Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Banyu Langit


__ADS_3

Hujan deras masih mengguyur Magelang Kota Sejuta Bunga. Angin berhembus sangat kencang, hingga pepohonan bergoyang mengerikan. Sesekali suara petir menggelegar. Kilat menyambar memancarkan sinar putih di atas langit. Gendhis bersama dengan beberapa orang mahasiswa juga civitas akademika Untidar lainnya nampak masih setia menunggu banyu langit itu berhenti menetes, agar mereka bisa segera kembali ke rumah. Namun apa hendak dikata, semakin sore, hujan malah semakin deras.


Gendhis bahkan tak dapat membayangkan, bagaimana dia harus pulang naik motor seorang diri ke puncak Sumbing, melewati jalan lereng Sumbing yang menanjak dengan banyak pepohonan rindang di tepi jalan. Dan yang paling extrem adalah kabut tebal sudah pasti menghalangi jarak pandang.


"Kalau saja tadi aku tak jadi bimbingan dengan Pak Dosen yang lagi asyik jalan-jalan sama Bu Evi itu lalu menggantikannya dengan esok hari, pasti sekarang aku sudah bisa istirahat dengan tenang di kamar. Bukannya masih di kampus seperti sekarang ini." ucap Gendhis.


"Hhhuuufff.... astaghfirullah hal adzim... tetap berfikir positif Gendhis, nggak boleh ngedumel apalagi sampai menyalahkan ketentuanNya. Ambil positifnya aja... karena semua pasti ada hikmahnya." Gendhis berbicara sendiri sambil berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada tiang besar penyangga di depan ruang TU.


"Kamu bicara apa?" tiba-tiba suara Gala mengejutkan Gendhis dari sisi sebelah tiang yang sama yang dijadikan tempat bersandar oleh Gendhis.


"Pak, Gala? Bapak ngapain di sini? Atau jangan-jangan Bapak menguping ucapan saya barusan ya?" Gendhis balik bertanya sambil melihat ke arah Gala yang juga sudah berdiri di samping tiang itu sambil melipat kedua tangannya.


Gala tersenyum dengan pertanyaan Gendhis sambil berkata, "Aku menguping? Kenapa harus gitu? Kamu aja ngomonya keras banget kok."


"Upppsss...!" Gendhis menutup mulutnya sendiri dengan jari kanannya.


"Waduh... jangan-jangan dia denger aku barusan ngedumelin dia?" ucap Gendhis dalam hati.


"Kenapa? Atau... jangan-jangan... kamu yang lagi ngomongin aku ya?" tebakan Gala yang tak meleset itu serentak membuat rona di wajah Gendhis jadi memerah.


"Siapa yang lagi ngomongin Bapak? Pak Gala ke PeDe-an ah...! Saya cuma..." ucapan Gendhis terputus.


"Cuma apa?" tanya Gala.


Gendhis hanya terdiam karena entah dari mana datangnya laki-laki itu tiba-tiba saja muncul di sana.


"Gendhis... aku sama Bu Evi tadi nggak habis jalan-jalan... Kami pergi karena ada urusan kampus untuk survei lokasi baksos untuk adik-adik tingkat kamu bersama dengan beberapa anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Jadi... maaf kalau tadi sudah buat kamu lama menunggu. Bu Evi... sudah bertunangan... jadi aku nggak mungkin berani macem-macem. Apa sekarang kamu sudah nggak ngambek lagi?" ucap Gala lembut. Ia seolah dapat menebak apa yang ada dalam hati Gendhis meski tak diucapkan. Satu yang belum bisa Gala tebak hanyalah cintanya.


Mendengar ucapan lembut dari dosen tampan itu, semakin membuat Gendhis salah tingkah. Rona di pipinya tak dapat menyembunyikan rasa malu dan sungkannya karena tadi sudah sempat ber suudzon dengan kepergian Gala bersama dengan Bu Evi.


"Gimana? Masih marah?" pertanyaan Gala semakin membuat Gendhis merasa bersalah.


"Saya mana berani marah sama Bapak... Pak Gala mau pergi dengan siapa pun itu haknya Bapak." jawab Gendhis karena sudah mentok nggak tahu harus jawab apa setelah Gala berhasil menebak isi hatinya.

__ADS_1


"Oh ya? Apa benar begitu?" tanya Gala.


"Tentu saja...!" jawab Gendhis singkat.


"Padahal aku berharap tak seperti itu...! Okeyy... sebagai gantinya... karena sudah bikin kamu terjebak hujan deras di kampus... mau aku anterin pulang?" ucap Gala.


"Nggak usah, Pak... makasih..." jawab Gendhis.


"Kenapa? Hujan masih deras, mana tega aku biarin kamu pulang sendirian." Gala khawatir.


"Terimakasih, Pak... Tapi saya sudah biasa pulang sendiri. Saya tunggu sampai hujan reda saja." Gendhis menolak tawaran baik Gala.


"Kamu yakin?" Gala memastikan.


"Tentu saja! Lagi pula... apa kata dunia nanti kalau saya pulang berdua dengan Pak Gala dalam satu mobil. Apa Bapak nggak lihat di sini banyak orang dan apa Bapak nggak sadar? Dengan berdirinya Pak Gala di sini, itu sudah membuat banyak pasang mata mengamati kita. Apa Bapak nggak takut, kalau citra Pak Gala di hadapan para gadis di kampus kita jadi turun karena hal ini? Apa Pak Gala siap kehilangan fans-fansnya Bapak di kampus ini?" ucap Gendhis.


