
Sesuai janjinya, siang ini Riko akan mengembalikan dompet Shaza yang ia temukan kemarin. Mereka sudah janjian untuk bertemu di sebuah kedai yang tak jauh dari kampus mereka. Riko datang lebih awal. Ia memesan minuman lalu duduk di sebuah kursi.
Saat tengah asyik memainkan poselnya sambil angannya menerawang jauh pada gadis yang selalu ia impikan. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara lembut menyapanya, "Assalamu'alaikum..."
Riko terkejut dan tanpa pikir panjang, ia langsung menoleh ke belakang sambil menyebut sebuah nama, "Gendhis???"
"Waalaikumsalam..., maaf... ku kira?"Riko terbelalak dan seketika segera mengalihkan suasana karena ternyata yang ia dapati adalah Shaza sedang berdiri di sana.
"Maaf sudah mengejutkan Kak Riko. Apa... Kak Riko juga sedang menunggu seseorang?" tanya Shaza setelah ia mendengar Riko menyebut nama seseorang.
"Oh... enggak... aku, cuma sedang...? Sudah lupain aja!" Riko tak jadi melanjutkan ucapannya.
"Boleh saya duduk?" tanya Shaza.
"Duduklah... Mau aku pesankan minum? servant... come here!" panggil Riko.
"Oh... nggak usah Kak. Makasih..." Shaza menolak.
"Nggak papa! Aku yang traktir." ucap Riko.
"Makasih... Kak... tapi... aku sedang puasa!" jawab Shaza sungkan. Selain cantik, Shaza juga rajin berpuasa.
"Oh... Sorry..." ucap Riko ahirnya merasa bersalah.
"Ternyata nggak semua orang yang hidup di Amerika menjalani hidup bebas. Buktinya gadis ini. Dia tidak malu berhijab bahkan juga berpuasa di tengah hingar bingar orang hidup di Amerika. Prinsipnya kuat, seperti Gendhis. Bahkan sekilas... seperti aku sedang berhadapan dengan Gendhis saat melihat dan mendengar suaranya. Ya Allah... kenapa Gendhis ada di mana-mana?" bathin Riko.
"Kak... Kak Riko???" panggil Shaza memecahkan lamunan Riko.
"Oh... ya... sampai mana kita tadi?" jawab Riko gugup.
"Belum sampai kemana-mana, Kak.... dari tadi kita masih di sini. Apa... Kak Riko sedang ada masalah? Maaf... kepo. Cuma... kalau aku perhatiin kayaknya, Kak Riko lagi ngelamun?" tanya Shaza.
"Kalau pun ada... itu bukan urusan kamu." Riko merasa tak ingin ada yang mengungkit masa lalunya di sini. Jadi, ia merasa sensitif saat ada yang coba mengulik masalah pribadinya.
Mendengar jawaban Riko membuat Shaza sedikit tersulut emosi, ditanya baik-baik, tapi jawabnya ketus gitu. Untunglah, hari itu dia sedang berpuasa, jadi sebisa mungkin ia tahan emosinya. Apalagi karena alasan hutang budi itulah dia mencari Riko. Kalau enggak... males banget dia berurusan sama cowok yang sok keren juga jutek itu.
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu lancang. Tak ada untungnya juga buat ku untuk tahu urusan pribadi Kak Riko. Aku kesini cuma mau ambil dompet ku!" jawab Shaza.
Riko lantas mengambil dompet Shaza dari tasnya. "Ini dompet kamu..." ucap Riko sambil mengulurkan dompet itu.
Dengan sigap Shaza mengambilnya sambil berkata, "Entah dengan apa aku harus membalas hutang budiku. Aku harap bisa ku selesaikan sekarang supaya kita tidak perlu bertemu lagi. Katakanlah!!!"
"Tak ada yang perlu dibalas. Aku cuma melakukan kewajiban ku menolong sesama. Aku yakin orang lain juga akan bertindak sama saat melihat seorang wanita sedang membutuhkan pertolongan." jawab Riko.
"Baguslah... jadi kuharap aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan laki-laki angkuh seperti mu! Assalamu'alaikum..." Shaza bangkit dan membawa dompet itu lantas segera pergi meninggalkan Riko.
"Waalaikumsalam..." jawab Riko setelah Shaza berlalu pergi.
"Bbbaaahhh...!" Riko memukul meja dengan tangannya sendiri, membuat semua yang ada di sana menoleh kearahnya.
"Riko... Riko... kenapa kamu jadi cowok kejam banget sih sekarang? Apa salah wanita itu hingga kau lampiaskan kemarahan mu padanya? Apa cuma karena wanita itu mengingatkan mu pada Gendhis? Kamu nggak adil Riko... itu masalah mu sendiri...! Bahkan gadis itu tak ada hubungannya apa pun dengan masa lalumu." Riko berbicara sendiri hingga membuat orang yang melihatnya merasa Riko seperti orang yang sedang depresi tingkat akut.
