Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Pertemuan tak Diduga


__ADS_3

Langit belum usai menggulung selimut malamnya. Fajar pun masih bersembunyi di balik bukit, sehingga suasana pagi masih tampak remang-remang. Gala mendapati adiknya sudah berpakaian olahraga lengkap dengan sepatunya. Tinggi serta berat badan yang ideal, membuat Riko terlihat macho dengan pakaian olahraga yang sedikit jangkis itu.


"Wuuuihhh... rajinnya, adik ku. Pagi-pagi gini udah siap mau joging." ucap Gala sambil melihat jam yang menempel di dinding rumah baru menunjukkan pukul 05.15 WIB.


"Mumpung masih liburan, kan Kak... Udah kangen pengen menghirup udara pagi di lembah Tidar." jawab Riko sembari mengisi air mineral ke dalam botol minumnya.


Maklum saja, semenjak dia kuliah di Kampus Ali Wardana atau Kampus Utama PKN STAN di Tangerang Selatan, membuat dirinya semakin jarang menghirup udara segar di lembah Tidar, komplek rumah mereka yang berada di kaki gunung Tidar.


"Ayooo Kak, buruan... kita joging bareng! Aku tungguin ya." ajak Riko.


"Kakak belum selesai, kamu duluan aja! Ntar kakak nyusul." ucap Gala.


Seusai sholat subuh, seperti biasa Gala menunggu terbit fajar sambil membaca beberapa ayat Al-Quran, dengan mengenakan baju koko warna putih juga sarung motif batik lengkap dengan peci hitamnya, membuat lelaki itu benar-benar terlihat tampan bak pangeran Fazza dari Dubai. Baru setelah itu ia mulai melakukan aktifitas paginya, seperti joging, mandi, sholat dhuha, sarapan pagi, lalu bersiap menuju kampus Untidar tempatnya mengajar. Sedangkan Riko, biasanya juga demikian, hanya saja khusus hari ini, dia ingin berangkat joging lebih pagi agar bisa lebih lama menghirup udah pagi di tanah kelahirannya.


"Ya udah kalau Kak Gala mau entar, Riko duluan ya..." pamit Riko sambil berlalu pergi.


Karena hari minggu, meski masih pagi buta, sudah nampak beberapa orang berjalan kaki, juga berlari kecil untuk menghangatkan badan. Riko mulai melangkahkan kakinya sedikit cepat, menyusuri jalan sekitar komplek. Beberapa menit kemudian, sampailah di lapangan komplek Lembah Tidar. Tempat itu cukup luas, bersih dan hijau, yang biasanya di waktu pagi sering dijadikan tempat untuk joging, bersepeda, berjalan kaki, atau mungkin sekedar jalan-jalan.


Ketika hendak berlari mengitari lapangan, pandangan matanya tertuju pada satu titik yang masih cukup jauh. Dia sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, apalagi fajar belum juga muncul membuat suasana menjadi remang-remang dan orang yang mulai berjoging juga belum begitu banyak. Riko berhenti sejenak lalu mengamati dari kejauhan untuk memastikan apa yang dilihatnya itu tidaklah salah. Ia tidak ingin gegabah takutnya cuma karena salah lihat.


Setelah cukup lama mengamati, ahirnya Riko menyimpulkan, "Ya... okey! Jadi aku tidak salah lihat. Apa yang aku lihat ini adalah benar!!!" ucap Riko dalam hati sambil menahan detak jantung yang begitu kencang.


Riko menarik nafas panjang. Ia lantas berjalan secepat kilat menuju pada seseorang yang sekarang berada tidak jauh darinya. Tanpa basa basi dan tanpa permisi, tiba-tiba Riko mengepalkan jemari kanannya dan dengan penuh bara api,


"Bhuuuughhh..."


Tangan kanan Riko melayang tepat di pipi Lintang yang sedang asyik mengantarkan bumil jalan-jalan pagi di lapangan itu. Tanpa disadari ternyata rumah Gabby satu komplek dengan rumah Gala-Riko, cuma rumah Gabby berada di ujung belakang, sedangkan Gala-Riko berada di depan. Tak puas sampai di situ, Riko melayangkan kembali tangannya hingga serentak membuat Lintang hampir tersungkur di tanah.


Gabby yang tidak tahu asal usul permusuhan suaminya dengan Riko sejak SMA itu pun langsung terkejut dan berteriak histeris lalu berkata,


"Sayang... kamu nggak papa?" tanya Gabby khawatir.


"Heyyy... kamu! Berani benar pukul orang tanpa alesan. Kamu nggak tahu siapa suami saya? Dia seorang anggota TNI, dan kami bisa saja melaporkan tindakan kamu ke pihak berwajib!" ancam Gabby pada Riko.

__ADS_1


"Buuuh... bulshit... pakai bawa-bawa TNI segala. Nggak ngaca kalau kelakuannya bahkan lebih buruk dari orang yang tak pernah makan bangku sekolah!" gumam Riko dalam hati.


Sementara Lintang, dia masih merasakan rasa pegal di wajahnya akibat ulah rivalnya semenjak mereka duduk di bangku SMA ini."Ternyata dia nggak berubah! Apa lagi sekarang setelah tahu aku dan Gendhis sudah berpisah. Dia pasti bakal deketin Gendhis lagi." bathin Lintang.


Dengan tatapan yang tajam dan wajah memerah, Riko bicara dengan Lintang tanpa goyah sedikitpun dengan ancaman Gabby.


"Gimana rasanya? Sakit bukan? Itu belum seberapa dengan rasa sakit yang sudah kamu berikan untuk Gendhis!" ucap Riko.


Mendengar ucapan Riko, Gabby menganggukkan kepalanya. Ia mulai dapat membaca alasan kenapa laki-laki tampan yang usianya lebih muda darinya itu tiba-tiba menyerang Lintang.


