Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Dua Cinta Satu Gendhis


__ADS_3

Angin malam berhembus begitu kencang menerobos celah-celah jendela. Membuat udara dingin semakin dalam masuk ke pori-pori. Gendhis menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.


Di kamarnya, Gendhis masih belum dapat memejamkan mata. Entah kenapa rasa tak nyaman dalam hatinya karena perlakuan Riko tadi siang masih terbayang. Sesaat dia berfikir, apa yang diperbuat Riko memang salah, tapi sedikit ia memahami, tak mudah juga sebenarnya bagi Riko untuk bisa melakukan hal semacam itu. Sama dengan dirinya, dia pun harus mempertaruhkan harga dirinya di depan semua orang hanya demi menyelamatkan Gendhis dari perlakuan lintang. Ahirnya kemarahan Gendhis pun mulai melunak.


Ketika hendak membalas pesan Riko, handphone yang masih dalam genggamannya pun berdering. Dilihatnya nama "Pak Gala" memanggilnya.


"Pak Gala? Untuk apa malam-malam gini telepon?" ucap Gendhis heran sesaat sebelum ia mengangkat teleponnya.


👇Gendhis


"Assalamu'alaikum..."


👇Gala


"Waalaikumsalam... Dis, maaf malam-malam ganggu. Boleh aku bicara sebentar?"


👇Gendhis


"Ya, Pak... soal apa ya?"


👇Gala


"Eeemmm... apa aku bisa minta bantuan kamu?"


👇Gendhis


"Pak Gala, minta bantuan saya? Tapi untuk hal apa ya, Pak?"


Gendhis sedikit heran dalam hati. Malam-malam begini emang ada, dosen telepon minta bantuan mahasiswinya? Aneh...!!! Fikir Gendhis.


👇Gala


"Jadi gini... aku punya temen satu kampus dulu di Singapore, dia dari Indonesia dan tinggalnya di Semarang. Ini kan masih libur kuliah, Nah... minggu depan rencana dia mau dateng ke Magelang. Dia dosen juga di kampus 1 PKN STAN. Dia pengen banget jalan-jalan ke puncak Sumbing karena kabarnya, Sumbing itu punya banyak tempat wisata yang lagi booming. Cuma masalahnya... aku nggak tau banyak soal itu karena aku sendiri juga belum pernah ke sana. Eeemm... bisa nggak aku minta bantuan kamu buat anterin kami keliling puncak?"


Ucap Gala panjang x lebar layaknya sedang bimbingan skripsi di kampus.


Riko di kamar sebelah,


Dia masih terus memandangi ponselnya. Dia semakin galau karena Gendhis tak kunjung membalas pesannya, padahal jika di lihat dia sedang online. Riko sudah berusaha menahan sekuat mungkin, tapi ya itulah Riko. Bukan Riko namanya kalau tidak spontan mengikuti kata hatinya. Ahirnya dengan mengumpulkan segenap keberanian, Riko pun memutuskan untuk menelpon Gendhis.


"My Sweety" begitu Riko memberi nama Gendhis dalam ponselnya.


Setelah bersusah payah mengumpulkan keberanian, pas udah di telepon, eh... muncul tulisan, "Sedang dalam panggilan lain." Itu artinya Gendhis sedang menelpon seseorang.


"Gendhis malem-malem gini telponan sama siapa?" ucap Riko lirih.


Tak dapat dipungkiri, ada sedikit rasa khawatir dalam dirinya. Dia penasaran, jam sembilan malam Gendhis telpon siapa? Sepertinya, Riko mulai cemburu pada gadis yang siang tadi ia sebut tunangannya di hadapan semua peserta reuni. Riko mana tahu, kalau ternyata kakak kesayangannya lah yang sedang mencari cara untuk bisa mengobrol dengan Gendhis.


Back to kamar sebelah.


Gala masih menunggu jawaban dari Gendhis. Sesaat kemudian, Gendhis menjawab.

__ADS_1


👇Gendhis


"Oh... soal itu... ya Pak... Insya Allah... saya bisa, mudah-mudahan tidak ada halangan."


"Alhamdulillah... eh... maksud ku, terimakasih sebelumnya karena kamu sudah mau meluangkan waktu mu."


Gala seolah tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya karena Gendhis bersedia membantunya.


👇Gendhis


"Iya, Pak... sama-sama..."


👇Gala


"Kalau gitu... aku tutup teleponnya. Assalamu'alaikum...."


👇Gendhis


"Baik, Pak... Waalaikumsalam."


Percakapan pun berakhir.


"Yeeeessss....!" ucap Gala bahagia.


Gala tahu persis, Gendhis itu gadis yang baik dan berjiwa sosial tinggi. Dia nggak mungkin bisa nolak ketika ada orang lain membutuhkan bantuannya. Apalagi itu menyangkut daerah sekitar tempat tinggalnya. Ditambah lagi, dosennya yang membutuhkan bantuan. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Gendhis pasti berusaha membantunya.


Gala pun merasa lega setelah beberapa menit mendengar suara Gendhis walau cuma lewat telepon. Ia merasa kerinduan yang ia pendam semenjak liburan ini menjadi sedikit terobati. Ia jadi tak sabar, pengen cepet-cepet hari minggu agar bisa segera bertemu dengan Gendhis.


"Riko...! Kamu belum tidur?" ucap Gala mendekati adiknya.


Suara itu mengejutkan Riko yang sedang hanyut dalam rasa penasaran.


"Eh... Kak Gala. Belum Kak, Riko belum ngantuk. Kak Gala sendiri belum tidur?" Riko balik bertanya.


