
Satu minggu semenjak pertunangannya dengan Gala, wajah Gendhis terlihat lebih ceria. Entah disadari atau tidak, tapi orang-orang di sekitarnya lah yang merasakan. Saat di rumah, Gendhis jadi lebih banyak bercanda lepas dengan keluarganya. Ketika hendak pergi ke kampus, Gendhis jadi lebih cantik dari biasanya. Mungkin karena perlahan semangat hidupnya mulai tumbuh kembali.
Pagi itu, seperti biasa teman-teman satu kelas Gendhis sedang menunggu dosen idola mereka. Para gadis itu belum mendengar kabar pertunangan Gendhis dengan dosen mereka. Jika kabar itu sampai di telinga penduduk kampus, sudah pasti Gendhis akan jadi sorotan semua orang. Hal itulah yang tak diinginkan oleh Gendhis.
Setelah cukup lama menunggu, ahirnya dosen tampan dan berwibawa itu tiba di kelas mereka. Gendhis tak menyangka, jika pada ahirnya dia juga menjadi korban penunggu Gala bersama dengan teman-temannya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya dalam hati Gendhis, jika laki-laki yang sekarang sedang berceramah di depan kelas itu kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Meski sampai sekarang belum berani menatap mata sang dosen, tapi setidaknya sekarang Gendhis sudah bisa melihat dari kejauhan laki-laki itu saat membuat para gadis terpesona dengan sikapnya yang begitu karismatik.
Di saat Gendhis mencoba melunakkan sikapnya pada sang dosen, entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan laki-laki itu. Tak biasanya Gala menghindar saat bertemu dengan Gendhis. Biasanya laki-laki itu yang selalu mencari kesempatan untuk bisa bertemu dengan Gendhis, tapi ahir-ahir ini, Gala seolah sok sibuk hingga tiga kali dia hendak bimbingan skripsi tapi tiap dicari Gala pasti tak ada di ruangan dan entah pergi ke mana.
Siang itu, Gendhis tengah menunggu untuk bimbingan di depan ruang dosen. Hal itu ia lakukan agar ia bisa segera ikut sidang skripsi dan tugasnya sebagai seorang mahasiswa berakhir sudah. Gendhis ingin bisa lebih fokus dengan pekerjaannya.
Gendhis melihat Gala yang terburu-buru berjalan keluar dari ruang dosen.
"Pak Gala, maaf... apa saya bisa menganggu waktunya sebentar untuk bimbingan?" tanya Gendhis buru-buru menyusulnya.
"Bentar, Dis... eeemmm... hari ini aku nggak bisa karena sedang ada urusan, mungkin sampai sore." Gala mencari alasan. Ia bahkan tak berani menatap wajah Gendhis karena Gala tak pandai berbohong. Dia takut Gendhis akan dapat membaca hatinya.
"Maaf..., tapi kapan Bapak ada waktu? Minggu ini sudah tiga kali saya coba menghadap Bapak tapi belum bisa bimbingan juga. Padahal jadwal sidang tinggal sebentar lagi. Lalu bagaimana jika sampai batas waktu yang ditentukan skripsi saya belum selesai? Apakah Bapak mau, wisuda saya ditunda lalu ikut periode berikutnya?" rupanya Gendhis sudah punya nyali untuk mengancam calon imamnya itu sekarang. Ia tahu betul, betapa inginnya Gala agar Gendhis bisa segera wisuda. Karena sesuai kesepakatan, Gendhis memang bersedia menikah bulan depan, tapi untuk resepsinya, mau nggak mau Gendhis minta agar dia selesai wisuda terlebih dahulu.
"Eh... ya jangan! Maksudku... kamu akan tetap ikut wisuda periode ini, tapi... untuk bimbingannya... jangan hari ini ya... aku akan hubungi kamu kalau urusan ku sudah selesai. Assalamu'alaikum..." ucap Gala sambil berlalu menuju mobil yang ia parkir di depan fakultas, lantas pergi meninggalkan Gendhis.
