
"Itu kan Gendhis? Sedang apa dia di sini? Dan... siapa laki-laki yang sedang bersama Gendhis itu? Aku belum pernah melihatnya." ucap Lintang dalam hati.
Lintang menghentikan mobilnya di tepian jalan. Ladang itu memang berdekatan dengan obyek wisata Silancur Highland, jadi begitu banyak kendaraan wisatawan berlalu lalang, sehingga Gendhis tidak menyadari kalau ternyata mobil Lintang sudah berhenti di tepian jalan.
Ketika hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba suara handphonenya berdering.
Segera diangkatlah telepon itu ketika ia tahu Gabby menghubunginya melalui vcall.
"Sayang... kamu kemana aja sih, aku teleponin dari tadi nggak diangkat?" wajah Gabby yang manja itu muncul dari dalam ponsel.
Lintang urung turun dari dalam mobil, karena Gabby tiba-tiba muncul dengan VC nya. Bisa gawat nanti kalau ketahuan.
"Maaf sayang... kamu kan tahu di sini sinyalnya susah banget. Dan aku juga jarang main hp kalau lagi di rumah. Soalnya, mumpung masih liburan, aku harus banyak bantu Bapak di rumah. Maaf ya sayang..." ucap Lintang berusaha menyembunyikan kebenaran.
"Iya... tapi kan kamu bisa kabarin aku kalau kamu lagi sibuk, biar aku nggak kepikiran kamu terus. Lagian, udah lama banget kan kita nggak ketemu, sejak kamu libur sampai sekarang." ucap Gabby sedikit merajuk, merasa kalau ahir-ahir ini dia jarang diperhatikan sama Lintang. Padahal komunikasi mereka biasa aja lewat ponsel, cuma memang jarang bertemu karena Lintang tengah sibuk membantu orang tuanya juga tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya.
"Iya... sayang... aku minta maaf. Soalnya, di rumah lagi mau ada acara, jadi beberapa hari ini mungkin aku agak sibuk dan jarang hubungin kamu. Tapi aku janji, begitu acara ini selesai aku pasti langsung nemuin kamu." ucap Lintang meyakinkan Gabby yang tak ingin sampai curiga.
"Beneran ya Sayang... jangan lama-lama." ucap Gabby manja.
"Iyaa... iya... Sayang..." jawab Lintang sedikit heran dengan sikap Gabby yang tiba-tiba pengen selalu diperhatikan. Padahal baru beberapa jam lalu Lintang berpamitan lewat percakapan Whatsapp kalau dia akan pergi sebentar untuk mengantar sayur.
"Ya udah, aku pergi sekarang ya, keburu pasarnya tutup." lanjut Lintang.
"Iya deh... hati-hati ya Sayang... Miss you..." ucap Gabby mesra.
"Miss you too..." jawab Lintang dan mereka pun mengakhiri percakapan itu.
Segera Lintang kembali ke tujuan awal, hendak menemui Gendhis yang beberapa menit lalu sedang terlihat bersama dengan seorang laki-laki.
Lintang menoleh ke arah di mana Gendhis bersama dengan laki-laki itu, namun ternyata keduanya sudah tidak ada di sana.
"Sial... kemana mereka? Tadi ada di situ, kenapa sekarang menghilang?" Lintang bicara sendiri dari dalam mobil.
Ia lalu turun, menengok ke kanan dan ke kiri memastikan keberadaan Gendhis. Dari kejauhan Lintang melihat Gendhis tengah bersiap untuk naik ke atas motor di mana Gala juga ada di depannya.
__ADS_1
"Oh... syukurlah, aku belum terlambat." ucapnya sambil berjalan cepat menuju tempat di mana Gendhis dan Gala hendak naik sepeda motor untuk pulang membawa sayur.
"Gendhis....!!!" panggil Lintang.
Betapa terkejutnya Gendhis melihat Lintang yang tiba-tiba sudah bediri tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Gala.
Gala pun ikut memandang lelaki yang memanggil Gendhis dengan tatapan sedikit tajam namun penuh pertanyaan.
"Siapa laki-laki yang memanggil Gendhis? Dari penampilannya, dia bukan seperti warga kampung di sini. Dia rapi, yaaa... harus diakui lumayan tampan, dan sepertinya... dari potongan rambutnya dia adalah seorang anggota TNI. Apa mungkin dia adalah tunangannya Gendhis?" ucapnya dalam hati.
Lintang pun sama herannya melihat lelaki yang sekarang bersama dengan Gendhis. Mereka terlihat akrab. Lintang paham betul Gendhis itu gadis seperti apa. Dia tidak akan mudah di dekati oleh lelaki manapun, apa lagi sebentar lagi mereka akan segera menikah.
"Siapa lelaki ini? Kenapa Gendhis seperti tidak canggung bersama dengannya? Lumayan ganteng juga sih tuh cowok... tapi... sayang, apa mau Gendhis diboncengin pakai motor butut itu." ucap Lintang.
