
Waktu berlalu, hari berganti terasa bagitu cepat. Tapi kalimat itu seolah tak berlaku bagi Gala. Laki-laki yang menantikan hari istimewa itu merasa sehari bagaikan setahun. Meski sesibuk apapun Gala beraktivitas, tapi baginya semua itu terasa lambat. Padahal hari lamaran semakin dekat, yaitu besok siang.
Semenjak malam di mana Gala meminta izin untuk melamar Gendhis beberapa hari lalu, ia malah semakin jarang bertemu dengan Gendhis di kampus. Hal itu karena jadwal mata kuliah Gala di kelasnya Gendhis memang tak ada. Jadi mereka paling hanya bertemu sekilas saat di parkiran atau di masjid kampus. Meski demikian, Gala ikhlas karena insya Allah tak lama lagi gadis itu akan segera ia miliki seutuhnya.
Sore itu, Bu Fina memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Tak lama kemudian, di belakangnya ada satu mobil juga ikut berhenti di kediaman Bapak Hari Susilo. Gala melihat dari balkon lantai dua depan kamarnya. Dari sana ia melihat Bu Fina turun dari mobil lalu berbicara dengan dua orang laki-laki dan perempuan yang turun dari mobilnya.
"Sini, Mbak... bawa masuk lewat sini aja!" pinta Bu Fina.
"Baik..., Bu..." jawab wanita muda itu.
Sambil mengamati, Gala masih penasaran sebenarnya apa yang sudah di borong oleh ibunya, hingga ia meminta orang untuk mengantarkannya ke rumah. Setelah beberapa saat wanita itu membuka mobilnya, ternyata yang diborong oleh Bu DPR itu adalah beraneka macam seserahan yang akan di bawa ke rumah Gendhis.
Dari balkon Gala melihat betapa detailnya Bu Fina memikirkan hal yang bahkan tak terfikir oleh putranya. Jelaslah, karena sesama wanita tentulah Bu Fina memahami apa yang dibutuhkan calon pengantin baru. Mulai dari seserahan wajib yaitu seperangkat alat sholat, makeup lengkap, perlengkapan mandi, sandal, sepatu, baju sarimbit, jilbab, hingga pakaian dalam 🤭, juga cincin tunangan dan satu set perhiasan. Tak hanya itu, ternyata untuk besok siang, Bu Fina juga sudah memesan berbagai macam catering juga percel buah yang akan mereka bawa ke rumah calon besan.
Bu Fina dan Pak Hari sudah lama menunggu momen itu, jadi sebisa mungkin ia tak ingin ada satu pun yang terlewatkan.
Seusai membawa semua pesanan Bu Fina ke ruang tamu, petugas wedding organizer itupun pergi meninggalkan rumah.
"Masya Allah... Mama... banyak sekali belanjanya, Ma?" mata Gala terbelalak menyaksikan berbagai macam bingkisan yang rapi dan mewah itu memenuhi hampir seisi ruang tamu.
"Gala... ini belum seberapa. Ibu cuma beli yang menurut ibu penting. Tapi misal Gendhis butuh sesuatu, tinggal bilang kamu. Nanti mama carikan setelah acara lamaran. Soalnya waktunya udah mepet banget." jawab Bu Fina yang ingin acara pertunangan dan lamaran putranya terlaksana dengan sempurna.
"Mama... Gala yakin, jika ditanya Gendhis tak mungkin meminta lebih. Dia itu gadis yang sederhana dan tak suka merepotkan orang lain." jelas Gala.
"Oh... ya? Sepertinya anak mama ini sudah tahu persis seperti apa gadis yang ia pilih." ucapan Bu Fina menggoda.
Gala hanya tersenyum simpul. Ia ingat betul malam di mana Gendhis sedang jatuh tersungkur dengan berlinang air mata saat tiba-tiba Gabby datang di malam pesta pernikahannya dengan Lintang. Gala juga ingat betul kalau saat itu ia yakin bahwa suatu saat, dia lah yang akan menghapus air mata Gendhis. Meski Gala tahu saat ini dia belum bisa menggantikan posisi Lintang di hati Gendhis, tapi ia tak akan menyerah hingga gadis itu lupa bahwa dulu dia pernah meneteskan air mata kesediaanya untuk Lintang.
*****
Keesokan harinya, semua anggota keluarga Pak Hari bangun lebih awal dari biasanya. Itu karena banyak sekali yang harus mereka persiapkan menjelang pertunangan Gala. Layaknya calon mempelai laki-laki yang akan melamar gadis pujaannya, Gala pun sudah mempersiapkan segala sesuatu termasuk pakaian yang akan ia kenakan siang nanti.
Saat Gala duduk termangu di kamar sambil membayangkan cantiknya wajah Gendhis ketika nanti dia akan bertemu membuat dirinya seperti orang yang kasmaran, tersenyum-senyum sendiri. Hingga Gala terkejut ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Segera ia lihat siapa yang telah mengusik lamunannya. Ketika ia melihat nama "My Little Gravity" di ponselnya, tanpa fikir panjang Gala pun mengangkat telepon itu.
👇Gala
"Assalamu'alaikum..., iya Dis, gimana?"
👇Gendhis
__ADS_1
"Waalaikumsalam..., Pak Gala, maaf mengganggu. Saya cuma mau menyampaikan pesan dari Bapak Ibu."
👇Gala
"Pesan apa? Katakan saja..."
👇Gendhis
"Maaf..., Pak. Kata Bapak... sesuai dengan tradisi yang ada di kampung sini saat mau lamaran atau tunangan, calon mempelai... eemm... maksud saya, Pak Gala... tidak diperkenankan untuk ikut dalam acara tersebut, tetapi diwakilkan oleh orang tua, saudara, atau yang diberikan kepercayaan khusus untuk menyampaikan lamaran itu."
