
"Mas Gala..." panggil Gendhis sesaat usai Gala membereskan makanan Gendhis lalu membawanya ke dapur.
"Iya... ada apa?" tanya Gala singkat.
Gendhis menundukkan kepalanya sambil berkata, "Maaf... sudah bikin khawatir..."
"Aku maafkan, tapi untuk sekali ini aja." jawab Gala sambil duduk di sebelah Gendhis di atas tempat tidurnya.
"Aku memang tidak pandai memberi kejutan seperti Mas Gala. Harusnya aku bisa membuat Mas Gala bahagia di hari ini, tapi justru aku malah membuat Mas Gala khawatir." ucap Gendhis menyesal.
Lelaki itu belum juga menangkap maksud perkataan istrinya.
Gendhis mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah bingkisan kecil untuk Gala. Ia lalu meraih tangan Gala lalu menciumnya seraya berkata, "Brakallah fii umrik, duhai Suami ku... Tetaplah jadi suami yang selalu di rindukan syurga dan jadi imam yang sabar untuk keluarga kecil kita."
Gala sempat terkejut. Karena sibuk menghawatirkan Gendhis, ia sampai lupa kalau hari ini sedang berulang tahun.
"Apa ini?" tanya Gala saat menerima bingkisan itu.
"Itu hanya sekedar bingkisan. Sebenarnya tak sebanding dengan apa yang sudah Mas Gala berikan pada ku selama ini. Tapi di dalamnya ada bukti cinta kita." jawab Gendhis.
Gala lalu membukanya. Ternyata di dalam kotak tersebut ada sebuah jam tangan elegan untuk Gala dan selembar kertas hasil USG baby twins mereka.
"Masya Allah... Gendhis... jadi untuk ini kamu pergi tadi pagi?" tanya Gala.
Gendhis menunduk sambil menganggukkan kepalanya karena takut laki-laki itu akan memarahinya setelah membuatnya khawatir.
__ADS_1
Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Gala langsung mengecup kening Gendhis lalu memeluk erat tubuhnya.
"Harusnya, aku kasih kabar gembira ini tanpa harus membuat Mas Gala khawatir. Tapi justru sebaliknya... bahkan Mas Gala tahu berita kehamilan ku sebelum aku mengatakannya." ucap Gendhis menyesal.
"Gendhis... tak peduli apakah aku sudah tahu tadi atau pun sekarang. Apa kamu tahu? Ini adalah hadiah terindah di sepanjang hari ulang tahun ku. Terimakasih, Sayang... aku mencintaimu. Hingga ajal menjemput ku, ku akan slalu mencintamu, menyayangimu, engkau tulang rusuk ku..." jawab Gala penuh kebahagiaan. Ia melepaskan pelukannya lalu mengelus dan mengecup perut Gendhis seolah ingin mengajak berbicara si calon baby twins nya.
"Heyyy... apa kabar kalian yang ada di situ? Jangan buat repot Mama kalian ya? Jangan males makan juga minum susu. Besok jika kalian lahir, kalian pasti akan jadi anak-anak paling bahagia di dunia ini, karena memiliki Mama seperti Mama Gendhis. Papa tak bisa melukiskan betapa baiknya Mama kalian, karena esok... kalian pasti akan tahu dengan sendirinya. Jadilah anak yang baik, sayangi Mama seperti halnya Mama menyayangi kalian. Jika Papa tak ada lagi di duni ini, maka kalianlah yang akan menjaga dan melindungi Mama, seperti halnya Papa melindunginya..." ucap Gala lirih di depan perut Gendhis.
Gendhing menjewer telinga Gala hingga membuat laki-laki itu kesakitan.
"Aduh... sakit, Sayang...." ucap Gala sambil memegang telinga kanannya.
"Bukannya Mas Gala sudah berjanji untuk tidak akan berbicara seperti itu lagi? Kenapa sekarang ingkar? Ini hukumannya untuk ucapan Mas Gala barusan." jawab Gendhis.
Gendhis lantas berganti memeluk erat suaminya.
Gala tersenyum sambil menarik nafas panjang dan berkata, "Baiklah... aku berjanji... akan menjagamu, mencintaimu, di sampingmu, apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu, dalam suka juga duka!" janji Gala pada Gendhis.
Gendhis tersenyum lega dengan ucapan Gala. Kebahagiaannya terasa sempurna. Dan seolah tak sabar lagi, mereka ingin sekali segera menyambut kedatangan buah hati mereka terlahir ke dunia ini.