Mereka berdua pun saling beradu pandang seolah ingin menunjukkan jati diri masing-masing.
Gendhis pun lantas berkata, "Mas Lintang? Sedang apa Mas Lintang di sini?"
Terjawab sudah pertanyaan dalam hati Gala, ketika mendengar Gendhis menyebut kata "Lintang". Iya... benar. Lelaki itu adalah tunangan Gendhis.
"Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain di sini berdua sama laki-laki itu?" tanya Lintang dengan nada sedikit tinggi.
"Dosen? Jadi lelaki dengan motor butut itu dosennya Gendhis? Masih muda dan lebih terlihat seperti seorang mahasiswa." ucap Lintang dalam hati.
"Gendhis... masuk ke mobil sekarang!" pinta Lintang.
"Apa? Tapi Gendhis harus selesaikan tugas dulu sampai selesai Mas." jawab Gendhis yang tak ingin melimpahkan tugas pada dosennya.
"Nggak papa, Dis... biar aku yang bawa tugas kamu." kata Gala.
"Ya nggak bisa gitu Pak, udah biar saya yang bawa. Ini kan tugas saya. Mari Pak..." kata Gendhis dan meminta Gala untuk segera naik ke atas motor butut itu.
Melihat Gendhis tak menggubris ucapannya, Lintang pun lantas tersulut emosi dan berkata,
"Gendhis...! Apa kamu nggak denger aku ngomong apa? Buruan masuk ke mobil..."
__ADS_1
Mendengar gadis yang ia kagumi diperlukan seperti itu sebenarnya Gala merasa tidak tega. Tapi Gendhis pasti tidak suka jika dirinya terlibat terlalu jauh dalam urusan pribadinya.
Gendhis masih terdiam tak berkata apapun.
Hingga terpaksa Lintang harus menarik lengan Gendhis, membuat Gendhis tercengir karena menahan sakit karena cengkraman Lintang terasa sangat kuat.
Gala semakin tak bisa lagi menahan ucapannya melihat perlakuan Lintang yang sedikit memaksa.
"Eh... Bung... kalau Gendhis nggak mau ya udah jangan dipaksa!" ucap Gala pada Lintang.
Lintang tersenyum sinis dan belum juga melepaskan tangan Gendhis.
"Maaf ya... Anda hanyalah dosennya Gendhis. Dan saya... adalah tunangannya. Jadi saya lebih berhak untuk menentukan, dengan siapa Gendhis akan pergi." Lintang membanggakan hubungannya di hadapan Gala.
Gala sudah mengira, jurus itu pasti yang akan ia keluarkan untuk menjemput paksa tunangannya.
"Saya tahu! Tapi bukan berarti Anda bisa berlaku kasar terhadap Gendhis. Saya dosennya, dan sekarang dia sedang ikut kegiatan kampus. Sudah jadi tanggung jawab saya untuk menjaga semua mahasiswa saya." bantah Gala.
"Oh... jadi Anda bersikeras untuk membawa pergi tunangannya saya?" tanya Gala semakin emosi.
"Bukannya saya mau bawa kabur tunangan Anda, saya hanya melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab saya." kata Gala.
"Tapi, kan..." belum selesai Lintang bicara Gendhis sudah memotong perkataannya.
"Sudah... sudah... Mas Lintang aku ikut kamu sekarang." ucap Gendhis karena tak mau pembicaraan dua lelaki itu akan semakin membuat kepalanya pusing. Ia juga tak ingin semakin banyak lagi orang yang melihat mereka beradu mulut di pinggir kawasan wisata itu.
"Okeyyy... sekarang kamu ikut aku ke mobil." ucap Lintang sambil terus menarik tangan Gendhis agar ikut ke dalam mobilnya.
"Maaf, Pak Gala... saya izin dulu. Begitu urusan saya selesai, saya akan segera kembali ke basecamp." pamit Gendhis buru-buru.
"Okey... Hati-hati... hubungi aku kalau ada masalah dengan laki-laki itu." kata Gala yang sebenarnya tidak rela melepaskan Gendhis dengan laki-laki pemarah itu.
Gendhis pun akhirnya pergi bersama Lintang dan meninggalkan Gala dengan penuh rasa cemas.
"Ohhh... tidak... Ya Allah... benar-benar sulit dipercaya. Ternyata lelaki tempramen seperti itu tunangannya Gendhis? Sungguh tidak bisa dibiarkan..." ucapnya geram, setelah melihat sendiri seperti apa lelaki yang sudah berhasil meluluhkan hati Gendhis.
__ADS_1
Hatinya semakin merasa tersiksa melihat Gendhis pergi bersama dengan tunangannya. Dan yang paling membuat hatinya tidak ikhlas, ketika tahu ternyata Lintang bisa berkata dan bersikap se kasar itu pada Gendhis.
*****