"Ya... Allah... mudahkanlah urusan ku... kenapa tiba-tiba Pak Gala jadi sulit sekali ditemui. Padahal tinggal selangkah lagi tugas akhir ku akan segera terselesaikan." ucap Gendhis lirih setelah melihat Gala berlalu meninggalkannya.
Ya sudah, ia tak punya pilihan lain selain pulang dengan tangan hampa. Ia pun berjalan menuju tempat parkir sepeda motornya.
Mobil Gala berjalan pelan keluar meninggalkan kampus. Ketika hendak sampai di depan pintu gerbang, mobilnya berpapasan dengan mobil Riko yang berjalan masuk ke arah kampus. Meski berpapasan, Riko enggan untuk menyapa kakaknya. Dua kakak beradik itu sudah satu minggu ini tak pernah saling menyapa meski mereka tinggal satu atap.
Gala tahu betul, tujuan Riko datang ke kampus bukan untuknya, melainkan untuk menemui Gendhis. Dan ternyata benar, dari spion mobil Gala, terlihat mobil Riko berhenti di tempat parkir. Sesaat kemudian Riko berjalan mendekati Gendhis yang kebetulan memang saat itu hendak pergi meninggalkan kampus.
__ADS_1
"Gendhis... tunggu!" panggil Riko.
"Mas Riko? Mas Riko ngapain di sini?" tanya Gendhis yang saat itu telah bersiap duduk di atas motor sambil mengenakan helem dan kaca mata hiasnya.
"Aku nyariin kamu. Aku ingin bicara hal penting dengan mu dan aku janji nggak akan lama. Turunlah... dan kita akan bicara!" pinta Riko.
Dari kejauhan, Gendhis melihat mobil Gala yang masih berhenti di dekat pintu gerbang kampus. Ia amat yakin kalau saat ini Gala sedang memperhatikannya dari dalam mobil.
"Maaf, Mas Riko... bicara di sini saja! Aku buru-buru." jawab Gendhis berbohong karena ia tak ingin Gala salah faham ketika melihatnya bersama dengan laki-laki lain.
"Aku nggak akan lama, Dis... Kenapa? Apa karena dosen kamu itu? Tenang aja... dia nggak bakalan marah!" ucap Riko dengan nada cemburu.
"Dari mana Mas Riko tahu tentang Pak Gala?" Gendhis bertanya dalam hatinya.
"Apa yang Mas Riko inginkan dariku?" tanya Gendhis sambil membuka helem dan kacamatanya.
"Mas Riko... kalau memang ada yang ingin dibicarakan, silakan bicara di sini sekarang. Kalau tidak ya sudah, aku pergi sekarang!" jawab Gendhis hendak pergi meninggalkan Riko.
"Okeyy... Okey... aku bicara sekarang." Ahirnya Riko mengalah.
Sementara Gala, dia urung untuk meninggalkan kampus. Dia masih mengamati dari dalam mobilnya, sebenarnya apa yang akan dilakukan Riko pada calon istrinya. Cemburu, khawatir, takut, bercampur jadi satu, membuat Gala terlihat resah.
"Gendhis... kamu belum jawab pertanyaan ku!" kata Riko.
"Pertanyaan mana yang Mas Riko maksud?" tanya Gendhis.
"Kamu lupa? Baiklah... aku ingatkan lagi. Gendhis... kamu belum jawab pertanyaan ku... menikahlah dengan ku! Aku mohon... Aku nggak bisa lihat kamu menikah dengan orang lain. Apapun akan aku lakukan asal kamu mau menikah dengan ku. Tolong, Dis..." seketika Riko berlutut di hadapan Gendhis, membuat semua mata tertuju pada laki-laki tampan itu. Mereka penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan dua orang laki-laki dan perempuan itu, apakah mereka sedang berantem? Seperti itu kiranya yang mereka fikirkan.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal 'adzim... Mas Riko! Apa yang Mas Riko lakukan? Bangun... jangan bikin malu di hadapan semua orang. Apa Mas Riko tahu, sikap Mas Riko ini bisa membuat harga diri Mas Riko jatuh di hadapan orang-orang!" sekali lagi Gendhis panik melihat tingkah nekat Riko.
