
Pagi ini, seperti biasa Gendhis mulai melakukan rutinitasnya. Seusai sholat subuh berjamaah di masjid bersama orang tuanya, dia bergegas menyelesaikan tugas rumah. Setelah itu, bersiap pergi sekolah. Dia harap, kali ini kemarahan Lintang sudah mulai mereda.
Gendhis nampak rapi, semua sudah siap, tinggal menunggu Lintang datang menjemputnya.
Sepuluh menit berlalu, namun Lintang belum juga menghampirinya. Gendhis mulai panik jika mereka sampai terlambat masuk ke sekolah. Lalu ia putuskan untuk menghampiri Lintang ke rumahnya. Ketika hendak keluar pintu rumah, Bu Parti sudah menghadangnya untuk menemui Gendhis.
"Nduk... " Sapa Bu Parti
"Iya, Bu... baru Gendhis mau ke sana nyusul Mas Lintang, sudah hampir pukul tujuh tapi Mas Lintang belum datang." Kata Gendhis.
"Itu dia yang mau Ibu bilang... sepertinya kamu harus ke sekolah sendiri hari ini." Kata Bu Parti.
"Mas Lintang nggak sekolah?" Tanya Gendhis.
"Iya, Nduk... Lintang demam dari tadi malam. Badannya panas, makanya Ibu suruh dia istirahat di rumah dulu. Kamu nggak papa kan? Biar nanti berangkatnya dianterin Pakne Lintang." Jelas Bu Parti.
"Oh... nggak usah, Bu... Biar nanti Gendhis berangkat pakai motor sendiri aja." Gendhis menolak.
Dalam hati ia merasa khawatir dengar kabar dari Bu Parti bahwa Lintang sakit.
"Sekarang Mas Lintang lagi apa, Bu?" Gendhis bertanya.
"Tadi waktu Ibu tinggal masih tidur." Kata Bu Parti.
"Apa Gendhis bisa menjenguknya?" Gendhis meminta izin.
"Tentu saja, Nduk... ayo...!" Ajak Bu Parti.
Mereka berjalan menuju rumah Pak Argo. Saat di tengah perjalanan, tepat di halaman rumah, Gendhis bicara pada Bu Parti.
"Bu... Gendhis minta maaf, ya? Pasti gara-gara Gendhis Mas Lintang jadi seperti itu." Wajah Gendhis tampak muram.
Bu Parti terhenti dan menepuk wajah Gendhis dengan lembut seraya berkata,
"Nggak papa Sayang... yang namanya masalah itu pasti bisa datang kapan pun dan pada siapa pun. Tapi ibu percaya, kalian pasti bisa melewati ini." Bu Parti memberikan semangat.
"Bu Parti, nggak marah?" Tanya Gendhis.
"Kenapa Ibu harus marah? Pertengkaran dalam hubungan itu biasa, yang penting masih ada cinta di hati kalian. Selama itulah, kalian akan dapat mengatasi rintangan apapun, hingga saat yang paling kita tunggu akan tiba." Dengan bijak Bu Parti menasehati Gendhis.
"Terimakasih, Bu Parti. Cuma Ibu yang paling bisa mengerti kesedihan Gendhis." Gendhis memeluk wanita itu seolah sedang memeluk ibu kandungnya sendiri.
Bu Parti menepuk-nepuk punggung Gendhis seolah ingin menguatkannya.
"Sudah... sudah... sudah siang, nanti kamu terlambat." Kata Bu Parti.
Gendhis melepas pelukannya. Ia mengira semenjak kejadian di Silancur waktu itu membuat semua orang marah padanya, tak terkecuali Bu Parti. Ternyata anggapan Gendhis salah.
Sesampainya di kamar Lintang, Bu Parti dan Gendhis melihat Lintang yang masih tertidur dengan selimut tebal menutup tubuhnya.
"Apa perlu Ibu bangunkan Lintang, Nduk?" Tanya Bu Parti.
"Oh... nggak usah, Bu. Kasihan Mas Lintang. Biar dia istirahat. Saya langsung berangkat aja, Bu, takut telat..." Gendhis berpamitan sembari mencium tangan Bu Parti.
"Ya sudah... ati-ati ya Nduk!" Pesan Bu Parti.
Gendhis pun segera keluar dari rumah Pak Argo, mengambil motor maticnya dan segera berangkat ke sekolah.
Sementara di kamar, Lintang yang berpura-pura tidur itu akhirnya membuka matanya. Ia melihat dari arah jendela, Gendhis sudah pergi. Lintang lalu duduk di atas tempat tidurnya. Dia masih enggan berbicara dengan Gendhis.
