
Perlahan Shaza melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Riko meninggalkan ponselnya. Panggilan dengan nama "My Sweet" masih berdering. Tangannya bergetar saat menyentuh ponsel Riko. Ahirnya meski terkesan berani, Shaza mengangkat ponsel itu dan di dalamnya terdengar suara,
"Assalamu'alaikum..., Mas Riko... Mama meminta ku menelpon mu untuk menanyakan kabar Shaza. Apakah dia baik-baik saja? Apakah Mas Riko sudah mengantarkannya ke kampus? Dan apakah sekarang dia sedang bersama Mas Riko?"
Shaza terkejut saat mendapati bahwa pemilik nama dalam ponsel Riko adalah Gendhis, kakak ipar Riko. Dengan nada pelan, Shaza menjawab pertanyaan Gendhis,
👇Shaza
"Kak Gendhis... ini aku Shaza. Kak Riko tak sengaja meninggalkan ponselnya di apartemen. Dia sudah kembali ke hotel."
👇Gendhis
"Shaza? Ini kamu? Syukur lah, aku bisa bertanya langsung. Gimana keadaan kamu? Apakah Mas Riko mengurus keperluan mu dengan baik di situ? Kalau enggak, bilang aja... biar nanti Mama yang tegur."
👇Shaza
"Oh... nggak kok Kak, aku baik. Dan Kak Riko juga mengurus segala kebutuhan ku dengan baik di sini. Mungkin lusa, aku sudah bisa kembali ke Indonesia."
👇Gendhis
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah... nanti aku sampaikan ke Mama kalau Mas Riko sudah menjalankan seperti yang Mama minta. Kalau begitu, aku tutup teleponnya ya, Assalamu'alaikum."
👇Shaza
"Iya, Kak... Waalaikumsalam..."
Percakapan berakhir dan Shaza meletakkan ponsel Riko kembali. Ia lantas duduk di atas tempat tidur. Dalam otaknya muncul begitu banyak pertanyaan yang tak ia mengerti.
Kenapa Riko memberi nama Gendhis di ponselnya begitu manis? Kenapa Gendhis memanggil Riko dengan sebutan Mas, padahal Riko adalah adik kandung Gala suami Gendhis? Dan kenapa, tiap kali berhadapan dengan Gendhis Riko selalu berubah ekspresi. Dari yang semula dingin tiba-tiba menjadi sangat lembut? Bahkan nada bicaranya pun berbeda ketika Riko sedang berbicara dengan Gendhis dan saat bicara dengan Shaza? Sebenarnya apa hubungan Riko dengan Gendhis?
Belum usai pertanyaan itu memenuhi pikiran Shaza, tiba-tiba saja Riko datang lalu masuk ke kamarnya, seketika membuat Shaza terkejut.
"Maaf... aku cuma mau ambil ponselku yang ketinggalan." ucap Riko sembari melangkahkan kaki menuju meja di mana dia tadi meletakkan ponselnya.
Sesaat Riko membuka ponselnya dan menemukan ada panggilan tak terjawab juga panggilan masuk dari Gendhis. Betapa kecewanya dia sampai melewatkan panggilan dari Gendhis. Padahal jarang sekali wanita itu menelponnya kalau tidak ada yang memintanya.
"Tadi ada panggilan masuk?" Dengan wajah masamnya Riko bertanya pada Shaza.
"Eemm... iya... maaf... tadi aku angkat karena berkali-kali Kak Gendhis telepon. Aku fikir ada hal yang sangat penting jadi aku angkat." jawab Shaza ragu-ragu.
"Shaza... siapa yang kasih kamu hak untuk angkat ponsel ku? Apa mentang-mentang kamu adalah tunangan ku, lantas kamu bisa sesukamu mengangkat telepon milik ku?" Riko sebenarnya marah bukan karena Shaza mengangkat ponselnya, dia hanya marah pada dirinya sendiri kenapa ia sampai kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Gendhis meski hanya melalui ponsel.
"Maaf... Kak Riko... aku hanya..." ucap Shaza terputus. Nadanya mulai bergetar saat laki-laki itu berbicara dengan nada tinggi terhadapnya.
__ADS_1
"Hanya apa? Kamu ingin cari tahu masalah pribadi ku? Atau... karena kamu ingin menunjukkan kalau kamu adalah tunangan ku?" ucap Riko berapi-api.
Mendengar ucapan Riko yang semakin menjadi, Shaza pun ahirnya angkat bicara.