Sementara Gala, dia amat terkejut dengan apa yang adiknya lakukan di depan Gendhis. Ia tak mengira begitu dalam cintanya pada Gendhis hingga di hadapan semua orang, dia rela berlutut demi mendapatkan hati Gendhis. Ia mulai panik dan ingin rasanya menghampiri mereka, tapi sebisa mungkin ia tahan karena bukan hanya namanya yang ia jaga, tapi reputasi Gendhis juga akan dipertaruhkan.
"Aku nggak peduli, Dis. Asalkan kamu mau menikah dengan ku! Apa selama ini, bertahun-tahun aku menunggu mu, itu belumlah cukup untuk membuktikan betapa aku sangat mencintaimu? Kamu belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana bisa kamu menerima lamaran orang lain?" ucap Riko meyakinkan.
"Mas Riko... tolong... bangun atau aku akan pergi sekarang juga!" ancam Gendhis.
Mendengar ucapan Gendhis, laki-laki itupun lantas kembali berdiri tegak.
"Mas Riko... bukan kah malam itu semuanya sudah jelas? Saat aku menelpon Mas Riko dan aku mengatakan kalau aku tidak bisa? Tapi waktu itu Mas Riko masih bersi keras dengan keinginan Mas Riko hingga Mas Riko tak menghiraukan ucapan ku..." Gendhis coba menjelaskan.
Riko terdiam. Ia lantas teringat malam saat Gendhis menelponnya dan mengatakan bahwa ia tak bisa. Harusnya waktu itu ia tanyakan alasan kenapa Gendhis tak menerimanya untuk yang kesekian kalinya.
"Huuufftt... astaghfirullah hal 'adzim..." Gendhis menarik nafas panjang. Tak tahu apa yang hendak ia lakukan dengan laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya itu. Sementara rasa bersalahnya pada Gala juga semakin berkecamuk, takut jika Gala salah faham.
"Mas Riko... apa sekarang sudah cukup jelas? Aku tahu Mas Riko begitu baik. Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah... demikian juga perasaan ku yang tak bisa berubah untuk Mas Riko masih tetap sama seperti dulu. Percayalah, suatu saat nanti Mas Riko pasti mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku. Laki-laki baik, pasti akan mendapatkan perempuan baik-baik, begitupun sebaliknya. Dan aku amat yakin... kalau Mas Riko pasti bisa mendapatkan gadis yang sempurna, bukan seperti aku! Mas Riko... aku mohon... ikhlaskan aku untuk menjalani kehidupan yang sudah aku putuskan. Apa mas Riko tahu? Tak mudah bagiku untuk bisa mengambil keputusan berat ini. Dan aku mohon... mulai sekarang... Mas Riko belajar untuk melupakan ku!" pinta Gendhis seraya memohon dengan kedua tangannya 🙏.
"Baiklah... kalau memang itu yang kamu inginkan, aku akan menjauh dari mu. Tapi... jangan pernah meminta ku untuk berhenti mencintaimu. Aku hanya akan menjauh dari mu, tapi bukan berarti aku akan menghapus namamu dari hidupku. Assalamu'alaikum..." ucapan terakhir Riko sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobilnya lantas pergi dengan cepat meninggalkan Gendhis.
"Waalaikumsalam..." jawab Gendhis lirih.
"Ya Allah... aku tak tahu apakah keputusan ku ini tepat atau tidak dengan menyakiti hati orang lain. Aku hanya mengikuti kata hati ku. Ampuni aku ya Robb... jika aku besalah." ucap Gendhis dalam hati.
Gala masih dengan rasa ingin tahunnya, apa sebenarnya yang telah dibicarakan oleh adik dan calon istrinya? Untuk menjawab semua itu, ia memutuskan untuk segera menemui Gendhis dan bicara dengannya.
*****
__ADS_1
...Terimakasih kakak... masih setia menunggu. Jangan lupa komentar serta dukungannya buat Gendhis yaaa... terimakasih 🥰🥰🥰🤗🤗🙏🙏🙏...