
Malam semakin larut. Jalananan mulai sepi. Kendaraan pun tak banyak berlalu lalang. Pak Ratno melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Ia makin cemas menunggu putri tercintanya belum juga tiba. Meski katanya, Lintang yang akan mengantarkannya pulang tetap saja, kecemasan di hati Pak Ratno tak dapat sembunyikan. Nampak dari cara dia duduk, berdiri, duduk lagi, hingga sesekali jalan mondar-mandir tak tentu arah. Apa lagi ketika dihubungi ponsel Gendhis sudah tidak aktif.
Tepat pukul 21.15 WIB, Pak Ratno melihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.
"Apakah itu Gendhis?" dalam hati ia bertanya.
"Tapi sepertinya itu bukan mobil Lintang." lanjutnya.
Setelah beberapa saat, pintu mobil terbuka. Dan ternyata benar, Pak Ratno lega melihat anak gadisnya yang keluar dari dalam mobil tersebut.
Sesaat kemudian, ia melihat sesosok laki-laki juga keluar dari dalam mobil tersebut. Pak Ratno cukup terkejut karena yang keluar bersama Gendhis ternyata bukanlah Lintang, melainkan seorang laki-laki yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Siapa laki-laki yang bersama Gendhis? Apakah Gendhis berbohong ingin bertemu Lintang dan malah pergi dengan lelaki ini?" pikiran Pak Ratno dipenuhi dengan seribu pertanyaan yang menyudutkan Gendhis. Tapi sekali lagi ia percaya bahwa putrinya bukan tipikal gadis seperti itu.
"Bapak..." sapa Gendhis sambil mencium tangan Pak Ratno.
Pak Ratno melihat wajah Gendhis yang letih, sepertinya amat lelah.
"Bapak... ini Pak Gala, dosen di kampus Gendhis." Gendhis memperkenalkan pada ayahnya.
Gala mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan dengan sigap Pak Ratno menerima uluran tangannya. Dari sekilas, Pak Ratno tidak melihat gelagat buruk dari lelaki yang baru pertama kali ia lihat itu. Justru di pertemuan pertama itu, Pak Ratno seolah melihat aura baik dari sosok seorang Gala.
"Gendhis... Lintang mana? Kenapa dia tidak mengantar mu pulang?" tanya Pak Ratno.
Gendhis terdiam sesaat, kembali mengingat apa yang sudah Lintang perbuat padanya di Caffe tadi. Apa yang akan ia katakan? Bagaimana jika semua orang tahu tentang perselingkuhan Lintang? Gendhis serasa belum siap untuk menerima kenyataan itu.
"Eeemm... Mas Lintang buru-buru karena ada kegiatan di asrama, karenanya... Gendhis pulang sendiri. Dan di jalan tadi, kebetulan Pak Gala lewat. Beliau... bilang kalau tidak tega melihat mahasiswinya malam-malam pulang sendirian. Karenanya, Pak Gala yang mengantarkan Gendhis pulang." penjelasan Gendhis pada ayahnya.
Gala hanya mendengarkan jawaban Gendhis. Ia merasa tak punya hak untuk ikut campur dalam pembicaraan ayah dan anak itu. Kapasitasnya hanya sampai mengantarkan Gendhis pulang saja, tidak lebih.
Dalam hati Gala berkata, "Oh... jadi tunangan Gendhis namanya adalah Lintang..." satu informasi berhasil ia simpan dari pertemuan yang tak sengaja malam itu.
Pak Ratno lalu berkata, "Masya Allah... terimakasih Pak Dosen, kalau tidak ada Bapak entah bagaimana Gendhis bisa pulang sendirian. Saya ayahnya Gendhis sangat berterimakasih pada Pak Dosen."
"Iya, Pak... sama-sama. Kebetulan tadi saya mau keluar cari sesuatu, dan tanpa sengaja menemukan Gendhis di jalan sendirian, makanya saya mengantarkan dia pulang." jawab Gala.
__ADS_1
"Karena sekarang Gendhis sudah bersama Bapak, saya permisi dulu." lanjutnya.
"Baik, Pak Dosen. Sekali lagi terimakasih." ucap Pak Ratno.
"Sama-sama, Pak... saya duluan, Assalamu'alaikum..." pamit Gala.
"Waalaikumsalam..." jawab Gendhis dan Pak Ratno.
Gala naik ke mobilnya, lalu pergi meninggalkan Gendhis bersama dengan ayahnya.
Sepanjang jalan, Gala masih terus terbayang dengan kejadian yang baru saja ia alami. Dari awal pertemuannya dengan Gendhis yang dirasa aneh, hingga saat ini dia dipertemukan kembali dengan Gendhis membuat rasa penasaran nya semakin dalam pada sosok mahasiswi yang satu ini.
Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam relung hatinya ketika mengingat wajah Gendhis. Dan anehnya, wajah itu tak mau pergi dari ingatan Gala, tiap kali ia memejamkan mata, wajah Gendhis selalu terbayang di pelupuk mata.