"Harusnya dulu kamu bilang, kalau kamu nggak bisa buat Gendhis bahagia. Harusnya kamu tinggalin Gendhis dari dulu agar sekarang dia tak perlu merasakan sakit hati seperti sekarang akibat sikap buruk mu, dengan wanita ini." ucap Riko serentak membuat Lintang dan Gabby juga tersulut emosi.


Lintang masih menahan amarahnya, sedangkan Riko... dia melanjutkan aksinya dengan meremas kerah baju Lintang lalu melayangkan tangannya kembali seraya berkata, "Ini buat penghianatan mu karena kamu sudah berani buat Gendhis menangis!"


Ahirnya Lintang pun tak dapat mengendalikan dirinya dan terjadilah baku hantam di antara keduanya.


Gabby yang saat itu satu-satunya wanita di sana pun cukup cemas melihat pertikaian dua lelaki itu. Ia khawatir kalau tidak segera dipisahkan, keduanya akan berakibat fatal. Ahirnya Gabby berteriak mencari bantuan.


Hingga pada ahirnya, datang lah beberapa warga yang saat itu sudah mulai berjalan pagi. Mereka ikut panik lantas berusaha melerai Riko dengan Lintang. Mereka memegangi tangan dan tubuh Riko, sementara Gabby menahan Lintang sambil berkata.


"Lintang... sudah! Cukup! Nggak ada gunanya kita ladenin anak ingusan ini. Lebih baik kita pergi dari sini." ucap Gabby setelah keduanya berhasil dilerai.


Baik Riko maupun Lintang, keduanya masih menatap mata masing-masing dengan pandangan yang penuh bara api meletup-letup menunggu petugas damkar datang untuk mengguyur mereka dengan pipa air.


"Lintang! Ayooook... Buruan kita pergi sekarang!" paksa Gabby sambil menarik tangan Lintang.


Ahirnya Lintang pun mau menuruti ajakan istrinya untuk pergi dari tempat itu, sambil berkata.


"Awas... kamu ya! Urusan kita belum selesai...!" Lintang berjalan sambil menatap Riko penuh dendam.


"Kamu pikir aku takut sama ancaman kamu? Okeyy... aku turuti apa mau mu!" jawab Riko tanpa gentar sedikit pun.


Mereka yang melerai pun memilih untuk tidak ikut campur urusan dua anak muda itu.

__ADS_1


"Hah... lepasin saya, Pak! Saya mau pulang!" ucap Riko sambil melepaskan diri dan berjalan meninggalkan kerumunan itu.


Sepanjang perjalanan pulang, dia masih tak mengerti, kenapa Lintang bisa lebih memilih wanita itu dari pada Gendhis. Memilih sih nggak masalah, tapi caranya itu yang membuat Riko emosi. Tapi setidaknya... dia merasa lebih lega sudah melampiaskan kekesalannya pada Lintang karena sudah membuat Gendhis menderita.


"Baguslah... kalau Lintang memilih pergi dari kehidupan Gendhis. Dan sekarang... tidak ada lagi yang akan menghalangiku untuk mendapatkan hati Gendhis." ucapnya lirih sambil berjalan pulang.


Sesampainya di pintu rumah, Gala terkejut mendapati adiknya sudah berada di sana. Padahal belum lama dia berpamitan mau pergi joging.


"Riko? Kamu sudah pulang? Cepet banget... Kakak baru mau nyusul kamu." tanya Gala.


"Nggak jadi, Kak... Riko lagi males joging lama-lama." jawab Riko sambil berjalan masuk dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Gala.


Tapi Gala... dia menangkap ada yang andeh dengan sikap adiknya. Ia lalu mengamati wajah adiknya yang tiba-tiba sedikit memar di bagian pipi kanan atas dan sudut bibir kiri.


"Riko... wajah kamu kenapa?" tanya Gala heran sambil memegang wajah ganteng adiknya yang menjadi sedikit tembam dengan tangannya.


Riko memalingkan wajahnya seraya berusaha melepaskan diri dari tangan kakaknya.


"Nggak papa Kak, tadi waktu joging, Riko terjatuh dan wajah Riko terbentur jalan." jawab Riko menyembunyikan apa yang sudah terjadi. Mana mungkin dia bicara jujur kalau dia habis berkelahi. Kalau sampai kakaknya tahu Riko terlibat perkelahian, bisa-bisa dia terkena marah orang serumah.


"Jatuh? Tapi bagaimana bisa?" Gala sedikit meragukan jawaban Riko.


"Tadi Riko kurang hati-hati, Kak. Makanya jatuh... udah dulu ya Kak, Riko ke kamar dulu mau mandi...!" ucap Riko sambil berlalu pergi meninggalkan Gala dengan rasa penasaran.


Gala pun merasa ada yang tidak beres dengan adiknya. Tak biasanya Riko bersikap seperti saat ini. Ia tipe adik yang selalu jujur dan tidak suka cari keributan di rumah ataupun di luar, masa iya... Riko habis berkelahi? Tapi sama siapa berkelahi pagi-pagi buta seperti ini? Fikir Gala.


Dengan menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya, Gala berusaha mengerti keinginan adiknya yang belum ingin bercerita tentang masalahnya. Tapi Gala percaya, cepat atau lambat Riko bakalan cerita. Dia itu tipe cowok yang nggak bisa jaga rahasia dari kakak satu-satunya.


*****


...Maaf ya kakak... up nya telat, habis bepergian dari luar kota 🤭...


...Terimakasih... masih stay di sini... jangan lupa like, komentar, dukungan serta vote nya ya... biar makin semangat 🥰 terimakasih... 💕💕🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2