Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Menanti yang tak Pasti


__ADS_3

Malam ini terasa panjang bagi Gendhis, Gala juga Riko di tempat dan posisinya masing-masing. Betapa tidak? Mereka tanpa sengaja terjebak dalam cinta yang rumit. Penghianatan Lintang telah membawa Gendhis pada sederet permasalahan yang tak berujung. Meski Lintang telah menjauh dari kehidupannya, tapi masalah yang ditimbulkan olehnya terasa sampai detik ini. Dalam hati Gendhis berfikir, kalau saja Lintang tidak menghianati cintanya, mungkin masalah seperti ini tak kan pernah terjadi. Mungkin ia tak kan dihadapkan pada pilihan serumit ini, dan mungkin... dia sudah hidup bahagia bersama dengan Lintang.


Ahhh... lagi-lagi itu hanya mungkin. Kenyataan sebenarnya adalah laki-laki itu sekarang sudah pergi meninggalkannya. "Apa kabar mu Mas Lintang? Mungkin di sana, kau sudah bahagia dengan wanita pilihan mu, hingga kau abaikan orang tua juga keluarga yang menyayangimu di sini." ucap Gendhis dalam hati.


"Ya... Allah... kenapa aku masih memikirkan Mas Lintang? Aku ingin dia segera pergi jauh dari hatiku, tapi bagaimana caranya? Apakah dengan menghadirkan orang lain bisa mengubah perasaanku terhadap Mas Lintang? Jika benar demikian, siapa? Siapa orangnya ya Allah? Aku tak ingin sampai jatuh untuk kedua kalinya. Berilah aku petunjuk Mu Ya Robb..." ucap Gendhis lirih tubuhnya terbaring di atas lembutnya peraduan.


Ia lalu teringat dalam sebuah ayat dalam Al-Quran yang sempat ia baca beberapa hari lalu. Seperti diterangkan oleh Allah SWT dalam qalamnya di Surah Al-Baqarah ayat 216.


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216).


Gendhis melihat jam yang menempel di dinding kamarnya menunjukkan pukul tiga dini hari. Segera ia melakukan rutinitas malamnya untuk bersujud di tengah keheningan malam, tatkala semua mata lelap terpejam. Saat semua jiwa terbaring kerna letih seharian penuh bergelut dengan waktu. Gendhis hamparkan sajadahnya, menata desak, menghapus penat, mengucap harap dalam do'a yang ia sematkan usai melaksanakan sholat istikharah.


..."Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa salah satu dari mereka (Mas Gala atau Mas Riko) baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa salah satu atau keduanya buruk untukku, agamaku dan jalan hidupkku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun kebaikan itu berada, dan ridhailah aku dengan kebaikan. Amiiin... 🤲🤲"...


Hati Gendhis merasa lebih baik usai melaksanakan shalat istikharah. Ia hanya harus bertawakal, menunggu saat yang tepat kapan Allah akan menjawab do'a-do'anya.


*****


Libur kuliah telah usai, kini tiba saatnya bagi semua mahasiswa Untidar untuk kembali masuk mengikuti perkuliahan di semester baru mereka.


Gendhis bersama dengan teman-temannya tengah menunggu dosen mereka di ruang kelas. Kebetulan sekali, di hari pertama kuliah, mereka langsung bertemu dengan mata kuliahnya Pak Gala, dosen favorit mereka. Karenanya, para gadis sudah tak sabar lagi ingin segera masuk kuliah. Bahkan liburan di rumah pun terasa membosankan. Dan kalau saja mereka tahu bahwa hati sang dosen pujaan sudah berlabuh pada Gendhis, teman sekelas mereka... maka tentulah akan banyak gadis-gadis di kampusnya yang patah hati.


