Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Upaca Siraman Jelang Midodareni


__ADS_3

Sore hari, menjelang pernikahan Gendhis dengan Lintang.


Pengabdian diwangkara pada hari ini untuk seluruh kehidupan bumi akan usai. Sebentar lagi bergantilah waktu senja. Telah tiba saatnya waktu menyapa seluruh kehidupan di bumi. Saatnya matahari menghantarkan pesan kepada semua kehidupan untuk waktunya beristirahat. Tetapi hukum itu tidak berlaku untuk Gendhis, keluarganya, keluarga calon besan, juga warga Desa Sekar Wangi. Mereka tengah bersiap untuk menyambut pesta pernikahan termegah di sepanjang sejarah desa tersebut.


Seharian langit membiru bersih tanpa terluka sedikitpun oleh mendung yang mencabik-cabik langit. Suasana itu sungguh berbanding terbalik dengan apa yang Gendhis rasakan dalam relung hatinya. Seharusnya ia bahagia, menyambut hari pernikahan yang selama ini begitu ia idamkan, tapi... justru kegundahan semakin berkecamuk mengiringi para tamu undangan yang datang membawa seuntai do'a untuknya.


"Gendhis... apa kamu sudah siap, Nak? Malam nanti seusai sholat isyak, kita akan melakukan upacara siraman, dilanjutkan acara midodareni." ucap Bu Sari semakin membuat hati Gendhis gundah gulana.


"Oh... iya, Bu." jawab Gendhis singkat sambil duduk di kamarnya.


"Ya sudah, Ibu cuma mau ingetin aja... Kalau begitu Ibu keluar dulu, masih banyak tamu." kata Bu Sari sambil berjalan keluar dari kamar calon pengantin yang sudah dipenuhi dengan aroma bunga melati dan sedap malam itu.


Lalu tiba-tiba langit-langit berubah menjadi jingga. Perlahan matahari mulai beristirahat setelah mengabdi bagi seluruh kehidupan bumi seharian lamanya. Dari ufuk barat nampak matahari melambaikan tangan menyampaikan ucapan selamat beristirahat bagi seluruh kehidupan di bumi.


Sayup terdengar suara adzan magrib. Menyeru segenap insan agar segera melaksanakan panggilanNya.


Gendhis lantas mengambil mukena dari dalam lemari untuk melaksanakan sholat maghrib. Seusai sholat, Gendhis berdo'a,


"Ya Allah... besok pagi adalah hari pernikahan ku. Seperti yang selalu ku mohonkan padaMu, berilah petunjuk kebaikan untuk hidupku. Benarkah Mas Lintang adalah jodoh yang Kau pilih untuk Ku? Jika memang benar demikian, kuatkan lah aku untuk bisa menjalani pernikahan ini..." ucap Gendhis dalam do'anya.


*****


"Tok... tok... tok..."


Terdengar suara pintu di ketuk dari dalam kamar Gala. Kamar yang memang sudah disiapkan oleh Pak Kades untuknya selama bertugas di Desa Sekar Wangi. Memang tak semewah kamar di rumahnya, namun tempat itu serasa nyaman buatnya. Bersih, rapi dan khas aroma bunga sedap malam yang tak pernah layu. Karena sebelum layu, Bu Kades sudah akan menggantinya dengan yang baru.


"Pak Dosen, apakah sedang sibuk? Boleh saya masuk?" suara Pak Kades terdengar dari balik pintu.


"Oh, tentu Pak Kades. Saya habis sholat maghrib lalu baca beberapa ayat sebentar sambil menunggu waktu isya'. Mari, silakan masuk..." Gala membuka pintu kamar dan memang terlihat, lelaki tampan itu tengah membawa Al-quran yang baru saja ia tutup ketika mendengar Pak Kades memanggil namanya.


"Maaf, jadi ganggu waktunya Pak Dosen." ucap Pak Kades sungkan.


"Nggak kok, Pak Kades. Saya sudah selesai. Gimana, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gala.


