Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Kebohongan di Balik Tabir


__ADS_3

Hari ini, Lintang ada libur bermalam selama dua hari ke depan. Ia memutuskan untuk pulang melepas rindu dengan keluarga di rumah. Namun sebelum itu, dia membuat janji bertemu dengan Gabby. Lintang berfikir, saat dia pulang nanti pasti komunikasinya dengan Gabby akan sedikit terganggu, karenanya... dia harus memberikan pengertian pada Gabby agar dia tidak curiga.


Sesaat sebelum Lintang meninggalkan asrama, terdengar handphonenya berdering. Segera Lintang mengangkat teleponnya.


"Kamu di mana sayang? Aku udah di depan Akmil nih? Aku tunggu kamu di sini ya?" suara Gabby.


"Iya... iya... bentar sayang, aku ke situ sekarang." ucap Lintang tanpa canggung lagi.


Lintang segera merapikan barang-barangnya lantas keluar. Dilihatnya mobil Gabby sudah terparkir di seberang jalan. Dengan sigap penuh semangat Lintang menemui kekasih rahasianya. Dia membuka pintu mobil Gabby lantas duduk di kursi depan.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Gabby.


"Iya laaah... tunggu apa lagi." jawab Lintang.


Mobil itu pun melaju dengan pelan.


"Kita mau kemana sayang?" Lintang bertanya.


"Eeemm... kita ke pemancingan Tepi Progo aja yuuuk. Aku dengar di sana menunya enak banget, sekalian makan siang, kebetulan aku belum makan nih... Dan katanya di sana tempatnya bersih, pemandangannya juga bagus, bisa lihat hamparan sawah, air sungai mengalir. Selain itu.... romantis... di Jakarta mana ada tempat seperti itu, " kata Gabby.


Lintang terperanjat mendengar ucapan Gabby. Dia teringat saat beberapa bulan yang lalu mengajak Gendhis ke sana.


"Sayang... gimana? Kok kamu diem aja sih?" tanya Gabby sambil mengemudikan mobilnya.


"Oh... iya... iya. Terserah kamu aja..." jawab Lintang seolah terbangun dari lamunan.


"Okeyy..." jawab Gabby lantas ia segera melajukan mobilnya menuju pemancingan Tepi Progo.


Sesampainya di tempat pemancingan, mereka memesan beberapa menu makan siang. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang banyak hal.


"Sayang... maaf ya, nanti kalau aku pulang ke rumah komunikasi kita agak terganggu." ucap Lintang.


"Emang kenapa sayang?" Gabby bertanya dengan nada aneh.


"Yaaa... kamu kan tahu, kondisi di kampung, apalagi puncak gunung, jaringannya susah banget." Lintang mulai beralasan. Padahal alasan sebenarnya, dia tak ingin keluarganya sampai tahu kalau diam-diam Lintang telah menjalin hubungan dengan wanita lain.


"Ohhh... soal itu, iya deh. Tapi begitu dapet sinyal bagus jangan lupa kamu telepon aku ya!" pinta Gabby.


"Itu pasti..." jawab Lintang.

__ADS_1


Mereka masih asyik menyantap menu nila bakar dan gurame asam manis, beberapa sambal dan sayur lalapan, serta minuman jus buah segar.


"Oh iya sayang... kita kan udah enam bulan pacaran, kapan dong kamu ngajak aku ke rumah, ketemu sama ayah ibu kamu?" pertanyaan Gabby seketika membuat Lintang tersedak saat makan.


"Uhuk... uhuk... uhuk..." Lintang batuk.


"Sayang, hati-hati... pelan-pelan dong Yang makannya..." kata Gabby sambil menyodorkan gelas berisi air putih.


"Iya Sayang... sambelnya pedes banget." jawab Lintang. Padahal bukan itu alasan sebenarnya.


Membawa Gabby pulang ke rumah sekarang itu artinya dengan mengibarkan bendera peperangan pada keluarganya.


Gabby mengelus punggung Lintang sambil menepuknya perlahan-lahan agar batuknya semakin berkurang. Setelah batuk Lintang mereda, Gabby melanjutkan perkataannya.


"Sayang, gimana? Kamu belum jawab pertanyaanku. Kapan kamu mau kenalin aku sama orang tua kamu? Sekarang kan aku sama Arnold udah resmi batal tunangan." Gabby terus mendesak.


Lintang memegang jemari Gabby sambil berkata.


"Sayang... sabar dulu yaaa... kita kan belum terlalu lama pacaran. Lagi pula, aku juga belum selesai pendidikan Akmil. Aku khawatir orang tua ku akan meminta ku untuk fokus ke pendidikan ku dulu lalu melarang hubungan kita gimana?" Lintang balik bertanya.


"Yaaa jangan laaah..." Gabby tak mau hal itu sampai terjadi.


"Beneran? Janji yaaa?" ucap Gabby manja sambil memegang lengan kanan Lintang seraya menyandarkan kepalanya di pundak Lintang.


Lintang merasa semakin nyaman saat bersama dengan Gabby. Apalagi tiap kali ketemu, Gabby yang selalu menunjukkan sifat agresif mendekati Lintang, membuatnya seolah tak berdaya menolak perlakuan lembut itu.


"Iya, Sayang... aku janji." ahirnya Lintang menuruti permintaan Gabby, meski ia tak tahu kapan akan mengabulkan permintaannya.