"Kakak juga belum ngantuk, makanya jalan keluar kamar. Ku kira kamu sudah tidur." ucap Gala.


"Kenapa? Sepertinya wajah kamu suntuk banget. Ada masalah apa?" tanya Gala.


Riko hanya tesenyum dengan separuh ujung bibirnya karena tak tahu harus bilang apa. Masa iya, dia bilang lagi cemburu? Bahkan cemburu dengan siapa saja Riko nggak tahu, gimana mau cerita.


"Nggak papa kok, Kak." jawab Riko datar.


"Yakin nih... nggak papa? Atau... jangan-jangan... ini soal Si Manis ya?" goda Gala. Dia tak tahu bahwa Si Manis yang selama ini Riko sebut sebagai gadis pujaannya adalah Gendhis.


"Lhoh... kakak bisa tahu?" tanya Riko pada kakaknya yang berhasil menerawang kegundahannya.


"Yaaa... iya lah kakak tahu! Emang ada masalah lain yang bisa bikin kamu nggak bisa tidur selain Si Manis? Bahkan jika judul skripsi kamu nggak di acc sama Miss Alena pun kamu tetep bisa tidur pulas. Kakak benar kan?" tebak Gala.


Riko tersenyum sambil berkata, "Kak Gala bisa aja..."


Keduanya terdiam sesaat hingga Riko kembali berkata,

__ADS_1


"Kak Gala benar... aku sudah bikin Manis marah dan kesal, sampai-sampai dia nggak balas pesanku, nggak angkat telepon ku. Padahal aku sudah berusaha jelasin sama dia... tetep aja dianya masih marah." kata Riko dengan nada penyesalan.


Gala pun mencoba menghibur adiknya se kuat yang ia bisa.


"Riko... kamu sadar kamu udah buat kesalahan. Dan kamu juga sudah berusaha menjelaskan, bahkan minta maaf. Dan... jika dia lebih memilih untuk diam, itu artinya dia sedang butuh waktu untuk mencerna kesalahan dan penjelasan kamu. Jadi... beri dia waktu. Biarkan dia tenangkan fikiran dulu supaya bisa berfikir jernih. Ntar kalau marahnya dah hilang, kakak yakin... dia pasti maafin kamu dan bicara lagi sama kamu." Gala coba menguatkan adiknya, sambil menepuk-nepuk punggung adiknya yang tengah duduk sambil menundukkan wajahnya.


"Bener banget kata Kak Gala. Nggak ada yang lebih memahami aku selain kakak." jawab Riko merasa hatinya sedikit membaik mendengar ucapan Gala.


Gala faham betul sifat adik satu-satunya itu yang memiliki sifat apa adanya, tak bisa melihat orang lain tersakiti, bahkan dia bisa lakuin apa saja untuk membela orang lain jika memang dia tidak bersalah. Selain itu Gala juga tahu kalau adiknya suka spontan mengikuti kata hatinya dalam bertindak, dan itu juga yang terkadang membuat Gala sedikit khawatir.


"Oh iya, ngomong-ngomong, gimana kabar Si Manis. Udah lama banget kakak nggak dengerin cerita kamu soal dia semenjak kamu masuk kuliah." tanya Gala.


"Yaaa... masih gini lah Kak. Masih berjuang agar dia mau terima Riko." jawab Riko.


"Oh ya? Pantang nyerah juga ya ternyata... emang kamu nggak takut sama tunangannya?" tanya Gala.


"Nggak lagi Kak... karena dia udah putus sama tunangannya." jawab Riko singkat.


"Wwuuuiiiih... mantabbb... pantesan, kalau kakak amati kamu ahir-ahir ini kelihatan lebih bersemangat." ujar Gala.


Lagi-lagi Riko hanya tersenyum.


"Ya udah, buruan tembak dia... nanti kedahuluan orang lain lho...!" ujar Gala.


"Emang burung ditembak? Kak Gala bisa aja. Ya bentar dong Kak, pakai irama." jawab Riko.


"Wwuuuiiiih... tumben Riko jalan pakai irama. Biasanya langsung terjang aja." gurau Gala.


"Kali ini lain Kak, dia itu tipenya nggak suka yang blak-blakan. Harus dengan penuh perasaan." ucap Riko.


"Yahhh... apa pun itu, yang penting kamu bahagia! Udah ya, kakak mulai ngantuk. Mau balik kamar dulu...!" pamit Gala sambil bengkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kamar adiknya.


"Siiiaaappp... Kak!" jawab Riko sambil kembali menatap ponselnya. Ia melihat ada satu percakapan dari Gendhis.


"Oh... ternyata... Gendhis sudah membalas pesanku..." kata Riko kemudian dengan dada berdebar-debar membuka pesan dari Gendhis yang isinya.


^^^Gendhis^^^


^^^"Waalaikumsalam... Allah saja Maha Pengampun, kenapa manusia tidak? Aku sudah memaafkan Mas Riko. Terimakasih untuk usaha Mas Riko sudah berusaha menyelamatkan ku."^^^


^^^Riko^^^


^^^"Makasih banyak Dis... mulai sekarang aku janji nggak akan bikin kamu marah lagi."^^^


Dan percakapan itu pun berakhir begitu saja. Meski demikian, Riko amat bahagia. Setidaknya kesempatan baginya untuk mendekati Gendhis semakin terbuka lebar.


*****


...Lanjut episode berikutnya ya Kakak... terimakasih sudah menunggu. 🥰...


...Dukungan dan komentarnya ya Kaka.... 🤗🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2