Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Ku Jemput Tulang Rusuk Ku


__ADS_3

Puisi Gala


...๐Ÿ’•Kan Ku Jemput Tulang Rusuk Ku๐Ÿ’•...


...Saat kelopak mata lekat merapat...


...Saat jiwa-jiwa beterbangan memburu mimpi...


...Dengan tetesan embun kehidupan,...


...Ku basuh wajah dan ku sucikan diriku...


...Ku susun nafasku tuk bersujud pada Mu...


...Ku jelang cahaya fajar dengan sepenggal do'a...


...Menanti penuh sabar seraya memuji asma Mu...


...Hari ini... kan ku jemput serpihan tulang rusuk ku...


...Semoga tak ada satupun penghilang...


...Yang mampu memupuskan niat suci ku...


...Tuk sempurnakan iman ku...


...Agar terjaga goda dan syahwat ku...


...Dari percikan api neraka Mu...


...Sungguh... aku hanyalah makhluk Mu yang lemah...


...Yang setiap saat bisa terpeleset lalu jatuh...


...Dalam lembah penuh dosa...


...Namun... satu yang aku pinta di setiap sujudku...


...Jagalah iman dan taqwa ku...


...Lindungilah pandangan ku...


...Dari sesuatu yang aku sendiri tak mampu untuk mengendalikannya, kecuali atas se izin Mu Ya Robb... Amin...๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ...


Sudah sejak pukul dua dini hari Gala terbangun dari tidurnya. Bagaimana tidak? Laki-laki tampan itu semalam suntuk tak bisa tidur lelap lantaran hari ini adalah hari yang paling ia tunggu di sepanjang hidupnya. Hari ini... adalah hari pernikahannya dengan gadis yang sejak pertama bertemu sudah berhasil menggetarkan jiwanya. Setelah melalui cobaan yang berliku, hingga ia harus jauh dari adik satu-satunya, ahirnya pencariannya pun berakhir. Ia berhasil melabuhkan hatinya ketika Gendhis bersedia menerima pinangannya.


Usai sholat subuh, Gala segera mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah Gendhis bersama dengan orang tua juga sanak saudaranya. Seperti permintaan dari Pak Penghulu, bahwa ijab qobul akan dilaksanakan pukul 08.00 WIB. Jadi sebelum jam delapan, Gala beserta rombongannya harus sudah sampai di rumah Gendhis. Karenanya, ia bersiap-siap sejak dini hari.


Ketika surya mulai menampakan sinarnya di ufuk timur, Gala bersiap mengenakan pakaian kebesarannya yang bernuansa light grey, rambut rapi, dan aroma dunhill blue yang ia pakai membuat Gala semakin terlihat gagah dan berkarismatik. Ia segera berjalan menuruni tangga di mana di ruang tamu puluhan orang sudah menunggunya.


Suasana di rumah Pak Hari nampak ramai. Mereka di sana untuk mengantarkan keberangkatan calon mepelai pria kesayangan mereka. Setelah bersalaman dan mencium tangan kedua orang tuanya sebagai simbol permohonan do'a restu. Bu Fina dan Pak hari pun tak kuasa menahan air mata kebahagiaan mereka, sekaligus merasa haru karena salah satu putra mereka tak ada di hari bahagia ini. Riko, adik Gala satu-satunya memilih untuk pergi jauh di hari pernikahan kakaknya.


Beberapa mobil mewah pengantar calon penggantin pria terparkir rapi di halaman rumah Pak Hari. Bahkan mobil toyota camry warna putih kesayangan Gala juga sudah dihias menawan lengkap dengan rangkaian bunga. Tepat pukul 06.00 WIB Gala beserta rombongan pengantin laki-laki berangkat menuju tempat calon mempelai wanita yang berada di Puncak Sumbing.

__ADS_1


*****


Pukul enam pagi. Suasana di Kampung Merangi masih sangat sepi. Baru beberapa orang saja yang terlihat sudah beraktivitas. Udara dingin khas pegunungan sangatlah terasa krtika mobil Lintang perlahan masuk di kawasan Desa Sekar Wangi. Ia menghirup aroma pagi yang selama ini ia rindukan. Meski belum genap setahun ia meninggalkan kampung halamannya, namun sepertinya sudah terlalu lama ia jauh dari kampung yang sudah membesarkan namanya itu.


Mobil Lintang mulai memasuki Kampung Merangi. Dadanya berdetak sangat kencang seolah tak sabar lagi ingin menemui keluarganya. Di persimpangan jalan, ia melihat ada janur kuning melengkung dengan eloknya. Dalam hati Lintang sempat bertanya, siapakah yang hari ini akan menikah? Namun pertanyaan itu segera ia tepis karena yang terpenting baginya saat itu adalah bertemu keluarganya.