Satu jam berikutnya, Bu Parti masuk menghampiri Lintang.
"Lintang... ingat. Cuma satu kali ini aja ya Ibu bohong sama Gendhis. Itupun kamu yang maksa Ibu." Kata Bu Parti.
"Iya... iya... Ibu..." Jawab Lintang sambil bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Kalian kan sudah dewasa, kalau punya masalah mbok ya dibicarakan baik-baik to, Nang...! Bukan malah mengurung diri seperti ini. Sampai kapan kalian mau diem-dieman seperti ini?" Bu Parti menasehati putranya.
Belum lama mereka bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan,
"Tok... tok... tok."
Pintu diketuk.
"Assalamu'alaikum.... permisi..." Sayup-sayup suara itu memanggil.
Dari dalam kamar, Lintang dan Bu Parti masih mengamati suara itu.
"Ada tamu, Bu..." Kata Lintang.
"Iya, tapi siapa ya jam segini bertamu, orang sini kan sudah pasti ada di ladang. Kok suaranya mirip Gendhis. Apa Gendhis pulang? " Bu Parti penasaran.
"Ah... nggak mungkin lah Bu, orang Lintang aja liat Gendhis udah berangkat pakai motornya." Jawab Lintang.
Suara itu kembali memanggil karena belum mendapat jawaban,
"Assalamu'alaikum... permisi, Pak... Bu..."
"Waalaikumsalam... Iya... sebentar." Jawab Bu Parti sambil berjalan dari kamar Lintang menuju pintu masuk rumah.
Bu Parti membuka pintu, ia terkejut melihat ada seorang gadis seusia Gendhis sudah berdiri tegak di depan pintu rumahnya. Bahkan gadis itu masih berseragam OSIS lengkap dengan sepatu juga tas punggungnya.
"Selamat Pagi, Bu. Saya Tina, temen Gendhis." Gadis itu memperkenalkan diri.
"Oh... temannya Gendhis, mari silahkan masuk!" Sambut Bu Parti.
Tina pun duduk di kursi ruang tamu bersama dengan Bu Parti.
Bu Parti terheran-heran, apa yang telah terjadi pada Gendhis sehingga saat jam sekolah temannya itu datang ke rumah. Segera mungkin ia mencari tahu.
"Nak, ada apa? Kamu nggak sekolah?" Tanya Bu Parti.
"Emmm... Kak Lintangnya ada, Bu?" Tanya Tina.
"Ada, sedang istirahat di kamarnya." Jawab Bu Parti.
"Boleh saya bicara sebentar dengan Kak Lintang?" Tina kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bu Parti.
"Boleh... sebentar Ibu panggil Lintang." Jawab Bu Parti sambil berjalan menuju kamar Lintang.
"Terimakasih, Bu..." Ucap Tina.
Di kamar, Lintang masih duduk di kursi sambil bermain ponsel. Bu Parti mendekatinya lalu berkata,
"Lintang... ada yang cari kamu, Nang..."
"Cari Lintang? Siapa, Bu?" Lintang penasaran.
"Cewek, katanya teman Gendhis, namanya... siapa ya tadi, Ibu kok lupa Ti... Ti... Siti apa... siapa ya..." Bu Parti tampak berfikir.
"Tina maksudnya?" Lintang menebak.
"Iya... bener... Tina. Katanya mau ketemu sama kamu." Kata Bu Parti.
"Ngapain jam segini Tina kemari? Apa jangan-jangan disuruh Gendhis ya? Ah... bilang aja Lintang lagi tidur, Bu..." Pinta Lintang pada ibunya.
"Eh... nggak boleh gitu, tamu itu harus disambut dengan baik. Ayo... kita tanya sama-sama, maksud dia cari kamu untuk apa!" Paksa Bu Parti sambil menarik tangan anaknya.
Sesampainya di ruang tamu, mereka melihat Tina yang sedang duduk dengan gelisah.
"Tina? Ada apa kamu dateng ke sini? Kamu nggak sekolah?" Pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan Bu Parti.
__ADS_1
"Tadinya sekolah..." Jawab Tina sedikit takut untuk bicara.
"Lalu? Kenapa sekarang bisa di sini?" Lintang masih tak mengerti.
Tina diam sejenak, lalu mulai bicara.
"Ibu... Kak Lintang... saya mau ngomong sama Ibu juga Kak Lintang, tapi sebelumnya... saya minta maaf. Karena saya sudah bersalah..." Tina menyesal.
"Nak... kamu mau ngomong apa? Belum juga ngomong kok sudah minta maaf..." Kata Bu Parti heran.
