Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Terdengar derap langkah kaki menuju ruang kamar. Lintang yang hendak meraih ponsel Gabby pun urung ketika melihat istrinya ternyata sudah berada di depan pintu seraya berkata,


"Sayang... aku balik lagi karena ponselku ketinggalan." ucap Gabby sambil berjalan mengambil ponselnya.


"Itu... ambil aja!" jawab Lintang sedikit kecewa. Padahal baru aja dia hendak mencari tahu siapa laki-laki yang barusan menelpon istrinya.


"Ya udah, aku pergi sekarang ya Sayang... udah telat nih..." pamit Gabby lalu berlalu pergi setelah mendapatkan ponselnya.


"Uuuhhh... siapa laki-laki yang menelpon Gabby? Aku belum pernah melihatnya." Lintang mulai panik.


Karena penasaran, Lintang diam-diam coba mengikuti Gabby setelah ia keluar dari apartemen mewahnya. Dengan menggunakan mobilnya, Lintang mengikuti Gabby dengan jarak yang tidak terlalu dekat karena khawatir Gabby melihatnya. Setelah beberapa menit berjalan, sampailah di sebuah pertigaan jalan. Dari kejauhan, Lintang melihat mobil Gabby belok ke arah kiri, padahal seharusnya arah ke rumah sakit belok ke kanan. Lintang makin penasaran dan terus mengikuti mobil Gabby.


Ketika sedang buru-buru mengikuti mobil Gabby, ternyata Lintang terjebak lampu merah di tengah keramaian kota Denpasar. Lintang pun kehilangan jejak Gabby.


"Bbbaaahhh..." Lintang memukul strir mobilnya.


"Kemana Gabby pergi sebenarnya? Tadi katanya ada operasi di rumah sakit. Jelas-jelas ini bukan arah ke rumah sakit!" Lintang kesal.


Ia segera memutar balik arah untuk kembali ke apartemen karena ia ingat kalau baby Sanchi ia tinggal sendirian di apartemen.


"Kalau aja Sanchi ada yang urus, aku pasti sudah kejar mobil Gabby sampai dapat!" umpatnya dalam perjalanan pulang. Ia pun masih mencari cara, bagaimana dia bisa mengetahui identitas penelpon misterius itu.


*****


Malam di hari berikutnya, Lintang sudah menidurkan baby Sanchi. Ia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA, tapi Gabby belum juga kunjung pulang. Sebenarnya kemana wanita itu pergi. Ditelepon berkali-kali tapi ponselnya tidak aktif.


"Ting... tong..." bell berbunyi.


Segera Lintang berjalan untuk membuka pintu dan memastikan bahwa Gabby lah yang berada di sana dan ternyata memang benar.


"Dari mana aja, jam segini baru pulang? Ponsel kamu juga nggak aktif. Kamu nggak kasihan sama Sanchi? Dari tadi nangis asinya habis di kulkas." pertanyaan Lintang menginterogasi.


"Sayang, maaf tadi sore ada operasi mendadak. Kalau soal asi, di dapur kan masih ada susu formula. Ntar aku pumping lagi kalo udah nggak capek. Aku mandi dulu ya Sayang..." jawab Gabby tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Seusai menghapus make-up nya menggunakan micellar water, Gabby lantas mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Ketika Gabby mandi itu lah Lintang punya kesempatan untuk menyidak ponsel Gabby, karena Lintang hafal betul biasanya Gabby bisa menghabiskan waktu satu jam lebih saat mandi. Lintang mulai melancarkan aksinya ketika istrinya sudah berada di kamar mandi.


"Ohhh... rupanya semua percakapan dan panggilan sudah dihapus ya!" ucap Lintang lirih saat dalam ponsel Gabby tak menemukan satu pun percakapan dan panggilan dari laki-laki yang bernama "Kak Bara". Segera ia masukkan ponsel Gabby ke dalam tasnya kembali sebelum ia tertangkap basah.


Satu jam kemudian Gabby keluar dari kamar mandi. Karena keduanya sudah makan malam, mereka memutuskan untuk beristirahat. Sebelum memejamkan mata, Lintang ahirnya mulai membuka percakapan untuk menjawab rasa penasarannya.


"Sayang... Bara itu siapa?" tanya Lintang.


