Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Persaingan Sehat... Dimulai...


__ADS_3

Perbincangan Riko dengan Tina sore itu benar-benar sukses membuat Riko hendak memberontak tapi entah pada siapa. Dia masih tidak percaya, waktu itu dia rela mengalah sama Lintang demi melihat Gendhis bahagia. Namun kenyataannya sekarang? Lintang justru mengabaikan Gendhis dan memilih wanita lain. Benar-benar lelaki tak bertanggung jawab. Fikir Riko.


Riko kembali ke tempat duduknya bersama Gala dengan membawa menu yang sudah mereka pesan di atas nampan. Ia taruh nampan itu di atas meja tanpa bicara sedikitpun, bahkan dengan raut wajah memerah seperti hendak menelan semua makanan yang ada di mejanya.


Melihat ekspresi sang adik yang tiba-tiba berubah seusai memesan makanan, Gala pun lantas bertanya.


"Riko... kenapa wajah kamu cemberut? Apakah kena marah sama kasirnya? Atau kehabisan menu yang kamu pilih? Atau... jangan-jangan kamu rebutan menu sama pelanggan lain ya?" gurau Gala pada adiknya.


Riko duduk sambil memasang muka masamnya dan berkata, "Ini jauh lebih buruk dari yang Kak Gala tanyakan pada Riko!" jawab Riko menahan emosi. Lagi pula untuk apa dia lampiaskan emosinya di tempat itu? Toh Lintang juga nggak ada di sana.


"Oh ya? Kakak pengen tahu seburuk apa itu?" Gala sedikit penasaran.


"Selera makan Riko jadi hilang Kak." ucap Riko.


"Ya udah, kalau gitu... makanan kamu buat Kak Gala aja. Kebetulan dari tadi siang belum makan. Lumayan dapet porsi dobel." ucap Gala bergurau sembari ingin mengambil makanan Riko.


"Ehh... eh... eh... Kak Gala. Jangan lah... ini kan punya Riko. Kalau Kak Gala mau pesen lagi aja, di dalem masih banyak." segera Riko mengambil makanannya.


Gala tertawa melihat tingkah adiknya. Ia berfikir mungkin karena menahan rasa lapar, adiknya itu jadi mudah tersulut emosi.


"Iya, deh... kakak bercanda. Itu punya kamu. Kakak tahu... kalau kakak mau, kakak bisa ambil yang lain kan masih banyak. Kakak nggak mungkin mengambil apa yang menjadi milik adik kakak satu-satunya" ucap Gala sungguh-sungguh.


Ups... itu cuma soal makanan lho. Bagaimana seandainya makanan itu digantikan dengan posisi Gendhis? Bagaimana kalau Gala tahu, ternyata gadis yang berhasil meluluhkan hatinya adalah gadis yang sama dengan gadis incaran adik kesayangannya? Apakah Gala juga akan mengalah untuk adiknya? Atau bahkan berjuang mati-matian merebut hatinya?


Seusai mereka menghabiskan pesanan mereka, Gala dan Riko pergi meninggalkan Mc lalu pulang ke rumah mereka.


*****

__ADS_1


Semenjak Lintang pergi dari kehidupannya, Gendhis memutuskan untuk lebih fokus dengan aktifitasnya. Apalagi sekolah yang Gendhis rintis di desanya juga sudah semakin maju. Siswanya semakin banyak dan prestasi mereka pun semakin bagus. Bahkan bantuan dari pemerintah untuk pembangunan gedung pun sudah turun, sehingga sekarang mereka sudah bebas bersekolah di gedung mereka sendiri. Semua itu terwujud berkat kerja keras Gendhis juga warga desa sehingga tujuan mereka dapat terwujud bersama.


Satu yang tak kalah penting dan akan diingat sepanjang sejarah di Desa Sekar Wangi. Bahwa akibat dari keinginan orang tua yang menginginkan anak mereka menikah dengan pilihan mereka, bahkan membuat kesepakatan saat usia mereka masih amat dini, hal itu sangatlah tidak dibenarkan. Dari peristiwa Lintang dan Gendhis, warga desa ahirnya bisa mengambil pelajaran penting, bahwa mereka tidak akan lagi menjodohkan putra putri mereka, apa lagi saat mereka belum dewasa. Agar tidak ada lagi korban yang tersakiti karena ketika dewasa, putra putri mereka akan menentukan masa depan mereka sendiri.


Gendhis juga lebih fokus dengan kuliahnya. Dia adalah seorang mahasiswi yang aktif juga cerdas, Dia memiliki target untuk bisa selesai kuliah tak sampai empat tahun. Karenanya, meski belum waktunya Gendhis sudah mengambil mata kuliah penulisan skripsi. Dan... kali ini bukan kebetulan lagi, memang sudah direncanakan kalau Gala, Mas Dosen ganteng itulah yang menjadi pembimbing 1 untuk skripsinya. Gendhis mah ikut-ikut aja keputusan dari pihak kampus, selama itu tidak merugikan dan tetap berjalan pada jalurnya.


