
Pukul 04.30 pagi, Gala membuka matanya. Raganya sudah terbangun, tapi hati dan jiwanya seolah masih ingin berlama-lama merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang wangi karena penuh dengan kelopak bunga mawar merah. Senyumnya mengembang sempurna ketika ia teringat momen beberapa jam lalu saat dia berusaha keras menaklukkan dinginnya tanggapan Gendhis atas hasratnya.
Dadanya yang bidang tertutup bad cover berwarna putih bersih. Gala merasa ini adalah malam terindah di sepanjang hidupnya. Bagaimana tidak, hasrat yang selama ini ia pendam ahirnya tersampaikan jua. Meski belum sepenuhnya sempurna, karena di malam ini dia gagal menerobos benteng pertahanan Gendhis yang begitu kuat. Tapi bagi Gala, ini bukan masalah serius baginya. Ia tak ingin terlalu memaksakan Gendhis apalagi sampai menyakitinya. Ia bisa mencobanya kembali di lain waktu, di mana Gendhis benar-benar telah siap dan tak ada sedikitpun rasa takut dalam hatinya.
Gala menggerakkan tangan kanannya untuk memastikan keberadaan Gendhis di sampingnya.
"Gendhis??? Kamu di mana?" Gala seperti kehilangan sebongkah mutiara saat mendapati Gendhis tak ada di sampingnya.
Gala segera bangkit lalu duduk di atas ranjang. Ia mendapati lampu kamar mandi yang menyala dan gemercik air dari dalam sana. Ia baru sadar kalau wanitanya sudah lebih awal bangun dari padanya. Ingin rasanya Gala menyusul ke sana, tapi hasrat itu kembali ia tahan. Ia tak ingin Gendhis menjadi seperti melihat momok (hantu) saat melihat Gala terlalu mengikuti hasrat tanpa menggunakan perasaan.
Ahirnya, Gala mengambil handuk kimono warna putih lalu menutupi tubuhnya dengan handuk itu. Ia berjalan ke arah pintu kamar mandi sambil menyandarkan tubuhnya di sana. Ia tak mengetuk pintu, tak jua memanggil nama Gendhis. Gala hanya berdiri seolah sedang mengantri di toilet umum.
Dari dalam kamar mandi, Gendhis sudah mengenakan pakaiannya lengkap dengan rambut yang dibungkus oleh handuk warna merah muda untuk menutupi rambutnya yang basah. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu di buka dari dalam kamar mandi. Alangkah terkejutnya Gendhis melihat laki-laki itu sudah berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya, sambil tersenyum menatapnya.
"Pak Gala...! Bikin saya terkejut... saya kira han..." ucap Gendhis spontan.
"Kamu kira aku hantu? Emang ada hantu ganteng kayak gini?" tanya Gala dengan pedenya.
Gendhis mengerutkan kedua alisnya sambil membalas tatapan Gala.
"Kenapa? Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa kamu mau aku..." ucap Gala sambil mendekatkan tubuhnya dan ingin menyentuh wajah Gendhis.
"Stopp!" ucap Gendhis membuat Gala terkejut.
"Kenapa?" tanya Gala heran.
"Bapak nggak boleh menyentuh saya sekarang." ucap Gendhis.
"Tapi kenapa? Bukankah aku suamimu? Kenapa aku tak boleh menyentuh istri ku sendiri?" Gala serius.
Dari kejauhan, sayup terdengar suara adzan, "Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
"Bapak dengar itu suara apa?" tanya Gendhis.
"Adzan subuh, lalu?" Gala balik bertanya.
__ADS_1
"Itu tandanya, kita harus segera jamaah sholat subuh. Bapak nggak boleh sentuh saya sekarang karena saya... sudah ambil air wudhu." Gendhis meledek tersenyum sambil berlari kabur meninggalkan Gala yang masih terperanjat di depan pintu kamar mandi.
"Oh... jadi gitu... awas kamu yaaa... Lihat aja nanti... aku pasti nggak akan biarin kamu lepas dari pelukan ku!" ucap Gala sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Gendhis yang mulai menggoda dengan tatapannya.
Gala pun lantas segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah menunaikan kewajiban pertama pada istrinya.
*****
...Harvard University
...
Dari Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.
Sudah hampir satu bulan semenjak kepergian Riko ke Amerika, selama itulah ia terus berjuang untuk bisa melupakan Gendhis. Sesulit apapun itu, ia harus berusaha demi kebahagiaan dua orang yang paling dekat di hatinya. Meski sampai sekarang, dia belum yakin apakah kepergiannya itu adalah pilihan terbaik untuknya, tapi setidaknya dengan menjauh dari Gendhis, itu akan mempercepat proses melupakannya.
