Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Mencari Alasan


__ADS_3

Di meja makan, Gendhis bersama dengan orang tua dan satu adik lelakinya sedang menikmati makan bersama. Diamatilah anak gadis mereka dengan seksama. Memang semenjak pernikahan Gendhis dengan Lintang batal dilaksanakan, orang tua Gendhis tidak pernah menanyakan hal pribadi yang dapat menyinggung perasaan putrinya, atau membawanya untuk mengingat kembali kisah suramnya. Bagi Pak Ratno dan Bu Sari, melihat senyum putrinya kembali seperti dulu itu adalah hal yang sangat membahagiakan.


Meski perlahan, beberapa hari ini Gendhis sudah terlihat terbiasa dengan keadaan. Senyumnya sudah mulai menghiasi di wajah cantiknya. Namun entah mengapa, malam ini raut wajahnya terlihat sedikit berbeda. Tubuhnya memang ada di sana, tapi anginnya melayang entah ke mana. Bahkan nasi yang ada di atas piringnya terlihat lelah, karena sedari tadi hanya dibolak-balik dan sedikit sekali yang masuk ke dalam mulutnya. Hal ini membuat Bu Sari khawatir, ada masalah apa lagi dengan puterinya? Karenanya, Sang Ibu pun bertanya.


"Gendhis... gimana acara reuni tadi siang, Nduk? Apa banyak teman-teman kamu yang datang?" tanya Bu Sari basa basi.


Memang itu yang Gendhis fikirkan saat ini. Kejadian tadi siang benar-benar membuat selera makannya jadi berkurang.


"Oh... iya, Bu. Banyak..." jawabnya singkat.


"Lalu... semua... teman-teman satu kelas kamu dulu juga datang?" Bu Sari kembali bertanya. Ia khawatir, karena biar bagaimana pun Lintang juga alumni Smandong. Apa mungkin tadi dia datang lalu membuat Gendhis jadi sedih seperti yang sedang ia alami saat ini? Fikir Bu sari dalam hatinya, cuma tak sampai hati pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Mendengar nama Lintang disebut di rumah itu rasanya hanya akan menambah beban fikiran orang serumah.


"Iya, Bu... Gendhis bertemu dengan teman-teman sekelas Gendhis dulu." jawabnya.


Segera Gendhis habiskan sisa makanan yang ada di piringnya. Begitu pula dengan ayah, ibu dan adiknya. Seusai Gendhis berbenah meja makan, Gendhis langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Entah kenapa kejadian tadi siang membuat badannya terasa letih. Lintang tiba-tiba datang membuat dirinya terlihat rapuh, sedang Riko... tiba-tiba saja tanpa memberi tahu, dia berbuat senekat itu di hadapan semua peserta reuni.


Gendhis merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang lembut di kamarnya. Ia lalu meraih ponsel yang ada di atas meja. Ia melihat di Whatsapp sudah dipenuhi dengan chat dari Riko yang intinya adalah permintaan maaf Riko dan rasa penyesalannya sudah membuat Gendhis marah. Gendhis lalu terfokus pada beberapa chat terakhir Riko yang berbunyi,


^^^Mas Riko -^^^


^^^"Gendhis, aku minta maaf dan sangat menyesal atas sikapku tadi siang. Aku tahu, aku sudah bikin kamu marah, tapi itu semua aku lakuin karena aku nggak bisa lihat Lintang memperlakukanmu dengan tidak adil di hadapan semua orang. Aku tahu betul, Lintang sengaja melakukan itu semua agar kamu merasa sedih. Dan apa kau tahu? Aku nggak bisa lihat kamu sedih."^^^


^^^Mas Riko -^^^


^^^"Dis... sekarang... kamu boleh marah sama aku, tapi aku mohon... jangan menjauh dari ku. Sesaat aku baru merasa bahagia, Allah mempertemukan kita kembali. Dan tolong... jangan minta aku untuk menjauh dari mu lagi. Jangan kamu tanya kenapa, karena aku yakin kamu sudah tahu alasannya."^^^


Gendhis memang tidak ingin mendengarkan penjelasan Riko tadi siang, tapi setelah membaca pesan terakhir Riko itu seolah membuat hati Gendhis merasa lebih baik. Ia mulai memahami alasan kenapa Riko melakukan hal ini. Tapi tetap saja... dia belum mau membalas pesan Riko.


Riko di kamarnya.


"Gendhis... please... balas dong pesan ku... masa cuma dibaca aja... ngomong apa gitu, biar aku tenang!" Riko berbicara sendiri.