Pagi itu... Seperti biasa Gala datang dengan salam, senyum manis, keramahan juga kewibawaannya. Selama Gala tiba di ruangan hingga pelajaran berlangsung, tak sekalipun Gendhis berani menatap wajah Gala. Ia hanya menunduk mengamati buku mata kuliahnya sambil mendengarkan penjelasan dari dosennya. Apalagi semenjak kejadian waktu itu di gardu pandang Mangli Sky View. Sampai sekarang Gendhis merasa bersalah sudah mengabaikan dan menggantungkan harapan dari dosen yang sekarang sedang berdiri di depan kelasnya itu.


Dari kejauhan, Gala hanya mengamati Gendhis tanpa sekalipun menegurnya. Ia tak ingin memaksakan Gendhis untuk buru-buru menjawab lamarannya. Ia faham, tak mudah bagi Gendhis untuk lepas dari cinta yang sudah mengikatnya bahkan sejak ia berada dalam kandungan ibunya. Gala biarkan saja sampai Gendhis benar-benar telah siap menerima kehadirannya.


Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasah perkuliahan pun telah selesai, hingga mata kuliah jam berikutnya dengan dosen lain pun usai sudah. Gendhis bersama dengan teman-temannya keluar dari ruangan.


"Dis, kamu mau ikut makan siang bareng kita nggak?" tanya Ita yang sudah bersiap hendak pergi makan siang bersama dengan ketiga teman gadisnya.


"Emmm... kalian aja, aku mau bimbingan skripsi dulu." jawab Gendhis.


"Eh, Ta... kamu lupa ya? Ini kan hari senin... sudah pasti lah Gendhis puasa, emangnya kita?" ucap Santi menyela.

__ADS_1


"Oh... iya, sorry Dis... aku lupa..." kata Ita sambil menepuk jidatnya sendiri dengan tangan kanannya.


"Apaan, sih... biasa aja kali. Lagi puasa apa enggak kalau pengen ikut pasti aku ikut, cuma ini aku lagi mau bimbingan soalnya." ucap Gendhis.


"Siiiaap... Dis. Udah bimbingan aja. Kalo gitu, kami duluan ya..., jangan lupa sampein salam ku buat Pak Dosen ganteng, hihihi..." kata Ita.


"Insya Allah, yaaa... tapi aku nggak janji..." ucap Gendhis.


"Lhoo... lho... kok gitu?" tanya Ita.


"Ya iya, menyampaikan salam itu wajib hukumnya. Kalau aku lupa terus nggak disampein gimana? Ntar aku dimintai pertanggungjawaban kan repot Ta..." ujar Gendhis.


"Hadeh... hadehh... iya deh Bu Ustadzah... ya udah, kami duluan." pamit Ita.


Mereka pun ahirnya pergi untuk mencari makan siang kecuali Gendhis. Ia berjalan menuju ruang TU untuk menanyakan keberadaan dosennya?


"Permisi... apakah Pak Galanya ada, Pak?" tanya Gendhis pada petugas TU.


"Oh... tadi lagi keluar dengan Bu Evi, Mbak." jawab petugas TU.


"Kalau itu saya nggak tahu, Mbak. Atau mungkin coba di telepon aja!" saran dari petugas TU.


"Ohhh... ya sudah, Pak. Saya tunggu di luar." kata Gendhis.


"Ya..., Mbak..." jawab petugas TU.


Gendhis menunggu Gala di depan ruang TU yang tak jauh dari ruangan dosen. Setelah cukup lama menunggu, Gala tak kunjung datang. Ia lalu memutuskan pegi ke masjid kampus untuk melaksanakan sholat dzuhur. Seusai sholat dzuhur, Gendhis kembali lagi ke TU untuk menanyakan dosen pembimbingnya.


"Maaf Pak... apa Pak Gala sudah kembali?" tanya Gendhis.


Petugas TU itupun mengecek ke ruangan Gala dan jawabnya, "Belum... Mbak!"


Gendhis keluar ruangan TU sambil berkata, "Kemana, sih... orang itu? Pergi lama banget. Nggak tahu apa, kalau ditungguin mahasiswanya? Tapi... gimana dia bisa tahu, aku kan nggak bikin janji? Apa sebaiknya aku kirim pesan aja ya? Ah... tapi tidak... ntar dikiranya aku pengen cari kesempatan buat nemuin dia lagi... Duuuhh... kenapa jadi serba repot kek gini ya?" ucapnya lirih.