"Dis... tolong kasih tahu aku? Bagaimana aku bisa melupakan mu? Aku sudah menjauh sejauh ini dari mu, tapi semakin aku menjauh, semakin aku sulit melupakan mu! Haruskah aku menjauh dari dunia ini untuk bisa menghentikan cintaku padamu? Ataukah, aku harus pergi dari dunia ini agar kamu bisa percaya kalau aku mencintaimu? Tapi... aku sudah berjanji kalau aku tak akan berbuat aneh-aneh lagi sama Mama." Riko berbicara sendiri di kamar apartemennya, sambil terus memandangi ponselnya saat melihat foto Gendhis.
"Mungkin di rumah ku sekarang, kamu sudah sangat bahagia dengan Kak Gala. Tapi aku?" lanjut Riko.
"Memang bukan salah mu... aku yang salah karena tak bisa membuat mu bersanding nyaman dengan ku. Jika... aku di beri kesempatan untuk hidup sekali lagi, maka aku akan memilih untuk tidak pernah bertemu dengan mu, agar aku tak harus merasakan sakit seperti yang aku rasakan sekarang." ucap Riko tak karuan.
Belum usai Riko dengan kegalauannya, tiba-tiba Bu Fina mengirimkan satu pesan singkat melalui whatsapp. Riko membukanya dan ternyata adalah sebuah foto yang dikirim oleh Bu Fina.
"Mama ngirim foto siapa?" ucap Riko setelah membuka sebuah foto gadis cantik yang tak ia kenali.
Tak lama kemudian, ada caption bertuliskan
"Riko Sayang... apa kabar? Hari ini kamu nggak nelpon Mama? Kamu nggak kangen ya?"
Saat itu juga Riko langsung menelpon Bu Fina.
__ADS_1
πRiko
"Kan baru kemarin Riko telepon...! Mah... Mama apa-apaan sih ngirim foto orang yang nggak Riko kenal? Mama mau jodohin Riko ya? Nggak perlu repot Ma, Riko bisa cari sendiri..."
πBu Fina
"Riko... dengerin Mama ngomong, itu yang fotonya Mama kirim... anaknya Bu Sofi yang sekarang juga kuliah S1 semester ahir di Harvard. Kalian kan sama-sama dari Indonesia, siapa tahu kalian bisa berteman. Riko kan di situ nggak ada keluarga?"
Riko hanya terdiam seolah dapat membaca apa yang ada dalam fikiran ibunya yang ingin melihat Riko juga bahagia dan melupakan Gendhis.
πBu Fina
"Sayang ku... ganteng ku... Berteman kan sah-sah saja. Kamu jangan salah faham gitu dong... Siapa tahu kalian bisa jadi teman baik dan..."
πRiko
"Dan apa, Ma? Jangan bilang kalau Mama pengen ahirnya Riko nikah dengan dia. Riko masih nyaman seperti ini. Makasih Mama udah perhatian sama Riko. Assalamu'alaikum...."
πBu Fina
"Riko...!! Riko...!!! Sayang....? Waalaikumsalam..."
Bu Fina pasrah setelah mendapati Riko menutup teleponnya. Dia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Gimana, Ma?" tanya Pak Hari yang saat itu duduk tak jauh dari Bu Fina di kamarnya.
Bu Fina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya serasa pasrah dengan keinginan si bungsu.
"Mama yang sabar... mungkin kita terlalu cepat mencarikan pengganti Gendhis untuk Riko. Semua butuh proses, Ma...! Mama kan tahu, Riko suka sama Gendhis sudah sejak SMA. Udah berapa tahun coba? Dan... ini baru berapa hari usai pernikahan Gala dengan Gendhis? Mungkin Riko butuh waktu! Selain berusaha... kita do'akan saja, agar Riko bisa membuka hatinya untuk orang lain." Pak Hari coba meyakinkan istrinya yang masih gundah.
"Iyaaa..., Pa..." jawab Bu Fina sedikit lebih baik usai mendengarkan perkataan suaminya. Mereka berharap, Riko akan segera menemukan gadis yang tepat sesuai dengan keinginannya.
*****
...Hayyyy kakak.... maaf ya, othor telat up nya karena lagi banyak kerjaan π€π€π€...
__ADS_1
...Terimakasih sudah menunggu. Jangan lupa komentar serta dukungannya.... π₯°π₯°π₯°πππ...