"Cukup!!! Tak perlu kau ajari... aku sudah tahu posisi ku. Lagi pula, gadis mana yang sanggup bertunangan apa lagi menikah dengan lelaki sombong dan angkuh seperti mu! Aku kira kamu adalah laki-laki bijaksana dan pandai menghargai wanita. Tapi ternyata aku salah besar! Terimakasih sudah menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya. Jadi aku tidak akan menyesal seumur hidupku karena harus menikah dengan laki-laki seperti mu. Permisi...!!!" ucap Shaza segera pergi dari hadapan Riko.
Shaza mengemas semua barang-barang miliknya, lantas memasukkan ke dalam tasnya. Sementara Riko, dia masih saja berdiri tanpa sadar bahwa perkataannya sudah sangat menyakitki perasaan Shaza.
"Kamu mau kemana?" tanya Riko mendapati Shaza yang hendak pergi dari apartemennya.
"Bukan urusan mu! Dan tak perlu menunggu satu tahun. Begitu sampai di Indonesia kita akan batalkan pertunangan kita. Kalau kamu mengira aku bisa kau manfaatkan untuk menyembunyikan perasaan mu pada kakak ipar mu itu, kamu salah besar." ucap Shaza tegas sambil keluar dari kamar apartemen Riko.
Riko terkejut. Dari mana Shaza tahu kalau dia masih mencintai Gendhis. Apa sebenarnya yang sudah mereka bicarakan lewat telepon tadi?
"Tunggu... Shaza!!! Berhenti..." cegah Riko tapi tak sedikitpun Shaza hiraukan ucapannya.
"Aku bilang berhenti...! Shaza..." lagi-lagi Shaza tetap melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Di luar kesadarannya, Riko berjalan mengejar Shaza dan... tiba-tiba Riko memeluk Shaza dari belakang dengan kedua tangan Shaza berada dalam cengkraman Riko. Serentak gadis terkejut dan itu membuat Shaza tak bisa melangkahkan kakinya. Dalam hitungan detik, keduanya sempat merasa nyaman dengan keadaan itu. Begitu halnya dengan Riko. Ia terlalu naif untuk mengakui bahwa sebenarnya dia juga mengagumi Shaza. Hanya saja, ia belum mau mencoba membuka hatinya.
Hingga pada ahirnya Shaza berkata, "Apakah seperti ini cara mu memperlakukan wanita? Berbicara semaunya, lantas tiba-tiba merayunya?" ucap Shaza sambil berusaha melepaskan diri dari Riko.
"Maaf... tolong jangan pergi...!" ucap Riko ahirnya melepaskan Shaza.
"Aku tahu... sikapku selama ini sudah sangat tidak baik. Tapi aku mohon... jangan pergi. Dan... jangan putuskan pertunangan ini..." pinta Riko dengan wajah menunduk.
Shaza benar-benar tak mengerti, sebenarnya apa yang sudah Riko rencanakan? Apa mungkin dalam sekejap saja dia bisa berubah fikiran? Benar-benar aneh!
"Baiklah... aku tetap di sini, tapi... jawab pertanyaan ku dengan jujur." pinta Shaza.
"Apa yang ingin kau tahu dari ku?" Riko menyetujui syarat yang Shaza ajukan.
"Katakan... ada hubungan apa antara Kak Riko dengan Kak Gendhis?" pertanyaan Shaza langsung membuat wajah Riko memucat seketika.
Riko lantas berjalan lunglai menjauhi Shaza lalu duduk di atas sofa dengan tubuh melemah dan pandangan kosong.
"Apa kamu sungguh-sungguh ingin tahu yang sebenarnya?" Riko balik bertanya.
"Katakan saja jika memang ingin dikatakan!" jawab Shaza.
"Baiklah... Gendhis... adalah... wanita yang selama ini aku cintai." ucap Riko bagaikan orang yang sedang kalah dalam berperang.
Betapa terkejutnya Shaza mendengar jawaban Riko. Ia tak habis fikir, kenapa Riko bisa mencintai kakak iparnya sendiri.
__ADS_1
"Kamu pasti sulit mempercayai hal ini, tapi itulah kenyataan sebenarnya. Sudah sejak SMA dulu aku mencintai Gendhis. Tapi aku merelakan ia hidup bahagia dengan Kak Gala, karena mereka saling mencintai. Gendhis tak pernah mencintaiku." Riko pun menceritakan semua kisahnya pada Shaza, hingga membuat air matan menetes di pipi Riko.
Rasa iba muncul di hati Shaza. Pertanyaan yang memenuhi pikirannya ahirnya terjawab sudah. Ia baru tahu, ternyata Riko memendam kesediaanya seorang diri. Ia bagaikan lilin yang rela tubuhnya terbakar demi memberikan cahaya pada orang lain. Ternyata benar adanya, sebenarnya Riko adalah lelaki yang baik. Keadaan lah yang memaksanya menjadi sosok yang begitu dingin dan angkuh.