Gabby terkejut mendengar perkataan Lintang. Dalam hati ia bertanya, dari mana asal usulnya Lintang bisa bertanya soal Bara.

__ADS_1


"Oh... itu... dia... eemm... dia kakak sepupu... iya kakak sepupuku." jawab Gabby gugup seolah ada yang ia sembunyikan.


"Kakak? Kamu kok nggak pernah cerita sama aku kalau punya kakak sepupu? Aku juga belum pernah lihat dia." tanya Lintang.


"Eemm... iya, soalnya dia baru dateng dari Paris karena baru selesai kuliah. Lagian, buat apa sih kamu tanya soal dia? Emang Sayang tahu soal dia dari mana?" Gabby balik bertanya.


"Kemarin pagi waktu ponsel kamu ketinggalan, dia telepon. Pas mau aku angkat siapa tahu penting, ehhh... ternyata udah mati." jawab Lintang.


"Duhhh... gawat. Hampir aja aku ketahuan. Untung lah aku cepet-cepet sadar kalau ponsel ku ketinggalan, kalau enggak??? " bathin Gabby.


"Apa kamu sedang berbicara jujur?" Lintang masih meragukan jawaban istrinya.


"Ya iya lah Sayang, mana mungkin aku bohongin kamu. Udah yuk tidur, aku ngantuk banget Sayang. Besok harus berangkat pagi-pagi." Gabby coba alihkan pembicaraan dengan memalingkan tubuhnya membelakangi Lintang lalu pura-pura memejamkan mata.


Laki-laki itu masih belum puas dengan jawaban istrinya. Tapi bukan malam ini. Dia akan terus mencari tahu, siapa sebenarnya laki-laki bernama Bara itu.


*****


Tiga hari kemudian di apartemen mewah Lintang.


Pagi itu sekitar pukul 10.00 WITA. Lintang sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran di atas balkon belakang apartemennya. Hari ini dia dapat tugas malam, sehingga siangnya bisa manfaatkan waktu untuk bersantai. Saat duduk di balkon yang dipenuhi banyak tanaman hias itu, angannya kembali menelisik.


Tiba-tiba saja ia merindukan taman kesayangan di belakang balkon rumahnya. Di sana Lintang selalu mendapatkan ketenangan dan keteduhan sambil menatap indahnya pemandangan dari atas ketinggian Puncak Sumbing. Entah apakah Allah masih memberinya kesempatan untuk menyaksikan semua itu lagi? Ataukah semua kenangan itu harus ia kubur dalam-dalam.


Lintang teringat akan keluarganya, ibu, ayah, dan adik satu-satunya. Mereka dulu begitu menyayangi dan memperhatikan Lintang, sebelum akhirnya memutuskan hubungan dengannya karena ulahnya sendiri. Dan, satu lagi yang menyelinap dalam kenangan Lintang, yaitu... Gendhis. Gadis kampung yang pernah ia cintai lalu ia abaikan setelah dirinya terjerat oleh cinta dr. Gabby.


"Ahhh... sial. Kenapa aku jadi mikirin Gendhis sih?" Lintang bicara sendiri.


Ketika Lintang hanyut dalam lamunannya, ia terkejut mendengar ada suara memanggil-manggil namanya.


"Tuan... Tuan... gawat Tuan... gawat...!" tiba-tiba Si Embak sudah berdiri di samping tempat duduknya.


"Ada apa Mbak? Gawat kenapa?" tanya Lintang.


"Non Sanchi, Tuan... Gawat!" kata Si Embak.


"Iya, Sanchi kenapa? Kalau ngomong yang jelas dong Mbak!" Lintang ikutan panik mendengar nama putrinya di sebut.


"Non Sanchi... badannya panas. Dari tadi nangis tidak mau berhenti. Saya kasih susu juga tidak mau." ucap Si Embak.


"Apa? Sanchi panas?" segera Lintang meletakkan cangkir yang berisi kopi itu ke atas meja lantas berlari menuju kamar Sanchi. Ia menggendong putri kecilnya yang masih menangis tersedu-sedu. Setelah berada dalam dekapannya, bayi kecil itu seolah tahu, siapa yang benar-benar menyayanginya. Maklum saja, selama ini ia kurang mendapatkan perhatian dari mamanya. Tangisannya pun berhenti, namun suhu panas di tubuh baby Sanchi benar-benar mencemaskan.