*****
Masih suasana honeymoon di kamar Amanjiwo Resort. Tak ada yang mengalahkan kebahagiaan pasangan pengantin baru itu. Dunia seolah milik berdua dan yang lain cuma ngontrak. Satu minggu ini Gala bisa ambil cuti karena urusan akreditasi usai sudah. Jadi mereka bisa menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu.
"Mas Gala... udah bangun? Apa aku kesiangan?" tanya Gendhis hendak bangkit dari tidurnya.
Gala tersenyum bahagia, hari ini untuk pertama kalinya Gendhis memanggilnya dengan sebutan itu tanpa dia paksa sedikitpun. Itu artinya Gendhis memang benar-benar telah menerima cinta dan dirinya seutuhnya.
"Eh... nggak usah bangun, kamu tidur lagi aja. Ini masih malem kok!" ucap Gala sambil mencegah Gendhis untuk bangun. Laki-laki itu sudah hampir satu jam terjaga. Tak ada aktivitas lain selain memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Sambil sesekali merapikan rambut depan yang menutupi sedikit wajahnya, membelai rambutnya juga mengecup keningnya. Gala tak ingin mengganggu waktu istirahat Gendhis.
"Lalu? Mas Gala kenapa nggak tidur lagi kalau masih malam? Kita tahajud yukkk..." ajak Gendhis.
Gala menganggukkan kepalanya. Gendhis ahirnya bangun dan bersiap hendak ke kamar mandi. Gala mengikutinya di belakang.
"Loh... Mas Gala mau kemana?" tanya Gendhis.
"Mau ikut kamu lah... emang nggak boleh?" jawab Gala
"Nggak... bo... leh..." jawab Gendhis menggoda.
__ADS_1
"Oh ya??? Siapa yang nggak ngebolehin?" tanya Gala.
"Aku..." kata Gendhis.
"Oh... gitu... ya udah sana mandi sendiri..." ucap Gala merajuk.
"Cie... cie... emang Mas Dosen bisa ngambek juga ya?" tanya Gendhis menggoda.
Gala diam saja dengan mulut manyun.
"Ya udah, ngambek aja nggak papa kok! Saya mandi duluan..." Gendhis berjalan tanpa mempedulikan suaminya yang tengah merajuk minta diperhatikan.
Karena gregetan tak mendapat respon dari istrinya, laki-laki itu lantas bergegas menyusul Gendhis dan tiba-tiba saja memeluk erat Gendhis dari belakang, membuat kakinya sulit untuk melangkah.
Gendhis berhenti. Ia tak bisa melanjutkan kakinya untuk melangkah ketika Gala memeluknya dan tangannya mulai menyapu setiap lekuk tubuh Gendhis tanpa sisa. Apa lagi lingerie pemberian Gala yang ia pakai saat itu sangat tipis hingga menempel ke kulitnya. Jantungnya berdetak menjadi sangat kencang.
"Kamu mau melarikan diri Nyonya Manggala Kresna? Coba aja kalau kamu berani... sama dosen kamu ini... hhemmm?" ucap Gala mesra di telinga Gendhis.
Serentak tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut Gendhis, selain menikmati perlakuan lembut suaminya itu. Tubuhnya mulai panas dingin ketika jemari Gala menyapu sesuatu yang paling berharga dalam hidup Gendhis. Mau tak mau, dia ikuti kembali permintaan suaminya. Dia penuhilah kewajibannya sebagai istri Gala hingga hampir fajar.
Setelah selesai, Gendhis masih terbaring dalam pelukan Gala.
"Aku sudah penuhi kewajiban ku pada mu, Suamiku... sekarang... bolehkah aku pergi mandi? Sebentar lagi waktu subuh. Jadi hilang deh, kesempatan dua rakaat di sepertiga malam terakhir hari ini..." ucap Gendhis.
"Dua rakaat di sepertiga malam terakhir itu kan sunah hukumnya, tapi... menuruti keinginan suami itu bukan kah kewajiban, Sayang?" sindiran Gala lembut di telinga Gendhis.
"Iya deh... saya mengaku kalah, Mas Dosen Gala tersayang.... Sekarang... ridho kah kamu jika aku pergi ke kamar mandi?" tanya Gendhis mengulang.
"Tentu... pergilah... jangan lama-lama yaaa..." ucap Gala manja.
Gendhis hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang pengennya dekat terus. Ditinggal bentar aja udah rewelnya minta ampun. Tapi itulah suaminya, saat tertentu bisa jadi sosok yang dewasa, bijaksana, tegas dan karismatik. Tapi kalau manjanya lagi kumat ya gitu... nggak mau ditinggal, dan kalau sedang menginginkan Gendhis... maka saat itu juga dia harus siap, tak mau ditunda meski semenit saja. Alasannya selalu sama, istri wajib mengikuti permintaan suaminya selama itu tidak memberatkan dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Ahirnya ya, Gendhis tak ada jawaban lain selain ikhlas penuh cinta mengikuti setiap keinginan suaminya.
*****
...Hayyy kakak... komentar dan dukungannya jangan lupa yaaa... terimakasih 🤗🤗🥰🥰🥰🙏🙏🙏...
__ADS_1