Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Mangli Sky View


__ADS_3

Alena benar-benar menikmati perjalanan kali ini. Apa lagi toure guide nya sangat menyenangkan. Ramah, cantik, baik, dan mengerti banyak hal, terutama tempat-tempat wisata di lereng gunung Sumbing. Mereka berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Bahkan, Gendhis mengajak mereka untuk ikut dan melihat petani yang sedang memanen sayur di ladang.


Alena cukup senang dengan kondisi masyarakat di Desa Sekar Wangi. Mereka ramah-ranah. Selain itu, di usia mereka yang sudah tergolong senja, tetapi kesehatan dan kekuatan mereka dalam beraktivitas sehari-hari sangatlah luar biasa. Naik turun ladang yang kondisinya sangat menanjak seperti tertempel pada lereng-lereng gunung. Bahkan tak jarang, mereka membawa beban berat di punggung atau atas kepala mereka, seperti sayur hasil panen, kayu bakar, hingga rumput untuk pakan ternak mereka.


Hingga sore harinya, tempat terakhir yang mereka tuju adalah di Mangli Sky View, agar mereka bisa menyaksikan sunrise dan sunset dari atas ketinggian. Di sana juga disediakan tenda-tenda yang sangat cocok untuk berkemah para pengunjung.


Sore itu, sambil menunggu matahari terbenam di ufuk barat, Gala pergi untuk memesan dua homestay dengan pengelola tempat wisata. Satu untuknya dan satu lagi untuk dua gadis yang sekarang tengah duduk di atas gardu pandang sambil berswafoto bak seorang model berlenggak-lenggok ke kanan dan ke kiri.


Seusai berswafoto, Gendhis dan Alena duduk di atas gardu pandang sambil mengobrol panjang lebar.


...Homestay dan gardu pandang di Mangli Sky View....



"Eh... Dis... by the way... aku penasaran kalau lagi di kampus, dosen kamu itu sosok seperti apa sih? Kalau dulu kami di Singapura, dia cukup seru sih, kocak, kadang ngeselin, tapi... baik... Kalau di kampus gimana?" Alena berusaha mengulik informasi tentang Gala.


"Oh... Pak Gala... beliau baik. Tegas, disiplin, paling nggak suka kalau mahasiswanya telat ngumpulin tugas, dan lebih nggak suka lagi kalau di dalam kelas waktu jelasin materi, terus ada mahasiswanya yang asyik mengobrol atau melamun. Kalau itu sampai terjadi, yaaah... memang tidak langsung ditegur sih sama Pak Gala, tapi... nanti di ahir penjelasan, mahasiswa tersebut biasanya di suruh ngulang semua yang Pak Gala jelasin hingga tak boleh ada satupun yang terlewat." jelas Gendhis.


"Oh... ya??? Ngeri bener jadi mahasiswanya... kamu nggak takut?" tanya Alena.


Gendhis malah tersenyum dengan pertanyaan Alena dan berkata, "Takut??? Ya enggak lah... Mbak Alena, selama kami nggak berbuat salah, Pak Gala juga nggak bakal marah. Apalagi kalau kita rajin, nilainya pasti bagus-bagus." jawab Gendhis yang memang mata kuliahnya yang diampu Pak Dosen Gala tak pernah kurang dari nila "A". Selain karena Gendhis mahasiswi yang pandai, aktif juga rajin... mana mungkin lah, Gala kasih nilai kurang pada gadis pujaannya.


Alena mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Gendhis. Sesaat kemudian, Alena kembali bertanya dan kali ini sedikit menjurus.


"Dis, dari dulu waktu di Singapura, banyak tuh yaaa cewek-cewek bule super cakep dan sexy yang ngejar-ngejar Gala. Dan anehnya, nggak ada satupun yang dia pilih. Aku kadang juga heran, dia tuh normal nggak sih, ada banyak cewek cakep dianggurin. Kalau... sekarang di kampusnya gimana?" tanya Alena.


"Oh... sekarang? Nggak jauh beda juga sih Mbak. Pak Gala selalu jadi idola semua mahasiswinya di kampus, termasuk teman-teman cewek saya di kelas, banyak yang mengagumi Pak Gala." ucap Gendhis tanpa ekspresi apapun, seolah dia tak menyadari bahwa pesona dosennya itu benar-benar membuat teman-teman gadisnya meleleh.


"Apa itu benar?" tanya Alena penasaran dan sedikit cemburu mendengarnya.


"Iya... Mbak Lena." jawab Gendhis sambil menganggukkan kepalanya.


"Terus... ada nggak yang berhasil merebut hati Gala? Maksud ku... eemmm... cewek yang Gala suka gitu..." Lanjut Alena.


