
"Silakan Nyonya, ini kamar Anda sesuai dengan pesanan atas nama Bapak Manggala Kresna." ucap pelayan hotel dengan ramahnya mengantarkan Gendhis hingga ke kamarnya.
"Terimakasih, Mbak..." jawab Gendhis.
"Sama-sama... Apakah Nyonya butuh sesuatu?" tanya pelayan hotel cantik itu.
"Eeemm... sementara, nggak Mbak." jawab Gendhis.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, selamat beristirahat..." ucap pelayan hotel pergi lalu menutup pintu.
Gendhis berjalan pelan. Ia terus mengamati seisi kamar dengan takjub.
"Masya Allah... mimpi apa aku semalam bisa menginap di kamar semewah ini." Gendhis terheran-heran karena selama ini belum pernah ia menginap di hotel, apa lagi hotel semewah Amanjiwo Resort. Benar-benar tak pernah walau sebatas membayangkan. Ia lantas berfikir, berapa budget yang harus dikeluarkan oleh suaminya untuk menghukum kesalahan Gendhis kemarin sore ya?
Saking terpukaunya melihat seisi kamar, Gendhis hampir lupa tujuan dia datang ke sini adalah untuk menemui Gala. Tapi di mana dia? Sejauh ini dia belum melihat suaminya, padahal sore sudah berganti malam. Hatinya mulai cemas, sebenarnya apa tujuan Gala meminta Gendhis menunggunya sendirian di kamar se mewah ini. Kata Gala akan datang sebentar lagi, tapi sudah satu jam menunggu Gala belum juga datang. Ahirnya setelah tiba waktu isya' Gendhis langsung menunaikan kewajibannya.
Usai sholat isya', Gendhis mengambil ponselnya lantas mengirim pesan untuk Gala.
^^^Gendhis - π§^^^
^^^"Pak Gala... hukumannya sudah belum sih? Kapan Bapak maafin saya? Bapak di mana sekarang? Kenapa belum kesini juga?"^^^
^^^Gala - π§^^^
^^^"Kenapa??? Kamu udah nggak sabar mau ketemu sama aku ya?"^^^
^^^Gendhis - π§^^^
^^^"Jahattt.... π₯Ίπ₯Ί"^^^
Gala tersenyum gemas mengetahui gadis itu mulai merajuk.
^^^Gala - π§^^^
^^^"Aku kesitu sekarang... tapi..."^^^
^^^Gendhis - π§^^^
^^^"Tapi apa?"^^^
^^^Gala - π§^^^
^^^"Ikuti perkataan ku!"^^^
^^^Gendhis - π§^^^
^^^"Baikk... Pak Dosen... apa yang harus saya perbuat agar Bapak tidak marah lagi?"^^^
^^^Gala - π§^^^
__ADS_1
^^^"Buka kotak bingkisan yang kamu bawa tadi."^^^
Gendhis penasaran, sebenarnya apa sih isi bingkisan itu? Sampai-sampai mau buka aja nunggu komando? Jangan-jangan boom waktu? Fikir Gendhis. Ahirnya Gendhis buka bingkisan itu dan ternyata isinya adalah...
"Apa? Gaun malam? Masya Allah... Pak Gala beliin aku gaun malam??? Buat apa coba? Aku kan nggak pernah pakai baju kayak gini? Emang yaaa... dosen ku itu sukanya buang-buang uang aja!" Gendhis bicara sendiri sambil memasukkan kembali gaun itu ke dalam kotak.
^^^Gala - π§^^^
^^^"Gimana? Kamu udah buka? Sekarang juga... kamu pakai gaun itu! Aku pengen lihat kamu memakai baju yang aku pilihkan!^^^
"Apa? Pak Gala minta aku memakai baju yang belum jadi itu? Ohhh... tidak... apa nggak ada hukuman lain. Jangankan memakainya, lihat model bajunya aja aku malu sendiri..." ucap Gendhis sambil membuka kembali dan memegang gaun itu.
^^^Gendhis - π§^^^
^^^"Eeemm... Pak Gala... boleh nawar nggak? Ada model baju lain nggak sih, yang agak tertutup gitu..."^^^
^^^Gala - π§^^^
^^^"Nggak ada tawar menawar! Kalau nggak mau ya udah. Aku yakin kamu faham betul, bagaimana jika seorang istri membuat suaminya marah dan tak mau memaafkannya!"^^^
^^^Gendhis - π§^^^
^^^"Waduh... iya... iya... Pak Gala... maaf saya cuma bercanda. Tolong jangan marah lagi... baiklah, saya... akan memakainya sekarang.^^^
^^^Gala - π§^^^
^^^"Bagus...! Se... ka... rang! Okeyy..."^^^
Gendhis menghela nafas panjang. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan suaminya. Ahirnya ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Usai mengganti bajunya dengan gaun berwarna merah maroon pilihan Gala, Gendhis menghadapkan tubuhnya ke arah cermin.
