
Gendhis duduk di tempat siraman dengan penuh hikmad mengikuti segala arahan dari Sang Juru Rias. Tak lama kemudian, mata Gendhis terbelalak melihat Gala ternyata juga hadir di acara siraman itu dan saat itu juga Gala tengah menatap matanya dengan amat tajam, seolah ada yang ingin dia ungkapkan.
"Kenapa Pak Gala bisa ada di sini? Siapa yang kasih tahu dia kalau aku akan menikah?" ucap Gendhis dalam hati.
Entah kenapa seolah ada sesuatu yang menusuk dalam relung hatinya ketika melihat Gala menyaksikan dirinya dengan semua keadaannya sekarang. Hatinya seperti tertusuk sembilu, perih...
Dari kejauhan, Gala masih terus menatap Gendhis.
"Gendhis... Aku sungguh tak percaya, kau kah itu? Bahkan aku tak mengira kalau malam ini aku akan menghadiri pesta pernikahan mu. Apa aku sanggup menyaksikan mu bersama dengan orang lain? Ku rasa aku tak kan bisa..." ucap Gala lirih.
Setelah difikirkan dengan sangat matang, ahirnya Gala memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ia khawatir tak kan sanggup melihat Gendhis bersanding dengan lelaki pilihannya.
"Pak Kades... saya pamit permisi dulu, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Bapak di sini saja sampai nanti acara selesai." pamit Gala.
Mendengar tamu istimewa itu hendak meninggalkan pesta, Pak Ratno dan Pak Argo pun melarangnya. Apalagi kehadiran mereka belumlah lama.
"Pak Dosen, saya mewakili Gendhis... tolonglah... tunggu acaranya sampai selesai. Apalagi Bapak belum ketemu sama Gendhis. Nanti nunggu acara siraman selesai dulu lah, biar Gendhis lega karena Pak Dosen sudah bersedia hadir ke acara ini." ucap Pak Ratno ayah Gendhis.
Dia faham betul dengan laki-laki yang beberapa bulan lalu pernah berjasa mengantarkan putrinya itu dengan penuh tanggung jawab.
"Iya... Pak Dosen, tunggu lah sebentar lagi..." tambah Pak Kades.
Setelah berfikir beberapa saat, ahirnya Gala pun bersedia menunggu, meski harus menahan rasa panas di hati yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
"Baiklah... kalau begitu, saya tunggu sebentar lagi." jawab Gala sambil duduk kembali di kursinya.
Tak lama kemudian, Mbak Dewi sang rias pengantin memanggil Pak Ratno untuk menyelesaikan upacara siraman.
"Pak Ratno, mari kita selesai upacara siraman. Masih ada satu tahap lagi yang harus diselesaikan." ajak Mbak Dewi.
"Oh ya, Mbak..." jawab Pak Ratno.
"Saya permisi dulu, silakan dinikmati pestanya..." ucap Pak Ratno pada Gala juga rombongan Pak Kades, sambil berjalan mengikuti sang juru rias.
Gendhis kemudian ditutup tubuhnya dengan mengenakan kain batik motif Grompol dan Nagasari. Setelah itu, dengan dipandu oleh juru rias, secara simbolis Gendhis akan digendong atau dibopong oleh kedua orang tua ke kamar pengantin. Hal ini menjadi simbol kasih sayang orang tua yang mengiringi anak mereka hingga memasuki tahap baru dalam kehidupan sang anak.
__ADS_1
Inti dari prosesi siraman telah selesai. Gendhis akan di-paes atau dirias dengan menghilangkan bulu halus di dahi dan tengkuk sebagai simbol membuang segala hal jelek yang pernah terjadi dahulu. Sementara itu, prosesi siraman akan dilanjutkan untuk sang calon pengantin pria, sebelum dilanjutkan dengan acara midodareni.
Namun ketika anak buah Mbak Dewi dari juru rias membawa Lintang ke tempat siraman, terjadilah sebuah insiden yang paling mengejutkan semua orang yang hadir malam itu.
Sebuah mobil daihatsu ayla warna putih berhenti di depan tempat penerima tamu. Tanpa ada yang memberi tahu, Gabby ahirnya menginjakkan kaki tepat di halaman rumah Lintang. Ia masih tidak percaya ketika beberapa menit yang lalu dia menanyakan sebuah nama lengkap dengan alamatnya. Tapi justru orang tersebut mengantarkannya menuju tempat pesta semegah ini.
Flashback Gabby beberapa menit yang lalu sebelum sampai di halaman rumah Lintang.
Gabby terus melajukan mobilnya dengan amat hati-hati. Dia belum pernah melewati jalan ke puncak Sumbing. Apalagi malam itu sedikit berkabut. Jalan menuju puncak juga tak semulus di Kota Magelang. Ia tak mau ambil resiko apalagi dengan kondisinya yang sekarang tengah hamil muda dan mengandung buah cintanya dengan Lintang. Karenanya, ia lebih memilih untuk menyetir dengan amat hati-hati.