*****
Tinggal beberapa bulan lagi, Riko akan menyelesaikan S2nya. Setelah itu, dia akan kembali ke Indonesia. Pernikahannya dengan Shaza sepertinya sudah bukan mimpi lagi untuk Pak Hari dan Bu Fina. Meski belum yakin seratus persen akan cintanya pada Shaza, namun setidaknya ia sudah mau dan berani untuk belajar mencintai Shaza. Seiring berjalannya waktu nanti, ia berharap Shaza bisa menggantikan posisi Gendhis di hatinya.
Dari awal bertemu, Shaza sudah begitu yakin kalau Riko adalah laki-laki yang baik. Meski sempat kecewa karena sikap Riko yang angkuh dan dingin itu, namun perlahan ia mulai memahami alasan mengapa Riko bersikap demikian. Ia bahkan dengan sabar dan ikhlas menanti saat-saat di mana Riko akan mencintainya dengan tulus tanpa paksaan. Karena ia tahu, Riko tak pernah punya maksud untuk mempermainkan perasaannya. Bahkan Riko sangat menghargai perasaan wanita.
__ADS_1
Sekarang... dia hanya tinggal menunggu sampai saat pernikahannya akan tiba. Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar. Namun semua itu akan ia jalani dengan penuh kesabaran karena diam-diam wanita itu sudah lebih dulu jatuh hati pada Riko.
*****
Sementara Lintang? Bagaimana dengan kabarnya sekarang?
Usai ia meninggalkan Kota Denpasar, sejak saat itu ia tak pernah kembali lagi ke sana. Penyesalannya begitu dalam terhadap Gendhis, hingga ia tak sempat lagi memikirkan masa depannya. Ditambah lagi penghianatan dan penghinaan Gabby terhadap dirinya. Semua itu membuat dirinya semakin terpuruk.
Namun setidaknya, ada hikmah yang dapat ia ambil dari semua kejadian itu. Lintang sekarang jadi pribadi yang lebih baik. Hingga keluarganya merasa telah mendapatkan Lintang mereka kembali. Lintang bahkan tak peduli saat ada surat keputusan yang ditujukan padanya yang mengatakan bahwa dirinya sudah dikeluarkan dari keanggotaan TNI. Ia sadar, cita-citanya itu sudah memisahkan dirinya dengan keluarga dan orang yang begitu tulus mencintainya dulu. Sebenarnya bukan salah cita-citanya, tapi salah Lintang yang tak kuat menahan godaan dan cobaan. Ia terlena oleh hingar bingar kehidupan remaja yang menjerumuskan dirinya pada jurang penyesalan.
Kini, Lintang telah menjadi Lintang yang dulu selalu patuh pada kedua orang tuanya. Ia bahkan yang melanjutkan bisnis dan usaha Pak Argo. Menjadi tuan tanah yang dermawan dan satu-satunya pewaris tunggal keluarga Mitro Dimejo, dengan ladang puluhan hektare di puncak Sumbing.
Namun meski sekarang segalanya telah ia miliki, hatinya masih terasa sepi. Ia telah memutuskan untuk tidak akan mencintai wanita lain selain Gendhis. Baginya, tak ada wanita lain sebaik Gendhis. Jika bukan Gendhis, maka dia tidak akan pernah menikah lagi. Biarlah Gendhis hidup bahagia dengan pilihan hatinya. Tapi sampai kapan pun, nama Gendhis akan selalu hidup dalam sanubarinya.
****TAMAT*****
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
Kakak-kakak Pembaca yang setia... terimakasih πππ sudah setia selalu menantikan kelanjutan episode di "Jodoh Masa Kecil" dari episode pertama hingga terakhir. Othor yakin masih banyak sekali kekurangannya. Maaf baru bisa sampai di sini. Mungkin... banyak yang bertanya-tanya kenapa end gitu aja? π€π€
Atau masih penasaran dengan kelanjutannya gimana? π€
Sementara cukup sampai di sini yaaa... karena Othor harus konsentrasi dulu untuk persiapan pre tes dan PPG. Mungkin... jika masih ada waktu juga kesempatan... kita akan ketemu lagi di Jodoh Masa Kecil Season 2 π€βatau mungkin di karya saya yang lain.
Sekali lagi Othor ucapkan banyak terimakasih. Mohon maaf belum bisa memuaskan hati reader semuanya. π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
__ADS_1
Sampai jumpa dan salam semangattt... πͺπͺπͺ
...****************...