"Hehehe... Mbak Lena... ada-ada aja! Kalau soal itu saya nggak tahu Mbak. Saya juga mana berani menyimpulkan sendiri. Itukan ranah pribadinya Pak Dosen, nanti saya dikira sok kepo lagi Mbak pengen tahu urusan pribadinya Pak Gala. Kan saya cuma mahasiswanya..." jawab Gendhis.


"Iya... juga... ya..., kamu bener, Dis." ucap Alena.


Gendhis lalu mencoba memberikan saran, "Mbak Lena... Mbak kan temen deket Pak Dosen, dan katanya kalian sudah berteman cukup lama, apaaa... Mbak Lena tanya langsung aja..." ucap Gendhis polos.

__ADS_1


"Mana bisa lah... Dis..." pipi Alena mulai merona.


"Lhooo... emang kenapa Mbak?" tanya Alena.


"Yaaaa... nggak bisa aja pokoknya!" jawab Alena.


Dari percakapan tersebut, bukannya Gendhis tak tahu. Gendhis sudah dapat menyimpulkan dari ekspresi dan pertanyaan Alena, bahwa gadis cantik yang ada di hadapannya itu sebenarnya menaruh rasa cukup dalam pada Gala. Entah kenapa hal sebesar itu bisa ia rahasiakan, padahal mereka berteman sudah cukup lama. Apa mungkin karena ia tak ingin merusak persahabatan yang sudah lama mereka jalin?


Dan Gala? Dia bukan lelaki bodoh yang tak bisa menilai ada seorang gadis yang menaruh rasa padanya. Apa lagi gadis itu adalah Alena yang sudah sejak lama ia kenal. Tapi kenapa sebagai seorang laki-laki, Gala tidak berusaha membuka perasaannya untuk Alena? Padahal Alena gadis yang baik, pintar, sopan, ramah, dan mudah bergaul. Ditambah lagi mereka se profesi sama-sama seorang dosen. "Apa... jangan-jangan benar yang dikatakan Alena? Bahwa...? Pak Gala sebenarnya normal nggak sih, banyak cewek cakep dan berkualitas yang mencoba memberikan cintanya tapi tak ada satupun yang berhasil menundukkan hatinya?" ucap Gendhis dalam hati sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Entah lah... lagi pula untuk apa juga saya terlalu memikirkan urusan Pak Gala? Biarlah itu semua menjadi tugasnya Pak Gala sendiri... kenapa aku jadi ikutan pusing?" Gendhis masih bergeming dalam hatinya.


Entah kapan dia akan menyadari bahwa alasan terbesar Gala berbuat demikian adalah dirinya. Bagi Gala, Gendhis lah satu-satunya gadis yang sejak pertama jumpa sudah berhasil mencuri hatinya.


Beberapa saat setelah perbincangan Gendhis denga Alena berakhir, Gala pun datang lalu berjalan ke atas gardu pandang dan mendekati dua gadis cantik itu seraya berkata,


"Hay ladies... homestay kalian sudah siap, silakan untuk tuan putri bisa beristirahat di istananya..." ucap Gala bergurau.


"Oh... ya? Aku udah nggak sabar pengen rebahan, capek banget seharian jalan-jalan. Tapi... bentar lagi kan matahari terbenam? Tunda ah, istiratnya... jauh-jauh dateng dari Semarang ke sini masa mau dilewatin gitu aja." ucap Alena.


"Ya udah... kalau gitu kita tunggu karena sebentar lagi apa yang kamu impikan sejak dari Semarang akan terwujud." ucap Gala.


Sesaat kemudian, langit pun berubah menjadi jingga. Perlahan matahari mulai bersembunyi di balik gagahnya puncak Sumbing. Lalu, adzan magrib mulai berkumandang. Setelah puas menyaksikan momen langka itu, ahirnya mereka bergegas pergi ke mushola terdekat untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib.



*****


Gendhis sudah merebahkan badannya di atas busa beralaskan tikar di homestay yang Gala pesan sore tadi. Ia terlihat lelap dalam buaian sang malam. Alena yang juga merebahkan badannya di samping Gendhis rupanya tak bisa memejamkan mata. Udara dingin membuat tubuhnya sedikit menggigil. Segera ia meraih jaket tebal dan berbulu miliknya lalu memakainya. Dia ingin mengajak Gendhis keluar menghilangkan rasa suntuk dalam kamar. Tapi melihat Gendhis yang sudah terlelap nyaman membuatnya merasa kasihan untuk mengganggu waktu istirahatnya, apalagi seharian ini Gendhis sudah mengantarkannya berkeliling lereng Sumbing. Ia melihat jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ahirnya ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


Alena berjalan menuju kursi taman yang tidak jauh dari tempat istirahat mereka. Angin puncak Sumbing semakin terasa menembus hingga ke tulang sum-sum. Meski demikian, pengunjung yang masih di luar tenda dan menikmati suasana malam di sana cukup banyak. Saat duduk termangu, tiba-tiba suara Gala mengejutkannya.