"Tadi... saya sudah ke sekolah. Saya melihat Gendhis datang sendirian. Saya berfikir kalau hari ini Kak Lintang pasti nggak masuk sekolah. Terus saya putuskan untuk datang kemari dan ternyata benar, Kak Lintang ada di rumah." Kata Tina.
"Lalu kamu nggak jadi sekolah, Nak?" Bu Parti bertanya.
"Iya, Bu. Karena kalau nggak sekarang, saya kawatir nggak bisa ketemu sama Ibu dan Kak Lintang." Jawab Tina.
"Ya Allah..., Nak... memang kamu mau ngomong apa? Sekarang kami di sini..." Bu Parti masih penasaran.
Ahirnya Tina bicara.
"Ibu, Kak Lintang, Tina mau minta maaf soal kejadian di Silancur kemarin."
Belum selesai Tina bicara, Lintang sudah keburu memotong perkataan Tina.
"Nah... Kan... sudah ku duga... kamu ke sini pasti atas permintaan Gendhis. Sudah lah, nggak ada gunanya, aku mau tidur..." Lintang bangun dari tempat duduknya dan ingin pergi, namun Bu Parti segera mencegahnya.
"Eh... Lintang... tunggu dulu! Dengerin dulu! Tina belum selesai ngomong. Apa salahnya kamu dengerin dia ngomong dulu! Jangan egois..." Bu Parti memarahi anak bujangnya.
Lintang akhirnya mau mendengarkan perkataan Tina lalu duduk kembali.
"Lanjutkan bicara mu, Nak..." Pinta Bu Parti.
Tina menceritakan kejadian yang sebenarnya saat di Silancur. Mulai dari saat Riko meminta bantuannya untuk ngomong sama Gendhis, alasan kenapa Gendhis bisa berada di puncak sendirian, hingga Lintang yang tiba-tiba datang lalu mereka berkelahi.
"Begitu Kak, kejadian sebenarnya. Gendhis nggak bersalah. Jangan marah sama dia lagi. Bahkan dia nggak tahu kalau sekarang saya datang ke sini. Saya cuma pengen meluruskan masalah. Kasihan Gendhis. Sudah berhari-hari murung di kelas. Saya yang salah..." Tina sangat menyesali perbuatannya.
Lintang ahirnya merasa bersalah atas kesalahfahaman yang terjadi selama ini pada Gendhis.
"Nah... apa Ibu bilang? Bahkan kamu nggak pernah kasih kesempatan Gendhis untuk ngomong." Kata Bu Parti pada putranya.
"Kenapa kamu nggak ngomong dari awal, Tin?" Tanya Lintang.
"Tadinya saya mau ngomong, tapi takut Gendhis marah, dan saya juga cari waktu yang tepat, agar Gendhis mau maafin saya." Jawab Tina.
"Ya sudah, Nak. Yang penting kamu sudah bicara jujur. Dan sekarang semuanya sudah jelas. Urusan Gendhis... nanti biar kami yang atur. Ibu tahu persis, anak itu nggak mungkin bisa marah sama orang-orang yang ia sayangi." Kata Bu Parti.
"Benar, Bu? Alhamdulillah... saya lega Bu, setelah menceritakan masalah ini sama Ibu dan Kak Lintang. Terimakasih... saya pamit dulu." Kata Tina.
"Yaaa...! Sekarang kamu mau balik sekolah lagi?" Tanya Bu Parti.
"He... he... nggak ah Bu, sudah telat. Saya mau langsung pulang aja. Permisi Bu..., Kak Lintang." Pamit tina pada Lintang lalu mencium tangan kanan Bu Parti.
"Ya sudah kalau begitu... hati-hati ya, Nak!" Pesan Bu Parti.
"Baik, Bu. Assalamu'alaikum..." Tina meninggalkan rumah Lintang.
"Waalaikumsalam..." Jawab keduanya.
Bu Parti lega, ahirnya keyakinannya pada Gendhis selama ini terbukti sudah.
"Lintang... Ibu nggak mau tahu, pokoknya... kamu harus minta maaf sama Gendhis." Bu Parti masuk menuju dapur untuk persiapan masak.
Lintang hanya terdiam, sudah dapat menduga, kata itu pasti yang akan keluar dari mulut ibunya.
"Ibu... Ibu... oh... Ibu. Sebenernya anaknya Ibu itu Lintang apa Gendhis, sih? Heran... aku." Ia bicara sendiri.
__ADS_1
Lintang lega, ternyata Gendhis masih mencintainya. Gendhis setia padanya, dan Gendhis tak pernah menghianatinya.
*****