Cukup lama dia berada di kamar mandi karena rasa canggungnya mengenakan gaun yang menampakkan tiap lekuk tubuhnya.
Ahirnya, "Bismillahirrahmanirrahim..." Gendhis keluar dari kamar mandi.
Gendhis terkejut bukan main ketika melihat Gala sudah duduk di atas kursi dan tengah memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut hitam panjang tergerai. Kulit putih bersih dibalut dengan gaun merah maroon. Bagian depan atas dadanya terbuka sehingga terlihat ada belahan bersembunyi di balik gaun itu. Gaun tak berlengan dengan panjang di atas lutut itu sukses membuat tubuh Gendhis ter expose sempurna di hadapan suaminya.
Seketika karena merasa malu, Gendhis membalikkan badannya ke arah dinding kamar dan menutupi bagian depan dada dengan kedua tangannya.
Gala enggan melepaskan pandangannya. Ia segera bangkit dari tempat duduk lantas berjalan mendekati Gendhis hingga tepat berada di belakang Gendhis. Wangi aroma Gendhis benar-benar membuat Gala ingin segera menerkamnya.
"Gendhis... kamu cantik malam ini. Aku suka!" bisik Gala di telinga Gendhis membuat bulu kudunya tertantang.
Karena Gendhis tak jua berbalik arah, ahirnya Gala meraih pundak Gendhis lantas membalikkan badannya. Karena malu Gendhis menundukkan wajah, memejamkan mata lalu melangkahkan kakinya ke belakang. Gala terus mengikutinya. Apa pun yang terjadi, malam ini dia harus berhasil mendapatkan Gendhis seutuhnya.
Gendhis melangkah ke belakang hingga punggungnya lekat dengan dinding kamar. Gala terus mengikutinya dan menurunkan kedua tangan Gendhis agar tak ada lagi yang menghalanginya. Gala semakin mendekat hingga tak ada jarak lagi di antara tubuh mereka kecuali pakaian yang mereka kenakan.
"Gendhis... buka mata mu..." ucap Gala lirih.
"Gendhis... ayo, buka mata mu..." Gala mengulang perkataannya.
Dengan dada berdegup sangat kencang, Gendhis mulai membuka mata.
"Tatap mataku dan katakan apa yang ingin kau katakan pagi tadi di rumah!" pinta Gala. Ternyata tanpa sepengetahuan Gendhis, Gala sudah mendengar ucapan cinta Gendhis, tapi kali ini... dia ingin mendengarkannya dengan suasana yang berbeda.
"Pak... Gaa... laa... saaa.. ya, saya..." ucap Gendhis terputus-putus.
__ADS_1
"Sssttt...Panggil aku, Mas Gala! Aku suami mu. Bukan dosen mu..." pinta Gala mesra sambil jemarinya merapikan sedikit rambut Gendhis yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Tapi... saya belum wisuda..." jawab Gendhis.
"Ohhh... Gendhis... harus berapa kali aku bilang. Aku suamimu... panggil aku Mas Gala atau aku... akan...?" Gala mulai gemas dan lebih mendekatkan tubuhnya hingga Gendhis serasa sulit untuk bernafas.
"Ayooo... buruan Gendhis..." desak Gala lirih.
"Baaaiklah... Maa...mas Gala... aku... mencintaimu!" ahirnya kata itu keluar juga dari mulut Gendhis.
Tanpa berfikir lagi, Gala langsung menerkam mulut manis itu dengan lembut. Gendhis menyambutnya dengan hangat hingga beberapa saat. Lima menit kemudian Gala mengusap bibir merah Gendhis dengan jemarinya seraya berkata, "Terimakasih sudah menjadi istri ku. Aku mencintaimu. Tak peduli walau seisi dunia mencelaku sebagai kakak yang tak mau mengalah pada adik satu-satunya. Tapi kau tahu... aku tak bisa hidup tanpa mu. Dan sekarang aku yakin kalau cinta mu hanyalah untuk ku. Gendhis... Apa kau tahu? Aku begitu pencemburu... aku tak rela berbagi kecantikan istriku pada laki-laki lain. Termasuk pada adik ku sendiri. Berjanjilah... jangan pernah tunjukkan pesona mu di hadapan laki-laki lain. Semuanya milik ku, hanya untuk ku..." ucap Gala dengan nafas memburu dan jantung berdetak kencang.