"Hayooo... malem-malem ngelamun!" kejut Gala.


"Ee... ee... ngelamun!" Alena terkejut sambil menoleh ke belakang.


"Ya ampun... Gala. Jahat banget sih, ngagetin aku..." lanjut Alena.


"Kamu kaget karena lagi ngelamun. Nggak baik lho, anak gadis ngelamun malem-malem." kata Gala sambil duduk tak jauh dari Alena.

__ADS_1


"Wuuuiiihhh... anak gadis bilangnya! Berasa jadi mahasiswi lagi nih.... iya deh... Kak Dosen, siapppp!" kata Alena.


Gala hanya tersenyum mendengar candaan Alena.


"Kamu mau kopi?" tanya Gala menawarkan.


"Eeemm... boleh deh, sesekali biar anget." jawab Alena.


Gala pun memesan dua kopi dan tak butuh waktu lama dua cangkir kopi manis pun mendarat di atas meja mereka. Untuk sesaat mereka terdiam sambil menikmati secangkir kopi dari lereng Sumbing.


"Gendhis udah tidur?" tanya Gala memastikan.


"Udah... kayaknya nyenyak banget, padahal tadi pengen aku ajak keluar, tapi kasihan... ahirnya nggak jadi." jawab Alena.


"Ohhh...." Gala pun hanya meng oh... kan ucapan Alena, karena ia berfikir Gendhis cukup lelah sudah mengantarkan mereka sejak pagi tadi.


Mumpung ada kesempatan, Alena pun mencoba menggali info dari Gala seperti yang Gendhis sarankan sore tadi.


"Ga... aku penasaran aja. Sejak awal kita kuliah, berapa banyak cewek bule yang patah hati karena cintanya kamu abaikan. Ku kira setelah pulang ke Magelang, kamu udah punya pilihan sendiri terus cepet-cepet nikah... eh... taunya sampai sekarang belum juga dapet calon istri. Sebenernya... kamu pengen istri yang kaya apa sih? Siapa tahu aja ternyata calon istri idaman kamu itu ada padaku... kamu nggak usah repot nyari kemana-mana, kan akunya udah di sini, hahaha..." ucap Alena bercanda tapi serius.


Gala tersenyum mendengar pertanyaan aneh Alena. Bahkan Gala tak menyadari kalau ada gadis yang terluka karenanya. Gala tak pernah merasa memberikan janji palsu pada gadis manapun.


"Calon istri?" tanya Gala sambil tersenyum.


"Iya, calon istri..." kata Alena.


"Jodoh... rezeki dan umur, itu sudah di tentukan oleh Allah sejak kita berada dalam rahim ibu kita. Tapi... kalau ditanya seperti apa maunya, ya... pasti yang baik-baiklah. Pertama, kalau cantik kan relatif yaaa... cuma dia harus sholihah pastinya, perilaku dan tutur katanya santun, ramah, lembut, pandai masak, sayang keluarga, berbakti pada orang tua... dan..." Gala belum selesai bicara tiba-tiba Alena memotongnta.


"Ya... ampun Ga... susah banget kriterianya... Tau nggak? Itu tuh... bukan aku banget...! Masih ada lagi selain itu?" tanya Alena kemudian.


"Iya... satu lagi, dia harus pandai... tapi nggak boleh lebih pandai dariku, terutama ilmu agamanya." Gala menambah.


"Loh... kenapa bisa?" Alena heran.


"Ya iya lah... aku kan calon imam dalam keluarga, apa jadinya sebuah keluarga jika makmum lebih pandai dari imamnya? Makanya, sampai sekarang aku masih belajar ilmu agama terus, mengingat kuliah ku dulu bukan jurusan pendidikan agama Islam. Agar aku bisa menjadi imam yang baik saat ternyata istriku nanti pandai dalam ilmu agama." lanjut Gala.


Ucapan Gala itu seolah membuat harapan Alena untuk memiliki cinta Gala runtuh tak bersisa. Sesaat, Gala baru menyadari kalau semua kriteria yang ia ucapkan itu ada sepenuhnya dalam diri Gendhis.


*****

__ADS_1


...Terimakasih kakak, sudah setia menunggu. Jangan lupa like dan dukungannya yaaa... terimakasih 🥰🥰🙏🙏🙏...


__ADS_2