Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Aku ini Siapa Bagimu?


__ADS_3

Sesuai permintaannya, Ita mengantarkan Gendhis sampai di depan Caffe De La Guna. Ita juga tahu diri, ia tak ingin mengganggu malam romantis sahabatnya itu. Sesampainya di depan Caffe, Gendhis turun dari sepeda motornya tepat jam tujuh malam.


"Dis... kamu yakin nih, aku tinggal nggak papa?" Ita bertanya seolah tak tega membiarkan sahabatnya turun sendirian, apalagi Gendhis belum pernah malam-malam berada di kota itu sendiri.


"Iyaaa... kamu tenang aja, nanti biar Mas Lintang yang antar aku pulang." jawab Gendhis yakin.


"Ya udah kalo gitu, aku duluan yaaa..." pamit Ita sesaat sebelum dia pergi.


"Okeyy... makasih ya Ta, ati-ati di jalan!" pesan Gendhis.


"Iyaaa... kamu juga yaaa..." Ita memutar sepeda motornya lalu berlalu meninggalkan Gendhis.


Gendhis memandang ke arah pintu masuk Caffe. Ia sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan Lintang.


"Semoga saja aku nggak terlambat..." gumamnya dalam hati.


Dengan langkah pasti, Gendhis berjalan masuk menuju Caffe, membawa bingkisan kecil, kado yang ia siapkan tadi sore untuk Lintang. Dari pintu Caffe, sudah tampak beberapa hiasan dan dekorasi ulang tahun lengkap dengan tulisan "Happy Birthday Lintang."


Gendhis juga melihat beberapa teman taruna Lintang ada di sana, namun tak ada satupun yang ia kenal. Tampak juga beberapa gadis cantik dengan pakaian yang cukup seksi memenuhi ruangan di Caffe itu. Ia merasa canggung dan aneh ketika masuk dalam ruangan di mana tak ada satupun orang yang ia kenali.


"Ternyata Mas Lintang bikin pesta dengan teman-temannya. Tapi kenapa dia nggak kasih tahu aku sebelumnya? Atau mungkin... inilah kejutan yang Mas Lintang buat untuk ku." Gendhis bicara dalam hatinya.


Ia berjalan melewati kumpulan sahabat-sahabat Lintang yang sedang berdiri sambil menunggu acara dimulai.


"Tapi... di mana Mas Lintang? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?" Gendhis masih bertanya-tanya dalam hati.


Gendhis melangkah kembali menuju pusat dekorasi hingga sampai di barisan paling depan.


Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat itu. Ingin berteriak, namun mulutnya kelu seolah terkunci. Ingin menangis, tapi air matanya kering tak mau menetes. Ingin memberontak tapi kakinya letih.


Di hadapannya sekarang, Lintang tengah bersanding mesra bersama seorang gadis. Mereka berdiri berdampingan sangat dekat sekali, dengan tangan kanan Lintang melingkar di pinggang Gabby. Bercanda tawa hingga tak menyadari bahwa Gendhis sudah berada di tempat itu dan melihat kemesraan mereka.


Gendhis memberanikan diri untuk maju beberapa langkah mendekati mereka. Dan...


"Syuuuut...."


Lintang tak kalah terkejutnya melihat Gendhis yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh darinya. Gendhis juga menyaksikan kemesraannya dengan Gabby. Seketika Lintang menurunkan jemarinya yang tengah melingkar di pinggang Gabby. Wajahnya gusar tak menentu. Ini semua di luar dugaannya. Ia tak menyangka kalau secepat ini Gendhis akan mengetahui perselingkuhannya.


"Gendhis....?" Lintang memanggilnya.


Gendhis tepat berada di hadapan Lintang dan Gabby. Kado yang sudah ia siapkan pun urung untuk ia berikan.


"Siapa gadis ini, Sayang? Apa kamu mengenalnya?" tanya Gabby sambil memeluk mesra lengan kanan Lintang. Dan anehnya, Lintang membiarkan saja Gabby berlaku mesra di hadapan Gendhis.


