan melayangkan pukulan amat keras ke wajahnya, agar ia sadar apa yang sudah ia perbuat pada gadis sebaik Gendhis. Tapi profesinya sebagai dosen pembimbing di desa itu bisa hancur, dan pasti akan membuat Gendhis semakin sedih.
Andai bisa.... ingin... sekali Gala mendekati Gendhis dan menghapus air mata dengan tangannya. Andai bisa... akan dia ulurkan tangannya untuk membuat Gendhis bangkit dari ketidakberdayaannya. Andai bisa... saat itu juga... akan dia peluk lembut gadis rapuh itu agar ia bisa menangis sepuasnya dalam pelukan Gala, agar lenyap sudah kesedihan dan kegundahannya. Namun itu semua... hanyalah sebatas angan yang tak mungkin akan ia wujudkan saat itu. Tapi dalam hati kecil ia percaya bahwa suatu saat nanti, saat itu pasti akan tiba.
"Gendhis... andai kau berikan aku kesempatan untuk bisa menyembuhkan mu dari rasa sakit itu, maka akan ku pastikan kalau kamu... tidak akan pernah ku biarkan meneteskan air mata kesedihan mu lagi." ucap Gala dalam hatinya saat melihat Gendhis di bawa masuk oleh orang tuanya.
Seluruh rangkaian acara pesta pun terpaksa harus berhenti sampai di situ. Tak butuh waktu lama, suasana pesta berubah menjadi hening, dibalut selimut hitam di langit yang menutupi se isi jagad raya. Tak terdengar suara alunan musik lagi. Seluruh tamu undangan berpamitan, sang juru rias tak jadi melanjutkan prosesi midodareni. Juru masak dan juru ladi pun nampak sepi. Mereka masih bertanya dalam hati, seperti apakah yang kan terjadi esok hari? Mereka hanya menunggu komando dari sang pemilik hajad.
*****
...Terimakasih kakak... sudah setia menanti......
...Jangan lupa like, komentar, serta dukungannya yaaa... terimakasih... π€π€π₯°ππ...
__ADS_1