Gendhis tak berbicara apapun. Ia baru memahami sosok dosen yang sekarang menjadi suaminya itu ternyata sangatlah pencemburu.
"Gendhis... apakah sekarang kamu sudah siap menerima ku sebagai suami mu seutuhnya?" tanya Gala.
"Iii.. ya.. aku si.. ap!" jawabnya.
"Tak ada rasa takut lagi? Ragu lagi?" tanya Gala dan Gendhis menggelengkan kepalanya.
"Jadi... apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Gala sambil menatap mata Gendhis tajam.
"Iiii... ya. Sekarang!" jawab Gendhis dan kedua pasang mata itu pun saling beradu seolah tak ada lagi satu hal pun yang menghalangi keduanya.
Usai mengucap do'a, Gala mengecup kening Gendhis dengan lembut, memeluknya erat-erat dan menyapu setiap sisi yang bisa ia jangkau dengan jemarinya. Tak seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini Gendhis tak memberikan perlawanan atas apa yang Gala lakukan padanya. Sepertinya dia sudah benar-benar larut dalam buaian asmara dosen tampan suaminya. Hingga tanpa ia sadari, gaun pemberian Gala itu telah jatuh ke lantai begitu pula dengan pakaian Gala.
Keduanya pun seolah saling mengerti tugas dan tanggung jawab masing-masing. Menikmati peran masing-masing. Hingga pada ahirnya... seperti yang Gala inginkan, malam ini ia telah berhasil meruntuhkan benteng pertahanan Gendhis yang selama ini begitu kuat membatasi hingga menimbulkan jarak di antara mereka.
Saat terbaring di atas tempat tidur, antara sadar dan tidak sadar, Gendhis merasa tubuhnya bagai melayang di awan putih ketika Gala usai menuntaskan kewajiban sebagai suaminya. Rasa takut yang selama ini menghantuinya sirna sudah ketika cintanya untuk Gala mulai tumbuh.
Keduanya masih terbaring di ranjang yang sama.
"Gendhis... terimakasih... untuk semuanya, maafkan aku telah membuat mu sakit..." ucap Gala sambil berulang kali mengecup kening istrinya karena merasa tak tega setelah melihat bercak merah itu.
Gendhis hanya tersenyum lega sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku bersyukur.. Anak-anak ku nanti akan terlahir dari rahim wanita seperti mu yang begitu baik, sholihah. Dan aku yakin, mereka kelak akan jadi anak yang penurut saat dinasehati, sama seperti kamu." ucap Gala saat Gendhis tertidur dalam dekapannya.
"Amiiin... amiiin... mudah-mudahan Allah mengabulkan. Aku juga bersyukur memiliki suami seperti Mas Gala yang sholeh, dewasa, baik, sabar... tapi... sedikit pencemburu." jawab Gendhis sambil tersenyum menggoda.
"Eeeyyy... cemburu itu tandanya cinta lho! Emang ada larangan cemburu sama istri sendiri?" Gala membela diri.
"Iya deh... iyaaa... aku kalah debat sama Mas Dosen. Ampun, Mas Dosen Sayang...!" canda Gendhis.
"Apa? Coba ulangi lagi...!" pinta Gala.
"Mas Dosen Gala tersayang... aku mencintaimu." ucap Gendhis tanpa ragu lagi.
"Alhamdulillah... terimakasih ya Allah... sudah menganugerahkan ku istri sebaik mahasiswi ku ini. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan keberkahan." ucap Gala.
"Amiiin..."
Malam semakin larut. Bulan madu ini benar-benar seperti yang Gala rencanakan. Mungkin dalam tiga sampai empat hari kedepan, pasangan pengantin baru ini akan menghabiskan waktu mereka di tempat ini. Amanjiwo Resort malam itu menjadi saksi bisu menyatunya dua insan yang telah terikat oleh cinta dan janji suci pernikahan.
*****
__ADS_1
...Terimakasih sudah berkunjung... π€π€ jangan lupa komentar serta dukungannya yaaa... terimakasih π₯°π₯°π₯°πππ...