
Gendhis masih berdiri di tempat parkir sepeda motornya. Ia menatap ke arah mobil Riko yang baru saja berlalu pergi meninggalkannya. Ada setitik rasa bersalah telah mengabaikan perasaan Riko, namun apa hendak dikata? Ia tak mungkin menerima dua laki-laki sekaligus dalam kehidupannya. Gendhis pun ahirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat hendak menghidupkan mesin motornya, tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi.
"Pak Gala telepon? Aduhh... gawat. Jangan-jangan dia salah faham melihat ku dengan Mas Riko barusan."
Ternyata itu dari Gala yang saat ini masih berada di dalam mobil yang terparkir di dekat gebang kampus.
👇Gendhis
"Assalamu'alaikum... iya, Pak Gala..."
👇Gala
"Waalaikumsalam... jadi bimbingan nggak?"
👇Gendhis
"Apa? Bimbingan kata Bapak?"
👇Gala
"Iya... bimbingan. Tadi kamu bilang mau bimbingan skripsi?"
👇Gendhis
"Tapi tadi kata Bapak hari ini ada acara?"
👇Gala
"Itu kan tadi... sekarang udah selesai."
Ucapan Gala seketika membuat Gendhis terheran. Sebenarnya, acara apa yang Gala ikuti, sehingga dalam hitungan menit sudah selesai. Seketika dia berfikir, apakah Gala marah karena salah faham usai melihat dirinya berbicara dengan Riko?
👇Gala
"Dis... kok malah diem? Gimana? Jadi bimbingan nggak?"
👇Gendhis
"Oh... iya... iya... Pak, jadi..."
👇Gala
"Ya udah, buruan ikuti mobilku di belakang! Atau kamu mau naik mobilku?"
__ADS_1
👇Gendhis
"Oh... nggak... nggak..., Pak. Saya pakai motor aja."
👇Gala
"Sekarang ya! Buruan aku tunggu! Assalamu'alaikum."
👇Gendhis
"Baik, Pak. Waalaikumsalam... "
Gala lantas menutup teleponnya dan bersiap untuk pergi.
Dengan hati bertanya-tanya kemana Gala akan membawanya, Gendhis ikuti saja kemauan dosennya itu. Ia yakin, Gala tak mungkin berbuat sesuatu yang dapat membahayakan jiwanya. Gendhis mengikuti mobil Gala dengan motornya.
Setelah beberapa menit mengikuti di belakang mobil Gala, ahirnya Gendhis pun ikut berhenti di depan rumah makan Panjiwo yang ada di Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Gala turun dari mobilnya untuk menemui Gendhis.
"Ayo... turun dan masuklah...!" pinta Gala melihat Gendhis yang masih duduk termangu di atas sepeda motornya.
"Pak Gala... kita mau bimbingan skripsi apa mau makan siang? Kenapa berhenti di sini?" Gendhis bertanya.
"Yaaa... dua-duanya! Aku kan belum makan siang. Sebenernya mau langsung pulang, tapi belum ada yang masak, karena... calon istriku... masih di sini..." Gala coba menggoda membuat rona di pipi Gendhis jadi memerah.
Gendhis berjalan mengikuti di belakang laki-laki tampan itu dengan rasa canggung. Tak lama kemudian, datanglah pramusaji dan Gala memesan beberapa hidangan untuk mereka.
Seperti yang Gala janjikan, ia tidak lupa bahwa alasannya mengajak Gendhis ke tempat itu adalah untuk bimbingan skripsi. Ahirnya meski dengan suasana lain dari biasanya, dosen dan mahasiswinya itu melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing tanpa melibatkan urusan pribadi mereka, karena Gala adalah seorang dosen yang profesional.
Bimbingan dan makan siang berakhir sempurna, hingga tiba saat yang cukup mendebarkan bagi Gala ketika ia akan mengungkap sebuah kebenaran yang pastinya akan membuat Gendhis terkejut. Dan Gala... sudah siap menerima konsekuensi apapun yang akan ia terima setelah Gendhis mengetahui hal yang sebenarnya.
"Dis... aku mau bicarakan hal penting. Dan setelah ini... aku serahkan semua keputusan ada di tangan kamu." Gala mulai membuka percakapan serius.
Gendhis tak mengerti apa yang akan Gala bicarakan, tapi sepertinya ini adalah masalah yang cukup serius. Ia masih berfikir, mungkinkah Gala salah faham atas perilaku Riko padanya beberapa saat lalu?
"Apa yang hendak, Bapak katakan?" tanya Gendhis penasaran.
"Dis... apa hubungan kamu dengan Riko?" tanya Gala.
"Masya Allah, ternyata benar. Tapi dari mana dia tahu tentang Riko?" ucap Gendhis dalam hati.
Gala hanya ingin tahu isi hati Gendhis yang sebenarnya. Setelah perkataan Riko beberapa hari lalu memang sempat membuatnya khawatir, jika ternyata gadis yang ia pinang itu sebenarnya mencintai adiknya. Jika memang benar demikian, maka Gala akan coba mengikhlaskan Gendhis untuk adik satu-satunya.
"Kenapa kamu diam, Dis? Jawab aku, apakah... kamu... ada hubungan khusus dengan Riko? Maksudku..." Gala tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Pak Gala... apakah Bapak meragukan ku? Apakah Bapak melihat ada kebohongan dari mataku?" pertanyaan tegas Gendhis membuat Gala semakin gugup.
__ADS_1
"Bukan... bukan itu maksudku, Dis... aku tak bermaksud meragukanmu, hanya saja..." sekali lagi ucapan Gala terputus.