"Kamu ngomong apa sih, Dis... aku nggak butuh fans-fans apa lah seperti yang kamu bilang. Buat apa dikagumi banyak gadis, kalau gadis yang aku kagumi saja tidak mau membuka hatinya." sindir Gala.


Gendhis pura-pura tidak mengerti maksud ucapan Gala, padahal ia tahu persis siapa yang sedang ia bicarakan itu.


"Pak Gala... terimakasih banyak untuk waktunya. Sepertinya hujan mulai reda, saya pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum..." pamit Gendhis.


"Waalaikumsalam... ya udah... hati-hati ya..." pesan Gala khawatir.


Gala biarkan saja gadis itu pergi berjalan meninggalkannya menuju tempat parkir sepeda motor mahasiswa. Susahnya... minta ampun nakhlukin hati gadis satu ini. Coba aja bukan Gendhis tapi gadis lain, bukannya nolak... pasti malah dia minta dianterin pulang. Kapan lagi dapet kesempatan dianter pulang sama dosen tampan dan macho itu.


"Gendhis... asal kamu tahu. Aku tak akan mengulang tuk meminta apa lagi memaksa mu menjadi istriku. Karena kelak jika kamu telah membuka hatimu untuk ku, maka kamu sendiri yang akan datang padaku. Dan aku akan selalu sabar menunggu saat itu tiba." ucap Gala lirih sambil terus mengamati Gendhis hingga ia tak nampak lagi dari pandangan matanya.


*****


Hujan mulai reda. Gala menghidupkan mesin mobil untuk pulang ke rumahnya. Ia melaju dengan pelan karena usai hujan lebat, jalanan menjadi sangat licin. Ketika berjalan kurang lebih satu kilometer dari arah kampus, mobil Gala tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Ia mendapati Gendhis sedang berhenti di sana sambil menelpon entah siapa. Ahirnya Gala pun turun dari mobil untuk memastikan apakah Gendhis baik-baik saja.


"Kamu masih di sini, Dis? Apa ada masalah?" tanya Gala sesaat setelah Gendhis menutup teleponnya.

__ADS_1


"Iya... saya baru saja telepon Bapak saya di rumah agar tidak panik karena biasanya jam segini saya sudah pulang. Motor saya tiba-tiba mogok entah kenapa..." jawab Gendhis panik.


"Coba saya lihat." ucap Gala sambil mengecek kondisi motor Gendhis. Berkali-kali dihidupkan tetapi tidak bisa nyala. Di cek bahan bakar masih penuh, dan sepertinya tidak ada masalah tapi tetap saja motor itu tak bisa dihidupkan. Eeemmm... sepertinya do'a Gala untuk mengantarkan Gendhis pulang bakal terkabul ini 🤭.


"Gimana, Pak?" tanya Gendhis panik.


"Nggak bisa, Dis... gini aja... kalau jam segini kan bengkel udah hampir tutup. Aku telepon bengkel langganan ku, biar nanti dia yang ambil motor kamu ke sini." ucap Gala.


"Terus saya pulangnya gimana dong, Pak?" tanya Gendhis seolah tak tahu maksud perkataan Gala.


"Ya aku anterin pulang lah... masa aku biarin kamu pulang sendirian? Lagian nggak mungkin juga kan, malem-malem kamu nungguin motor kamu di bengkel." jelas Gala.


"Tapi, Pak..." Gendhis masih saja coba menawar.


"Gendhis.... udah deh... jangan ngeles lagi. ini udah sore. Kamu mau pulang nggak?" tanya Gala.


"Ya pulang lah... Pak." jawabnya.


"Ya udah buruan naik mobil ku. Motor kamu aman!" Gala memastikan.


Gadis itu masih saja diam seribu bahasa seolah masih mengharap ada pilihan lain selain diantarkan pulang oleh sang dosen tampan.


"Gendhis... buruan, bentar lagi magrib. Kamu nggak usah khawatir... aku nggak bakal macem-macem, dan aku pastikan kamu sampai rumah tanpa kurang sehelai rambut pun. Gendhis? Gendhis? Kamu di mana?" Gala menengok kekanan dan ke kiri untuk memastikan keberadaan Gendhis. Rupanya Gala harus berusaha lebih giat lagi untuk membujuk Gendhis agar mau ikut pulang dengan mobilnya hingga ia tak menyadari kemana Gendhis pergi.


"Pak Dosen... ayo pulang, sebentar lagi magrib!" ucap Gendhis.


Tanpa Gala sadari gadis itu rupanya sudah berada dalam mobil Gala dan duduk di kursi depan.


Gala tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dan berkata lirih, "Astaghfirullah hal adzim... Gendhis. Kamu bikin jantungku mau copot. Ku kira kamu lari karena ketakutan mau aku anterin pulang."


Laki-laki tampan dan macho itu pun ahirnya masuk ke dalam mobil lantas segera menyalakan mesin mobilnya untuk mengantarkan sang tuan putri kembali ke istananya.


*****

__ADS_1


...Terimakasih kakak, tetap setia menunggu di sini. Jangan lupa dukungan serta komentarnya yaaa... biar othor makin semangat 🤗...


...Kemarin yang request Gala agar nganterin Gendhis pulang boleh tersenyum yaaa... karena permintaan sudah dikabulkan 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2