Ucapan Gendhis seketika membuat wajah Gala memucat, bukan karena acara lamaran gagal, tapi karena harapannya untuk bertemu dengan Gendhis siang nanti harus pupus karena tradisi itu. Tapi karena Gala adalah pria dewasa yang bijaksana, sebisa mungkin ia berusaha menerima keputusan itu dengan lapang dada.
👇Gala
"Ohh... seperti itu? Yaaa... ya nggak papa sih. Aku ikut saja semua tradisi yang berlaku di situ." jawab Gala datar. Ada nada kecewa dari suaranya.
👇Gendhis
"Terimakasih, Pak untuk pengertiannya. Cuma itu yang mau saya sampaikan, Asss..."
👇Gala
"Ehh... eh... Dis... tunggu!"
👇Gendhis
"Iya... Pak, ada apa?"
👇Gala
"Eeemm... apa semuanya sudah siap?"
👇Gendhis
"Insya Allah... semampu yang kami bisa."
👇Gala
"Lalu, bagaimana orang tua ku akan menemukan rumah mu? Maksudku, emm... mereka kan belum pernah ke sana takutnya mereka... nyasar gitu. Repot ntar kalau yang mereka lamar ternyata salah dan bukan kamu... aku... aku... bisa... hancur kalau... harus menikah dengan gadis selain kamu..."
__ADS_1
Gendhis tersenyum kecil mendengar alasan Gala yang tak masuk akal dan terkesan mengada-ada. Untuk pertama kalinya Gendhis mendengar dosen yang selama ini terlihat berwibawa di hadapan semua mahasiswanya, sekarang sedang berubah jadi laki-laki manja yang gemar mencari alasan.
👇Gendhis
"Pak Galaaa... saya yakin ayah ibu Pak Gala nggak mungkin se sulit itu ya menemukan alamat saya. Bapak tinggal kasih alamat lengkap rumah saya, mudah kan? Bahkan lebih mudah dari pada harus menjawab soal mata kuliah Bapak saat di kelas."
👇 Gala
"Yaaa... iya juga sih..."
👇Gendhis
"Kalau gitu, saya tutup teleponnya sekarang. Assalamu'alaikum..."
👇Gala
"Waalaikumsalam...."
"Yah... di tutup teleponnya? Gendhis... Gendhis... seperti itu lah kamu. Sulit ditebak... tapi aku suka!" Gala berbicara sendiri usai Gendhis menutup teleponnya.
*****
Setelah melalui perjalanan yang cukup membuat hati Pak Hari dan Bu Fina terpesona karena keindahan alamnya, ahirnya sampailah mereka bersama dua mobil lainnya yaitu rombongan keluarga Pak Hari yang ikut dalam acara lamaran. Mereka memarkirkan ketiga mobil tersebut di depan halaman rumah Lintang, karena halaman rumah Gendhis sudah dipenuhi dengan tenda untuk menyambut kedatangan keluarga Gala. Meski tak semewah saat acara pertunangannya dengan Lintang dulu, tapi Pak Ratno dan Bu Sari berharap ini menjadi pertunangan terakhir untuk putri mereka. Bukan karena tak mampu, tapi inilah permintaan Gendhis. Ia ingin acara pertunangan diadakan sesederhana mungkin.
Terlihat beberapa orang telah bersiap menyambut kedatangan keluarga Gala, termasuk Pak Argo dan Bu Parti, orang tua Lintang. Tak kalah bahagianya mereka menyambut hari bahagia ini. Ia menaruh harapan begitu besar pada Gala juga keluarganya agar bisa membahagiakan Gendhis.
Setelah semua yang hadir siap, acara pertunangan pun dimulai.
"Bapak dan juga Ibu, kita sudah berbicara mengenai banyak hal. Termasuk restu dari Bapak dan juga Ibu atas pinangan anak kami Manggala Kresna untuk putri Bapak. Sekarang... apakah kami bisa bertemu dengan calon menantu kami?" ucap pak Hari. Baik ia maupun istrinya juga rombongan keluarganya sepertinya sudah tidak sabar lagi melihat seperti apa mahasiswi istimewa pilihan sang dosen tampan, Gala...
"Oh... tentu saja, Pak... Bu... sebentar, istri saya akan memanggil putri kami." ucap Pak Ratno.
Pak Ratno pun meminta istrinya untuk memanggil Gendhis seusai dirias.
Di tengah-tengah acara, Bu Sari dan Bu Parti ahirnya membawa keluar Gendhis dari kamarnya seusai di rias. Seperti biasa, aura kecantikan alami Gendhis selalu dapat memukau hati setiap mata yang memandangnya. Dengan dibalut gaun muslimah berwarna putih, Gendhis berjalan menunduk menemui semua tamu yang hadir. Ketika sampai di hadapan Bu Fina yang sedang duduk di kursi tamu, segera Gendhis membungkukkan kaki dan badannya lalu mencium tangan Bu Fina dengan penuh rasa hormat. Alangkah takjubnya wanita paruh baya itu melihat calon menantunya.
"Subhanallah.... cantik sekali kamu, Nak. Pantas saja selama ini Gala selalu menolak dipilihkan gadis untuknya. Ternyata gadis pilihannya begitu cantik bagaikan bidadari. Semoga kamu bahagia... Nak..." ucap Bu Fina penuh rasa syukur sambil memegang dagu Gendhis lantas memeluknya dengan sangat hangat. Gendhis lalu duduk di samping Bu Fina untuk menunggu acara selanjutnya dalam prosesi lamaran.
__ADS_1
*****
...Acara tunangan lanjut di episode selanjutnya ya kakak.... terimakasih 🥰🥰🥰🙏🙏🙏...