Sesaat kemudian, Gabby kembali berkata,


"Eh... Sayang, aku denger-denger nih ya, katanya di puncak Sumbing ada tempat wisata yang lagi boming banget, namanya Silancur Highland. Kamu tahu nggak?"


Baru selesai Lintang meleram keinginan Gabby saat memaksa ingin menemui orang tuanya. Dan sekarang... apa lagi maunya dengan tanya soal wisata Silancur? Wisata yang cukup ternama di Kabupaten Magelang yang terletak di Puncak Gunung Sumbing, milik keluarga Lintang.


"Oh... iya, tahu." jawab Lintang singkat sambil tangannya mengambil gelas berisi jus semangka lantas meminumnya untuk menghilangkan rasa gugup.


"Tempatnya bagus nggak? Kapan-kapan kamu ajakin aku main ke sana dong. Ya Sayang yaaa..." Gabby kembali merayu.


"Haduhhh... kalau sampai Gabby ngajak kesana beneran bisa gawat ini... gimana kalau ada warga kampung yang lihat? Atau lebih parahnya, kalau Gendhis sampai lihat? Bisa gawat nanti." ucap Lintang dalam hati.

__ADS_1


"Heyy... sayang. Kok malah ngelamun sih? Kapan kamu ajak aku jalan-jalan kesana?" lanjut Gabby.


"Aduh Sayang... kita mau ngapain ke sana? Lagian tempatnya juga nggak bagus-bagus amat kok. Mending kita cari tempat lain aja gimana?" Lintang berusaha mengalihkan.


"Tapi aku maunya kesana... kan deket sama rumah kamu... sekalian aku bisa... main ke rumah mu, ketemu sama ayah ibumu." Gabby sedikit memaksa.


"Sayaaang... tempat wisata di Magelang kan banyak, yang nuansa puncak dan pedesaan juga banyak kok yang bagus, ada Nepal Van Java atau Ketep Past, aku pasti anterin kamu... tapi... jangan lah ke Silancur." Lintang semakin khawatir kalau sampai Gabby tetap memaksa pergi ke Silancur, maka semuanya akan berakhir sebelum masanya.


"Nggak mau! Pokoknya aku maunya ke Silancur..." Gabby merajuk.


Sebenarnya alasan Gabby ingin ke tempat itu adalah agar ia bisa pergi ke rumah Lintang. Tapi ia kecewa, karena Lintang tak mau menurutinya. Gabby beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju tepian Sungai Progo. Ia melipat tangannya, memalingkan wajahnya dari Lintang dan mengalihkan pandangannya pada hamparan sawah nan luas di seberang sungai.


Lintang yang tau kekasih simpanannya itu sedang marah, segera ia ikut bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Gabby.


"Sayaang... kamu jangan ngambek gitu dong. Entar cantiknya luntur lho..." Lintang merayu.


Gabby masih saja terdiam dan justru berpaling membelakangi Lintang.


Dengan penuh perjuangan dan keberanian melawan kenyataan bahwa dia sudah bertunangan, Lintang memberanikan diri untuk medekap lembut Gabby dari belakang.


Gabby memejamkan mata, seolah hatinya luluh lantah dengan perlakuan Lintang. Seketika amarahnya pun mereda.


Dan Lintang... tak bisa dipungkiri, baru pertama kalinya ia mendekap seorang gadis, itupun bukan Gendhis... jodoh masa kecilnya yang selama ini ia cintai, ia sayangi, dan ia lindungi. Melainkan Gabby... gadis kota yang belum genap setahun ia kenal, bahkan dalam waktu sesingkat itu sudah dapat meruntuhkan dinding cinta Lintang yang sudah bertahun-tahun ia bangun bersama Gendhis.


"Sayaang..." panggil Lintang lembut.


"Aku pasti ajak kamu kesana. Jangankan cuma ke Silancur, ke ujung dunia juga pasti bakal aku turutin. Tapi... nggak sekarang yaaa... Kita tunggu saat yang tepat, agar aku bisa kenalin kamu sama ayah dan ibuku, okeyy...?" lanjut Lintang penuh rayuan.


"Janji yaaa... jangan lama-lama!" hati Gabby ahirnya luluh juga.


"Iyaaa... iya... aku janji." jawab Lintang lega setelah berhasil meyakinkan Gabby.


Dalam hati Lintang masih sempat berkata,


"Maafin aku Gendhis... aku nggak bisa melawan perasaan ini, aku nggak bisa menolak hasrat ini... aku yakin kamu pasti kecewa seandainya melihatku seperti sekarang ini... tapi sekali lagi aku minta maaf. Aku menemukan apa yang selama ini aku cari ada dalam diri Gabby, yang tak bisa aku dapatkan dari kamu."


Belum usai mereka melewati masa itu, tiba-tiba handphone Lintang berdering. Lintang segera melepaskan dekapan itu. Ia tahu siapa yang menelponnya, sudah pasti Gendhis. Karena ia sengaja membuat nada panggilan yang berbeda, agar saat Gendhis telepon dia bisa segera tahu. Sepertinya..., Gadis yang selalu setia menunggunya itu bisa merasakan bahwa saat ini orang yang amat dia cintai sedang berlaku tak adil di belakangnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2