"Hanya apa? Apakah Bapak lebih mempercayai perkataan orang lain tentangku? Lalu, untuk apa Pak Gala melamar ku jika masih ada keraguan di hati Bapak?" tanya Gendhis.
Gala hanya terdiam mendengar pertanyaan Gendhis.
"Saya hanya mengganggap Mas Riko sebagai teman dan tak bisa lebih. Dari dulu sampai sekarang tak ada yang berubah." jawaban Gendhis itu membuat Gala merasa lega.
Awalnya Gala takut mendapati kenyataan jika saja Gendhis lebih mencintai Riko, maka ia harus bersiap untuk mengikhlaskan Gendhis. Tapi ternyata jawaban Gendhis sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Sekarang... saya yang tanya sama Pak Gala. Dari mana Bapak tahu tentang Mas Riko?" tanya Gendhis penasaran sedari tadi.
"Aku tahu karena... Riko... adalah adik kandung ku satu-satunya!" jawab Gala dengan nada melemah.
Gendhis terkejut bukan main. Ia tak ingin mempercayai ucapan Gala, tapi mana mungkin laki-laki seperti Gala akan membohonginya? Dan... bagaimana bisa? Kakak beradik itu begitu menginginkan gadis yang sama. Dan anehnya... salah satu dari mereka tak ada yang mengatakan hal ini? Apakah mereka hanya ingin mempermainkan perasaan Gendhis? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam fikiran Gendhis hingga membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Dis... aku tahu sejak beberapa tahun yang lalu. Riko sering bercerita tentang seorang gadis yang amat ia cintai. Dia begitu menginginkan gadis itu... sampai ahirnya Riko baru memberi tahu ku kalau gadis itu ternyata adalah kamu, dan itu ia katakan seusai acara pertunangan kita. Kami tak tahu jika selama ini ternyata kami mencintai satu gadis yang sama. Jika saja dari awal aku tahu, maka..." belum selesai Gala bicara Gendhis sudah memotong perkataannya.
"Maka apa? Maka Bapak akan memutuskan pertunangan kita, lalu membatalkan pernikahan kita sama seperti yang pernah Mas Lintang lakukan pada ku tapi dengan alasan berbeda? Kenapa ya? Kenapa laki-laki selalu mudah mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan orang lain? Apakah seperti itu yang ingin Pak Gala katankan?" ucap Gendhis berapi-api hingga tanpa ia sadari ada butiran kristal menetes dari sudut matanya. Kekhawatirannya seolah muncul kembali pada saat ia sedang mencoba bangkit dari kisah lamanya.
"Ssssttt.... Gendhis... jangan katakan itu lagi. Cukup... aku mohon jangan berkata seperti itu lagi. Alangkah bodohnya aku jika aku sampai menjauhimu. Aku nggak mungkin bisa jika harus tanpa mu!" Gala coba menenangkan Gendhis. Andai Gala diberikan hak untuk menghapus air mata Gendhis, maka sudah barang tentu butiran kristal itu tak kan ia biarkan membasahi wajah cantiknya. Namun sayang, hingga detik ini, Gala belum cukup keberanian melakukannya.
"Gendhis... jangan pernah berfikir aku akan meninggalkan mu! Itu tak akan pernah terjadi. Aku hanya... ingin pernikahan kita tidak menyimpan satu rahasia apa pun. Aku hanya takut, kalau ternyata kamu dan Riko........ sudahlah... tak perlu di bahas lagi. Karena air mata mu sudah bisa menjawab semua ketakutan ku!" ucap Gala.
Gendhis hanya diam menunduk sambil sesekali mengusap wajahnya menggunakan tisue.
"Dis... kau tahu? Aku paling nggak bisa lihat kamu menangis. Aku minta maaf... karena sudah membuat mu meneteskan air mata. Sekarang... semuanya sudah jelas, tak ada rahasia apa pun. Dan sebagai hukumannya, setelah ini... hingga tiba hari pernikahan kita nanti, aku tidak akan mengusik hari-harimu. Bukan karena apa-apa. Semua ku lakukan karena aku ingin melihat senyummu yang lepas tanpa beban, di hari pernikahan kita. Lagi pula, skripsi kamu sudah selesai, tinggal menunggu sidang. Apakah kamu setuju?" tanya Gala.
Gendhis hanya menganggukkan kepala dan air mata di pipinya pun mulai mengering.
"Baiklah... jaga diri kamu baik-baik. Saat di kampus nanti aku tak menyapamu, kamu jangan salah sangka ya? Bukan karena aku ingin menjauh darimu. Anggap saja, kita sedang manjalani tradisi pingitan sebelum hari pernikahan kita. Karena aku ingin menjaga ke utuhan dan kesucian menjelang hari pernikahan kita." ucapan Gala itu benar-benar membuat Gendhis merasa tenang dan nyaman.
"Baik lah... kita pulang sekarang. Apa mau aku antar pulang?" tanya Gala.
"Tidak, Pak. Terimakasih... saya pulang sendiri saja!" jawab Gendhis sungkan.
"Okeyy... kalau gitu... Hati-hati ya...!" pesan Gala.
"Iya... Assalamu'alaikum...." pamit Gendhis.
"Waalaikumsalam..." jawab Gala.
Gala merasa lega setelah membicarakan semua keluh kesahnya pada Gendhis. Laki-laki itu sepertinya sekarang harus belajar bersabar, menahan segala hasratnya untuk mencari alasan agar ia bisa bertemu dengan Gendhis. Tapi ia ikhlas... karena tidak lama lagi, gadis itu akan ia miliki seutuhnya.
*****
__ADS_1