Rasanya ingin sekali Gendhis mempertanyakan, ini kah kejutan Lintang yang akan ditunjukkan padanya?


Bibir Lintang bergetar. Wajahnya semakin gugup menyembunyikan kenyataan. Ia tak berani menatap mata Gendhis yang sedari tadi begitu tajam menatapnya dengan seribu pertanyaan.

__ADS_1


"Sayang, kok kamu diem aja sih? Dia temen kamu?" Gabby kembali mengulang pertanyaannya.


Gendhis menunggu, jawaban apa yang akan Lintang berikan untuk wanita itu.


"Bukan..." jawab Lintang gugup.


"Maksudnya... dia... bukan temen ku, tapi..." lanjut Lintang.


"Katakan... katakan... aku siapa bagimu Mas? Agar aku tahu posisi ku sekarang di hati kamu. " gumam Gendhis dalam hati.


"Dia... adalah... teman masa kecilku, juga adik sepupu ku yang baru datang dari Merangi. Namanya... Gendhis." pernyataan Lintang yang amat mengejutkan Gendhis.


Gendhis merasa sedang berada pada titik terendah, di mana orang yang sejak kecil sudah bersamanya, suka dan duka, hingga tumbuh benih cinta di antara keduanya, namun ketika bunga cinta itu sedang mekar, Lintang memetiknya dan ia biarkan layu karena pengkhianatannya.


Gendhis belum beranjak dari tempatnya berdiri, kemudian tanpa disangka-sangka Gabby berjalan mendekati Gendhis lalu memeluknya dengan rasa senang.


"Hayy... Gendhis..." ucap Gabby.


Gendhis tak membalas pelukan itu, namun tak juga melepaskannya.


"Lintang kok nggak kasih tau aku sih kalau dia punya sepupu cantik kayak kamu... kenalin, Aku Gabby..." ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Gendhis membalas uluran tangannya Gabby.


Sebenarnya Lintang amat paham betapa hancurnya perasaan Gendhis saat melihat Gabby mendekatinya, namun hatinya sudah terkalahkan oleh hawa nafsunya.


"Gendhis..." iya menyebutkan namanya.


"Iiiiyyyaaa..." jawab Lintang gugup.


Gendhis tak mengucapkan sepatah katapun. Tatapannya masih sangat tajam memandang Lintang yang tak berani memnalas tatapannya.


"Eh... Dis... lain kali kita ketemu ya? Aku pengen denger banyak cerita tentang Lintang dan juga keluarganya. Kamu kan temen Lintang sejak kecil, pasti bakalan seru banget denger cerita masa kecil Lintang. Aku jadi nggak sabar lagi... gimana? Kamu mau kan?" ucap Gabby tanpa memberikan kesempatan pada siapapun untuk menyela perkataannya.


Gendhis hanya menganggukkan kepalanya.


Semua yang hadir sudah tak sabar menunggu acara pesta dimulai. Tak ada satupun yang tahu sandiwara Lintang malam itu kecuali Gendhis.


"Lintang... buruan mulai acaranya." salah satu teman Lintang berkata.


"Oh... iya... tunggu sebentar." jawab Lintang sambil memulai acara pesta ulang tahunnya.


Di tengah acara pesta, Gendhis memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia berjalan keluar dari Caffe, tiba-tiba Lintang menyusulnya.


"Dis... tunggu!!!" Lintang meninggalkan Gabby bersama dengan teman-temannya untuk menemui Gendhis di depan Caffe.


Gendhis pun berhenti.

__ADS_1


"Aku bisa jelasin semuanya." ucap Lintang.


Gendhis membalikkan badan seraya berkata,


"Apa lagi yang menurut Mas Lintang belum jelas? Semuanya sudah jelas, bahkan sangat jelas. Permisi...!" Gendhis hendak melanjutkan langkahnya meninggalkan Lintang.