Beberapa meter dari rumahnya, Lintang melihat suasana yang lain dari biasanya. Ada banyak kursi di sana. Ada tenda lengkap dengan dekorasi yang dipenuhi dengan rangkaian bunga. Kelambu dan kursi pelaminan elegan yang didominasi warna light grey. Hati Lintang mulai cemas, sebenarnya siapa yang akan menikah?


Langkahnya semakin gontai ketika ia masuk dalam rumah yang sudah lama ia tinggalkan itu. Suasana masih sepi, lantas ia memutuskan untuk berjalan ke dapur menemui Sang Ibu. Di sana Lintang tak dapat menemukan ibunya. Lintang ke atas menuju kamar Bu Parti namun tak ada siapa pun di sana.


"Kemana sebenarnya orang rumah?" Lintang bertanya dalam hati.


Ketika ia hendak turun melewati tangga, ia melihat Bu Parti sudah berada di ruang tamu dengan mengenakan pakaian rapi. Alangkah terkejutnya wanita paruh baya itu melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Lintang berjalan pelan ke arah Bu Parti dengan wajah penyesalannya.


"Lintang? Mau apa dia ke sini? Bahkan di saat hari sepenting ini..." Bu Parti sangat khawatir kehadiran putranya itu akan mengacaukan pernikahan Gendhis dengan Gala.


Lintang bersujud dan menangis sejadi-jadinya di lutut Sang Ibu. Ia meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Hati Bu Parti sakit melihat putra satu-satunya menangis dan bersujud di kakinya. Ahirnya nurani seorang ibu pun memaafkan kesalahan putranya. Tapi... kehidupan tetap harus berjalan. Ia lantas menceritakan kalau hari ini Gendhis akan menikah.


Mendengar perkataan ibunya, Lintang merasa semakin terpuruk. Hidupnya serasa hancur berkeping-keping. Lintang segera bangkit dan pergi meninggalkan Bu Parti.


"Lintang... kamu mau kemana?" tanya Bu Parti tapi tak di indahkan oleh Lintang.


Bu parti pun berjalan mengikuti Lintang. Ternyata laki-laki itu pergi untuk mencari Gendhis di rumahnya. Bu Parti semakin panik dengan ingin segera tahu apa yang akan Lintang lakukan.


Sesampainya di rumah Gendhis Lintang terperanjat melihat gadis yang dulu pernah ia tinggalkan itu sekarang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pernikahannya.


Seperti halnya Lintang, Gendhis pun terkejut melihat Lintang yang tiba-tiba ada di hadapannya. Ia merasa ini hanya bayangan Lintang saja yang mencoba mengusik hari bahagianya.


Saat mendengar panggilan itu, Gendhis baru sadar kalau ini bukanlah mimpi.


Semua yang ada di ruangan itupun bertanya-tanya namun tak ada yang berani bersuara.


Lintang berjalan mendekati Gendhis.


"Dis... aku datang. Aku harap aku tidak terlambat. Aku... minta maaf! Aku tahu aku sudah sangat bersalah telah mengabaikan mu. Aku menyesal, tolong maafkan aku dan... batalkan pernikahan ini. Aku tak bisa hidup tanpa mu, Dis... tolong... jangan pergi dari ku..." suara Lintang dengan wajah berlinang air mata. Ia pun menceritakan semua kisah menyedihkannya yang telah tertipu oleh bujuk rayu Gabby.


Melihat perilaku putranya, Bu Parti benar-benar merasa malu, sehingga ia berusaha mencegah Lintang berbuat lebih buruk lagi.


"Lintang!!! Siapa yang memberi mu hak untuk bicara seperti itu?" wanita paruh baya itu hendak menampar wajah Lintang namun segera Gendhis tepis dengan tangannya.


"Bu... biarkan dia bicara." ucap Gendhis masih dengan ekspresi sulit untuk percaya.


Lintang pun melanjutkan perkataannya, "Gendhis... tolong jangan lakukan ini pada ku. Aku mohon batalkan pernikahan ini. Aku nggak bisa hidup tanpamu!" Lintang bahkan berlutut di hadapan Gendhis.


Lintang masih dengan rasa penyesalannya. Tapi di luar, sepertinya calon mempelai pria bersama para sanak saudara sudah mulai berdatangan memenuhi kursi tamu. Gala sudah tak sabar lagi ingin segera melihat calon pengantinnya. Ia tak tahu kalau di dalam sana, gadis itu sedang dalam perang bathin yang luar biasa akibat kedatangan Lintang.