Siang itu di depan ruang dosen, Gendhis duduk termangu layaknya seorang mahasiswa yang menunggu dosennya untuk awal bimbingan skripsi. Ia sengaja tidak membuat janji terlebih dahulu, takut kalau mengganggu jadwal Gala. Ahirnya setelah cukup lama menunggu, Mas Dosen tampan itu pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju ruang dosen.


Dari kejauhan, Gala sudah melihat Gendhis ada di sana. Entah kenapa hatinya berasa adem melihat Gendhis. Karena saat Gala tak menemukan Gendhis di tempat itu, matanya pasti akan sibuk menyapu setiap sudut kampus untuk menemukannya. Tapi ketika sudah ketemu ya udah, hatinya cukup tenang dengan memandang wajah Gendhis. Namun sayangnya, Gendhis tak pernah sekalipun berani untuk membalas tatapan matanya. Kalau pun tiba-tiba tanpa sengaja kedua pasang mata itu bertemu, maka secepat kilat Gendhis akan berusaha menundukkan wajahnya atau mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Beberapa saat setelah Gala masuk ke ruangannya, Gendhis pun segera mengikutinya.


"Tok... tok... tok..." Gendhis mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum... Pak. Maaf mengganggu. Apa saya boleh masuk?" sapa Gendhis seraya meminta izin.


"Waalaikumsalam... oh.. ya, tentu saja. Silakan!" ucap Gala memperbolehkan Gendhis masuk ke ruangannya


Sedangkan Gala, harus diakui, ini bukan pertama kalinya mereka dihadapkan pada situasi untuk duduk bersama berdua, tapi kali ini ia merasa lain. Karena dulu, perasaannya pada Gendhis belum se dalam ini, dan lagi... dulu posisinya lain karena Gendhis masih menjadi milik orang. Tapi sekarang??? Siapa cepat dia dapat... Baginya, mendapatkan kepercayaan untuk bisa menjadi orang terdekat Gendhis adalah sesuatu yang istimewa untuknya.


Gendhis mengajukan sebuah map yang berisi judul skripsi yang ia ajukan. Gala pun mempelajarinya dengan seksama. Sempat terjadi tanya jawab tentang alasan dan latar belakang Gendhis memilih judul itu. Tapi lagi-lagi, Gendhis selalu bisa mberikan jawaban yang Gala inginkan. Setelah Gala menyetujui judul skripsi itu, Gendhis pun hendak berpamitan dan pergi dari ruangan Gala dengan rasa lega.


"Terimakasih, Pak. Untuk bimbingannya... saya permisi dulu!" pamit Gendhis hendak bangkit dari tempat duduknya.


Gala sudah mengulur-ulur waktu agar Gendhis bisa lebih lama lagi duduk di sana. Tapi bagaimana bisa? Dia sudah tak punya alasan lagi untuk menahan Gendhis.


"Eh... Dis... tunggu!" ucap Gala, membuat Gendhis urung untuk bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Iya, Pak... ada apa?" tanya Gendhis yang mulai merasa canggung melihat Gala seolah gugup mau bicara.


"Gendhis... aku mau bicara!" ucap Gala gugup.


"Ya... silakan." jawab Gendhis singkat.


"Tapi tidak sekarang dan tidak di sini. Apa kamu punya waktu? Aku janji nggak akan lama." pinta Gala.


"Maaf, Pak... apa berkaitan dengan skripsi saya? Jika iya, silakan bapak katakan sekarang juga, agar jika ada revisi bisa segera saya perbaiki." ucap Gendhis.


"Bukan! Bukan masalah skripsi mu." kata Gala.


"Lalu? Soal apa?" Gendhis bertanya.


Gala terdiam sesaat lalu berkata, "Ya... soal... soal... kamu."


"Soal saya? Saya nggak ngerti maksud Bapak... tanya Gendhis.


"Karena itu, aku akan buat kamu mengerti. Tapi tolong berikan aku kesempatan untuk itu." jelas Gala.


Gendhis bukan lah gadis culun yang tidak bisa membedakan perubahan sikap seseorang terhadapnya. Hanya saja Gendhis tidak ingin salah mengartikan maksdnya ucapan Gala. Ia menangkap sinyal dari dosen yang sekarang ada di hadapannya itu.


"Maaf Pak, saya rasa pembicaraan kita suda keluar dari jalur sepantasnya mahasiswa dengan dosennya ketika sedang melakukan bimbingan. Sekali lagi maaf, saya harus pergi sekarang. Assalamu'alaikum..." Gendhis bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Gala.


"Waalaikumsalam..." jawab Gala lirih.


"Huft..." Gala menarik nafas panjang melihat Gendhis yang pergi tanpa sempat mendengarkan apa yang hendak ia ucapkan.

__ADS_1


"Sabar... Gala... kamu harus lebih sabar lagi. Mungkin Gendhis masih belum bisa menghapus luka lamanya, karenanya... hatinya berusaha menutup diri. Tapi aku tidak akan menyerah... Insya Allah... akan ku dapatkan kepercayaan dan hati kamu!" ucap Gala lirih membesarkan hatinya.


*****


__ADS_2