"Gendhis... tunggu! Kamu mau kemana?" Lintang kembali menghentikannya.


"Untuk apa aku di sini? Apa cuma untuk melihat tunanganku bermesraan dengan gadis lain? Bahkan Mas Lintang cukup lemah untuk mengakui hubungan kita di hadapan teman-teman mu. Jadi... apa cuma untuk ini, Mas Lintang menyuruh ku datang ke sini? Cuma untuk membuktikan perkataan Mas Lintang bahwa aku tak bisa memberikan yang apa yang Mas Lintang inginkan? Bahwa Mas Lintang bisa mendapatkan gadis lain yang sesuai dengan keinginan Mas Lintang? Permisi...!!!" ucap Gendhis.


"Gendhis... tunggu!" ucap Lintang terputus.


"Tolong... aku minta tolong, sekaliiii... ini aja. Tolong jangan beri tahu masalah ini pada Ibu juga Bapak... aku tak ingin kemarahan mereka akan menghambat pendidikanku di Akmil. Aku yakin, karena apapun yang kamu ucapkan pada mereka, sanggup mengubah takdir dalam hidupku. Aku minta tolong..." lanjut Lintang.


Gendhis semakin geram. Dia berlalu pergi dan tak menghiraukan ucapan Lintang. Di saat seperti ini, bukan perasaan Gendhis yang ia cemaskan, melainkan kepentingannya sendiri. Benar-benar egois.


*****


Gendhis berjalan sendirian di tengah hiruk-pikuk orang berlalu lalang di Kota yang ramai itu. Dia merasa sepi dalam keramaian. Hatinya remuk redam dengan perlakuan Lintang malam ini. Dia bahkan tak punya arah ke mana kakinya akan melangkah.


Orang yang selama ini ia hormati, ia cintai, ternyata telah memutuskan untuk memilih gadis lain. Apa yang akan ia katakan pada orang tua Lintang? Pada orang tuanya yang begitu memuja dan menyayangi Lintang? Sekarang ia menahan beban itu seorang diri, tanpa ada yang mengerti, tanpa ada yang peduli.


Dalam hati ia berkata,


"Ya... Allah... masih kah dapat aku meminta agar Mas Lintang bisa menyadari kesalahannya? Bertahun-tahun namanya hidup dalam sanubari ku, dan dalam sekejap saja... dia sudah menghancurkan kepercayaan ku. Bagaimana aku bisa menjalani kehidupan ku tanpa dia? Apakah aku bisa? Beri aku petunjuk Mu..."


Tubuhnya mulai lemah tak kuasa menopang beban yang ada dalam hati dan pikirannya. Bahkan ia tak sadar, di mana dan akan ke mana saat ini. Tujuan hidupnya seolah terputus melihat kenyataan Lintang telah menjalin cinta dengan gadis lain.


Langkahnya semakin gontai.


"Pim... pim..." terdengar bunyi klakson mobil memperingatkannya untuk menepi, namun Gendhis masih tak peduli.


"Pim... pim... pim... "


"Kalau jalan yang bener dong Mbak. Udah bosen hidup ya?" kata salah seorang pengendara sepeda motor.


Gendhis masih belum menyadari keberadaannya. Tatapannya kosong.


Hingga hampir saja...


"Ssshhhiiiiittt..." bunyi rem mobil terdengar sangat keras hampir menabrak tubuhnya yang lunglai.


Untunlah... pengendara mobil itu sigap dan dalam kondisi sangat baik saat menyetir, sehingga kecelakaan pun bisa dihindarkan.


Sesegera mungkin sang pengendara mobil keluar dari mobilnya untuk memastikan apa yang baru saja ia alami. Dan ternyata... sang pengendara mobil tersebut adalah Gala. Dia terkejut bukan main melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Gendhis duduk tersungkur di depan mobilnya dengan kondisi tanpa luka.

__ADS_1


"Gendhis..." ucap Gala seketika.


*****


__ADS_2