__ADS_1


Gendhis lalu memutuskan pergi ke perpustakaan untuk membaca beberapa buku. Setelah di rasa cukup lama, Gendhis kembali lagi ke depan ruang dosen. Tapi sebelum bertanya, Gendhis belum juga mendapati mobil Gala ada di tempat parkir depan fakultas. Ia mulai sedikit was-was dan lelah menunggu kedatangan Gala. Padahal cuaca sudah sangat mendung dan sebentar lagi akan turun hujan.


Ketika mulai lelah dengan penantiannya dan memutuskan untuk pulang kerumah, tiba-tiba mobil Gala datang lalu parkir di depan fakultas. Gendhis mengamati Gala yang sedang keluar dari dalam mobil lalu berjalan dengan Bu Evi.


"Nah, dateng juga ahirnya. Pantes lama banget, orang lagi jalan berduaan..." ucap Gendhis lirih entah kesal karena lama menunggu, atau dia mulai cemburu karena Gala pergi bersama dengan Bu Evi yang statusnya juga masih sama-sama single.


Gala masuk ke ruangannya, lalu petugas TU menghampirinya.


"Pak Gala, ditunggu mahasiswinya dari tadi mau bimbingan." katanya.


"Oh ya? Suruh masuk aja Pak." jawab Gala sambil berbenah di ruangannya. Rupanya Gala sudah tahu, siapa yang akan menghadapnya.


Beberapa saat kemudian, terdengar ucapan salam lembut dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum..." suara Gendhis.


"Waalaikumsalam... ya, masuk!" jawab Gala.


Gendhis lalu duduk di kursi depan meja Gala dengan raut wajah sedikit masam.


"Sudah lama menunggu?" tanya Gala memecah rasa canggung. Sebisa mungkin dia harus berusaha profesional, tidak ingin membawa urusan pribadi ke kampusnya. Jadi, ia berusaha sebaik mungkin menjadi seorang dosen ketika mahasiswanya membutuhkan bimbingannya. Meski dalam hatinya berkecamuk tak tentu arah semenjak lamarannya digantung oleh mahasiswi cantik yang sekarang duduk di hadapannya itu.


"Belum... Pak, mungkin baru tiga jam. Kalau Bapak yang lagi jalan-jalan sama Bu Evi paling seperti baru tiga puluh menit." sindir Gendhis.


Ingin rasanya Gala tersenyum mendengar jawaban Gendhis dengan wajah masamnya. Entah benar atau hanya perasaan halunya saja, Gala merasakan kalau gadis cantik itu sedang tersulut api cemburu. Ia merasa perlu meluruskan masalah ini agar Gendhis tak salah faham, tapi bukan sekarang dan bukan di tempat itu. Ahirnya Gala berpura-pura tidak mengerti maksud ucapan Gendhis.


"Eheemm..." Gala pun berdehem untuk mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya... terakhir bimbingan kemarin sudah sampai bab berapa?" tanya Gala.


Gendhis pun menyodorkan map yang berisi rangkaian skripsi yang sudah ia jalankan. Alhamdulillah... tinggal sedikit lagi selesai. Sekarang sudah masuk di pembahasan. Gala rasa tidak perlu ada banyak revisi, karena memang hasilnya sudah cukup baik. Itu artinya jika Gendhis lulus kuliah, kesempatan untuk menghalalkan gadis itu semakin besar.


Bimbingan pun akhirnya selesai. Gendhis keluar dari ruangan Gala. Ia merasa lega karena tidak begitu banyak yang harus ia revisi. Sesampainya di luar ruang dosen, ternyata hujan deras disertai angin mengguyur kota Magelang. Semua yang hendak pulang ke rumahnya pun terpaksa harus menunggu hingga hujan reda.

__ADS_1


*****


__ADS_2