Dia masih mondar mandir seperti setrikaan, sambil terus memegang ponselnya, berharap Gendhis akan membalas pesan darinya. Dilihatnya nama Gendhis dan ia buka percakapan itu sudah centrang biru, tapi tak ada satupun yang dibalas. Hati Riko semakin gusar tak menentu. Ingin rasanya dia menelpon Gendhis, tapi tidak... kali ini dia harus berusaha lebih sabar lagi dan tidak gegabah dalam bertindak. Biarkan Gendhis merasa tenang, setelah itu pasti ia akan membalas pesan darinya.


Sementara di kamar sebelah.


Gala rupanya juga sedang gundah gulana memikirkan Gendhis. Sudah sejak beberapa waktu lalu Gendhis menghadapnya untuk bimbingan skripsi, hingga detik ini dia belum juga melihat wajah cantik itu lagi. Bagi Gendhis mungkin baru kemarin, tapi tidak untuk Gala. Baginya serasa sudah berbulan-bulan tidak bertemu Gendhis. Dalam hati ia ingin menelpon kontak bernamakan "My Little Gravity" yang sedari tadi ia pandangi itu, tapi untuk apa? Bahkan dia tidak punya alasan yang tepat untuk menelpon mahasiswi kesayangannya itu.

__ADS_1


Gala tak perna absen membuka story Gendhis. Bahkan Gala sempat khawatir saat siang tadi dia membuka story whatsapp Gendhis yang memperlihatkan dirinya sedang bersama teman-teman gadisnya, lengkap dengan caption bertuliskan.


"Bismillah... silaturahmi menyambung tali persaudaraan, memanjangkan umur dan melancarkan rizqi (Temu Alumni Smandong)."


Gala pernah dengar kalau Lintang dulu juga bersekolah di Smandong, hal itu membuat Gala sedikit khawatir kalau Gendhis akan kembali mengingat kesedihannya. Ingin rasanya Gala menelpon Gendhis, tapi sekali lagi... dia tidak punya alasan untuk itu.


Saat konsentrasinya terpusat pada satu titik yaitu Gendhis, dia terkejut mendengar panggilan suara dari handphonenya, hingga nyaris handphone itu terlepas dari genggamannya. Ternyata Miss Alena yang menghubunginya. Segera Gala angkat telepon itu.


👇Alena


"Assalamu'alaikum... ganteng... sombongnya.... mentang-mentang udah jadi Kak Dosen jadi jarang telepon ya sekarang...." ucap Alena bergurau, dan memang sudah terbiasa seperti itu semenjak mereka tinggal di Singapura.


👇Gala


"Waalaikumsalam... Alena???"


👇Alena


"Iya, lah... emang siapa lagi Kak Dosen? Atau... kamu lagi mikirin seseorang pasti ya?"


👇Gala


"Tumben malem-malem telepon, ada apa?"


👇Alena


"Jadi gini..., kan ini masih libur kuliah, kemarin aku udah pesen sama adek kamu lho, kapan dong ajak aku travelling Magelang? Katanya di Magelang ada tempat wisata baru yang keren-keren lho di puncak, Sum... Sum... mana ya, aku lupa? Sum..."


👇Gala


"Sumbing... maksudnya?"


👇Alena


"Nah... cakep! Bener banget... Ayo dong Kak Dosen, mumpung masih libur ini..."


Alena merengek seperti anak kecil yang minta dibeliin balon sama kakaknya.

__ADS_1


👇Gala


"Eemmm... gimana ya?"


👇Alena


"Tuh... kan, Kak Dosen gitu... please... ayo lah."


👇Gala


"Okey... minggu depan kamu ke Magelang!"


👇Alena


"Are you serious? Not lying?"


👇Gala


"Insya Allah... kapan sih aku pernah bohong sama kamu?"


👇Alena


"Okeyy... wait for me... Kak Dosen... aku pasti dateng. Makasih ya... Assalamu'alaikum."


👇Gala


"Waalaikumsalam..."


Percakapan itupun selesai dan Gala menutup ponselnya. Dia merasa senang setelah berbicara dengan Alena. Bukan karena Alena ingin mengajaknya jalan-jalan, melainkan... dia punya banyak alasan untuk berbicara dengan Gendhis, dengan alasan... meminta bantuannya untuk menemani Alena sahabatnya keliling wisata sekitar Puncak Sumbing. Apalagi Gendhis kan gadis Sumbing, sudah pasti dia tahu banyak tentang sesuatu yang Alena butuhkan.


Karenanya, dia putuskan untuk menelpon Gendhis dengan alasan meminta bantuannya. Gimana? Kak Dosen cerdas bukan? 🤭🤭🤭


*****


...Lanjut episode berikutnya ya kakak... terimakasih sudah setia menunggu. ...


...Like, komentar serta vote nya yaaah... biar makin semangat. Terimakasih 🥰🥰🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2