
Seberkas sinar mentari menyisir dari balik gumpalan awan putih. Sinarnya yang hangat mulai merasuk ke pori-pori. Gunung Merapi, Merbabu, sungguh tiada yang dapat menggores lukisan seindah itu melainkan kuasaNya. Perpaduan warna jingga, merah dan kuning seolah melambangkan bahwa sang surya akan memulai tugasnya menerangi seisi jagad di belahan bumi pertiwi.
Butiran kristal di pucuk daun berkilauan tertimpa pantulan cahaya mentari. Hempasan angin pagi, harum bunga melati, terhirup wangi seolah mekar di taman hati, membangunkan jiwa-jiwa yang terasa sunyi.
Dengan hati yang diselimuti rasa syukur akan karunia Ilahi... Gendhis mulai berhias diri seusai menunaikan empat rakaat di waktu dhuha. Tak henti-hentinya bibir dan hatinya mengucap syukur atas karunia yang Allah anugerahkan padanya. Memiliki paras cantik, kulit bersih, bentuk tubuh yang sempurna, budi pekerti yang baik, serta mumpuni dalam segala hal.
Di depan cermin yang melekat di meja riasnya, Gendhis membuka satu persatu peralatan wajib wanita saat berhias diri. Meski tak selengkap milik make up wedding, tapi sangat cukup untuk membuat wajahnya terlihat cantik. Bulu mata yang lentik alami, alis bak pelepah daun kelapa, serta hidung mancung dan bibir tipis itu seolah membuat dirinya terkadang sungkan dan malu ketika ada laki-laki bukan mahram memandang wajahnya. Karenanya, Gendhis selalu menundukkan pandangannya ketika ada yang hendak memperhatikan wajahnya. Dari pandangan mata itu, Gendhis takut tak dapat memendam gejolak dalam hatinya. Karena biar bagaimanapun juga, Gendhis adalah gadis normal layaknya gadis seusianya.
Ketika dihadapkan pada sebuah cermin, Gendhis mengucap do'a,
اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِى سَوَّى خَلْقِى فَعَدَّلَهُ وَكَرَّمَ صُوْرَةَ وَجْهِى فَحَسَّنَهَاوَجَعَلَنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Alhamdulillahilladzi sawwaa khalqii fa'addalahu wa karrama shurata wajhii fakhassanaha waja'alanii minal muslimin..."
do'a Gendhis yang artinya; "Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan dan memperbaiki penciptaanku, memuliakan bentuk wajahku, maka Dia membaguskan dan menjadikan aku termasuk orang-orang Islam." (HR Ibnu as-Sani).
dengan menengadahkan kedua telapak tangannya, Gendhis berdo'a lantas mengusapkannya pada wajah cantiknya. Tak pernah sekalipun ia melupakan do'a itu ketika bercermin. Mungkin karena itulah, wajahnya selalu tampak berseri sesuai dengan perilakunya.
Seusai berhias, Gendhis mengganti pakaiannya. Dia mengenakan pakaian yang lebih santai tak seperti saat hendak pergi ke kampus. Rok plisket warna coklat tua dipadukan dengan atasan pendek warna marun yang dibalut cardigan lembut warna merah muda, serta hijab coksu menutup dada. Lengkap dengan kaca mata hitam, tas kecil, dan sepatu boots warna coklat muda yang membuat Gendhis terlihat sangat cantik.
Seusai berdandan, Gendhis memakai parfum aroma green tea kesukaannya, yang menambah rasa percaya dalam dirinya dan membuatnya serasa lebih segar.
Gendhis melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
Alangkah terkejutnya Bu Sari dan Pak Ratno melihat penampilan Gendhis yang lain dari biasanya hari itu. Dengan rasa heran, keduanya masih menatap anak gadis mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah sekian lama melihat Gendhis yang enggan untuk merias diri akibat kegagalannya bersama Lintang, ahirnya hari ini ia melihat sosok anak gadisnya seperti terlahir kembali tanpa pernah ada goresan luka sedikitpun di hatinya. Terang saja, hal itu membuat Pak Ratno juga Bu Sari bahagia.
Sambil membawa makanan ke atas meja, Bu sari bertanya pada putrinya,
"Masya Allah, Nduk... apa ini Gendhis putri ibu?" Bu Sari terheran-heran.
Gendhis tersenyum tersipu malu seraya berkata, "Iya... lah Bu... memangnya Ibu punya putri lain selain Gendhis?"
Pak Ratno yang tengah meneguk secangkir teh jawa pun ikut bicara, "Bapak sampai pangling, Nduk... nggak biasa lihat kamu dandan soalnya."