"Mbak... siapkan segala keperluan Sanchi. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga!" perintah Lintang pada Si Embak.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" jawab Si Embak dan segera ia memasukkan semua keperluan Sanchi ke dalam tas.


Dengan mobilnya, Lintang membawa baby Sanchi ke rumah sakit. Ia langsung menuju poli anak dan tak menemui Gabby terlebih dahulu. Lagi pula percuma juga, paling-paling juga dia lebih mengutamakan tugasnya dari pada anaknya. Nanti usai memeriksakan Sanchi, baru dia akan menemui Gabby di poli kandungan.


Terlihat seorang dokter wanita paruh baya dengan sabarnya memeriksa Sanchi. Usai melakukan pemeriksaan, dokter itu lantas kembali duduk di kursinya.


"Gimana dengan anak saya Dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Lintang cemas.


"Bapak tidak perlu khawatir berlebih. Keadaan seperti ini memang sering terjadi pada anak-anak. Putri Anda mengalami demam. Saya akan berikan resep yang aman untuk putri Anda, dan pastikan pemberian asinya jangan sampai telat, agar imunnya segera membaik!" pinta dokter sambil menyodorkan kertas berisi resep obat yang harus ditebus di apotek.


"Baik, Dok..." jawab Lintang. Apa yang bisa ia katakan, karena memang istrinya tak mau memberikan asinya layaknya seorang ibu memberikan asi pada bayinya.


Lintang keluar dari ruang periksa dengan tubuh sedikit letih karena memikirkan kondisi Sanchi.


"Mbak... bawa Sanchi ke mobil duluan. Aku mau nebus obat dulu dan menemui Gabby sebentar. Nanti aku nyusul. Ini kunci mobilnya!" Lintang memberikan kunci mobilnya.


"Baik, Tuan." jawab Si Embak sambil menggendong baby Sanchi yang sudah terlelap.


Usai menebus obatnya di apotek, Lintang berjalan menuju ruang periksa Gabby. Ia tak menemukan Gabby ada di sana. Lintang ahirnya memutuskan untuk bertanya pada suster yang berjaga di ruangan Gabby.


"Suster... dr. Gabby ada?" tanya Lintang.


"Maaf, Pak... untuk pemeriksaan silakan datang satu jam lagi karena dr. Gabby sedang istirahat." jawab suster itu.


"Bukan... untuk periksa. Saya Lintang, suaminya!" jawab Lintang.


"Oh... maaf, Pak... saya tidak tahu kalau Bapak suami dr. Gabby." ucap suster.


"Nggak papa, Sus! Sekarang dr. Gabby di mana?" Lintang bertanya.


"dr. Gabby sedang ada di ruangan dr. Bara." jawaban suster itu mengejutkan Lintang. Dia ingat ketika beberapa hari lalu dari ponsel Gabby ada yang menelpon dengan nama yang sama, yaitu... Bara.


"dr. Bara?" tanya Lintang pada suster.


"Benar, Pak. dr. Bara adalah direktur sekaligus pemilik rumah sakit ini. Silakan bapak naik ke lantai dua, lalu berjalan lurus di lorong tersebut. Nanti sampai ujung lorong Bapak belok kiri. Di sana adalah ruangan dr. Bara. Apakah perlu saya antar Pak?" dengan ramah suster itu menjelaskan.


"Oh... nggak usah, Sus. Terimakasih!" jawab Lintang.


"Baik, Pak...!" jawab suster.


Dengan rasa penasaran dan menggebu-gebu, Lintang segera berjalan menuju tempat yang telah di instruksikan oleh suster tadi. Ia berharap, akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantuinya beberapa hari terakhir ini tentang siapakah sosok laki-laki bernama Bara dan ada hubungan apa dengan istrinya. Benarkah seperti yang Gabby katakan kalau laki-laki itu adalah sepupunya? Atau kah ada yang Gabby sembunyikan darinya?


*****

__ADS_1


...Hayyy... kakak. Terimakasih sudah menunggu. Jangan lupa komentar juga dukungannya yaaa... 🤗🥰🥰🥰🙏🙏🙏...


...Yang udah nggak sabar nungguin karma Lintang, siap-siap aja yaaa...... 🤗...


__ADS_2