Shaza ahirnya duduk di samping Riko lalu berkata, "Kak Riko... maafkan aku sudah salah faham."
"Kamu nggak salah. Aku lah yang bersalah karena sudah melibatkan mu dalam masalahku. Harusnya dari awal aku tidak membawa mu masuk dalam permasalahan ku. Jujur... saat dulu aku mengenalimu, aku... sempat melihat sosok Gendhis ada dalam diri kamu. Padahal saat itu aku sedang berusaha keras dan hampir berhasil melupakan Gendhis. Tapi, saat bertemu dengan mu, justru semakin mengingatkan ku pada Gendhis. Itulah alasan sebenarnya kenapa aku selalu bersikap dingin padamu. Aku tak punya keberanian untuk mencintai mu, tapi aku juga tak ingin membiarkanmu pergi. Namun sekarang... aku sadar, tak seharusnya aku memaksakan keinginan mu. Kamu berhak hidup bahagia dengan laki-laki yang baik dan sungguh-sungguh mencintaimu." jelas Riko panjang lebar.
"Sekarang... setelah kamu mengetahui alasan sebenarnya. Masih kah kamu mau melanjutkan pertunangan ini? Kalau pun tidak... aku tak akan memaksa mu lagi." Riko pasrah.
Shaza diam seribu bahasa. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Kak Riko... bohong jika aku mengatakan bahwa aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Kenyataannya, belum tentu aku bisa bertahan dalam posisi mu. Tapi... jika kamu butuh teman untuk berbagi kesedihan, aku siap menjadi teman dalam duka mu. Dan... Bismillahirrahmanirrahim... InsyaAllah... aku akan melanjutkan pertunangan ini." jawab Shaza.
"Terimakasih, untuk pengertiannya..." ucap Riko sambil tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, Shaza melihat laki-laki itu tersenyum lepas kepadanya.
"Tahukah kamu, hayyy... laki-laki dingin tunangan ku yang sekarang ada di hadapan ku? Kamu terlihat manis saat kamu tersenyum. Tapi sayangnya... senyummu terlalu mahal." bathin Shaza.
"Shaza... terimakasih sudah mau bertunangan dengan ku. Percayalah... aku tidak pernah punya maksud untuk mempermainkan perasaan mu, atau bermain-main dengan pertunangan ini. Aku hanya butuh waktu untuk bisa menghapus semua masa lalu ku tentang Gendhis." ucap Riko.
Perlahan Shaza pun mulai memahami akan kegelisahan yang selama ini didasarkan oleh Riko.
"Biarlah Allah yang menentukan takdir kita. Kalau memang kita berjodoh, jangankan satu tahun. Lebih lama dari itu pun kita akan dipersatukan jua." jawab Shaza.
"Aku sudah pesan tiket pesawat untuk besok sore. Kak Riko bisa antara aku ke bandara besok?" tanpa Shaza.
"Apa??? Besok sore?" Riko terkejut.
"Iya... besok sore. Emang kenapa? Apa Kak Riko mau aku balik sekarang juga? Agar tak ada lagi yang mengganggu mu?" Shaza balik bertanya.
"Nggak... nggak... bukan gitu maksud aku. Baiklah... besok sore aku antar kamu ke bandara." jawab Riko.
Entah kenapa Riko merasa Shaza begitu cepat berada di sana. Ia merasa masih ingin melihat gadis itu berada di sana. Tapi ya sudahlah... karena ini sudah menjadi keputusan Shaza, Riko tak bisa mencegahnya. Lagi pula... dia pasti gengsi abis... jika harus meminta Shaza untuk tinggal lebih lama di sana.
"Ya sudah... aku kembali ke hotel sekarang. Istirahatlah... dan... maaf untuk kejadian tadi. Aku... a... aku... tak bermaksud untuk berbuat tidak sopan terhadap mu. Aku hanya kehabisan cara, bagaimana membuatmu untuk tidak pergi tadi..." Riko meminta maaf karena tiba-tiba tadi berani memeluk Shaza.
Rona di pipi mereka pun seketika berubah memerah. Mereka jadi canggung dan malu menatap wajah satu sama lain.
"Oh... iiiya... lain kali... jangan berbuat seperti itu lagi. Karena... kita... belum resmi..." jawab Shaza.
Riko pun ahirnya pergi meninggalkan Shaza di apartemennya.
*****
__ADS_1