
Pagi itu, Gala melihat adiknya berpakaian sangat rapi. Mengenakan kemeja polos warna honeydew dipadukan dengan celana chino warna mocca dan sepatu sneakers warna putih. Rambut rapi dan wangi aroma dunhill blue favoritnya pun tak ketinggalan.
"Wuuuiiihhh... gantengnya... pagi-pagi gini udah rapi, mau apel pagi ya?" tanya Gala pada Riko saat keduanya akan memulai sarapan pagi.
Riko tersenyum sambil menarik kursinya untuk memulai sarapan pagi bersama dengan keluarganya.
"Gala... kamu kayak nggak tahu aja adik mu kalau lagi kasmaran ya gitu tuh, bawaannya rapi terus." kata Bu Fina sang ibu itu pun ikut menggoda si bungsu.
"Oh... kakak tahu, kamu pasti mau ketemu sama si manis ya? Hayoo... ngaku..." Gala meledek adiknya hingga membuat Riko jadi tersipu.
Bu Fina pun kembali berkata, "Gala... kamu mbok ya pengertian to sama adiknya... kamu tahu nggak, dia kemarin malam ngomong sama Mama, katanya... Ma... buruan dong Kak Gala suruh cepet-cepet nikah. Terus Mama bilang ke Riko..., kalau kakakmu mau, sekarang minta nikah pun mama siap. Cuma masalahnya, kakak mu yang susah bener disuruh nikah. Entah mau cari gadis seperti apa. Padahal kan mama udah sering pengen kenalin Kak Gala sama anaknya temen mama yang juga anggota dewan. Belum juga lihat fotonya, udah main tolak aja...." kata Bu Fina sambil menghabiskan sarapan paginya di meja makan.
"Sabar Mama... sebentar lagi juga Gala bawakan calon menantu idaman Mama..." jawaban Gala seolah memberi angin segar bagi Bu Fina yang sudah sejak lama ingin melihat putra sulungnya itu segera menikah.
"Oh ya? Serius Kak?" tanya Riko bersemangat.
Gala pun hanya mengulum senyum seolah membenarkan perkataan adiknya.
"Alhamdulillah... mama penasaran, gadis seperti apa sih, pilihan Pak Dosen ini. Awas jangan sampai bikin mama tidak tertarik dengan pilihan kamu itu lho yaaa... Lihat adik kamu! Dia paling semangat denger kamu mau cepet-cepet nikah. Kamu tahu kenapa?" tanya sang Mama pada Gala.
"Ya tahu lah, Ma... pastinya agar dia juga bisa segera mengajak Manis untuk mengenalkannya pada kita, bener kan Riko?" tanya Gala seolah dapat menebak dengan tepat isi hati adik kesayangannya.
"Kak Gala tahu aja... bahkan jika dia mau, sekarang nikah pun Riko siap!" ucap Riko serentak membuat gaduh di meja makan, terutama sang Ibu.
"Rikooo???" Bu Fina terkejut meski ia tahu putranya itu sedang bergurau.
"Kamu kan masih kuliah... mana bisa nikah sebelum lulus kuliah. Mama nggak setuju. Lagi pula, kamu juga nggak boleh lancangin kakak kamu. Kamu kan lahir belakangan, nikah juga harus nunggu kakak kamu dulu dong..." lanjut Bu Fina.
"Lho... memang kenapa kalau masih kuliah, Ma? Syah... syah... aja kan selama syarat dan rukun nikahnya terpenuhi? Kalau untuk urusan Kak Gala, tadi kan Kak Gala bilang mau bawa calon kakak ipar secepatnya. Jadi yaaa... Riko boleh dong, cepet-cepet nyusul Kak Gala..." ucap Riko bercanda tapi serius. Ia sengaja ingin melihat ekspresi wajah sang Ibu pasti bakal heboh denger Riko minta nikah.
"Rikooo.... nggak bisa pokoknya." bantah Bu Fina.
"Mamaaa... bisa pokoknya." Riko tak mau mengalah.
Sementara Gala, dia hanya tersenyum melihat perdebatan antara ibu dan adiknya itu.
Sang ayah pun ahirnya datang lalu duduk bersama mereka di meja makan sambil berkata, "Ada apa sih? Pagi-pagi sudah rapat di meja makan nggak ngajak-ngajak papa." kata ayahnya.
__ADS_1
"Ini lho Pa, katanya Gala sudah siap bawa calon menantu ke rumah ini." kata Bu Fina pada suaminya.
"Oh yaaa? Alhamdulillah... lalu... kapan kita akan ke rumahnya untuk melamar gadis itu?" si ayah sangat bersemangat.
"Pa... Ma... do'akan saja. Semua masih berproses. Semoga saja tidak butuh waktu lama, Allah akan mengabulkan do'a Papa Mama sehingga secepatnya Gala bisa mewujudkan harapan kalian." jawab Gala.
"Kak... udah, buruan... jangan lama-lama. Riko yakin nggak butuh waktu lama Miss Alena pasti terima lamaran kakak." ucap Riko, mengira bahwa yang Gala maksud adalah Alena.
"Siapa kata mu Riko? Alena? Alena dosen kamu? Teman dekat Gala anaknya Pak Sukandar yang juga temen Papa di DPR itu?" tanya si ayah.
"Ya Allah... Gala... jadi dia gadis yang kamu maksud? Kenapa kamu nggak bilang dari dulu... kamu tahu? Papa sama Mamanya Alena itu udah sering nanyain kamu. Tadinya mama mau bilang tapi takut ditolak lagi sama kamu kayak yang sudah-sudah. Tahu begini, dari dulu-dulu kita ke rumah buat lamar dia." Bu Fina menambahkan.