Sambil tersenyum Bu Sari kembali bertanya, "Memangnya mau kemana to Nduk, pagi-pagi gini udah cantik bener?"
Belum sempat Gendhis menjawab pertanyaan rasa penasaran kedua orang tuanya, tiba-tiba di halaman rumah terdengar suara mobil berhenti. Gendhis kembali masukan ke kamarnya karena ternyata ponselnya tertinggal dan sedikit lupa di mana terakhir dia memegang ponselnya. Segera Pak Ratno dan Bu sari keluar untuk melihat siapa yang bertamu se pagi ini. Saat keduanya berada di teras rumah, Pak Ratno mengamati sesosok laki-laki tampan yang berada di dalam mobil. Sepertinya Pak Ratno mengenalinya. Dan setelah lelaki tampan itu keluar dari mobilnya, ternyata benar. Melihat wajah Pak Dosen tampan datang menghampirinya, seolah ia sedang melihat pangeran yang akan menyelamatkan putri mereka dengan kudanya.
__ADS_1
Gala berjalan menuju Pak Ratno yang sedang berdiri menghadangnya.
"Assalamu'alaikum..." sapa Gala. Dengan penuh rasa hormat, Gala mencium tangan Pak Ratno.
Sebagai seorang ayah dari anak gadis, siapa coba yang tak tersentuh hatinya melihat sosok seperti Gala datang lalu sungkem padanya? Tak dipungkiri, ayah dari anak gadis ini mulai menaruh harapan besar pada laki-laki gagah dan rapi yang ada di hadapannya. Dan kepada Bu Sari, Gala hanya mengangkat kedua tangan, lantas merapatkan keduanya di depan dada sebagai simbol bersalaman kepada yang bukan mahramnya.
"Waalaikumsalam..., Pak Dosen? Mari silakan masuk!" ucap Pak Ratno. Akhirnya rasa penasaran akan putrinya yang berdandan begitu cantik itu terjawab sudah.
"Baik, Pak, terimakasih di sini saja..." jawab Gala.
Sesaat kemudian, Pak Ratno kembali terkejut namun kali ini dengan ekspresi yang berbeda ketika melihat Miss Alena. Seketika harapannya kembali runtuh melihat gadis cantik berambut panjang itu keluar dari mobil Gala. Ia berjalan ke teras rumah dan berdiri di samping Gala.
"Bapak, Ibu, perkenalkan... ini teman saya dari Semarang. Namanya Alena." Gala memperkenalkannya.
"Assalamu'alaikum... saya sangat senang sekali, bisa diberikan kesempatan untuk berkunjung ke desa yang menakjubkan ini." ucap Alena sambil mencium tangan Bu Sari.
"Oh... iya, Nak... desa sini memang terkenal dengan pemandangan dan tempat wisatanya." ucap Bu Sari tanpa ada rasa aneh sedikitpun karena kebetulan ini baru pertama kalinya dia bertemu dengan Gala.
"Apa itu benar, Bu?" tanya Alena senang.
"Tentu saja... iya to Pakne?" tanya Bu Sari pada suaminya.
"Maaf, Pak... apa Gendhis nya ada? Kemarin kami sudah buat janji sama Gendhis untuk menemani kami jalan-jalan di puncak Sumbing. Karena sepertinya, Gendhis tahu banyak soal tempat-tempat wisata di dekat sini." tanya Gala.
"Oh... iya. Ada, Pak Dosen. Tadi juga sudah siap-siap kok. Tapi di mana ya Bu? Sepertinya ada di dalam." ucap Pak Ratno sambil menoleh ke belakang memastikan keberadaan puterinya.
"Gendhis... Gendhis... ada tamu, Nduk..." panggil Pak Ratno.
"Iya, Pak... sebentar..." jawab Gendhis dari dalam rumah.
"Mari masuk dulu Pak Dosen...." kata Pak Ratno mempersilakan Gala dan Alena masuk.
"Oh... terimakasih, Pak... Insya Allah lain waktu saja, karena kami sedikit buru-buru. Kebetulan tempat yang akan kami tuju cukup banyak dan takutnya kabut segera turun." jawab Gala. Karena jika kabut turun, maka keindahan pemandangan pun akan bersembunyi di balik kabut.
Tak lama setelah itu, Gendhis pun keluar dari balik pintu rumah. Betapa terkejutnya Gala melihat penampilan Gendhis pagi itu. Sangat berbeda dari yang selama ini ia jumpai saat berada di kampus. Untuk beberapa saat, mata Gala berhenti berkedip menatap cantiknya wajah Gendhis. Saat itu juga ia merasa seolah bumi berhenti berputar dan ingin selalu seperti itu, tak ingin melepaskan tatapannya pada gadis yang sudah mencuri hatinya.