Pak Kades pun menjawab,

__ADS_1


"Begini, Pak Dosen... kalau tidak keberatan, malam ini saya mau mengajak Pak Dosen juga sekalian bareng sama perangkat desa yang lain untuk pergi kondangan ke rumah warga Kampung Merangi yang sedang melaksanakan hajatan. Kebetulan beliau ini sosok yang cukup berpengaruh di desa kami. Mungkin... Pak Dosen bisa sekalian ikut bersama kami, biar sekalian bisa kenal lebih dekat dengan warga sini." ajak Pak Kades pada Gala.


"Oh... tentu saja, Pak. Apa kita mau berangkat sekarang?" tanya Gala yang telah menyanggupi untuk ikut kondangan bersama dengan Pak Kades dan perangkat desa lainnya.


"Sebentar lagi, Pak Dosen. Habis sholat isya' sekalian." jawab Pak Kades.


"Baiklah, kalau begitu habis sholat isya' saya langsung siap-siap." kata Gala.


"Baik, Pak Dosen... saya permisi dulu. Sekalian mau sholat isya' terus siap-siap." pamit Pak Kades.


"Oh... ya, Pak..." kata Gala sambil menutup kembali pintu kamarnya.


Sesaat kemudian, setelah adzan isya' berkumandang, Gala segera menunaikan kewajibannya lantas bersiap untuk pergi kondangan. Sampai detik ini, bahkan ia belum tahu, siapa calon mempelai yang akan ia kunjungi bersama dengan perangkat desa.


Pak Kades bersama dengan anak buahnya sudah bersiap di ruang tamu menunggu Gala. Mereka dibuat takjub tatkala melihat Gala datang dengan penampilan yang sangat gagah dan tampan bak Arjuna yang hendak mempersunting Dewi Subadra. Pakaian rapi, juga aroma parfum yang sensual dan hangat. Cocok sekali digunakan untuk menghadiri momen party di malam hari.


"Wah... bikin pangling. Saya kira yang datang calon mempelai pria, ternyata Pak Dosen." sanjung Pak Kades.


Gala tersenyum ramah dengan pujian itu lantas berkata, "Ah... Pak Kades bisa saja..."


"Gadis yang mana, Pak Kades?" Gala pura-pura tak mengerti maksud ucapan Pak Kades.


"Ya... gadis calon pendamping Pak Dosen..." ucap Pak Kades.


Gala tersipu dan berkata, "Ah... Bapak bisa saja... saya belum berfikir ke situ. Belum ada yang mau sama saya, Pak..." ucap Gala merendah.


"Belum ada yang mau apa belum ada yang cocok dengan Pak Dosen? Di sini juga banyak gadis-gadis cantik lho Pak Dosen, siapa tahu ada yang berhasil mencuri hati Pak Dosen." ucap Pak Kades kembali menggoda.


Gala semakin tersipu, karena sebenarnya ucapan Pak Kades tidaklah salah. Salah satu gadis kebanggan desa mereka memang telah berhasil membawa pergi separuh jiwanya. Siapa lagi gadis itu kalau bukan "My Little Gravity". Gadis kecil imut yang selalu memberikan daya tarik tersendiri saat berhadapan dengannya.


"Ya sudah, Bapak-bapak... mari kita berangkat sekarang!" ajak pak Kades pada Gala juga semua anak buahnya.


Mereka berangkat menggunakan mobil Gala, dan beberapa menggunakan sepeda motor mereka.


*****

__ADS_1


Di kamar calon pengantin wanita, jantung Gendhis berdegup sangat kencang, ketika Mbak Dewi Mayang, sang rias pengantin langganan keluarga Lintang tengah merias wajahnya dengan amat cantik laksana Dewi Shinta. Setelah selesai merias wajahnya, Mbak Dewi mengganti pakaian Gendhis dengan pakaian siraman adat jawa, tetapi masih bernuansa muslim lengkap dengan hijabnya.


Upacara siraman semakin terasa saat aroma wangi melati yang sengaja di rangkai untuk balutan busana Gendhis, mulai di pakaian pada tubuh Gendhis. Lengkap sudah. Gendhis terlihat sangat cantik malam itu, meski dalam hatinya bergejolak tak tentu arah.