Gabby cukup kesulitan mencari rumah Lintang. Apalagi janji Lintang untuk mengajaknya ke rumah hanya sebatas buaian belaka. Buktinya sampai sekarang Lintang belum juga mengajaknya pulang ke rumah. Ahirnya, dia punya alasan yang tepat untuk nekat pergi menemui Lintang di rumahnya.
"Kita lihat aja sayang, kita bikin surprise yaaa... papa mu pasti akan terkejut melihat kedatangan kita." ucap Gabby sambil menyetir mobil dan tangan kanannya mengelus lembut perut yang belum nampak buncit itu.
Karena takut nyasar Gabby memutuskan untuk bertanya pada seorang warga yang sedang berjalan kaki searah dengan mobilnya. Mobil Gabby pun berhenti tepat di samping pejalan kaki itu. Ibu-ibu pejalan kaki itupun ikut berhenti karena penasaran, ada mobil yang berhenti di sampingnya dan ternyata sopirnya adalah seorang gadis cantik.
Gabby turun dari mobilnya dan berjalan menuju pejalan kaki tersebut.
"Permisi, Bu. Mau tanya... Apa ibu tahu alamat ini?" tanya Gabby sambil menyodorkan satu buah kartu nama Lintang.
"Oh... iya... ini alamatnya Mas Lintang." jawabnya.
"Benar, Bu! Apa Ibu kenal? Saya mau menemui orang yang ada dalam kartu nama ini." kata Gabby lega.
"Kebetulan sekali, Mbak. Ini saya juga mau kesana." kata ibu tersebut.
"Kalau begitu kita pergi sekalian aja gimana Bu, naik mobil saya. Dari pada saya kesana sendirian." Gabby menawarkan.
"Emmm... baiklah kalau begitu." jawab sang ibu.
Mereka pun ahirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan.
Saat di perjalanan, Si Ibu bertanya pada Gabby, "Mbak ini temannya, Mas Lintang ya?" tanya Si Ibu.
"Iya, Bu... saya temannya." jawab Gabby sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kok datangnya sendirian, Mbak? Nggak barengan sama rombongan temannya Mas Lintang tadi siang?" Si Ibu tersebut bertanya karena mengira Gabby datang untuk menghindari pernikahan Lintang dan Gendhis.
"Rombongan? Rombongan apa bu?" tanya Gabby tak mengerti.
"Yaaa... rombongan tamu undangan." jelas Si Ibu.
"Undangan apa ya, Bu?" Gabby makin penasaran.
"Undangan pesta pernikahan Mas Lintang dengan Mbak Gendhis. Mereka kan besok pagi mau ijab qobul." ucap Si Ibu serentak membuat Gabby sesak untuk bernafas.
"Apa? Menikah? Dengan Gendhis?" tanya Gabby memastikan.
"Bukankah Gendhis itu adik sepupunya Lintang?" lanjut Gabby.
"Bukan, Mbak... mereka itu pasangan perjodohan. Bahkan sejak mereka kecil sudah dijodohkan oleh kakek buyut mereka. Dan mereka itu pasangan yang amat serasi di mata warga desa sini. Mereka juga menjadi contoh bagi warga desa. Sama-sama berprestasi, yang satu cantik yang satu ganteng. Meski sejak kecil dijodohkan dan bersekolah tinggi-tinggi, mereka tetap menghormati perjodohan itu. Sekarang setelah Mas Lintang selesai jadi TNI, barulah mereka resmi akan menikah, dan..." belum usai Si Ibu memuji Lintang juga Gendhis, tiba-tiba Gabby menghentikan ucapannya karena tidak tahan mendengar semua sanjungan itu.
"Sudah... sudah... sudah... bu!!! Makasih untuk penjelasannya..." ucap Gabby sambil menahan amarah yang sudah memuncak dan ingin rasanya segera meluapkan emosi itu pada Lintang yang selama ini sudah mendustai cintanya.
Si Ibu pun diam seketika saat melihat ekspresi Gabby yang tiba-tiba berubah menjadi angker saat mendengar penjelasannya.
"Mbak e ini aneh... tadi tanya-tanya. Pas dijawab belum juga selesai, langsung berubah jadi sewot. Apa aku salah ngomong ya?" tanya Si Ibu dalam hati.
Setelah beberapa menit berjalan, Si Ibu kembali berkata, "Nah... kita sudah sampai Mbak. Itu di depan ada tenda dengan gemerlap lampu juga alunan musik, itu lokasi pesta juga rumahnya Mas Lintang. Terimakasih untuk tumpangannya."
"Iya Bu... Sama-sama..." jawab Gabby tak banyak berkata-kata.
Terlalu penuh otaknya berisi segudang pertanyaan yang ingin ia mintakan jawabannya dari Lintang. Hal ini membuat Gabby serasa berat untuk mengontrol emosi.
Gabby lalu memarkirkan mobilnya lantas turun dengan segera untuk menemui Lintang.
*****
...***Seperti apa reaksi Lintang dan semua orang melihat kemunculan Gabby secara tiba-tiba di malam pernikahan Lintang dan Gendhis? ...
...Lanjut episode berikutnya... 🥰🥰...
__ADS_1
...Jangan lupa, like, komentar, juga dukungannya ya kakak... terimakasih... 😘😘🙏🙏***...