"Eh... eh... eh... Riko, kamu jangan nyebarin hoax lho yaaa... itu nggak bener lho..." kata Gala pada adiknya.
"Kak Gala nggak usah malu-malu gitu ngapa? Orang Miss Alena sendiri yang suka nanyain Kak Gala lewat Riko kok." ucap Riko sembari meminum segelas air putih seusai menghabiskan sarapan paginya.
"Ma, Pa... Riko pergi dulu ya... keburu siang nanti." pamit Riko pada orang tuanya.
"Lho... kamu buru-buru mau kemana Riko?" tanya sang ayah.
"Rikooo...." teriak histeris Bu Fina.
"Waalaikumsalam..." jawab Gala dan ayahnya.
Seusai sarapan pagi, mereka pun lantas bergegas untuk melakukan rutinitasnya masing-masing.
*****
Gendhis baru pulang dari mengantar Bu Sari ke pasar. Saat memarkirkan motor maticnya, ia melihat sebuah mobil terparkir rapi di halaman rumahnya. Ia bersama ibunya masuk melalui pintu dapur. Dari ruang tengah terdengar Pak Ratno sedang mengobrol sangat akrab sekali seolah mereka sudah lama saling mengenal. Bu Sari keluar untuk menemui tamu tersebut. Tetapi setelah beberapa saat Bu Sari lantas memanggil Gendhis.
"Gendhis...ada tamu yang mencari mu, Nduk!" panggil Bu Sari pada Gendhis yang sedang membongkar tas berisi barang belanjaan di dapur.
"Tamu? Siapa, Bu. Teman sekolah mu dulu katanya. Nama, Rii... Rii..." kata Bu Sari.
"Riko maksud ibu?" kata Gendhis menebak.
"Nah... bener itu. Riko... bener ya teman SMA kamu dulu? Kok kamu ndak pernah cerita sama ibu?" tanya Bu Sari.
__ADS_1
"Ibu... teman sekolah Gendhis kan banyak, masa Gendhis harus cerita semua satu persatu?" jawab Gendhis.
"Bener juga ya, Nduk... tapi kelihatannya dia anak baik. Bapak sudah ngobrol panjang lebar dengannya tadi waktu kalian pergi." tiba-tiba Pak Ratno sudah berada di belakang ibu dan anak itu.
"Mas Riko ngapain ke sini, Pak?" tanya Gendhis penasaran, karena seperti yang ia tahu selama ini. "Laki-laki itu terkadang suka bertindak nekat tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Contoh kecilnya hari ini. Tiba-tiba aja dia datang tanpa kasih kabar. Bawa oleh-oleh setumpuk pula di ruang tengah. Siapa lagi yang bawa barang-barang mewah itu kalau bukan dirinya? Itu pasti buat nyogok Bapak sama Ibu." ucap Gendhis dalam hati.
"Yang jelas niatnya baik, untuk bersilaturahmi. Sebagai tuan rumah yang baik kita juga harus menyambut tamu kita dengan baik pula, iya kan Bu?" ucap Pak Ratno.
"Iya... betul Pakne..." jawab Bu Sari singkat.
"Gendhis, tolong ambilkan peci sama sarung bapak di lemari kamar ya, sebentar lagi masuk waktu dzuhur." pinta Pak Ratno sengaja agar Gendhis tidak mendengar percakapannya dengan Bu Sari.
"Baik, Pak..." jawab Gendhis seraya berjalan ke kamar orang tuanya.
Sementara di dapur, Pak Ratno nampak serius berbicara empat mata dengan istrinya.
"Ada apa to Pakne? Sepertinya serius banget." tanya Bu Sari penasaran.
"Begini, Bu..." Pak Ratno sedikit merendahkan suaranya agar Gendhis tak mendengar perkataannya.
"Bu... tadi sudah nemuin tamu yang di luar teman Gendhis itu to? Menurut Ibu gimana? tanya Pak Ratno.
"Gimana apanya, Pak? Orang Ibu juga baru pertama kali ketemu dia ya mana Ibu tahu to Pak." jawab Bu Sari.
"Iya juga yaaa... begini... "
Pak Ratno mengutarakan maksud kedatangan Riko siang ini tidak lain adalah meminta izin pada kedua orang tua Gendhis untuk diperbolehkan menjalin hubungan dengan putrinya. Bukan untuk berpacaran, tapi dia ingin serius. Jika Gendhis tidak keberatan, Riko akan membawa kedua orang tuanya untuk melamar Gendhis. Jika Gendhis mau dan orang tua nya setuju, Riko akan menikahi Gendhis. Riko juga sudah dengan gamblang menceritakan tentang asal usul juga keluarganya sedetail mungkin untuk menunjukkan keseriusannya.
"Jadi begitu, Bune... ceritanya. Kalau menurut Bune gimana?" ucap Pak Ratno seusai menjelaskan maksud kedatangan Riko pada istrinya.
"Oh... jadi begitu... kalau ibu sih ya, dari cerita bapak tadi sepertinya anak itu nggak main-main. Tapi kembali lagi... semuanya ada di tangan Gendhis. Kita sudah pernah membuat satu keputusan yang berakibat tidak baik pada putri kita. Jangan sampai kita jatuh di lubang yang sama. Kita biarkan Gendhis yang menentukan sendiri masa depannya. Kalau Gendhis bahagia, Ibu juga pasti bahagia, Pakne..." keputusan final dari Bu Sari.
"Benar juga ya, Bu... Baiklah kalau begitu, kita kasih waktu untuk Gendhis menentukan sendiri apakah dia akan menerima laki-laki itu atau... seperti apa kita belum tahu." jawab Pak Ratno.
Setelah selesai berunding, Ibu dan Ayah itu lalu keluar menuju ruang tamu untuk melanjutkan obrolan mereka dengan Riko.
*****
__ADS_1