...Semua yang menunggu upacara siraman tengah bersiap menunggu di tempat acara yang telah di hias dengan begitu rupawan, lengkap dengan air dari tujuh sumur dan bunga tujuh rupa yang diletakkan dalam bejana yang akan digunakan sebagai simbol untuk memandikan calon pengantin.



...


Upacara siraman merupakan prosesi dari rangkaian pada pernikahan adat Jawa. Siraman selalu dilakukan sebelum mengawali proses periasan pengantin. Dalam upacara ini, terdapat banyak makna serta simbolis yang berisikan makna kehidupan bagi pasangan pengantin. Siraman secara harfiah memiliki arti "mengguyur".Siraman dilakukan sebagai simbol pembersihan lahir dan batin, serta pembersihan dari segala noda di masa lalu. Dengan begini sang calon pengantin akan kembali bersih dan siap memasuki lembar baru dalam kehidupan mereka.


Pada waktu ini diyakini sebagai saat ketika bidadari turun ke bumi untuk mandi. Tujuannya agar pengantin membawa kesan cantik pada saat ijab qobul nanti, tentu sangatlah tepat apabila proses "mandi" atau siraman dari pasangan pengantin tersebut dilakukan bersamaan dengan para bidadari.


Sementara Lintang, dia belum diperbolehkan keluar dari kamarnya sampai nanti acara midodareni dimulai. Ini merupakan kesempatan baik baginya, dengan begitu dia bisa leluasa ngobrol dengan Gabby melalui ponsel. Namun apa yang terjadi? Justru dia kesulitan menghubungi dokter cintanya itu. Lintang mendapati ponselnya sudah dipenuhi dengan nama Gabby. Mulai dari VC, panggilan suara, juga pesan singkat yang dikirim oleh Gabby. Sekarang saat Lintang ada waktu untuk menghubunginya, justru nomor Gabby yang tidak aktif. Biarlah... kita tinggalkan Lintang dengan segala kecemasan di kamarnya.


Kembali pada Gendhis yang sudah keluar dari kamarnya dengan beberapa orang gadis cantik yang menjemputnya untuk dibawa ke dekorasi tempat dilaksanakannya acara siraman.


Semantara mobil Gala... tampak sudah memasuki area parkir halaman resepsi pernikahan. Tamu istimewa itu disambut dengan hangat oleh segenap keluarga Pak Argo juga Pak Ratno.


Rombongan Gala bersama Pak Kades pun dipersilakan untuk duduk di tempat istimewa yang tidak terlalu jauh dengan acara siraman. Sambil bersenda gurau, mereka pun menikmati segala hidangan yang sudah disiapkan.


Tak lama kemudian... Bak seorang bidadari... Gendhis datang bersama rombongan para gadis. Gendhis diajak untuk sungkeman pada kakek nenek, juga orang tuanya sebelum dia dibawa ke tempat dekorasi siraman. Kemudian, setelah sungkeman selesai, Gendhis duduk di sebuah kursi yang akan dipakai untuk siraman. Semua pasang mata yang hadir tertuju pada gadis cantik bak bidadari yang ada di hadapan mereka.


"Gendhis.... Apakah itu kamu?" ucap Gala lirih.


Alangkah terkejutnya ia ketika melihat gadis cantik yang sebentar lagi akan menikah itu adalah orang yang sangat ia kagumi. Ia merasakan dadanya sesak, tubuhnya panas di tengah dinginnya angin malam di Puncak Sumbing. Ia merasa semua pintu masuk ke relung hati Gendhis tertutup sudah. Harapannya seolah pupus sudah melihat Gendhis malam itu.


"Ya Allah... inikah jawaban dari semua do'a ku yang ku panjatkan untuknya?" ucap Gala dalam hati dengan pandang mata yang tak ia lepas sesaat pun pada Gendhis yang saat itu berada di singgasananya.



Bersambung episode berikutnya 😥😥


*****

__ADS_1


...Jangan lupa like, serta dukungannya buat Gendhis yaaaa... kakak semuanya 🥰🥰🥰🙏🙏...


__ADS_2