Gala sudah bersiap duduk di atas kursi yang disiapkan untuk acara ijab qobul. Ada meja, beberapa kursi dan saksi juga pak penghulu tentunya. Setelah menunggu cukup lama, dari dalam belum juga ada kode untuk memulai acara ijab qobul. Gala semakin resah dan penghulu pun meminta kepada anggota keluarga untuk segera memulai acara ijab qobul.


Di dalam rumah, Gendhis masih terdiam tak memberikan jawaban atas pertanyaan Lintang.


Sesaat kemudian, seseorang datang dan berkata, "Pak Ratno, penghulu sudah siap. Katanya ijab qobul akan segera dilaksanakan."


"Iya, Pak... tunggu sebentar lagi." jawab Pak Ratno.

__ADS_1


Orang tua Gendhis juga ada di sana seolah berusaha menguatkan putri mereka agar tidak terpengaruh oleh rayuan Lintang. Namun sekali lagi, mereka ingin Gendhis yang membuat keputusan itu sendiri.


Lintang semakin gusar tak menentu. Andai ia bisa memutar waktu kembali, maka ia tak kan pernah menyia-nyiakan gadis sebaik Gendhis. Ia juga tak akan membiarkan gadis itu sekalipun berfikir untuk menikah dengan orang lain.


"Gendhis... aku mohon! Fikirkan sekali lagi... aku janji akan buat kamu bahagia dan tak akan pernah buat kamu sedih lagi..." Lintang masih terus meyakinkan Gendhis.


Karena tak sabar lagi menunggu, pak penghulu meminta salah seorang saksi pernikahan untuk menyusul mempelai wanita.


"Maaf... Pak Penghulu bertanya, apakah pernikahan jadi dilanjutkan?" ucapnya.


Semua mata tertuju pada Gendhis. Sesaat kemudian, ia berkata... "Katakan pada penggulu... ijab qobul bisa dimulai sekarang." jawab Gendhis penuh keyakinan.


"Alhamdulillah... " semua yang ada di ruangan itu nampak bahagia dan bersyukur dengan keputusan Gendhis. Hanya Lintang seorang yang teramat sedih tak berdaya mendengar keputusan Gendhis.


"Mas Lintang... aku sudah memaafkan semua kesalahan mu. Tapi bukan berarti aku akan melanjutkan hidup ku bersama mu. Mungkin kita memang ditakdirkan bukan berjodoh. Karena sesungguhnya... tak semua jodoh masa kecil itu akan membawa kebahagiaan!" ucap Gendhis lantas berjalan meninggalkan Lintang seorang diri bersama dengan segudang penyesalan.


Gendhis duduk di ruang tamu yang sudah disiapkan. Ia baru akan keluar menemui Gala ketika ijab qobul selesai diucapkan dan laki-laki itu resmi menjadi suaminya.


Dari pengeras suara, terdengar penghulu mulai membuka acara. Semua yang hadir sangat tegang menunggu momen yang paling mendebarkan.


Tak lama kemudian, penghulu berikrar,


ุฃู†ูƒุญุชูƒ ูˆุฒูˆุฌุชูƒ ู…ุฎุทูˆุจุชูƒ Gendhis Manis Ayunindya ุจู†ุชูŠ Bapak Suratno ุนู„ู‰ุงู„ู…ู‡ุฑู…ุฌู…ูˆุนุฉ ู…ู† ุฃุฏูˆุงุช ุงู„ุตู„ุงุฉ ุญุงู„ุง


Artinya:


"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, Gendhis Manis Ayunindya binti Bapak Suratno dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Gala๐Ÿ‘‡


ู‚ุจู„ุช ู†ูƒุงุญู‡ุง ูˆุชุฒูˆูŠุฌู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู‡ุฑ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ูˆุฑุถูŠุช ุจู‡ู‰ ูˆุงู„ู„ู‡ ูˆู„ูŠ ุงู„ุชูˆููŠู‚


Artinya: "Saya terima nikah dan kawinnya Gendhis Manis Ayunindya binti Bapak Suratno dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."


Penghulu๐Ÿ‘‡


"Bagaimana, para saksi... Sah?"


Para saksi ๐Ÿ‘‡


"Sah...!!!!"


Semua yang hadir, "Alhamdulillah hi robbil 'alamin..."


Penghulu mengucapkan do'a pengantin dan tangis bahagia pun pecah di tengah-tengah suasana ijab qobul yang mengharukan itu. Kini Gala dan Gendhis telah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di hadapan agama juga negara.



*****


...Hayyy... kakak... gimana nih yang udah nunggu momen pernikahan Gala dengan Gendhis??? Sudah Othor penuhi yaaa... ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ...


...Jangan lupa dukungan juga komentarnya yaaa... terimakasih ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...

__ADS_1


__ADS_2