"Assalamu'alaikum..." sapa Gendhis lembut, membuat Gala tersadar kembali akan posisinya.
"Waalaikumsalam.... eh, Dis... kenalin ini temenku yang kemarin aku ceritakan. Namanya Alena... dan... Alena ini Gendhis, mahasiswa ku di Untidar." Gala memperkenalkan keduanya.
__ADS_1
"Hay... Gendhis. Senang bertemu dengan mu." sapa Alena sambil memeluk hangat tubuh Gendhis.
"Selamat pagi, Bu Alena... selamat datang di desa wisata puncak Sumbing." Gendhis balas menyapanya.
"Jangan panggil Bu, panggil aja Alena... okeyy..." pinta Alena pada Gendhis.
"Mana bisa, Bu Alena adalah teman Pak Gala dosen saya, mana mungkin saya panggil nama Ibu seperti itu." jawab Gendhis sambil tersenyum.
"Eeeh... kata siapa? Panggil Bu itu kalau di kampus, ini kan nggak di kampus.... ayolaaah... Gendhis. Panggil aja aku Alena. Lagi pula biar keliatan muda gitu... jangan panggil Bu lagi dong..." pinta Alena sambil bergurau.
"Baiklah kalau begitu, Bu... maksud saya... Alena." ucap Gendhis canggung merasa tak sopan memanggil seseorang yang usianya lebih tua hanya dengan sebutan nama.
"Nah... gitu dong..." Alena merasa jiwa mudanya terlahir kembali saat Gendhis memanggil namanya.
Gala sedikit tak mengerti dengan perbincangan dua wanita itu. Ahirnya dia pun berkata, "Gimana? Apa kita jadi berangkat?"
"Ya iyaaa lah... Kak Dosen... jauh-jauh dari Semarang masa nggak jadi.." jawab Alena seketika.
"Apa nggak masuk dulu?" tanya Gendhis mempersilakan.
"Mampirnya besok lagi aja, Dis... ntar malah nggak jadi jalan. Ayo Kak Dosen... buruan..." pinta Alena seolah sudah tidak sabar ingin melepaskan pandangannya pada hamparan pemandangan nan luas di sepanjang puncak Sumbing.
"Bapak, Ibu... mohon izinnya, kami pinjam Gendhis sebentar dan akan kami kembalikan tanpa ada yang kurang satupun darinya." pamit Gala pada Pak Ratno dan Bu Sari.
Ucapan Gala tak heran membuat Gendhis sedikit tersanjung. Gala rupanya tahu betul bagaimana cara menghormati wanita yang dicintainya.
"Tentu saja, Pak Dosen. Hati-hati di jalan..." jawab Pak Ratno. Entah kenapa hatinya merasa tenang. "Seandainya saja lelaki itu.... ah... tidak mungkin. Tak mungkin Pak Dosen mau dengan Gendhis yang cuma mahasiswinya, apalagi... Bu Dosen itu... pasti teman dekat Pak Dosen. Mereka sama-sama dosen, serasi sekali..." ucap Pak Ratno dalam hati sambil melamun sesaat setelah mereka bertiga naik dalam mobil Gala.
"Pak... Pakne...! Anaknya pergi kok malah ngelamun?" suara Bu Sari yang sedikit cempreng itu memecahkan lamunan suaminya.
"Eh... Bu... nggak lah... siapa yang melamun? Udah hampir siang, ayo... kita segera berangkat ke ladang!" ajak Pak Ratno mengalihkan pembicaraan sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Bu Sari pun mengikuti langkah suaminya di belakang.
Gala duduk di kursi depan. Hari ini dia sedang berganti profesi sebagai sopir pribadi dua gadis cantik yang ada di kursi belakang mobil Camry putihnya. Dia sangat bahagia bisa memiliki kesempatan untuk ini. Apalagi terlihat dari kaca spion yang tergantung di langit-langit mobilnya, dua wanita dengan beda usia itu sudah begitu akrab. Meski baru pertama berjumpa, namun tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk saling mengobrol dengan sangat akrab satu sama lain.
Tujuan pertama mereka, adalah menelusuri keindahan puncak Sumbing dari sebuah tempat wisata yang cukup ngehits saat ini, yaitu Nepal Van Java yang terletak di Desa Butuh Kecamatan Kaliangkrik.
*****
...Sampai jumpa di obyek wisata Nepal Van Java ya kakak... 🤗...
__ADS_1
...Terimakasih sudah setia menunggu, dan jangan lupa selalu dukung juga komentarnya biar rame... terimakasih 🥰🥰🥰🙏🙏🙏...