Perasaan apakah ini? Meluap dingin seketika menguap panas. Perasaan apa kah ini? Menghindar saat berjumpa, mengharap bila tak ada. Perasaan apakah ini? Gala tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Mungkinkah... Gala mulai jatuh cinta pada Gendhis? Tapi bagaimana bisa? Dari sekian banyak wanita cantik yang mengharapkan Gala jadi pendamping hidupnya, justru ia malah jatuh cinta pada gadis yang sudah bertunangan.
Lalu, bagaimana jika Riko... adik kesayangannya itu tahu bahwa kakaknya telah jatuh cinta pada gadis yang sama dengannya? Gadis yang selama ini mati-matian Riko kejar sejak masih SMA.
*****
Sesampainya di rumah, Gendhis segera membersihkan badannya. Mengganti bajunya lantas merebahkan badannya di atas kasur. Kajadian malam ini benar-benar membuatnya sangat lelah, hingga ia tak tahu bagaimana ia akan menghadapi hari esok ketika bangun dari tidurnya, lalu mengingat kenyataan bahwa Lintang telah menduakan cintanya.
"Duuuhhh... coba kalau Pak Gala tadi nggak nolongin aku, entah apa yang akan terjadi. Mungkin... sampai detik ini aku masih ada di pinggir jalan kaya gelandang. Dan ini... bukan yang pertama Pak Gala sudah nyelamatin hidup ku." Gendhis bicara sendiri.
Ia lantas teringat temen-temen cewek di kelasnya. Siapa sih yang nggak punya nomor Gala. Paling cuma dia doang yang nggak tertarik buat nyimpen nomornya Gala. Ini cuma karena masalah hutang budi aja, ahirnya mau nggak mau Gendhis harus minta nomor Gala dari Ita.
Nggak butuh waktu lama, meski dengan perasaan bertanya-tanya, Ita mengirimkan nomor Gala melalui whatsapp.
Karena takut canggung saat bicara jika di telepon, Gendhis memutuskan untuk mengirim pesan singkat di whatsapp.
^^^^^^Gendhis^^^^^^
^^^"Assalamu'alaikum... Pak Gala, maaf malam-malam mengganggu."^^^
Gala yang saat itu belum bisa tidur karena sedang terbayang wajah Gendhis, seketika terkejut bukan main melihat pesan masuk dari nomor baru dengan profil seorang gadis yang tidak asing baginya. Apalagi sejak kejadian malam ini membuat Gala sedikit mencemaskan keadaan Gendhis. Rasa ingin tahunya amat besar, cuma... ia tak mungkin mencampuri urusan Gendhis dengan tunangannya.
__ADS_1
"Gendhis... tau aja kalau aku lagi mikirin dia." ucap Gala.
Dengan rasa penasaran dan dada berdegup kencang, Gala membuka isi pesan itu lantas segera membalasnya.
^^^Gala^^^
^^^"Waalaikumsalam... iya, Dis... ada apa?"^^^
^^^Gendhis^^^
^^^"Pak Gala... saya mau berterimakasih atas apa yang sudah Pak Gala lakukan malam ini untuk saya. Tak terbayang apa jadinya jika tadi, Bapak tidak datang menolong saya... mungkin saat ini saya belum berada di tengah-tengah keluarga saya."^^^
^^^Gala^^^
^^^"Alhamdulillah... Allah mengantarkan aku pada saat yang tepat. Mungkin... melalui perantara aku, Allah akan menolong hambaNya yang ia kasihi."^^^
Ucapan Gala benar-benar membuat hati Gendhis merasa adem.
^^^Gendhis^^^
^^^"Sekali lagi, terimakasih banyak Pak... dan ini juga bukan kali pertama Bapak udah nolongin saya. Entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan Pak Gala."^^^
^^^Gala^^^
^^^"Tak perlu se serius itu... ingat... saat kamu merasa hati kamu gundah, resah, datang lah padaNya... Dia lah satu-satunya yang memiliki semua ketenangan dan kebahagiaan yang kita butuhkan."^^^
^^^Gendhis^^^
^^^"Baik Pak, terimakasih juga untuk nasihatnya. Selamat malam. Wassalamu'alaikum."^^^
^^^Gala^^^
^^^"Waalaikumsalam... selamat beristirahat."^^^
Gendhis mengakhiri percakapan itu. Padahal jika boleh berharap, Gala masih ingin berbincang dengan mahasiswi istimewanya itu. Tapi ia menyadari, hubungan mereka saat itu hanyalah sebatas dosen dan mahasiswa, dan tidak lebih.
__ADS_1
Namun ia bersyukur, setidaknya nomor Gendhis sudah ada di ponselnya meski tanpa disengaja sebelumnya. Dengan penuh semangat Gala menyimpan nomor Gendhis dengan memberinya nama, "*M**y Little Gravity*". 🥰🥰
*****